Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
kontraksi


__ADS_3

Setelah bebersih Ulum dan Aida duduk di atas karpet sembari menikmati makan siang mereka. Melihat Ulum makan dengan lahap Aida benar-benar merasa senang, pandangannya bahkan tidak lepas mengarah kepada suaminya yang mulai menyadari sepasang mata itu terus memandanginya.


"Kenapa ngeliatin mas terus? Terkesima ya?" ledek Ulum sembari terkekeh.


"Iya, entah mengapa setiap hari rasanya rindu terus. Mungkin karena waktu mas yang lebih banyak di luar." ucap Aida.


"Aida bisa saja. Mas kan bekerja, supaya tabungan kita itu cepat terkumpul sayang." ucap Ulum sembari mengusap perut Aida.


"Ya sudah lanjut makannya sayang. Nasi kamu masih banyak itu." titah Ulum.


"Aida kenyang mas."


"Kebiasaan kan?? Kalo makan pasti tidak abis." ucap Ulum.


"Lagi porsinya banyak sekali. Kan Aida tidak habis."


"Aida harus makan yang banyak. Kan makannya terbagi untuk anak kita juga." ucap Ulum, kini dirinya sudah menghabiskan nasinya. Ia pun mengangkat piring Aida dan menyendok kan nasi itu.


"Yuk mas suapi. Kamu kalau makan sendiri pasti tidak habis."


"Sungguh Aida kenyang mas." ucap Aida. Ulum menghela nafas.


"Aida itu sayang pada mas Ulum tidak?" tanya Ulum.


"Ya jelas mas. Kok mas tanya itu sih?"


"Nah mas juga sayang sama Aida, dan Mas itu kerja buat siapa?? Demi bisa membuat istri mas ini tidak kelaparan. Masa iya Aida mau membuang rezeki yang sudah Allah kasih pada kita." tutur Ulum.


"Maaf mas."


Ulum tersenyum, "kalau begitu habiskan ya." Pinta Ulum yang di balas dengan anggukan kepala Aida. Ulum pun memasukan sesuap nasi itu ke dalam mulut istrinya. Dan hal itu pula yang sangat di senangi Aida. Yaitu makan dari tangan suaminya, rasanya jauh lebih nikmat. Hingga tanpa sadar nasi di piringnya sudah habis.


"Pinteran ya, maunya di suapi baru habis deh makanannya." Ulum terkekeh.


"Mas itu bisa saja ya, Aida jadi seperti anak kecil." Aida turut tertawa ia pun menyentuh lengan Ulum yang terluka, yang saat itu pula membuat Ulum mengaduh. Aida melepaskan tangannya cepat.


"Mas kenapa? Tangan mas sakit?" tanya Aida.


"Tidak kok," Ulum mangkir ia berusaha beranjak dengan tangan yang sudah meraih dua piring di dekatnya. Aida kembali meraih lengan Ulum itu dan lagi-lagi Ulum meringis.

__ADS_1


"Tuh kan, tangan mas sakit. Coba Aida mau lihat. Jangan-jangan ada luka lagi." Bidik Aida yang tengah berusaha meraih tangan Ulum lagi.


"Tidak ada luka Aida, mas cuma kaget saja tadi."


"Kaget bagaimana? Memang Aida tidak pernah menggelayut manja di lengan mas apa? Coba lihat sebentar mas." Aida meraih tangan itu.


"Ja... Jangan Aida, sungguh tidak ada luka." Terlambat. Aida sudah menggulung lengan baju Ulum pelan.


Aida menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Ya Allah luka ini?" Perlahan Aida terus menggulung nya naik dan luka itu masih terus nampak. Ia pun melihat kedua telapak tangan Ulum yang juga lecet. Dan juga di bagian punggung kakinya.


"Ya Allah, kok Aida baru menyadari nya?kenapa bisa badan mas lecet semua begini? Mas jujur sama Aida? Mas habis terjatuh ya dari sepeda motor?" tanya Aida.


Ulum garuk-garuk kepala "itu? Mas cuma tergelincir sedikit kok tadi."


"Lalu kenapa tidak cerita mas. Kenapa harus di sembunyikan. Pantas mas pakai lengan panjang, supaya Aida tidak melihatnya begitu?"


"Aida, mas cuma tidak mau kau khawatir."


"Aida lebih khawatir kalau mas tidak mau terbuka. Kalau sampai ada apa-apa seperti luka dalam, bagaimana?"


