Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
ujian kecil


__ADS_3

"Ini dek." Irsyad mengulurkan bungkusan berisi beberapa cakwe kepada Rahma, terlihat senyum merekah di bibirnya.


"Banyak sekali?" tanya Rahma, matanya masih tertuju pada isi dari bungkusan yang ada di tangannya.


"Iya, mas beli dua puluh ribu sayang."


"Ya Allah, pantesan. Sepuluh ribu saja cukup mas, tapi tidak apa terimakasih ya mas." ucap Rahma, Irsyad pun mengangguk sembari mengusap kepala Rahma.


"Emmmmm sudah semakin senja, kita bawa pulang saja yuk, kita makan di rumah." ajak Rahma.


"Ade tidak ingin makan di sini beberapa biji dulu?" tanya Irsyad.


"Nanti saja mas, sudah senja juga, kata mas tidak baik di luar saat matahari terbenam."


"Iya sayang. Ayo kita pulang." Irsyad menuntun Rahma berjalan menuju motornya terparkir.


Di perjalanan lagi-lagi Rahma memegangi perutnya yang di rasa sakit, bahkan lebih sakit dari biasanya.


Terlihat wajah Rahma yang meringis dari pantulan kaca spion.


"Dek, kenapa?"


"Tidak apa mas, yuk kita pulang saja, Rahma ingin cepat sampai rumah." ajak Rahma. Irsyad pun menuruti, ia sedikit mempercepat laju motornya kembali ke rumah.


Sesampainya, Rahma masih memegangi perutnya itu.


"Ade serius tidak apa-apa. Sepertinya ade kesakitan? Mas jadi khawatir." Irsyad memegangi bahu Rahma dan menuntunnya untuk duduk di bangku teras.


"Rahma tidak apa-apa mas,"


"Tidak mungkin tidak apa-apa sayang, kita ke rumah sakit saja ya. Sungguh mas takut terjadi apa-apa."


"Sudah mas, Rahma pikir ini hal wajar kok, karena kandungan Rahma masih sangat muda. Emmmm Rahma ingin ke toilet mas."


"Iya ayo mas antar." Irsyad masih memegangi tubuh Rahma yang sesekali terkekeh itu.


"Hei mas, sudah lepaskan Rahma, Rahma tidak apa-apa. Kalau seperti ini Rahma berasa wanita pesakitan."


"Ssssst jangan bicara seperti itu dek, pokoknya mas mau antar Rahma ke toilet."

__ADS_1


"Berlebihan sekali mas ini." Rahma geleng-geleng kepala sembari terkekeh.


Di depan toilet itu Irsyad menunggu di luar pintu, sedangkan Rahma masuk untuk buang air kecil. Saat itu pula ia menyadari adanya flek darah.


"Astaghfirullahalazim." Rasa sakit di perutnya itu masih terasa, hal itu pula yang membuatnya semakin Khawatir.


Cklaaaaaakk pintu kamar mandi itu terbuka, dan Rahma pun keluar.


"Mas, kandungan Rahma sepertinya bermasalah. Tadi Rahma melihat ada flek darah mas." tutur Rahma.


"Ya Allah mas sudah menduganya. Sekarang kita ke rumah sakit saja ya." ajak Irsyad. Rahma pun mengangguk.


Baru saja mereka akan keluar, keduanya sudah berpapasan dengan kedua orang tua Rahma, yang baru saja pulang dari suatu acara.


"Kalian mau kemana? Dan Rahma, ada apa nak, wajah mu pucat." tanya ibunda Rahma.


"Irsyad mau antar Rahma ke rumah sakit, soalnya ada masalah sama kandungan Rahma bu." jawab Irsyad.


"Ya Allah, ya sudah cepat bawa Rahma ya." titah pak Akmal. Keduanya pun berjalan keluar dan masuk kedalam mobil mereka. Dengan berusaha tenang Irsyad membawa laju mobilnya menuju Rumah sakit terdekat.


"Semoga Rahma tidak mengalami hal seperti ibu ya pak." tutur ibunda Rahma itu yang di balas anggukan kepala dari suaminya itu.


"Maaf, sakit yang di rasa sudah berapa lama?" tanya Dokter tersebut.


"Semenjak beberapa minggu belakangan ini dokter," jawab Rahma.


"Sebaiknya kita lakukan USG dulu ya, untuk memastikan." kata Dokter perempuan tersebut.


