Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
Bab rindu 3


__ADS_3

Rahma meraih secarik tissue guna membersihkan mulut anak-anaknya yang belepotan terkena es krim.


Krinciiiing... sebuah lonceng yang berada di dekat pintu bergemerincing ketika pintu tersebut di buka. Membuat Rahma menoleh sebentar lalu tertegun saat melihat dua wanita berseragam hijau memasuki kedai tersebut.


Dari seragamnya, kayanya mereka perawat? –Rahma menebaknya dan memang benar. Dua wanita itu merupakan seorang perawat dari salah satu rumah sakit, yang berada sekitar tiga kilometer dari toko es krim ini.


"Semalaman ini aku banyak banget ngurusin pasien di UGD, Kak. Ya ampun, capeknya. Aku sampai nggak bisa tidur barang satu menit aja."


"Sama ruang ICU juga lumayan. Apalagi ada pasien yang sedang di pantau kondisinya tiap tiga puluh menit dan meninggal di pukul lima pagi tadi."


Benar perawat, rupanya. Jadi ingat pekerjaanku, dulu.


Diam-diam Rahma terus mendengarkan pembicaraan mereka berdua, serta mengamati pakaian berlengan pendek serta celana panjang. Sementara rambutnya di sanggul rapi yang membuatnya bernostalgia.


Dulu aku perawat yang bertugas menjaga bangsal. Memang, kalau jaga malam paling melelahkan, rasanya tidur seharian pun nggak cukup untuk mengganti tidur malam yang tertunda itu.


Rahma ingat sekali, saat dia harus menahan kantuk setiap kali jaga malam, dan bergantian tidur dengan temannya sesama perawat. Ya, moment yang seketika membuatnya kembali mengenang Dokter Fikri.


Jika ada pintu yang paling disenangi setan untuk dimasukinya, itu adalah pintu Khayalan. Dimana orang akan membayangkan masa lalu, setelahnya berandai-andai. Hingga tersalurkan pada sesuatu yang haram untuk di kenang.


"Astaghfirullah al'azim–" Rahma yang mengingat ucapan Irsyad langsung beristighfar. Benar kata, Mas Irsyad. Padahal aku hanya mengenang masa kerjaku dulu. Tapi kenapa mendadak ingat Almarhum?


Bibirnya terus bergumam istighfar hingga dua wanita yang hanya membeli es krim dan camilan secara take away itu pergi. Rahma menghela nafas.


Kadang rindu dengan pekerjaan itu hal wajar, kan? Tapi kenapa akhir-akhir ini aku sering mengingat dunia pekerjaan ku dulu, ya? Apa aku hanya jenuh karena selama ini sibuk mengurus anak-anak?


"Umma, Dede sudah selesai," ujar Nuha yang sedikit mengagetkan Rahma. Wanita itu mengangguk pelan dengan mata menyipit sebab senyum.


"Kakak juga, Umma..."


"Es krim Kakak belum habis, tuh, Umma!" Menunjuk gelas berisi es krim milik Rumi yang sudah sedikit lumer, dan masih tersisa setengahnya.


"Kok nggak di habiskan?" Tanya Rahma mencicipi sedikit punya Rumi.


"Kenyang, Umma."


"Tapi jadi mubazir."


"Es krim Kakak di bawa pulang, ya, Umma," pinta Rumi yang tak ingin mendebat adiknya. Rahma pun tersenyum sambil mengangguk lalu meminta plastik mini untuk membungkus gelas es krim tersebut.

__ADS_1


–––


Saat perjalanan pulang, situasi jalan memang cukup ramai. Yang lebih di dominasi oleh ibu-ibu yang sama sepertinya habis menjemput anak sekolah.


Posis mereka saat ini sebagai berikut: Nuha yang membonceng di depan, sementara Rumi di belakang. Ya, memang sengaja di berlakukan posisi yang seperti itu. Demi menghindari kejailan keduanya yang tidak bisa tenang saat di atas kendaraan. Tentu hal itu sangat membahayakan. Maka dari itu, memisahkan keduanya adalah pilihan tepat.


Memang sudah rutinitas seorang ibu-ibu pada umumnya. Mengendarai sepeda motor, mengantar dan menjemput anak sekolah. Rahma mulai menikmati peran tersebut dengan sukarela dan bahagia pastinya.


Sebelum memasuki kawasan perumahan, mereka harus bertemu lampu merah lebih dulu di perempatan. Terik matahari sudah terasa menyengat di kulit, membuatnya sedikit tidak nyaman.


Sambil menunggu, iseng-iseng Rahma menoleh ke sisi samping, dan mendapati seorang wanita berkerudung dengan ukuran biasa yang di lilitkan di leher, plus baju one set seukuran body. Sedang sama-sama menunggu lampu lalulintas berubah hijau. Di belakangnya terdapat seorang anak laki-laki yang membonceng juga. Mungkin itu anaknya.


Melihat orang-orang jaman sekarang pakai kerudung seperti itu terlihat muda dan elegan, ya. Apalagi dengan tubuhnya yang ramping. Kalau aku pakai baju seperti itu. Entah komentar apa yang akan di layangkan Mas Irsyad?


