Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
Bab Rindu (pria alim yang menolong ku)


__ADS_3

Hari yang semakin beranjak sore, membuat langkah Rumi terhenti sejenak di depan rumah kos.


Seperti orang kesetanan dia berlari secepat itu menghindari Debora.


Dia bahkan tidak sadar bahwa sandal jepitnya sampai putus.


Wanita gila seperti apa sih dia? Hanya itu yang ada di otaknya, bukan apa-apa. Baru kali ini dia bertemu wanita seagresif itu.


Iya dia tahu, Deby memang gadis non-muslim. Namun sepertinya hanya gadis itu deh yang tidak punya rasa malu, menghampirinya terus-menerus seperti hantu.


"Assalamualaikum." Panggil seseorang dari belakang sembari menepuk bahunya pelan. Sontak saja akibat tepukan di bahu membuatnya terperanjat kaget.


"Astagfirullah al'azim." Mengelus dada. Sementara pria itu terkekeh, "Ya Allah, si Aa' ini, mengagetkan saya."


"Kau ini kenapa? Sampai ngos-ngosan."


"Tidak ada apa-apa A', hanya ingin lari sore saja."


A' Deden, pria yang berada di samping Rumi melirik dari atas ke bawah. "Baru tahu, ada orang lari sore, pakai Koko sama celana bahan."


Rumi tersenyum tipis, "ada apa A'..?" Segera Rumi mengalihkan pembicaraannya.


"Nggak, nanti malam ada syukuran di rumah mamah." (Mamahnya dia adalah pemilik kos tempat Rumi tinggal.)


"Iya?"


"Nah, mamah minta kamu buat pimpin tahlilnya."


"Ya Allah, bukannya sudah ada ustadz yang biasa memimpin tahlil ya?"


"Iya sih, Tapi beliau juga ada acara di tempat lain katanya, dan kebetulan waktunya sama. Jadi mamah minta tolong ke kamu buat mimpin acara tersebut, mau tidak?"


"insyaAllah A', Rumi usahakan."


"Iya sudah, Alhamdulillah kalau begitu. Saya permisi dulu, assalamualaikum."


"Walaikumsalam warahmatullah." Gumam Rumi, ia pun mengeluarkan kunci dari sakunya dan membuka pintu itu seraya mengucap salam.


Di tempat lain...


Deby juga baru pulang dari kampusnya, ia berjalan riang memasuki area rumah. Terlihat ayahnya tengah duduk di teras dengan buku bersampul hitam bertuliskan Alkitab di sana.

__ADS_1


Ia pun berjalan mendekati ayahnya. "Deby pulang, pah." Ucap Deby.


Pria yang masih mengenakan kacamatanya itu pun mengangkat kepala, lalu tersenyum.


"Kau dari mana?" Tanya sang ayah.


"Kampus."


"Betah sekali di kampus sih?"


"Hehe, iya pah, soalnya ada seseorang." Tersenyum malu-malu.


"Ya ampun, anak gadis ku sudah mulai kenal laki-laki ya?"


"Hihihi, papah ini sok tahu." Berjalan masuk, sementara sang ayah hanya geleng-geleng kepala kembali melanjutkan membaca.


Di dalam kamar itu Deby meletakkan tasnya, ia pun membuka lemari pakaian. Di pintu itu terdapat tulisan latin tentang bacaan sholat, setiap hari dia menghapal bacaan sholat itu. Hingga akhirnya, sebuah mukenah ia keluarkan dari dalam lemarinya berada di paling bawah, tertutup tumpukan seprai lainnya.


Ia pun meraihnya, dan duduk di atas ranjangnya, dengan mukenah di atas pangkuannya.


"Ya Allah, semoga Deby bisa menyembah mu dengan sempurna, tanpa datang lagi ke Greja." Mengecup mukenah itu.


Sesaat pikirannya kembali pada sosok pria yang pertama kali ia lihat tengah membantunya mendorong sepeda motor yang bocor.


Hari itu sudah hampir larut, Debora baru saja kembali dari rumah temannya.


Dan dalam perjalanan pulang, tiba-tiba saja ia merasakan keanehan di ban depannya seperti tidak nyaman. Ia pun menghentikan laju motornya, lalu memeriksa ban motor miliknya.


"Astaga, bocor." Gumamnya ia pun menendang sejenak ban itu. "Hiiiisss jam segini mana ada bengkel tambal ban yang buka? Kalau pun ada pasti jauh." Kesal, dengan sangat terpaksa Deby menuntun motor itu jalan menyusuri jalan sembari bersungut-sungut.


