
Keduanya kini sudah berada di sebuah area food court. Dimana Irsyad dan Rahma tengah berdiri agak jauh di depan meja pemesanan.
"Mas," panggil Rahma, Irsyad menoleh.
"Mas kenapa diam saja?" tanya Rahma.
"Diam bagaimana dek? Ini mas bicara."
"Ya sekarang setelah Rahma tegur, tangan Rahma saja tidak di gandeng tuh."
Irsyad terkekeh ia geleng-geleng kepala. "Iya maaf ya, ya sudah, ade mau makan apa?"
"Rahma mau fire chicken, yang pakai saus keju mas."
"Jadi Rahma mau makan itu?" tanya Irsyad. Rahma mengangguk.
"Ya, sudah yuk kita pindah food court." ajak Irsyad.
"Mas." Panggil Rahma karena Irsyad jalanan lebih dulu. Irsyad pun menoleh ke belakang.
"Tangan Rahma kotor ya? Makanya Mas jadi tidak mau menggandeng lagi."
"Astaghfirullah, iya sayang." Irsyad tersenyum lalu meraih tangan Rahma dan membawanya keluar menuju food court lain.
Agak sedikit heran sebenarnya Rahma, karena Irsyad yang jadi lebih diam semenjak keluar dari tempat Teater tadi. Namun ia belum paham dengan apa yang terjadi pada Irsyad. Lebih tepatnya tidak menyadari.
Kini mereka sudah masuk ke tempat yang di tuju. Dimana lokasi itu sedikit ramai pengunjung. Terlihat dari banyaknya orang yang mengantri di sana.
"Yakin mau makan di sini dek? ramai sekali kelihatannya." tanya Irsyad.
"Iya Rahma sudah lama tidak makan ini, habis mas tidak suka pedas, maunya yang Original terus Rahma kan bosan." ucap Rahma.
"Ya sudah mas pesan dulu ya. Kamu duduk saja." kata Irsyad.
"Rahma mau level 5 ya mas," Pinta Rahma.
"Lah kok level 5, jangan dek, itu pasti pedas sekali." Ucap Irsyad.
"Tidak papa mas, Rahma biasa makan dengan level itu."
"Level 3 saja ya. Nanti perut dek Rahma sakit."
"Tidak mau, Rahma mau level 5 mas."
__ADS_1
"Haduh ya sudah lah dek, mas pesan dulu ya." ucap Irsyad sembari mengusap kepala Rahma dan berjalan kearah Antrian para pengunjung food court tersebut. Sembari bermain ponsel Ustadz Irsyad menunggu antriannya maju hingga akhirnya sampai lah beliau di ujung antrian tersebut.
"Permisi pak mau pesan menu apa?" ucap pelayan tersebut.
Irsyad memesan original fried chicken, dan 2 potong fire chicken level 3, ya dia sengaja memesan yang lebih rendah tingkat kepedasan nya demi agar Rahma bisa menikmati makanannya itu tanpa harus tersiksa karena rasa pedasnya.
Setelah melakukan proses pembayaran Irsyad pun membawa pesanannya itu ke meja tempat Rahma duduk.
"Waaahhh Alhamdulillah keliatan enak sekali." ucap Rahma. Rahma pun menyadari potongan ayamnya miliknya lebih banyak dari pada Irsyad yang hanya makan satu potong ayam saja. "Kok Rahma dua, sedangkan mas cuma satu?"
"Nggak papa, kali saja Rahma ingin nambah jadi tidak perlu mengantri lagi." ucap Irsyad sembari tersenyum.
"Sebenarnya satu juga cukup kok mas, tapi tidak apa lah, terimakasih mas." ucap Rahma.
"Sama-sama sayang, ya sudah baca doa dulu ya." titah Irsyad Rahma pun mengangguk dan membaca doanya. Setelah membaca doa, ia mulai mencoba satu gigitan.
"Hmmm, kayanya kok tidak seperti biasanya. Mas Irsyad beneran pesan level 5 kan?" tanya Rahma.
"Iya dek, level 5 cuman tadi mas bilang gini ke mbaknya. Mbak? Pesan level 5 tapi di kurangi dua ya. Lalu setelah itu di kasih deh level 3." ucap Irsyad sembari terkekeh.
"Itu sama saja level 3. Mas ini." Rahma bersungut.
"Sudah di makan saja sayang, mas hanya ingin dek Rahma menikmati rasanya. Kalau pedas kan Rahma jadi tidak fokus pada rasa aslinya." ucap Irsyad.
"Iya, iya deh pak Ustadz."
"Iya lah, dari pada di kasih ceramah panjang nanti malah tidak jadi makan." jawab Rahma, Irsyad pun terkekeh, lalu kembali fokus pada makannya.