Rahma cekikikan tanpa suara. Membayangkan wajah tidak sukanya Irsyad jika dia memakai baju seperti itu. Namun, ia juga sadar. Bentuk tubuhnya yang sedikit gempal. Tidaklah cocok memakai pakaian pas body seperti itu.


Hmmmm... alangkah bahagianya wanita itu. Sudah punya anak tapi badan masih langsing. Berbeda dengan ku.


Setelah puas mengamati ia kembali melirik ke diri sendiri. Dengan gamis yang lumayan longgar, membuat tubuhnya semakin terlihat lebih berisi.


Akhir-akhir ini, aku semakin tidak pede saja dengan penampilan sendiri. Ingin rasanya menjadi langsing, setidaknya aku tak terlihat tua sekali, walaupun memakai gamis besar. Dan tingkat percaya diriku, saat hanya berdua di kamar dengan Mas Irsyad, pasti juga lebih besar.


Suara klakson mengagetkan ibu dua anak itu. Rupanya lampu sudah hijau.


"Aku ini melamun apa, sih?" Rahma bergumam sendiri sebelum kembali melanjutkan perjalanannya untuk pulang.


***


Di rumah...


Seorang Asisten rumah tangga mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam kamar Rumi dan Nuha. Dimana Rahma tengah sibuk memandikan anaknya secara bergantian, yang sekarang adalah gilirannya Nuha.


"Ibu, maaf. Bapak sudah pulang," katanya memberi tahu.


"Oh, ya, Mbak." Rahma meranggai handuk warna pink untuk Nuha yang baru selesai di mandikan. "Dede pakai baju sama, Mbak Rani, ya. Umma mau keluar sebentar."


"Iya, Umma–" jawabnya sebelum berlari kecil ke pojok kamar yang di susul Mba Rani ke bagian karpet puzzle warna-warni. Sementara Rahma langsung keluar dari kamar tersebut karena tugasnya sudah di ambil alih oleh sang asisten rumah tangga.


...

__ADS_1


Di luar...


Ustadz Irshad sedang berjongkok di sebelah Rumi. Anak laki-laki dengan wajah putih karena bedak tabur itu sedang bermain puzzle kayu.


"Sudah pulang, Mas?" tanya Rahma sambil meraih tangan suaminya yang seketika bangkit.


"Sudah, Dek. Mas, kan, berangkat pagi. Jadi bisa pulang lebih awal."


"Tapi Rahma jadi belum seger penampilannya," terkekeh. Wanita dengan daster panjang itu menggaruk kepalanya hingga ikatan rambutnya menjadi berantakan.


"Yo nggak papa, Dek. Iki, Mas sudah bawain yang kamu mau," menyerahkan bungkusan berisi tahu aci. Kontan saja, kedua mata Rahma berbinar. Bergegas ia menerimanya, lantas duduk di sofa ruang tengah untuk mencicipi.


"Pie, enak, to?" tanyanya setelah Rahma mengambil satu gigitan.


"Enak, Mas. Persis seperti yang waktu itu, pernah kamu bawa."


"Iyo lah, enak. Mas sempet antri lama, nggak tahu aja kalau tempatnya seramai itu."


"Oh, ya? Laris berarti. Pantes, sih. Enak gini."


"Iya, Dek. Sebelumnya Ulum sudah kasih tahu kalau tempatnya emang rame banget. Dan sempat nyaranin, buat order lewat aplikasi aja. Tapi aku cuma mau tahu tempat'e, alhasil beli sendiri. Walau ternyata jauh... sudah gitu belinya harus pake nomor antrian," tuturnya sembari menonton istrinya memasukkan separuh tahu Aci di tangannya langsung ke dalam mulut.


"Segitunya. Kamu pasti lelah, ya, Mas?"


"Yo, Ndak. Kan demi kamu... rela antri, loh ini."


"Hemmmm... iya, iya. Yang sudah berjuang demi Istrinya bisa makan Tahu Aci, Tegal."


Irsyad tertawa, sambil mengangkat sedikit tangannya. Melirik jam, "Mas mau mandi dulu, Dek. Bentar lagi masuk waktu Ashar."


"Iya, Mas. Rahma juga. Tapi aku mau mandi di kamar Nuha saja."


"Yo. Mas tak naik dulu, ya."


"Iya," jawabnya masih terus memakan tahu Aci yang garing dan kenyal itu. Ustadz Irsyad tersenyum. Beliau bangkit dan berjalan menjauh dari sana, menuju tangga lantai dua.


Di sisi lain, Rahma yang niatnya hanya mencicipi saja, tanpa di sadari ternyata sudah menghabiskan tiga biji tahu. Kini ia sedang memegang tahu keempat.


"Astaghfirullah al'azim. Sekarang nafsu ngemil ku, kok, makin nggak terkontrol, ya?" Rahma menyadari, sekarang punggung tangannya yang putih dan bersih itu terlihat semakin gempal. "Sepertinya aku sudah harus menghentikan kerakusanku."

__ADS_1


Di tutupnya lagi kotak berisi tahunya. Lalu ia pun memasukkan ke dalam kantong keresek yang tadi sebelum di bawa ke dapur.


__ADS_2