
Sudah dua puluh menit lamanya Irsyad berusaha mengontrol dirinya, Meredam emosi yang keluar tadi. Sebenarnya Irsyad tidak ingin membentak Rahma, ia menyadari hal itu akan menyakiti hati Rahma. Namun selayaknya manusia yang memiliki hawa nafsu, Irsyad bukan lah manusia suci yang tidak akan pernah bisa marah. Ada kalanya Irsyad bisa bersabar dan berlaku baik. Namun Ada kalanya juga Irsyad harus melepaskan amarahnya itu, demi bisa memberi pelajaran pada lawannya, termaksud pada istrinya.
Berkali-kali Irsyad beristighfar. Ia pun beranjak menuju dapurnya, lalu menyiapkan makanan yang ia beli tadi bersama Rahma saat pulang dari rumah sakit.
Dalam diamnya Irsyad menuang semua makanan yang ada di dalam wadah take away nya ke dalam mangkuk dan piring kosong yang sudah ia siapkan dan menatanya di atas meja. setelahnya ia pun menuang air mineral ke dalam gelas. Duduk sejenak lalu meminumnya.
"Mas Irsyad." panggil Rahma lirih dengan suaranya yang serak. Kini Rahma sudah berdiri di dekat suaminya itu. Irsyad menurunkan gelasnya dan meletakkan kembali ke atas meja.
"Mas, Rahma ingin minta maaf pada mas Irsyad." Sembari terisak Rahma berbicara, sedangkan Irsyad masih terdiam belum menatap ke arah Rahma. Kedua tangannya masih menggenggam gelasnya tadi. "Rahma tahu, Rahma tidak pantas berucap seperti tadi. Rahma menyesal mas." lanjut Rahma.
"Benarkah ade menyesal?" tanya Irsyad, masih dalam posisi duduknya.
Rahma mengangguk. "Iya mas, Rahma sadar Rahma sudah berkata tidak baik pada suami Rahma. Hiks, Rahma memang istri yang bertabiat buruk. Dan Mas pantas memarahi Rahma." Irsyad beranjak dan berdiri di hadapan Rahma.
"Rahma tahu kedudukan suami kan?" tanya Irsyad. Sedangkan Rahma hanya tertunduk.
"Sebaik apapun suami Rahma, sehalus apapun suami Rahma, sependiam apapun atau bahkan serendah apapun kedudukan suami Rahma itu? Rahma wajib menghormatinya." ucap Irsyad, dengan nada yang pelan.
__ADS_1
"Mas tahu hati dek Rahma tengah sedih dan kecewa, namun bukan berarti dek Rahma bisa melontarkan kekesalan dek Rahma dengan kata-kata yang buruk seperti tadi, apa lagi pada suami Rahma sendiri. Rahma pikir itu tidak berdosa?"
"Iya mas, Rahma menyesal." ucap Rahma masih terisak.
"Mas tahu Rahma ingin punya anak. Apa Rahma pikir mas tidak??" tanya Irsyad.
"Selama ini Mas berusaha membuat mu bahagia sayang, sekuat tenaga. Mencintai mu dengan kemampuan mas, demi bisa meyakinkan mu kalau mas itu mencintai istri mas ini, entah baik ataupun buruknya, dengan kesempurnaannya ataupun tidak. mas tidak pernah mempermasalahkan itu semua. Tidak ada tuh pikiran buruk seperti yang dek Rahma lontarkan pada mas tadi."
"Dan saat ade bilang seperti itu? Apa ade pikir mas tidak terluka?" tanya Irsyad.
"Ade tahu tidak? Dek Rahma itu seperti tengah menunjukan, kalau ade itu sangat tidak percaya pada kesetiaan mas. Seolah mas itu pria yang mudah mencintai wanita lain demi adanya keturunan." ucap Irsyad, sedangkan Rahma hanya bisa menangis sembari menunduk.
Seperti yang mas katakan, Mas memang baik pada siapapun, sayang pada siapapun namun dalam konteks yang berbeda. Rahma itu lebih tinggi kedudukannya di hati mas setelah ibu mas Irsyad. Apa Rahma masih tidak percaya itu?? Semua akan tetap sama walapun belum adanya keturunan dari mu, sampai kapanpun sayang."
Rahma semakin terisak, tangan Irsyad meraih dagu Rahma dan mengangkatnya, ia pun tersenyum "Mas itu mencintai dek Rahma, Demi Allah sayang. Apapun kondisi mu, mas hanya ingin Rahma latihan bersabar. Dan menjaga lisan ade lagi, itu saja. Apa bersedia ade menuruti itu?" tanya Irsyad. Rahma mengangguk cepat.
Irsyad mengusap air mata Rahma yang masih deras itu. Lalu mengecup keningnya, dan memeluk tubuh Rahma. "Maaf ya, mas pasti sudah melukai mu sayang." ucap Irsyad.
__ADS_1
"Tidak mas, Rahma menyadari Rahma yang salah kok." ucap Rahma. Irsyad pun tersenyum.
"Mas senang, ade masih punya perasaan seperti itu, dan memberanikan diri untuk meminta maaf lalu mengakui kesalahan. Tapi janji jangan di ulangi lagi ya, untung mas tidak suka main tangan loh orangnya. Kalau mas suka main tangan bagaimana?" ucap Irsyad.
"Jangan lah, Rahma takut. di bentak mas Irsyad saja sudah gemetaran." Rengek Rahma.
Irsyad terkekeh. "Nada mas tadi sebenarnya tidak terlalu tinggi loh ngebentaknya. Masih sedikit menahan." ucap Irsyad.
"Tapi tetap saja, Rahma kan takut. Mas selama ini tidak pernah marah pada Rahma."
"Mas kadang marah kok, memang Rahma tidak pernah merasa kalau mas kadang menegur Rahma?"
"Entahlah, yang pasti baru kali ini Rahma merasa mas benar-benar marah pada Rahma. Maafkan Rahma ya mas." ucap Rahma.
"Iya sayang maafkan mas juga ya. sudah meninggikan suara tadi." ucap Irsyad masih dalam posisi memeluk Rahma dan sesekali mengecup keningnya. Rahma pun mengangguk pelan.
"Ya sudah kita makan yuk." Ajak Irsyad.
__ADS_1
"Nanti saja, Rahma masih betah di peluk mas Irsyad. Tubuh Rahma masih gemetaran ini." tutur Rahma, Irsyad pun tertawa lalu kembali mempererat pelukannya.
"Ya Allah, iya iya... Mas peluk dulu sini. Kesayangan mas ini, kasian sekali." tuturnya, Rahma pun tersenyum senang. Cukup lama mereka berada dalam posisi itu. Hingga akhirnya memutuskan untuk melanjutkan makan siang mereka, Sembari bersenda gurau. Sesaat hati Rahma mulai lega. Ia bahkan semakin mengagumi suaminya yang benar-benar berusaha keras untuk mengimbangi sikap Rahma yang terkadang masih labil itu.