
Ba'dha zhuhur Ustadz Irsyad dan Ustadz Rahmat sudah berdiri di sebuah parkiran kampus.
"Mau pakai mobil saya saja atau bagaimana ini tadz?" tanya Irsyad.
"Kita pakai kendaraan sendiri-sendiri saja Ustadz. Biar selepas ini bisa langsung pulang." jawabnya.
"Oh baiklah kalau begitu. Mari Tadz" ucap Irsyad sembari membuka pintu mobilnya.
"Iya tadz" jawab Ustadz Rahmat. Yang lantas berjalan kearah mobilnya.
Mereka pun sudah mengambil keputusan. Mengunjungi rumah pak Huda menggunakan kendaraan masing-masing.
Sesampainya di sebuah gang Irsyad dan Ustadz Rahmat keluar dari dalam mobil mereka.
"Mari." Ajak Ustadz Rahmat, Irsyad pun mengangguk keduanya jalan secara beriringan, masuk kedalam gang. Sudah hampir sampai mereka di dekat rumah Pak Huda namun sesaat Irsyad mengingat sesuatu yang tertinggal di dalam mobilnya.
"Astaghfirullah, maaf tadz saya harus kembali ke mobil, ponsel saya tertinggal. Ustadz lanjut saja dulu, nanti saya menyusul." tutur Irsyad.
"Oh iya Ustadz."
Irsyad pun berbalik arah, ia berjalan keluar gang menuju mobilnya dan meraih ponsel yang tertinggal di dashboard mobilnya. Setelah itu kembali berjalan masuk kedalam gang itu lagi.
Bruuuuk. Irsyad menoleh kebelakang cepat. Sesaat setelah mendengar sesuatu dari arah belakang, yang di barengi dengan suara tangisan pula.
"Innalillah." Irsyad menghampiri seorang anak yang terjatuh dengan posisi tengkurap akibat berlari. Anak itu masih berumur sekitar lima tahun. Mengenakan koko dengan tas yang di gendongnya sepertinya anak itu baru saja pulang mengaji.
"Cup cup.. Jangan menangis dek. Coba bapak lihat ya? Mana yang sakit?" tanya Irsyad lembut. Anak itu masih terisak karena bagian lutut dan telapak tangannya yang sedikit lecet.
"sudah, tidak apa-apa, jagoan tidak boleh menangis ya. Yuk bapak antar pulang." Irsyad membopong anak tersebut.
"Rumahnya dimana?" tanya Irsyad sembari berjalan, anak itu hanya menjawabnya dengan jari telunjuknya yang menunjuk kearah depan. Irsyad tersenyum ia terus berjalan mengikuti arahan anak tersebut.
Setelah dekat dengan tujuan. Anak itu menunjuk kearah sebuah rumah sederhana bercat hijau.
"Itu rumahnya?" tanya Irsyad, anak itu mengangguk. Tak lama seorang wanita bercadar keluar sembari menggendong anak.
"Bilal?" Panggilnya. Matanya kemudian tertuju pada Irsyad.
"Ya Allah pak Irsyad. Bagaimana bisa?" Gumamnya.
Irsyad mendekati wanita itu. "Assalamu'alaikum bu, maaf tadi anak ini terjatuh di depan gang sana." ucap Irsyad ramah.
"Emmm, terimakasih pak." tuturnya.
Dari situ Irsyad baru menyadari ia seperti mengenali suara wanita di hadapannya.
'Tunggu.' batin Irsyad yang seakan mengingat sesuatu.
Sebuah tangan kecil dari sang anak yang tengah ia gendong menarik cadarnya, sehingga membuat cadar itu terlepas.
Irsyad tertegun, untuk beberapa saat matanya tertuju pada wajah yang ia kenal.
__ADS_1
"Isti?" gumam Irsyad. Dengan cepat wanita itu menutup kembali bagian wajahnya. Irsyad pun berpaling.
"Terimakasih pak Irsyad, sudah menolong anak saya." tuturnya. "Dan maaf saya harus masuk assalamu'alaikum." ucap wanita itu yang lantas menggandeng tangan Bilal dan buru-buru masuk kedalam rumahnya.
"Walaikumsalam." gumamnya lirih.
Irsyad segera putar haluan ia berjalan cepat menuju rumah pak Huda yang memang tidak jauh dari rumah Isti.
Di depan rumah pak Huda. Ustadz Rahmat sudah duduk di teras rumah pak Huda bersama beliau tentunya. Irsyad pun menghampiri keduanya.
"Assalamu'alaikum," sapa Irsyad sembari menjabat tangan pak Huda dan memeluknya.
"Walaikumsalam warahmatullah." jawabnya.
"Dari mana saja ini? Kok baru sampai, memang parkirnya mobil jauh ya?" ledek Pak Huda.
"Pak Huda bisa saja. Maaf, tadi saya menolong seorang anak dulu. Bagaimana kondisi pak Huda?" tanya Irsyad.
"Sudah lebih baik."
"Syukur Alhamdulillah pak." Irsyad tersenyum. "Maaf, saya mau tanya? Apa Isti masih tinggal di dekat sini ya?" Sambungnya.
"Isti?" pak Huda berfikir sejenak, mengingat nama Isti seperti tidak asing baginya.
