
Melangkah malas gadis itu memasuki area perpustakaan, dia pun menghampiri seorang ustadzah wanita, dan memutuskan membantu wanita itu setelah saling sapa sebelumnya.
"Tata berdasarkan genre, dan huruf ya teman-teman." Titah Faqih, yang sudah terlihat seperti mandor saja bagi Nuha.
Gadis itu pun mendengus tidak suka. Setelahnya Faqih mendekati. "Ehh, kau ku beri tugas lain ya."
'tugas lain?' batin Nuha yang mulai hawa tidak enak. "Tugas lain apa A'?"
"Kau bisa bersihkan satu persatu buku ensiklopedi di sana kan?" Menunjuk ke arah rak paling tinggi di antara para rak yang lain.
"Bersihkan?"
"Emmm. Tolong lap ya." Hanya sebatas itu lalu berjalan lagi.
"Ya Allah ya Rabb. Di antara teman-teman yang lain, kenapa pekerjaan ku paling nista sih?" Nuha beranjak. 'sabar... sabar...' gumamnya dalam hati seraya berjalan mendekati buku ensiklopedi.
Setelah sampai, dia mulai menurunkan satu persatu buku itu dari raknya, lalu mengelapnya dengan kain lap bersih yang ia minta sebelumnya pada petugas perpustakaan.
"Eeerrrhhh, be...raaaaat... Se...kali..." Bruuukkk. Debu-debu itu berterbangan berbarengan dengan tumpukan yang ia jatuhkan di lantai sehingga membuatnya bersin sebanyak tiga kali. "Alhamdulillah," mengusap-usap hidungnya yang gatal lalu mencoba menurunkan beberapa lagi.
Hingga semua buku itu turun dari rak itu hampir seluruhnya.
"Haaah, dosa apa aku? Kenapa bisa aku di suruh melakukan semua ini. Sendirian lagi." Mulai menggerutu. Namun ia tetap mengerjakannya, begitu lah manusia walaupun tidak suka, mereka akan tetap melakukannya walaupun harus di hiasi dengan gumaman malas.
Gadis itu sudah mulai melakoni pekerjaannya, dengan kaki yang di luruskan sembari menyandar di rak itu. Mengamati semua teman-teman yang hanya menatanya saja, dengan tangan yang bekerja mengelap buku itu.
Ada beberapa yang hendak membantu sih namun malah justru di beri tugas lain oleh A' Faqih. Seperti tidak di perbolehkan untuk membantu Nuha. Gadis itu pun geleng-geleng kepala, seraya menggosok buku itu dengan kasar.
Lebih kesal lagi saat yang lain sudah selesai hanya tinggal dirinya lah yang masih bekerja sembari terus bersin berkali-kali.
Hingga pria itu pun mendekat.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Faqih.
"Nggosok batu giok." Jawabnya lirih namun ketus. Dia benar-benar sudah kesal, dan ingin pulang namun buku-buku itu masih banyak.
"Kau yang menurunkan ini semua?" Tanya Faqih.
__ADS_1
"Bukan aku, tapi Hercules!" Jawabnya semakin ketus, 'kau pikir siapa lagi yang menurunkan, pura-pura buta ya kau A iisssh'
"Ckckck. Itu ada kemonceng loh, kenapa harus di lap satu-satu begini sih?"
"Tadi kan Aa' sendiri yang minta saya ngelap ini semua kan?"
"Iya, tapi saya tak meminta mu nurunin ini semua loh, saya cuma minta kamu lap semua itu cukup pakai kemonceng."
"Haaah?" Gadis itu beranjak. "Kemonceng?"
"Iya."
"astagfirullah.... Aa' mengerjai ku ya? setelah ku turunkan semua ini Aa' baru bilang pakai kemonceng? Kenapa tidak bilang dari tadi sih?"
"Kau yang tidak bertanya," jawabnya santai.
"Ya tapi kan sebagai orang yang memberi perintah seharusnya Aa' kasih komando yang jelas dong, jangan seperti ini."
"Sudah jangan berkoar, sebaik-baiknya Wanita itu bertutur kata yang baik, lakukan pekerjaan dengan ikhlas. Biar hasilnya tidak seperti ini. Sekarang bereskan semua ini, kembalikan ke raknya seperti semula."
