
Waktu Ashar memang jamnya Irsyad Sholat berjamaah dengan keluarganya di rumah. Waktu rutinnya juga di setiap awal pekan untuk memeriksa hafalan Qur'an kedua anaknya.
Dua anak itu sudah menghafal juz tiga puluh, dua sembilan, dan juz dua puluh delapan. Selama proses murojaah, Ustadz Irshad akan mendengarkan secara bergantian. Jika Nuha yang sedang menyetorkan hafalan, maka Rumi akan duduk di pojok lain untuk mengulang hafalan sebelum menyetorkannya.
Kini keduanya telah selesai, yang langsung di apresiasi oleh Abinya dengan sebuah coklat ungu kesukaan mereka.
"Nih, satu buat Kakak." Irsyad menyerahkan satu batang coklat pada Rumi yang langsung kegirangan menerima itu. Dan, berbisik pada Rumi. "Kakak lulus, besok tinggal belajar surah selanjutnya, ya."
"Alhamdulillah, terima kasih Abi."
"Sama-sama, anak Sholehku...," balasnya sambil meberi kecupan di kening dan sebuah doa khusus untuknya. Setelahnya bergeser pandang pada Nuha yang terlihat murung, dan terus menunduk.
"Satunya lagi buat, Dede." Menyerahkan pada Nuha, tangan kecil anak itu pelan-pelan menerimanya. Ustadz Irsyad sedikit mencondongkan tubuhnya lalu berbisik. "Dede belajar lagi, ya. Hafalkan surat yang tadi. Jangan lupa perhatikan tajwidnya. Paham, ya, Solehahnya Abi."
Irsyad melakukan hal yang sama, mencium putri kecilnya di kening lalu memberikan doa khusus. Nuha sendiri tak merespon. Selain terus menunduk dan lama kelamaan menangis tanpa suara.
"Loh?" Irsyad langsung meraih tubuh Nuha lantas membawanya ke pangkuan.
"Dede belum hafal, ya, Abi? Dede nggak lulus?" Tanya Rumi yang sudah mulai memakan coklatnya. Ia memang tidak mendengar bisikan Abinya kepada Nuha, namun ia bisa tahu dari hasil murojaah sang adik tadi.
Jari telunjuk Abi Irsyad menempel di bibir sambil tersenyum, meminta agar Rumi tak mengatakan itu. Karena Nuha sekarang semakin terisak-isak dengan kedua tangan semakin menguat di leher Abinya.
"MashaAllah tabarakallah...," gumam Beliau sambil bangkit. Tangan satunya mengusap kepala Rumi, lembut. "Kakak, ke Umma dulu, ya."
Anak itu mengangguk sambil buru-buru bangun juga dari posisi duduk bersilanya, lantas berlari kecil keluar dari ruangan sholat tersebut.
"Alaaaaach, Alaaaaaach... Dede, anak Abi sayang." Abi Irsyad menggerakkan sedikit tubuhnya untuk menenangkan Nuha yang terus saja menangis sambil membenamkan wajahnya. " Cup, cup... kok, jadi nangis? Abi, kan, nggak marah pas setoran Dede tadi banyak salahnya. Abi cuma bilang belajar lagi, ya?"
Nuha sama sekali tak menjawab. Ia masih saja menangis digendongan Abi Irsyad. Pria itu pun berjalan keluar ruangan sholat sambil bersenandung, membaca Sholawat Nabi.
Karena ruangan sholat melewati dapur dan ruang tengah. Umma Rahma yang sedang menyiapkan hidangan makan malam pun menoleh.
"Kenapa, Dede?"
"Biasaaaa...," jawab Abi Irsyad sambil tersenyum tanpa menghentikan langkahnya keluar, sementara tangan satunya menepuk-nepuk punggung, pelan.
Rahma menghela nafas panjang, paham. Kebiasaan ngambeknya Nuha saat dia belum lancar menghafal Al-Qur'an.
Demi memenangkan Nuha, Irsyad terus menggendongnya hingga keluar pagar rumah. Berjalan pelan menyusuri jalan beraspal.
Rumah-rumah di sana sudah mulai banyak di huni, sehingga setiap kali Irsyad melangkah. Ada banyak orang-orang yang menyapa Beliau begitu juga sebaliknya.
"Dede kalau hafalan, tuh, bagian mana yang susah, sih? Kasih tahu Abi, coba." Pertanyaan yang sama sekali tak membuat Nuha mengeluarkan suara sepatah pun. "Dede, harus tahu. Yang namanya belajar itu memang lelah. Tapi, nantinya Dede sendiri yang akan menerima manfaatnya."
__ADS_1
Anak itu masih tak bersuara. Tangannya malah justru sedang fokus membuka coklat miliknya.
Terkadang susah juga bicara sama anak usia tujuh tahun. Tapi setidaknya, kata-kataku tadi akan tetap diserap oleh otaknya. –batinnya sambil mengecup bahu Nuha, sambil melanjutkan langkahnya jalan-jalan ringan di jalan komplek.