Hingga datanglah seorang pria mengguna motor CBR, dengan Koko dan sarungnya. Sebenarnya dia hanya melewati namun kembali berbelok setelah berfikir cukup lama. Dan berhenti di depan motor Deby membuat gadis itu menghentikan langkahnya.


Pria itu melepaskan helmnya, terlihat dia menjaga sekali pandangnya. Karena tidak sedikit pun melirik ke arah Deby.


"Motornya kenapa Teh?" Reflek memanggil teteh Karena dia di Bandung.


"ini ban nya bocor." Menjawab dengan gugup, karena wajah pria itu sangat tampan bagi Deby, belum lagi postur tubuhnya yang tinggi, dengan baju Koko kaos berlengan panjang berwarna hitam benar-benar membuatnya sedikit terpesona.


"Oh," ia pun berkacak pinggang menoleh ke segala penjuru. Jarak Rumi dan Debi ada lebih dari satu meteran. "Maaf Teteh pulang ke mana?"


"Ke daerah A."

__ADS_1


"Ummm, lumayan jauh ya? Jam segini bengkel tambal ban pasti banyak yang tutup. Begini saja Apa teteh bisa bawa motor CBR?" Bertanya tapi tak memandang ke arahnya.


"Bi...bisa... Bisa."


"Syukurlah. Kalau begitu, pakai saja dulu motor saya. Besok ketemu lagi di sini, kos saya Deket kok." Rumi menyarankan.


"Kakak percaya sama saya? Kalau motor kakak saya bawa? Mahalan motor situ loh."


"Iya nggak papa, insyaAllah saya percaya. Kalaupun teteh ingkar, tidak apa. insyaAllah saya ikhlas," balasnya.


"Waaaahh serius ini?" Hendak mendekati Rumi, namun pria itu memundurkan langkahnya.


"I...iya, jangan dekat-dekat teh hehehe, di situ saja."


"Jangan panggil teteh aku itu masih mahasiswi tingkat awal, panggil saja Deby." Mengulurkan tangannya.


"Ohhh, i..iya," menelungkup kan kedua tangannya. "Maaf saya menjaga wudhu saya, dan lagi situ bukan muhrim."


"Ohhh pria alim. Hihihi." Terkekeh. Ia pun menengadahkan tangannya. "Mana kuncinya kak?"


"Di...di motor saya itu." Rumi mendadak gagap, padahal tadi dia biasa saja. Namun melihat gadis itu terus berusaha mendekat membuatnya jadi ketakutan.


"Berbagi kehangatan." Gumamnya lirih seraya terkekeh, dan menyentuh jok motor Rumi. Ia pun menoleh. "Siapa nama kakak?"


Rumi sudah berdiri di dekat motor Deby. "Rumi... Rumi Al Fatih," jawab Rumi.


"Hehehe, nama yang indah, seindah orangnya. Kalau begitu ku bawa motor kakak ini ya?"


"Iya, silahkan."


"Terimakasih banyak kak Rumi." Hendak mendekat lagi namun Rumi langsung berseru jangan kepadanya. Membuat Deby urung. "Ya sudah deh, aku pulang dulu daaaahhh." Mulai menaiki motor itu Rumi pun memutar tubuhnya membelakangi Deby.


"Kak Rumi, aku bawa beneran ini motornya ya?"


"Iya teh, bawa saja." Masih membelakangi. Dan ketika suara motor mulai terdengar, Rumi pun bernafas lega, terlebih saat suara laju motor yang semakin menjauh. Ia baru bisa memutar tubuhnya. "Alhamdulillah dia sudah pergi."


Rumi menatap motor matic di dekatnya, lalu mulai menuntun motor itu menuju rumah kostnya.


*Flashback is off*


Deby tersenyum, ia tidak menyangka ada pria sebaik itu, bahkan membiarkannya sampai membawa motornya pulang ke rumah. Walaupun ada insiden kecil setelah itu, motor Rumi sedikit lecet akibat terbaret pagar rumahnya.

__ADS_1


Ia masih ingat betul, ekspresi Rumi yang Terkekeh sedih karena motornya pulang dalam keadaan lecet, sementara gadis itu hanya minta maaf saja.


Yang paling membuat Deby semakin bahagia ternyata pria itu mahasiswa yang melanjutkan S2 nya di kampusnya juga. Dari sanalah dia mulai mencari tahu pria yang menurutnya sangat menggemaskan itu.


__ADS_2