Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
gara-gara gigitan (bagian 2)


__ADS_3

Setelah makanan itu habis Nuha dan dan Rumi terjaga. "Mas sudah ada dua jam sepertinya, Rahma harus menyusui mereka." tutur Rahma. Irsyad pun mengangguk ia meletakkan piring kosong itu di meja samping ranjang. Lalu beranjak.


"MasyaAllah anak abi, baru saja abi ingin berduaan dengan ummanya sudah bangun saja?" ucap Irsyad yang mengundang kekehan Rahma.


"Ini satu-satu atau bagaimana dek?" tanya Irsyad.


"Rahma susui keduanya langsung saja mas." ucap Rahma. Irsyad mengerti dengan hati-hati ia mengangkat tubuh Rumi terlebih dahulu lalu meletakkannya di pangkuan Rahma yang sudah duduk menyandar dengan bantal di atas pangkuan nya, setelah itu Irsyad pun meraih Nuha dan meletakkannya lagi di pangkuan Rahma.


Posisinya sebagai berikut, bagian kaki mereka ia letakan di bawah ketiaknya, sedangkan dua kepala itu saling bertemu menghadap ke depan dadanya yang sudah terbuka seluruhnya. Dengan kedua tangan Rahma yang berada di samping kiri dan kanannya memegangi kedua tubuh mungilnya itu.


Keduanya mulai menyusu dengan sangat lahapnya. Dan sepertinya untuk Rumi ia bisa menghisap nya dengan baik namun Nuha. Seperti sedikit gelagapan akibat asi yang terlalu banyak keluar.


"Mas tolong ambilkan gelas kosong itu mas." pinta Rahma. Irsyad meraihnya lalu menyerahkannya. Saat itu Nuha sudah menangis karena Rahma melepas hisapannya.


"Sabar ya nak, Umma kurangi dulu asinya." tutur Rahma sembari memerah susunya.


Irsyad tersenyum. Ia melihat istrinya memang sudah sangat paham sekali dengan metode menyusui yang benar. Maklum saja ia kan bekas perawat. Ia pasti paham caranya. Dengan terus menatapnya bangga. Beliau pun berusaha menenangkan Nuha yang masih menangis itu.


"Ya Allah. Kamu pasti kesusahan sekali ya dek?" tanya Irsyad pada Rahma.


"Apanya yang kesusahan mas. Tidak kok." jawab Rahma. Ia pun menyerahkan gelas berisi asi itu pada Irsyad yang dengan sigap menerimanya lalu kembali memasukannya kedalam mulut Nuha. "Nih, umma kasih lagi kan. Nuha sih tidak sabaran." tutur Rahma yang membuat Irsyad terkekeh.


Rahma menoleh "Maaf ya mas, Rahma jadi perintah-perintah ke mas terus. Rahma pasti tidak sopan."


"Ade tuh bicara apa sih. Mas malah senang kok. Dan lagi melihat dek Rahma seperti ini mas jadi merasa berterimakasih sekali loh." Irsyad mengusap pipi Rahma.


"Terimakasih untuk apa mas?"


"Ya untuk semuanya. Tubuh mu yang bersedia melayani mas setiap kali mas menginginkan untuk di layani, rahim ini yang bersedia mengandung si kembar. Anak-anak yang manis ini. Dan sekarang. Asi mu," Rahma tersenyum,


"tapi mas masih bingung kenapa kamu meringis setiap kali hendak menyusui sayang?"


"Kan sakit mas." jawab Rahma.


"Apa? sakit?" tanya Irsyad. Rahma mengangguk.


"Ibu menyusui akan merasakan sakit saat tengah menyusui mas. Mungkin karena di hisap terus menerus sehingga terjadi peradangan di area itu." tutur Rahma.


"Begitu ya mas baru tahu."


"Dan kedua milik Rahma ini sedikit lecet mas. Kan dua-duanya di hisap dengan waktu yang lama oleh si kembar. Maka dari itu Rahma meringis karena rasa perih itu."


Irsyad tertegun ia lantas mengecup kening istrinya. "Jadi rasa sakit mu tidak hanya sebatas mengandung dan melahirkan saja ya?" Gumam Irsyad lirih. Rahma mengangguk.


"Sampai kapan dek?"


"Entah lah sampai sembuh mas. Tapi karena Rahma punya dua bayi sepertinya agak lama." ucap Rahma.


"Ya Allah kasian nya istri mas." Irsyad mencondongkan tubuhnya mengecup dua bayi mungilnya. "Rumi, Nuha. Miminya pelan-pelan ya, kasihan Umma itu." tutur Irsyad berbisik Rahma menyentuh wajah Irsyad sembari tersenyum dan mengusapnya. Irsyad beranjak.


"Apa ada obatnya dek? Biar mas belikan."


"Ada mas salepnya di apotek."


"Tapi aman tidak jika terhisap Nuha dan Rumi."