"Apa? Kembalikan? Aku sendirian?"
"Apa? Hei A' tolong ya, kalau nyuruh jangan setengah-setengah. Kasih komando yang jelas jadi tidak seperti ini!!" Gadis itu sudah semakin geram, terlebih semua teman-temannya sudah pulang. Kenapa bisa ada pria menakutkan sekaligus mengesalkan seperti dia sih. Begitu pikir Nuha yang tengah mengepalkan kedua tangannya namun bergumam istighfar setelahnya.
Hingga ada satu ustadz pria yang bersedia menolongnya.
"Biar ku bantu dek." Ucapnya seraya tersenyum, seolah memberi hawa segar setelah Serangan hawa panas akibat tingkah menyebalkan A' Faqih.
"Alhamdulillah, terimakasih kak." Rasanya dia ingin langsung sujud syukur saat itu juga. Namun tidak lah, terimakasih saja sudah cukup.
Keduanya pun menata buku itu sembari mengobrol singkat. Iya nama pria itu ada Farhat. Dia ustadz senior juga yang mengajar di sini, salah satu teman dekat A' Faqih.
Dengan sinar di luar yang mulai redup akibat senja, kak Farhat masih setia membantu. Hingga datang Faqih mengamati keduanya dari kejauhan.
'dia bisa tertawa seperti itu di depan Farhat?' mengamati keduanya masih terus mengobrol ringan, dengan ekspresinya yang datar Hingga satu buku terakhir di tangan Nuha terulur ke arah Farhat.
"Sudah tidak ada lagi?" Tanyanya lembut. Nuha pun menggeleng. "Alhamdulillah." Meletakkan buku itu kemudian.
__ADS_1
"Sudah sore, sebaiknya kau pulang dek." Titah kak Farhat.
"Iya kak, terimakasih ya atas bantuannya." Tersenyum. Walaupun tidak menatap langsung ke arah Farhat.
"Iya sama-sama. Ya sudah sana."
"Iya, Nuha pulang dulu, assalamualaikum."
"Walaikumsalam warahmatullah." Jawab Farhat, pada gadis yang sudah berjalan keluar. Pandangannya seolah belum terlepas dari itu dengan bibir yang terus saja tersungging. sehingga membuat Faqih segera mendekati.
"Ehmmm!" Berdeham di hadapannya. Seraya menyandar di rak buku itu. Pria itu pun terkesiap. "Jaga pandangan sama lawan jenis." Ucap Faqih. Pria itu pun terkekeh Seraya beristighfar.
"Ku pikir kau sudah pulang."
"Bagaimana mungkin aku pulang, sementara masih ada satu pria dan wanita yang bukan muhrimnya di perpustakaan ini," jawabnya.
"Ahhh, hahaha kau benar... Ayo pulang." Ajak Farhat, keduanya pun melangkah bersama setelah mengunci pintu perpustakaan itu lebih dulu.
"Emm? Faqih, aku ingin bertanya?"
"Apa?"
"Keluarga mu kan dekat dengan keluarga Nuha, apa kau tahu tentang dia?" Tanya Farhat, Faqih pun menghentikan langkahnya.
"Maksudnya?"
"Emmm, itu? Apa Nuha sudah ada yang mengkhitbah? Kalau belum?"
"Ada! Sudah ada ada yang mengkhibahnya bahkan dia hendak menikah sebelum ramadhan ini." Jawab Faqih.
"Benarkah? Dengan siapa?" Tanya Farhat dengan raut wajah sedikit kecewa. sementara Faqih hanya diam saja. "Hei, dengan siapa?"
"Ada lah pokoknya. Nanti juga kau tahu sendiri." Jawab pria itu yang langsung melenggang lebih dulu.
"Sayang sekali." Gumam Farhat. Sementara Faqih semakin merasa khawatir, gadis itu benar-benar istimewa. Bahkan Farhat pun seperti mengaguminya.
Sehingga membuat Faqih merasakan pesaingnya semakin bertambah. Belum lagi sikap Nuha yang seperti lebih ramah pada Farhat tidak seperti kepadanya. Hal itulah yang semakin membuatnya takut jika Nuha akan menolak lamarannya.
__ADS_1
dengan langkah kaki cepat ia tidak sabar untuk menemui Abinya dan mendengarkan jawaban dari ustadz Irsyad.