
Sudah pukul sepuluh malam Rahma belum tertidur. Rasanya belum mengantuk saja, mungkin karena sang suami belum pulang dari acara kenduri di rumah tetangganya. Pria itu pasti mengobrol dulu, sudah hal biasa ketika ustadz Irsyad di undang untuk acara seperti itu pasti akan jadi ladang curcol (curhat colongan) oleh para jamaahnya.
Rahma masih asik bermain ponsel. Membuka akun Stagram nya.
Ada satu DM dari seseorang, dia pun membukanya. -dokter Miftahul aziz-
Membulat kan bola matanya. Ia tidak ingin membuka DM tersebut, yang ada malah akan membuat Miftah merasa dirinya masih mau meladeninya.
Dan lagi, dari mana dia tahu akun Stagram nya. Padahal tidak banyak alumni sekolahnya dulu yang tahu akunnya.
Rahma memutuskan untuk melihat-lihat. Hingga akhirnya panggilan masuk dari Stagram tersebut membuat Rahma terkesiap. "Astagfirullah al'azim mas Miftah kenapa menelfon sih?" Memutuskan untuk keluar dari akun tersebut.
Rahma menggeleng cepat. Ia meletakkan lagi ponselnya di dekat meja.
Cklaaaakkk pintu kamar terbuka, suaminya baru saja pulang, mengucap salam yang langsung di jawab oleh Rahma lalu mendekati Rahma mengecup keningnya dan mengusap kepalanya lembut.
"Kok belum tidur?" tanya Irsyad.
"Baru mau mas." jawab Rahma. Irsyad pun tersenyum.
"Sudah, Rahma tidur gih. Mas mau ke tandas dulu."
"Iya mas." jawab Rahma, beliau pun berjalan menuju bilik tandas, sedangkan Rahma kembali merebahkan tubuhnya. Berusaha memejamkan matanya.
Tak lama panggilan telfon itu kembali masuk. Rahma menoleh dan mendapati lagi panggilan dari akun Stagram. Dia pun membalikkan ponselnya lalu kembali memejamkan mata.
Selang beberapa menit, Irsyad membuka pintu tandasnya. Ia mendapati sang istri sudah terpejam. Beliau lantas mendekati Nuha dan Rumi memberi kecupan pada mereka dan mengusap-usap kepalanya sembari tersenyum.
Dan setelahnya, beliau kembali mendekati Rahma. Lalu merebahkan tubuhnya di sebelah sang istri.
Irsyad memiringkan tubuhnya sejenak memandangi sang istri yang sudah masuk ke alam mimpinya. "Subhanallah, aku tidak pernah bosan melihat wajah mu sayang." Gumam Irsyad mendekati wajah Rahma lalu memberikan kecupan di kening.
Baru saja beliau hendak memejamkan mata. Sebuah getaran ponsel membuat Irsyad terkesiap.
Irsyad pun meraih ponsel Rahma. Lalu mendapati sebuah panggilan yang membuatnya sedikit merasa tidak suka. "Kenapa dokter ini menghubungi istri ku sih?" gumam Irsyad, Irsyad hendak menerima panggilan tersebut namun sudah mati lebih dulu.
"Aku sebenarnya tidak ingin membukanya namun aku penasaran." Irsyad membuka ponsel Rahma dengan mengucap basmallah lebih dulu.
Beliau lantas membuka akun Stagram Rahma. Menoleh sejenak ke arah Rahma. "Maaf ya dek, mas buka akun mu." gumam Irsyad menyempatkan dulu untuk mengecup pipi Rahma.
Kemudian kembali fokus pada ponsel Rahma membuka isi DM nya.
Ada beberapa sih yang mengirim pesan pada Rahma, namun beliau lebih tertarik pada pesan yang terdapat nama dokter Miftahul Aziz.
Sedikit ragu Irsyad pun membukanya.
📲 (Assalamualaikum, Rahma. Maaf saya mengirim pesan DM pada mu. Bukan apa-apa. Tapi saya hanya ingin tahu kabar dari mu. Tolong di balas ya.)
Irsyad menghela nafas. "Astagfirullah al'azim, pria ini sepertinya cukup gigih ya?" gumam Irsyad. Beliau pun memutuskan untuk menutup pesan tersebut.
__ADS_1
Tidak ada niatan untuk membalasnya. Ia hanya percaya pada sang istri yang bisa menjaga kesetiaannya.
Irsyad kembali meletakkan ponsel Rahma lalu merebahkan tubuhnya mengangkat sedikit kepala Rahma agar lengannya bisa menjadi bantalan tidur sang istri.
Irsyad pun memejamkan matanya dengan Rahma yang sudah berada dalam pelukannya.
Pagi berselang, suara murotal dari toa masjid sebelum masuk waktu Subuh membuat Rahma terbangun. Entah mengapa akhir-akhir ini dia sering terjaga pukul tiga pagi. Dan seperti biasa Irsyad sudah tidak ada di sebelahnya.
Rahma memutuskan untuk bangun ia menoleh ke arah Ponselnya.