"Aman kok. Kan makainya juga sesudah mandi. Dan saat mereka sudah tidur saja."


"Ya sudah kalau begitu mas ke apotek dulu ya beli salep itu." ucap Irsyad bergegas.


"Mas tolong minta ibu untuk ke sini ya." Pinta Rahma.

__ADS_1


"Iya sayang. Ya sudah mas jalan dulu ya Assalamu'alaikum."


"Walaikumsalam." jawab Rahma bersamaan dengan Irsyad yang keluar kamar mereka dengan membawa piring kosong dan gelas tadi.


Rahma pun mengusap-usap dua kepala si kembar dengan penuh kasih sayang sembari bersholawat sesuai yang di minta Irsyad untuk lebih banyak bersholawat saat tengah menyusui.


***


Malam berselang mbak Adiba dan mas gani menginap di rumah mereka dan akan pulang besok pagi selepas subuh. Begitu pula dengan ayah dan ibu Rahma yang juga menginap di sana.


Setelah meletakkan si kembar di ranjangnya. Adiba dan ibu Ratih pun keluar, mereka meminta Rahma untuk beristirahat.


Sedangkan Irsyad masih berbincang dengan kakak iparnya di bawah.


Dalam ruangan yang terang itu Rahma tertegun ia ingin tidur namun sedikit sulit. Sehingga membuatnya kembali beranjak. Dan berjalan pelan mendekati ranjang anaknya. Bibirnya tersungging senang. rasanya sangat bahagia sekaligus lega. Kedua anaknya bisa terlahir dengan selamat. Cklakkk. Gagang pintu kamarnya bergerak. Ia melihat Irsyad masuk kedalam kamar itu, menutup dan menguncinya kembali.


"Kok belum tidur dek?" tanya Irsyad.


"Mau tidur tapi belum bisa. Masih betah memandangi mereka." jawab Rahma. Tatapanya masih terus mengarah pada Rumi dan Nuha.


Menunggu beberapa detik Irsyad pun mengusap kepala Rahma. "Sudah puas belum memandang mereka?" tanya Irsyad. Rahma menoleh.


"Tidak akan pernah puas lah mas."


"Terus mas kapan di pandang Rahma?" tanya Irsyad. Rahma pun berdiri sembari terkekeh.


"Hei, sepertinya ada yang ingin di pandang Rahma ini?"


"Iya lah sayang." Irsyad memeluk Rahma.


"Rahma masih masa nifas mas."


"Memang siapa yang meminta sih. Rahma kali. Saking inginnya sampai gigit bibir mas."


Irsyad tergelak, ia pun melingkari tangannya di bahu Rahma dan mengajaknya duduk di atas ranjang. "Habis candu sih. Kaget aja tiba-tiba Rahma begitu pada mas."


"Hahaha" Rahma menertawakan dirinya sendiri merasa harga dirinya terkoyak. Sudah pasti Irsyad menganggap dirinya sangat agresif.


"Kenapa tadi menggigit coba?"


"Ya Allah masih mau di bahas?" tanya Rahma. Irsyad mengangguk. Kini keduanya duduk sembari menyilang kan kaki saling berhadapan.


'Haduh masa iya mau di tanyakan macem-macem lagi sih mas. Lucu banget nih orang.' batin Rahma yang kembali keringat dingin.


"Kok diam saja?" Irsyad bertopang dagu.


"Mas kurang kerjaan tanyanya seperti itu."


"Loh... Loh mas wajib tahu alasan dek Rahma tadi."


"Semua karena Rahma gemas. Mana ada kecupan di bibir hanya diam saja seperti mas." tutur Rahma yang sudah geregetan. Sebenarnya kata-kata itu ingin ia lontarkan sejak beberapa tahun belakangan saat Irsyad mengecup bibirnya itu untuk yang pertama kali.


"Loh memang kecupan di bibir yang benar itu seperti apa?"


'Ya kareem, dia bertanya? Serius ini dia bertanya?' Rahma garuk-garuk kepala.


"Dek Rahma." panggil Irsyad.


"Mas serius tidak tahu? Mas tidak sepolos itu kan walau Seorang ustadz. Pasti mas tahu lah? Kecupan di bibir dengan pasif mana ada sensasinya."


"Emang kecupan yang ada sensasinya itu seperti tadi ya? Dengan cara menggigit begitu."

__ADS_1


'Ehehehe. Pertanyaan konyol, sungguh, sungguh pak Ustad. Hadeh Bagaimana cara Rahma menjawab pertanyaan mu itu pak Ustadz? Salah-salah malah kembali ke pembahasan mantan pacar hiks.'


"Mas sudah malam Rahma mau tidur saja."


"Hei mas penasaran ini."


"Ya kali masa harus di jelasin sih?"


"Tidak perlu pakai teori, praktekan saja langsung." Irsyad melipat kedua tangannya di depan dada sembari tersenyum jahil.


