Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
ikrar Ulum untuk Aida


__ADS_3

"Assalamu'alaikum warohmatulohi..." Aida menoleh ke arah kanan,


"Assalamu'alaikum warohmatulohi" Aida menoleh ke arah kiri.


Setelah mengusap wajahnya Ia pu menengdahkan kedua telapak tangannya. Mendoakan kedua orang tuanya, dan orang-orang yang di kasihinya.


Sesaat air matanya menetes, sudah lebih dari satu minggu ini Ulum tidak datang mengantar makanan seperti biasa dan kini di gantikan oleh orang lain.


Karena itu juga Aida merasakan sepi di hatinya, ia tahu jika hatinya sudah merasakan rindu pada Ulum.


"Mungkinkah ini jawabannya, kalau mas Ulum bukan jodoh ku?" Aida menundukkan kepalanya.


Bibirnya berusaha tersenyum kecut. Ia pun mengangkat kepalanya lagi dengan helaan nafasnya ia berusaha ikhlas. "Tidak apa, aku tidak apa-apa kok." gumam Aida yang masih berusaha tersenyum walau mata itu telah basah.


Tok tok.. "Assalamu'alaikum Aida. Ini mbak Rahma." Seru Rahma dari luar.


"Mbak Rahma?" gumam Aida, "masuk saja mbak, tidak di kunci kok." seru Aida dari dalam.


Cklaaaaak pintu pun terbuka. "Assalamu'alaikum." ucap Rahma sembari tersenyum.


"Walaikumsalam mbak, mari masuk mbak."


"Iya Aida." Rahma masuk lalu duduk di atas ranjang di sebelah Aida.


"Aida habis sholat ya?" tanya Rahma yang menyadari Aida masih mengenakan mukenah nya. Aida mengangguk. Rahma pun tersenyum, sesaat matanya tertuju pada sebuah bungkusan makanan yang masih utuh di dalam pelastik.


"Loh ini, kamu belum makan siang Aida?" tanya Rahma.


"Belum mbak. Entahlah akhi-akhir ini, Aida sudah tidak bernafsu makan."


"Ya ampun, kau harus tetap makan Aida, obat mu harus di minum." ucap Rahma.


"Nanti saja mbak." ucap Aida murung.


"Kau terlihat sedih? Ada apa?" tanya Rahma.


"Tidak apa-apa mbak."


"Hei, katakan saja, mbak senang jika kau mau menceritakan keluh kesah mu." ucap Rahma. Aida pun tersenyum.


"Tidak mbak Aida hanya bingung, kenapa kurir yang biasa mengirim makanan sudah tidak pernah datang lagi?" ucap Aida. Rahma pun tersenyum.


"Fathul Qhulum?" tanya Rahma.


"Iya mbak." jawab Aida lirih.


"Aida, dia tidak pernah datang karena ada suatu misi yang tengah ia jalani."


"Suatu misi??" tanya Aida.


Rahma mengangguk.


"Misi apa mbak, apa mbak Rahma tahu?"


"Misi untuk meng khitbah seorang ukhti." tuturnya. Semangat Aida meredup.


"Oh jadi mas Ulum akan meng khitbah seorang wanita ya?" ucap Aida merasa sedikit kecewa.


"Iya. Dan tadi mas Irsyad menelfon mbak, kalau Ulum sudah sukses meng khitbahnya."

__ADS_1


"Begitu ya, syukur Alhamdulillah, aku ikut bahagia mendengarnya." Aida tersenyum kecut.


"Harus bahagia lah Aida, yang di Khitbah kan kamu." ucap Rahma, kepala yang tengah tertunduk lesu itu pun terangkat cepat.


"A...apa? Aku?" Aida tidak percaya.


"Iya, Ulum akan menikahi mu dalam waktu dekat ini Aida." ucap Rahma.


Mata Aida berbinar, "mbak Rahma serius? Mas Ulum akan menikahi Aida?" tanya Aida.


"Iya Aida masa mbak bohong sih. Serius dia akan menikahi mu." ucap Rahma.


"Ya Allah, aku tidak percaya ini." Aida menangis haru. Rahma pun memeluknya turut bahagia sekaligus lega.


Kini sudah tidak ada kekhawatiran lagi untuk Rahma, dimana rasa cemburu yang selalu hinggap di benaknya seolah sirna saat pria bernama Ulum itu bersedia menikahi Aida.


Kini Aida sudah tidak akan kesepian lagi karena adanya teman hidup. Dan ia yakin Ulum bisa membahagiakan Aida dengan sifat lemah lembutnya itu.


***


Hari berganti hari, hingga tiba dimana Ulum menjabat tangan seorang penghulu.


"Sudah siap ya mas Ulum." tanya penghulu itu.


"Iya Pak," Ulum tersenyum.


"Baik, kita mulai ya. Bissmillahirohmanirohim. Yaa Fathul Qhulum bin Bapak Djarot Achmadi saya nikahkan engkau dengan Ananda Aida putri lestari binti Almarhum Yahya, dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai."


"Saya Terima nikahnya Aida Putri Lestari binti Almarhum Yahya, dengan mas kawin tersebut di bayar tunai." Ulum berikrar dengan satu tarikan nafas, terdengar sangat lantang tanpa terbata-bata.


Saat itu juga semua saksi yang ada di sana berseru kata "sah."


"Selamat ya. Semoga sakinah yang kalian rasakan membawa mawaddah dan juga Warohmah yang semakin dalam di hati kalian." Ucap Irsyad.


"Amin ustadz, amin yarobal Alamin." Ulum terisak, sedangkan tangan Irsyad masih terus menepuk-nepuk bahunya yang bergetar itu.