Ulum tersenyum. "Tidak lah dek, mas jatuhnya tidak keras tadi, cuma terpeleset saja karena adanya batang pohon kayu yang terjatuh di hadapan mas. Dan itu juga mas kaget sayang, mas mengerem mendadak. itu sebabnya mas jadi terpeleset."


"Tidak apa-apa sayang, tidak sakit kok."


"Copot mas," titah Aida.


"Iya, iya mas copot." Ulum pun melepaskannya. Dari situ pula air mata Aida mulai menetes.


"Ya Allah mas, ini sih lecet nya bukan sedikit lagi tapi lumayan parah. Mas kok diam saja sih." isak Aida.


"Ini yang mas tidak mau, mas takut kamu khawatir dan sedih makanya mas diam saja."


"Tapi Aida tidak mau mas hanya diam saja. Aida obati ya?"


"Ummmm tapi Kita tidak punya obat merah sayang." Kata Ulum.


"Mas benar. Terus bagaimana."


"Ya sudah nanti mas beli dulu ya,"

__ADS_1


"Tapi tangan mas kan masih sakit."


"Masih bisa kalau naik motor mah, sudah jangan sedih lagi ya."


"Iya tapi janji ya libur dulu jangan ngojek loh mas."


"Loh, kalau mas tidak ngojek bagaimana mas bisa nabung coba?"


"Mas lihat celengan di kamar itu sudah ada tiga dan itu semua sudah penuh karena mas menabung dari usia kandungan Aida masih masuk dua bulan mas. Aida rasa tidak masalah jika mas tidak ngojek untuk dua hari ke depan." Pinta Aida.


"Iya, mas istirahat tapi tidak dua hari juga lah sayang. Kan kita juga butuh makan belum kebutuhan yang lain. Susu kamu, vitamin kamu, dan lagi, minggu depan jadwal kamu USG lagi kan?"


"Aida rasa mas tidak perlu membelikan Vitamin ataupun susu hamil lagi mas. Itu sedikit boros juga."


Ulum mengusap kepala Aida. "Tidak boros buat mas kok, yang penting demi mencukupi kebutuhan nutrisi kamu dan calon anak kita ini." ucap Ulum.


Aida menghela nafas, tidak ada lagi yang bisa ia katakan lagi. suaminya memang pekerja keras. Dan ia bahkan handal mengatur keuangan. Mungkin karena sudah terbiasa. Dengan itu pula Aida merasa bersyukur karena hidup dengan pria yang lemah lembut dan mau berusaha bertanggung jawab baik lahir ataupun batin. Terlebih setelah Ulum menyelesaikan kuliahnya dengan baik, Ulum bisa mengalihkan tabungan biaya kuliahnya itu untuk biaya persalinan istrinya nanti.


***


Hingga suatu masa, Aida dan Ulum tengah tertidur dengan pulas pukul dua dini hari.


Aida terjaga, ia merasakan sakit di area bawah perutnya, dan panas di area pinggang bagian belakang. Saat itu Aida belum membangunkan suaminya. Sebenarnya rasa sakitnya sudah ia rasakan sejak pagi tadi, dan ia belum berbicara pada Ulum karena mulas yang ia rasakan masih bersifat tak menentu dan terus ilang-ilangan. Namun tidak untuk malam ini. Sepertinya rasanya lebih dari pada yang ia rasakan tadi.


Aida pun meremas tangan Ulum sehingga membuat Ulum terjaga dan menyadari istrinya sedang merasa kesakitan.


"Aida, kenapa?"


"Perut Aida sakit mas."


"Mungkin kah sudah waktunya?" tanya Ulum.


"Mungkin mas." jawab Aida.


"Ya ampun. Ya sudah kita ke rumah sakit ya." ajak Ulum. Aida pun mengangguk. Dengan cepat Ulum menghubungi rekan sesama Driver ojol melalui grup chat nya, meminta bantuan bagi driver mobil yang tengah berada di sekitar kawasannya. beruntung salah satu temannya itu ada yang kebetulan tengah berada di sana dan bersedia membantu Ulum.


Selang beberapa menit mobil temannya tiba. Ulum pun menggendong tubuh Aida dan membawanya keluar menuju mobil temannya yang kita sebut saja Joni.


"Joni tolong bawa kami, Ke rumah sakit khusus bersalin terdekat ya." titah Ulum. Joni pun mengangguk. Ia segera membawa laju mobilnya menuju rumah sakit terdekat.

__ADS_1


__ADS_2