Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
bab 21. Cinta mas Ulum (season 2)


__ADS_3

Pukul delapan malam itu...


Ulum baru saja selesai memijat-mijat kaki Aida, bahkan sampai sang istri tertidur dengan pulasnya.


Dia memang selalu berbuat seperti itu, jika tengah memberikan perhatian pada sang istri, menyuruh Aida untuk memejamkan matanya jika tengah ia pijit, karena pria itu hanya akan berhenti jika sang istri sudah tertidur.


Jujur saja ada ketakutan di benak Ulum jika kaki Aida kembali bermasalah. Hal itu bukan karena dia tidak ingin merawat Aida lagi, namun lebih ke takut jika sang istri akan kembali sedih.


Jika di ingat, dulu saja Aida pernah berkata ingin menyerah dan menyuruh Ulum untuk meninggalkannya saja. Semua sebab dia tidak ingin selalu menjadi beban suaminya terus menerus.


namun cinta Ulum yang besar pada Aida, membuatnya terus bertahan hingga akhirnya sang istri bisa berjalan lagi, seharusnya itu cukup untuk membuktikan jika dirinya memang tidak pernah mempermasalahkan itu, namun sejatinya wanita yang merasa memiliki kekurangan? sudah sewajarnya jika Aida akan merasa kekurangan itu sebagai sesuatu yang akan menyusahkan sang suami.


Ulum merebahkan tubuhnya di sebelah Aida, dia menopang kepalanya dengan tangan kiri, tidur dalam posisi miring menatap dengan seksama sang istri.


"Wajah mu selalu membuat ku tenang. Kau tahu? mas itu sangat bahagia memiliki istri seperti mu Aida. Tetap sehat ya sayang ku, aku mencintaimu." Ulum mengecup kening Aida cukup lama, lalu melepaskannya.


tersenyum.


Ulum memeluk tubuh sang istri dan menutup matanya. Ia ingin segera bertemu hari esok, guna kembali melihat wajah sang istri yang tengah tersenyum ceria.


Pagi harinya... Tepat pukul empat pagi sebelum adzan subuh. Aida terbangun, ia lantas menyingkirkan pelan tangan Ulum yang masih memeluknya. Lalu mencoba turun dari ranjangnya.


Berusaha berdiri namun kaki itu benar-benar terasa lemas. Aida pun kembali duduk.


"Ya Allah, ku mohon. Jangan sampai bermasalah lagi." Matanya mulai berkaca-kaca.


Ia masih berusaha kembali berdiri. Namun tetap saja, Aida merasa sedikit kesulitan untuk melangkah dengan normal, Aida pun kembali berjalan dengan berpegang erat pada dinding.


Saat itu Ulum terjaga, karena mendengar suara pintu terbuka. Ia menoleh ke arah pintu tersebut dan terlihat Aida hendak keluar.


"Mau kemana sayang?" Tanya Ulum.


"Mau mengambil air wudhu mas." jawab Aida.


"Tunggu di situ ya." ucap Ulum. Pria itu pun beranjak lalu menghampiri Aida, berdiri di sampingnya.


"Ku gendong ya?"

__ADS_1


"Tidak mas... Tidak usah Aida bisa."


"Jangan gitu, pokoknya kamu harus bedrest."


"Tapi mas, Aida kan harus menyiapkan sarapan juga."


"Biar aku saja. Aku bisa kok sayang."


"Tidak mas jangan, Aida saja ya. Mas Ulum bantu yang lain saja." Hendak melanjutkan langkahnya, namun dengan sigap Ulum langsung mengangkat tubuhnya.


"Mas jangan, aku tidak mau di gendong."


"Tapi kaki mu sedang sakit, sayang."


"Aida baik-baik saja mas."


"Mas rasa tidak sayang, emmm? Bagaimana jika kau Pakai lagi saja kursi rodanya untuk sementara waktu ya." Ulum menyarankan.


"Aku tidak lumpuh!" Ucap Aida langsung. Matanya mulai basah ketika Ulum kembali menyebutkan tentang kursi roda itu. "Aku tidak mau memakai benda itu lagi, tidak akan pernah mau mas." Rengeknya.


"Aku tidak mau, aku mau jalan dengan kaki ku sendiri."


"Sayang mengerti lah,"


"Tidak mas, tolong turunkan Aida."


"Aida, mas itu sangat mengkhawatirkan mu."