"Lihat di sana." ucap Irsyad melepas pelukannya dan menunjuk ke arah Aida.


"Ayo temui istri mu." titah Irsyad. Ulum pun tersenyum. Ia mengusap air matanya lalu berjalan mendekati Aida dan berjongkok di hadapannya.


"Assalamu'alaikum Aida, kau istri mas sekarang." ucap Ulum dengan senyum tersungging di bibirnya.


Aida tersenyum, ia meraih tangan suaminya itu lalu mengecup punggung tangannya, "Walaikumsalam mas Ulum, terimakasih sudah sudi menjadikan ku sebagai istri mu." ucap Aida.


"Mas belum bisa memberikan apapun untuk mu sayang, tapi? Mas akan berusaha membahagiakan mu." ucap Ulum tulus.


"Mendapatkan suami yang sudah mau menerima ku, dan sayang pada Aida saja, sudah cukup untuk ku bahagia mas." jawab Aida, Ulum menyentuh kepala Aida dan mendoakannya lalu perlahan mengecup keningnya pelan.


"Mas mencintai mu." Bisik Ulum. Aida tersenyum senang.


"Ulum." Panggil Irsyad. Ulum pun menoleh dan beranjak.


"Iya Ustadz."


"Ini, sekarang kalian tinggal di rumah ini ya." ucap Irsyad memberikan kunci rumah pada Ulum.


"Tunggu, Ustadz kasih saya kunci rumah?" tanya Ulum.


"Sebenarnya, bukan rumah yang besar, cuman saya harap kalian nyaman tinggal di sana."

__ADS_1


"Maaf Ustadz, saya bukanya mau menolak rezeki, namun? Saya tidak bisa menerima ini."


"Kenapa?" tanya Irsyad.


"Saya ingin tinggal di rumah yang bukan hasil dari pemberian orang lain."


"Ulum, saya itu ikhlas memberikannya. Jadi Terima saja ya."


"Tapi Ustadz?"


"Rumah itu, dulunya saya beli karena menolong seorang sahabat yang sedang butuh biaya besar, karena tidak saya gunakan jadi sempat saya kontrakan kepada orang lain, dan kebetulan baru bulan ini mereka pindah rumah, dari pada kosong kan lebih baik di gunakan oleh kalian."


"Tapi saya tidak enak Ustadz sungguh."


"Kalau begitu bayar saja uang sewanya seikhlasnya, taro di dalam kotak amal masjid setiap kamu ada rezeki." ucap Irsyad. Ulum pun kembali menitikkan air matanya.


"Ya Allah Ustadz terimakasih bayak... Terimakasih banyak sekali lagi..." Ulum memeluk Irsyad dengan tangis harunya yang kembali tumpah.


"Iya Sama-sama, tolong jaga Aida baik-baik ya." ucap Irsyad berpesan pada Ulum.


"InshaAllah Ustadz... InsyaAllah." Isak Ulum.


Setelah urusan mereka selesai di KUA, Irsyad mengantar Ulum dan Aida ke rumah baru mereka yang terletak di daerah Babelan Bekasi.


Rumah yang tidak terlalu besar berlantai satu itu lebih nyaman ketimbang kontrak Aida ataupun Ulum.


Rumah itu sudah di bereskan oleh seseorang yang di mintai tolong oleh Irsyad, itu sebabnya Sampai di sana rumah itu sudah rapih, dengan beberapa prabotan penting.


Ulum dan Aida benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi selain berterimakasih dan berharap suatu saat nanti bisa membalas kebaikan Irsyad dan juga Rahma.


Di malam harinya, Ulum mendorong kursi roda Aida ke dalam kamar mereka lalu menutup pintu kamar itu rapat.


Ulum pun berjongkok di hadapan Aida. Ia meraih tangan Aida dan menempelkannya di pipi. Memandangi Aida tanpa henti, sampai-sampai Aida merasa malu sendiri.


"Mas jangan memandangi Aida seperti itu."


"Kenapa? Kan suami memandangi Istri itu pahalanya besar." jawab Ulum.


"Iya tapi Aida jadi malu mas."


"Jangan malu lah, mas senang melihat wajah mu kok." ucap Ulum. Aida tersipu.


"Maaf ya, mas menikahi mu, hanya di KUA tanpa adanya pesta pernikahan." ucap Ulum.


"Seperti yang Aida bilang tadi mas. Aida di nikahi mas Ulum saja sudah senang, masa iya Aida harus menuntut yang lain lagi. Aida malah yang merasa tidak enak karena harus menjadi beban mas Ulum untuk kedepannya." ucap Aida.


"Aida, mas itu tidak pernah mempermasalahkan kondisi mu sayang." ucap Ulum sembari mengusap kepala Aida.


"Mas itu kemarin-kemarin memang sempat ragu, namun bukan karena kondisi Aida ini. Melainkan karena mas yang masih kuliah dan pekerjaan mas yang sebagai ojek online ini."


"Tapi mas lega akhirnya mas bisa menikahi mu." ucap Ulum. Aida tersenyum.


Ulum menghela nafas. "Dan sekarang, mas mau bertanya, apa Aida sudah bersedia menerima nafkah batin dari mas?" tanya Ulum, Aida pun memberanikan diri mendekati wajah Ulum lalu mengecup pipinya sebentar.


"Aida bersedia mas." jawabnya.


Ulum tersenyum ia mengecup kening Aida. Setelah itu mengangkat tubuh istrinya itu.


"Okay, sudah waktunya Aida masuk kesurganya mas." Ledek Ulum sembari membawa Aida keatas ranjang mereka.

__ADS_1


Dengan kekehan Aida di sana.


__ADS_2