"Emmm ini kulit ayam mau tidak?" tanya Irsyad menawarkan.
"Tidak usah mas ini saja sudah ada dua potong dada ayam, itu buat mas saja." ucap Rahma.
"Bener nih, garing sekali loh ini kelihatannya?" goda Irsyad.
"Iya mas, ini sudah cukup kok." jawab Rahma.
"Alhamdulillah kalau begitu, akhirnya potongan ayam ini nggak kedinginan gara-gara kulitnya langsung mas lepas untuk Rahma." tutur Irsyad sembari tersenyum.
"Mas ini. Bilang saja bersyukur karena bisa makan kulit ayam itu kan?" tanya Rahma.
"Nah, itu ade tahu." Irsyad tertawa. Terlebih melihat wajah Rahma yang kembali bersungut membuatnya menarik hidung Rahma dengan gemas.
Di sana mereka pun makan dengan nikmat, menikmati kencan halal mereka berdua. Ya walaupun batal menonton film namun Rahma dan Irsyad senang bisa menghabiskan malam minggu di luar bersama, selayaknya pasangan muda lainnya.
__ADS_1
Makan malam dan berkeliling mall untuk beberapa menit sembari mengobrol singkat, di sela-sela obrolan mereka Irsyad menilik ke arah jam tangannya.
"Dek, sepertinya sudah masuk waktu Isya, kita ke masjid dulu yuk habis itu pulang." ajak Irsyad. Rahma mengangguk tanda setuju.
Mereka berjalan ke area parkir menuju mobilnya, lalu keluar dari area mall tersebut guna mencari masjid yang lebih luas di luar. Sebenarnya di mall juga terdapat masjid atau area ibadah namun Irsyad kurang nyaman sholat di masjid yang berada di lantai bawah tanah basement mall tersebut, di samping tempatnya sangat kecil dan sedikit pengap ia juga kurang khusyuk akibat suara bising dari mesin-mesin genset, yang berada di dekat area sholat itu.
Dan kini mereka sudah berada di sebuah masjid besar, lalu melangsungkan sholat berjamaah bersua di sana. Setelah selesai sholat dan berzikir singkat di sana Irsyad menoleh ke belakang lalu mengecup kening Rahma yang tengah melipat mukena nya. Rahma menoleh sejenak lalu tersenyum. Sembari membalas senyum Rahma Irsyad meraih tangan Istrinya itu.
"Ade mau kita kemana lagi sekarang? Mumpung waktu masih sore." tanya Irsyad.
"Pulang saja ya mas." ajak Rahma.
"Tidak mau jajan yang lain dulu?" tanya Irsyad, Rahma pun menggeleng.
"Ya sudah kalau begitu kita pulang ya." Irsyad beranjak dengan tangan masih memegangi tangan kanan Rahma, membantu nya untuk turut beranjak.
Setelah itu mereka pun pulang ke rumah, tanpa mampir ke tempat lain lagi.
***
Sesampainya di rumah...
Rahma melepas hijabnya, di hadapan Irsyad yang tengah meletakan kunci mobil mereka si sebuah laci meja.
Irsyad menoleh sekilas ke arah Rahma, sedangkan Rahma tersenyum ke arahnya. Melihat senyum Rahma itu, membuatnya mendekat. Irsyad pun menarik pipi Rahma itu dengan gemas.
Seperti biasa Rahma itu kurang suka jika pipinya di tarik Irsyad, itu juga yang membuat Irsyad semakin senang menariknya.
"Mas ini kenapa sih, suka sekali narik pipi Rahma. Kan sakit?" tutur Rahma.
"Mas gemas dek."
"Iya tahu gemas, tapi kalau keseringan kan pipi Rahma bisa panjang loh."
"Halah kamu yang ada-ada saja." tutur Irsyad kini malam kedua tangan itu menarik pipi Kiri dan Kanan Rahma.
"Mas." Panggil Rahma dengan nada menekan.
"Apa sih? coba mas mau lihat benar bisa panjang kah?" tanya Irsyad. Mendengar itu sontak membuat Rahma terkekeh.
"Lepas tidak, nanti Rahma gigit tangan Mas nih."
"Coba kalau bisa?" ledek Irsyad.
__ADS_1
"Iiiishh, lepas mas sakit." tutur Rahma dengan suara sedikit merengek manja.
"Ya Allah manjanya. Sesakit apa sih?? Coba gantian Rahma cubit mas." ucap Irsyad sembari melepaskan tangannya itu dari pipi Rahma. Rahma pun terkekeh kini Rahma berjalan menuju kamar mandinya meninggalkan Irsyad yang masih berdiri di dekat ranjang mereka.