🍂
🍂
Malam tiba, sehabis menyantap hidangan makan malam, Rahma menemani Nuha dan Rumi bermain sebentar. Nuha yang tadi ngambek sudah mulai ceria lagi dan melupakan kesedihannya.
Memang begitulah sifat anak-anak. Emosinya sering berubah-ubah. Namun, mudah juga sembuhnya.
"Dede, Kaka... sudah malam. Besok, kan, sekolah," ajak Rahma setelah melirik kearah jam.
Anak-anak itu tak membantah perintah ibunya. Mereka langsung saja membereskan semua mainan yang berserakan tanpa perlu disuruh.
"Umma, besok tunggu Kakak sama Dede lagi, kan?" Tanya Rumi setelah selesai membereskan mainannya.
"Lihat besok, ya. Kalau boleh sama Ustadzahnya, Umma di sana. Kalau nggak? Ya, Umma pulang. Kan, nanti jemputnya sebelum Kakak sama Dede selesai. Jadi Umma pasti sudah di sekolahan."
Rumi terdiam lalu memeluk Ummanya. "Kalau ada yang nakal, bagaimana?"
"Nggak akan ada yang nakal, Kak. Ada Ustazah, kan?"
"Kakak, takut, ya. Sama Rafiq?" Nuha menimpali sambil tertawa.
"Nggak papa, Sayang. Kan Rafiqnya tadi cuma mau kenalan dan jadi temannya Kakak."
"Tapi tadi mainan Kakak di ambil."
"Bukan, di ambil. Itu namanya pinjam. Di balikin lagi, kan?" tanya Umma yang melihat kejadian tadi. Anak itu pun mengangguk. "Nggak papa, nantinya jadi teman Kakak. Makannya jangan diem aja kalau ada teman mau ajak Kakak main, ya?"
"Iya Umma." Anak itu melepaskan pelukannya.
"Ya sudah tidur, yuk," ajaknya kemudian sambil bangkit lantas menggandeng kedua anaknya menuju tangga.
–––
Hampir satu jam berlalu, Rahma keluar dari kamar Rumi dan Nuha. Matanya yang memerah menujukkan dirinya habis ketiduran juga.
"Mas Irsyad sudah pulang belum, ya?" gumamnya sambil melangkah menuruni anak tangga.
Karena tadi suaminya bilang akan ada acara di rumah tetangga selepas isya. Jadi Beliau memang tidak ada di rumah sejak magrib tadi.
__ADS_1
"Dek!" Irsyad memanggil Rahma dari atas. Rupanya Suaminya sudah pulang.
"Rahma pikir belum pulang, Mas." Rahma kembali naik.
Di ruang tengah sudah menyala lampu yang redup, demi menggantikan lampu utama yang sengaja di padamkan ketika sudah malam.
"Sudah, Dek. Tadi, Mas juga sempat nengok ke kamar anak-anak. Kamunya udah tidur."
"Kok, nggak bangunin Rahma?"
"Mau bangunin, sih. Tapi perut Mas sakit, jadi ke kamar mandi sekaligus ganti baju juga. Niatnya keluar juga karena mau bangunin."
"Hemmm..." Rahma manggut-manggut.
"Itu tahunya kok masih banyak?" Tanya Irsyad yang sempat melongok ke dapur dan melihat tahu yang ia beli tadi di atas meja makan.
"Rahma sudah makan, kok. Dan yang punya Mbak Rani juga sudah di berikan."
"Tapi masih banyak banget. Opo rasane lain, Dek? Tapi kata kamu tadi enak."
"Enak, Mas. Cuman, Mas lihat sendiri. Tubuh aku sudah sebegitu besarnya."
"Yo wajar, wong sudah dewasa."
"Bukan itu. Aku tambah gemuk, nggak, sih?" Sedikit menghentak kakinya."
Irsyad bergaya seperti tengah mengamati dari atas ke bawah.
"Nggak, Ah! Biasa wae, tuh. Tambah cantik malahan."
"Maaaaas–" merengek karena tidak percaya.
"Tenane, Dek. Kamu nggak gemuk. Biasa aja..."
"Berarti aku terlalu biasa, ya. Jadi Mas nggak bisa melihat perubahanku? Atau memang nggak pernah memperhatikan selama ini?"
"Lah, ya nggak gitu, Dek. Mas memperhatikan, lah."
"Kalau memperhatikan pasti sadar aku tambah gemuk?"
Irsyad garuk-garuk kepala. –Piye, yo. Bilang'e. Mau tak jawab jujur pasti tambah nesu. Mau di jawab pake bumbu kebohongan sedikit, Dia bakal nggak percaya. Lah, nek, nggak di jawab pasti?
"Kan, diem saja? Mas emang nggak pernah peka sama perasaan istrinya," timpalnya sebelum Irsyad bersuara. Wanita itu pun langsung pergi ke kamarnya melewati Irsyad yang malah bingung sendiri.
__ADS_1
Tenan, to? Belum tak tebak sudah kejadian... (Irsyad)
"Loh, loh, Dek?" Pria itu menyusul Istrinya ke kamar mereka.