Karena ada satu pesan DM yang masuk,
Rahma pun membukanya.
📲 (Rahma, kenapa hanya di buka saja?)
Mata Rahma melebar saat tahu pesan dari mas Miftah sudah di buka, "mas Irsyad pasti sudah membuka pesan DM dari akun ku ini." gumamnya ia segera beranjak dari tempat tidurnya.
Menghampiri sang suami, yang sudah menjadikan alas sujudnya itu menjadi tempat Favorit Irsyad. Sehingga mudah saja Rahma mencari sosok sang suami.
Rahma berdiri di belakang pria yang tengah berzikir.
Dia marah tidak ya? Itu lah isi hati Rahma saat ini. Seharusnya sih tidak karena Rahma juga tidak menanggapinya bukan?
Di sisi lain mata Irsyad terbuka. Ia merasakan seseorang berdiri di belakangnya, benar saja sebuah bayangan membuatnya menoleh ke belakang.
Rahma mendekati sang suami sembari tertunduk. Tatkala Irsyad mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang.
"Sudah bangun istri ku ini." ucapnya lembut. Terus saja menghujani wajah Rahma dengan kecupan.
Rahma menyentuh bibir suaminya dengan jari telunjuknya. Membuat Irsyad menghentikan kegiatannya itu.
"Mas, Rahma mau tanya? Mas buka DM dari mas Miftah ya?" tanya Rahma.
Irsyad tersenyum. "Iya dek, maaf ya." jawabnya.
"Mas tidak marah pada Rahma?"
"Marah kenapa? Kan yang ngirim beliau bukan Rahma." Menyentuh kepala Rahma.
Keduanya hening sejenak lalu Irsyad kembali membuka suara. "Sejak kapan?" tanya Irsyad.
Eh...? Menoleh tidak mengerti apa yang di maksud nya...
"Apanya mas?"
"Beliau menelfon mu?"
"Baru kemarin mas. Tapi Rahma abaikan kok." jawabnya.
__ADS_1
Irsyad hanya diam saja. Kembali beliau menyentuh wajah sang istri.
"Boleh minta satu permintaan?" tanya Irsyad.
"Apa mas?"
"Bersediakah Rahma untuk tidak bermain sosial media?"
Deegg... "Ke...kenapa? Rahma tidak macam-macam kok mas."
"Iya, namun setiap kali kau posting foto mu, kau telah menebar fitnah sayang membuat orang jadi menaruh kekaguman pada mu."
Rahma bersungut. "Kenapa mas sekarang jadi semakin menjegal jalan Rahma untuk bebas bersosialisasi di dunia luar sih?"
"Dek Rahma berfikir seperti itu?"
"Iya lah, mas kemarin meminta Rahma bercadar, karena apa? Karena mas Miftah?"
"Dek, bukan karena itu saja. Tapi menjaga kehormatan mu sebagai istri itu penting sayang."
"Menjaga kehormatan apa? Dengan cara mengekang Rahma??" Mulai tersulut.
"Kok mengekang sih? Mas itu tidak pernah mengekang mu loh Rahma. Coba katakan apa saja yang membuat Rahma merasa di kekang selama hidup dengan mas?" Terlihat Irsyad berbicara dengan nada serius.
"Semua yang mas Irsyad ajarkan ke Rahma itu untuk kebaikan Rahma juga kan? Bukan untuk kebaikan Mas. Rahma yang akan menikmati itu semua."
Rahma menunduk, ia sudah tidak bisa menjawab jika sang suami sudah mulai serius dalam bertutur kata.
"Belajar menjaga kehormatan sayang, bukan semata-mata hanya karena mas ada di dunia ini. Kita tidak pernah tahu sampai kapan mas bisa menjaga mu."
Rahma mengangkat kepalanya.
"Bagaimana jika mas menemui ajal mas dalam waktu dekat ini? Apa kamu siap dengan segala fitnah dunia sebagai seorang wanita yang menjanda?"
"Stoppp mas! Bisa tidak sih untuk tidak berbicara soal kematian? Siapa yang menginginkan itu mas? Rahma tidak mau mas pergi meninggalkan Rahma."
Irsyad menghela nafas. "Kita itu mahluk bernyawa Rahma. Jika tidak Rahma dulu, ya mas dulu kan?"
"Tapi tidak untuk saat ini mas Rahma tidak ingin mendengar hal-hal seperti itu. Titik!" Rahma beranjak.
"Rahma—" panggil Irsyad. Kala sang istri sudah melangkah pergi.
"Astagfirullah, istri ku. Kerasnya diri mu masih saja belum hilang." Beliau geleng-geleng kepala.
Beliau memutuskan untuk beranjak dari alas Sujud nya.
Memilih untuk berjalan keluar menghirup udara pagi di langit yang masih gelap, beliau duduk di sebuah gazebo di dekat kolam kecil yang berisikan beberapa ikan koi.
Melamun sejenak, rasa jenuh bercampur firasat tidak baik ia akhir-akhir ini seolah telah menggangu kegiatannya. Seperti akan ada sesuatu yang bakal terjadi namun entah pada siapa.
__ADS_1