"Lucu sekali ya mas ini. Sekarang Rahma tanya? Kenapa jika mas mengecup bibir Rahma hanya menempel saja? Apa ada larangan ******* bibir pasangan halal kita?" tanya Rahma.


Irsyad terdiam seperti tidak mau menjawab.


"Ada?" tanya Rahma. Irsyad menggeleng.


"Lalu kenapa mas tidak pernah melakukannya pada Rahma?"


"Kan ada ketentuan dek, kalau bersenggama dengan pasangan tidak boleh berlebihan, lebih tepatnya jangan sampai melukai pasangan. Termasuk mencium are bibir juga."


"Iya, tapi apa harus diam saja begitu? Ya Allah gemasnya dengan mu mas."


"Ya tidak sih tapi?"


"Tapi apa?" Rahma menatap wajah Irsyad yang sedikit memerah itu.


"Tapi sudah malam waktunya kita tidur. Jum...jum." (Ayo...ayo bahasa udin idin.)


"Mas tidak bisa ya?" Tembak Rahma, Degg. Irsyad yang sudah merebahkan tubuhnya sembari memejamkan mata itu seketika membuka matanya kembali.


"Hah? Beneran mas tidak bisa?" tanya Rahma. Irsyad masih terpaku.


"Pffffffttt" Dengan bantalnya Rahma menutup wajahnya. Terlihat dari bahunya yang getar-getar itu dia sedang tertawa, merasa konyol ustadz polos kebangetan memang hanya suaminya sih kayanya hahahaha.


Irsyad beranjak. Lalu berusaha melepas bantal yang menutup wajah Rahma. Namun di tahan oleh Rahma.


"Dek, mas tau ya, dek Rahma sedang menertawakan mas?" Ucap Irsyad. Rahma pun meredam tawanya. Lalu berusaha melepaskan bantal yang ada di wajahnya itu.


"Maaf mas, maaf."


"Mas bukannya tidak bisa. Mas hanya takut melukai mu."


"Alasan mas saja tuh pasti, mana ada ******* bibir bisa melukai pasangan." ucap Rahma.


Irsyad menghela nafas. "Ya mas tahu ade memang lebih berpengalaman kan?" Irsyad menatap tidak suka. Kata-kata itu langsung membuat Rahma tertohok.


"Mas, mas marah ya pada Rahma, Rahma tidak bermaksud seperti itu kok."


"Mas tidak melakukannya kan bukan berarti mas tidak bisa. Lagi pula, mas memang tidak pernah mencoba mencari tahu seperti apa orang-orang berciuman. Yang mas tahu ya menempelkan nya saja sudah, apa itu bisa di sebut bodoh ya? Dan lagi? Apa nikmatnya melakukan itu dengan pasangan yang bukan halalnya? Hanya untuk belajar dan dengan bangga mempraktikkan pada pasangan halal kelak?" tanya Irsyad.


"Mas maaf Rahma tidak bermaksud seperti itu. Iya Rahma salah. Rahma manusia hina namun malah menertawakan mas Irsyad. Rahma?" Irsyad meraih dagu Rahma menahannya sembari menatapnya dalam-dalam.


"Mas harap mas tidak melukai bibir mu karena melakukan ini. Bismillah." Irsyad mengecup bibir Rahma, mengulumnya dengan lembut, lalu memberi gigitan-gigitan kecil dan ******* nya dengan waktu yang lumayan lama sampai keduanya justru menghentikan itu akibat nafasnya yang tersengal. Rahma menatap Irsyad. Iya dia bisa. Dan rasanya lebih nikmat dari pada kecupan yang di berikan Fikri apa lagi Miftah dulu.


"Ambil nafas panjang, Mas mau lanjut lagi soalnya." tuturnya. Namun nadanya berubah dingin membuat Rahma menahan itu.


"Sudah hentikan, jika mas marah bilang saja."


Irsyad menghela nafas. "Sedikit dek, bagaimana bisa Rahma menertawakan mas, lebih-lebih dengan kata-kata tadi. Seperti meremehkan mas."


"Maaf." jawab Rahma tertunduk. Irsyad kembali meraih dagu Rahma ia tersenyum. "Mas tidak marah lagi kok. Yuk sambung,nagih rupanya." Irsyad mengecup bagian bibir yang tengah menyunggingkan senyum padanya itu.

__ADS_1


Ya mereka sadar semua masih terhalang Nifas yang di alami Rahma. Jadi malam itu hanya berakhir pada kecupan di bibir saja itu pun tidak lama kok. Karena Irsyad paham melakukan itu sudah pasti menaikan hasrat keduanya. Dan sebelum itu berlanjut Irsyad menghentikannya lalu kembali mengajak Rahma merebahkan tubuhnya untuk beristirahat selagi si kembar masih tertidur pulas.


__ADS_2