"jangan khawatirkan aku mas, kaki ku baik-baik saja, kaki ku tidak bermasalah." Mulai menangis, ia melingkari leher suaminya membenamkan wajahnya di ceruk leher sang suami.


"Hiks, Aida tidak mau lumpuh lagi, Aida tidak mau menyusahkan mas Ulum lagi." Isaknya. Ulum sedikit sedih mendengar suara tangis Aida itu. Hingga dirinya kembali membawa Aida ke atas ranjang mereka. Mendudukinya di sana.


Membelai lembut rambut Aida yang sebatas bahu, lalu mengecup keningnya. "Kamu tidak lumpuh sayang, mas cuma mau kamu istirahat. Sementara waktu saja kamu pakai kursi roda itu lagi ya." Ucap Ulum lembut.


Aida menggeleng. "Sudah ku bilang kan? aku tidak mau mas, aku tidak mau pakai benda itu lagi." Isaknya.


Ulum mengusap air mata Aida yang menetes di pipinya.

__ADS_1


"Aida tidak ingin menyusahkan mu lagi mas, jadi biarkan aku beraktivitas menggunakan kaki ku sendiri."


"Aida tidak pernah menyusahkan mas Ulum, sungguh. Mas Ulum itu sayang sama Aida." Mengecup keningnya lagi.


"Hiks, tapi Aida tidak mau lumpuh lagi. Aida takut mas akan meninggalkan Aida jika sampai penyakit masa lalu itu kembali."


"Kok kamu bicara seperti itu sih? Mas itu dulu menikahi mu tanpa melihat kesempurnaan mu, semua tulus dari hati sayang."


"Tapi kebanyakan pria seperti itu kan mas? Termasuk mas juga, terlebih Aida hanya ibu rumah tangga yang sangat sederhana ini." Ucapnya.


"Aida? Jika mas pria pemilih dan suka melihat wanita dari fisiknya, sudah pasti mas tidak akan mau meminang mu, sementara wanita yang dulu mendekati ku tidak hanya satu,dua. Dan mereka semua sempurna secara fisik. Kenapa aku memilih mu, itu semua karena cinta. Jadi apapun kondisi mu? Sudah pasti mas akan menerima itu."


"Tapi Aida tetap tidak mau kembali lumpuh, Aida Sekarang punya Safa mas. Aida tidak akan bisa mengejar Safa jika dia lari ke luar."


Ulum mengusap pipi istrinya lagi. "Sayang, jangan sedih ya. Begini saja? Nanti kita ke rumah sakit ngecek Kondisi kaki kamu. Dan jika harus kembali terapi, makan jalani."


Aida kembali terisak. "Kenapa begini sekali sih, baru saja aku bahagia karena bisa kembali berjalan. Kenapa kembali seperti ini."


Ulum memeluk tubuh sang istri dengan penuh kasih sayang.


"Jangan katakan itu sayang, kau pasti baik-baik saja. Percaya sama mas ya, Sekarang mas cuma ingin Aida istirahat dulu. Dan pakai lagi kursi rodanya ya sayang. Mas mohon."


"Aida hanya sedih jika harus duduk di kursi roda itu lagi mas. Aida jadi merasa kembali ke masa-masa terburuk itu. Tidak usah pakai ya mas. Tolong lah."


Ulum pun menghela nafas. "Ya sudah sayang." Mengecup kening sang istri. "Yang penting jangan memaksakan ya, nanti mas akan minta tolong sama mbak Dian. Buat bantu jagain Safa dulu. Biar kamu bisa istirahat total dulu."


(Catat: Mbak Dian itu tetangga dekat yang selalu bersedia membantu keluarga kecil Ulum dan Aida.)


"Iya mas." Jawabnya lirih.


"Ya sudah, mas Ulum gendong ya. Kita ambil air wudhu terus sholat.'' ucap Ulum, Aida pun mengangguk lesu.


"Semangat dong sayang, mas itu sangat mencintai mu loh."


Tersenyum kecut. "Iya mas, Aida semangat kok." Jawabnya. Ulum pun tersenyum dan mulai mengangkat tubuh sang istri membawanya menuju kamar mandi guna mengambil air wudhu dan melanjutkan sholat subuh berjamaah.


Di sana Aida sholat dengan posisi duduk, karena kakinya yang tidak kuat berdiri lama, membuatnya merasakan kembali ke masa dimana dirinya kembali pada kekurangannya dulu.

__ADS_1


__ADS_2