"Isti siapa tadz?"
"Nur Istiqomah."
"Siapa itu pak?" tanya Ustadz Rahmat.
"Wanita yang sempat akan di khitbah Ustadz Irsyad. Mantan mahasiswi beliau dulu. Beliau terlalu lama mikirnya, lebih tepatnya tidak kunjung berani, dan giliran sudah berani eh sudah di khitbah orang lain duluan." jawab Pak Huda sembari terkekeh-kekeh.
"Waduh." ustadz Rahmat pun turut terkekeh.
Wajah Irsyad memerah merasa malu karena pak Huda membuka cerita masa lalunya pada Ustadz Rahmat.
"Ustadz kenapa tiba-tiba tanya itu, ingat loh sudah ada istri sekarang. Dan lagi antum masih ingat saja panggilan sayangnya. Hahaha." Pak Huda tertawa.
"astaghfirullahalazim, kenapa bicara seperti itu pak?" Irsyad merasa kurang nyaman dengan ledekan pak Huda itu.
"Maaf ustadz. Hanya bercanda. Habis hanya Ustadz Irsyad loh yang memanggil nisa dengan sebutan Isti."
Irsyad geleng-geleng kepala dan memilih untuk mengganti topik pembicaraan itu. Agar tidak terlalu dalam membahasnya.
Di teras rumah itu ketiganya terus mengobrol hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan pak Huda. Pria itu terserang penyakit DBD namun untuk saat ini beliau sudah baik-baik saja setelah di rawat lima hari di rumah sakit.
Setelah mengobrol cukup puas kedua Ustadz itu berpamitan. Pulang karena istri Ustadz Rahmat sudah menghubungi beliau untuk cepat pulang. Lagi pula waktu juga sudah semakin sore.
***
Malam berselang. pukul tujuh malam Irsyad baru saja pulang dari masjid.
__ADS_1
perlahan Irsyad membuka pintu kamarnya sembari berucap salam yang langsung di sambut Rahma dengan hangat, di dalam beliau mendapati Rahma tengah menyusui Nuha di ranjang si kembar, sedangkan Rumi sudah tertidur pulas.
"sudah pada bobo anak abi." ucap Irsyad sembari mengecup pipi Rumi, lalu kepala Nuha, dan terakhir mendarat di kening Rahma.
"baru saja ini mas. tunggu sebentar ya mas. tunggu Nuha terlelap, nanti Rahma temani makan malamnya."
Irsyad tersenyum sembari mengangguk. "mas turun dulu ya." tutur Irsyad. Rahma pun mengiyakan.
Irsyad berjalan keluar menuju ruang tengah. mendekati sebuah rak buku yang berada di sana.
"banyak buku di sini yang sudah tamat ku baca, dari pada menuhin rak, mending ku serahkan ke Perpustakaan kampus saja ya."
Irsyad meraih sebuah kotak karton lalu meraih beberapa buku yang masih tertata di sana satu demi satu ia masukan kedalam kotak karton tersebut.
"debunya banyak juga ya, lama tidak membenahinya." kedua tangannya masih terus bekerja membereskan satu demi satu buku-buku itu.
praaaakkk sesuatu terjatuh Irsyad pun tercengang. ia meraih sebuah tasbih yang baru saja terjatuh.
'maaf Ustadz, ada beberapa biji yang hilang, jadi Saya menggantinya dengan manik-manik yang lain.' Ucapan Isti kala menyerahkan tasbih itu tiba-tiba terngiang.
"kenapa tasbih ini masih ada?" gumamnya.
"mas Irsyad." panggil Rahma. Irsyad pun terkesiap kaget.
"ya Allah Rahma mengagetkan mas." Tuturnya. Rahma sedikit terkekeh.
"mas sedang berbenah ya?" Tanya Rahma.
"iya dek. ini bukunya sudah sangat banyak menuh-menuhin rak jadi sedang mas sortir." jawabnya.
"ini apa?" Rahma meraih tasbih di tangan Irsyad.
"cantiknya, baru tahu ada tasbih seperti ini. lima bijinya lain tapi di urutan dengan baik malah jadi terlihat cantik." Tuturnya.
Irsyad diam saja, mengamati Rahma yang masih memegangi tasbih itu.
"ini masih mas pakai?" Tanya Rahma. Irsyad menggeleng.
"buat Rahma ya."
"hah?"
"buat Rahma mas."
"Rahma kan, sudah ada tasbih. ini sudah berdebu sayang kotor juga kan."
"tidak apa-apa bisa di bersihkan kok. ya, buat Rahma." Rahma melingkari kedua tangannya di pinggang Irsyad. Irsyad pun tersenyum lalu mengangguk pelan.
"senangnya." Rahma girang sehingga membuat Irsyad mengecup kening Rahma cukup lama.
'ya Allah sang Maha membolak-balikan hati. tolong teguhkan hati ku, hanya untuk istri ku Rahma. jangan kau goyah kan hanya karena bertemu lagi dengan gadis dari masa lalu ku.' Irsyad membalas pelukan Rahma erat.
__ADS_1
"mas mencintai mu dek Rahma." gumamnya sangat lirih Rahma pun tersenyum, karena ia masih bisa mendengarnya mendengarnya.