Tak lama dua perawat pria mendorong bed Rahma menuju ruangan praktek dokter kandungan guna menjalani USG.


Karena kandungan Rahma masih sangat muda ia pun di minta untuk menahan buang air kecil terlebih dulu, dan di minta untuk meminum air mineral agar rasa ingin buang air kecil itu cepat timbul.


Setelahnya seorang prawan menutupi kaki Rahma dengan selimut dan menarik ke atas rok Rahma agar bagian perutnya bisa terbuka, ia juga mengaplikasikan ultrasonik gell di bagian perut Rahma sebagai pelumas alat Doppler tersebut.


Dan saat itu juga dokter mulai meletakan Doppler tersebut di bagian perut bawah Rahma, dahinya sesekali berkerut, dan menggeleng, ia pun berusaha mengeceknya dengan teliti sekali lagi, dan kini setelah hasil analisanya yakin ia pun menghentikan kegiatannya.


"Mohon maaf, saya ingin bertanya? Apakah ini anak pertama bapak dan ibu?" tanya dokter wanita itu.


"Iya benar dok," jawab Irsyad.

__ADS_1


"Mohon maaf sekali ya pak, karena ibu Rahma mengalami kehamilan di luar kandungan, itu yang menyebabkan ibu Rahma merasakan sakit, dan bayi yang ada di dalam juga tidak bisa berkembang." tuturnya, saat itu pula Rahma paham ia mulai menitikkan air matanya.


"Lalu, bagaimana dokter?" tanya Irsyad.


"Dengan sangat terpaksa, kami harus melakukan prosedur aborsi pak, karena ini juga tidak baik untuk sang ibunya, terlebih kondisi rahim ibu Rahma yang sangat lemah." ucapnya,


"Innalillahi wainnailaihi rojiun," gumamnya, saat itu juga Irsyad beristighfar berkali-kali, matanya mulai basah.


"Apa tidak bisa di lakukan cara lain dok?" tanya Irsyad masih berharap.


Dokter menggeleng pelan. "Mohon maaf, tidak ada cara lain pak, ibu Rahma harus segera mendapatkan tindakan itu." jawab dokter tersebut, Irsyad pun menoleh ke arah Rahma yang sudah menangis di atas Bednya.


"Dek, tidak apa-apa ya? Mas yakin setelah ini kita pasti akan di berikan kepercayaan lagi." ucap Irsyad menenangkan Rahma, sembari memeluknya.


"Maafkan Rahma mas," gumamnya lirih.


"Kenapa harus minta maaf sayang?"


"Semua karena rahim Rahma yang tidak berguna." Isak Rahma dalam pelukan Irsyad.


"Ssssttt jangan bilang seperti itu, mas tetap menunggu dengan sabar sampai kita di beri lagi kepercayaan itu ya." Ucap Irsyad, Rahma pun mengangguk.


"Maaf Pak, bisa tolong tandatangani surat persetujuan ini?" ucap Seorang perawat, Irsyad pun beranjak dan perlahan meraih surat itu.


'Ya Allah, hamba yakin, ini belum seberapa dari semua ujian yang pastinya akan datang untuk ku dan istri ku.' gumam Irsyad dalam hati dengan air mata yang menetes sembari menatap kearah lembaran surat persetujuan tersebut.


"Ini pak penanya." Ucap Suster tersebut, Irsyad pun meraihnya dan mengarahkan mata pena itu ke atas kolom tanda tangan tersebut.


'Bismillah maafkan Abi nak, dan jadilah penyelamat Abbi dan umma di akhirat kelak.' Irsyad pun mengguratkan mata penanya menandatangani surat persetujuan tersebut, terlihat matanya yang merah nanar mengarah kearah istrinya, ia pun mengusap matanya yang basah.


"Ini suster." ucap Irsyad menyerahkan surat persetujuan tersebut, lalu kembali mendekati Rahma dan menyunggingkan senyum kecutnya. Ia mengecup kening Rahma.


"Kuat ya sayang, kuatkan hati mu." gumamnya sembari mengusap pipi Rahma yang basah, sedangkan Rahma hanya menganggukkan kepalanya lirih.


"Maaf Pak, bisa keluar dulu, karena proses aborsi akan segera di lakukan." ucap Perawat tersebut, Irsyad pun mengecup lagi kening Rahma.


"Mas keluar dulu ya sayang." ucap Irsyad, yang di balas dengan anggukkan pelan kepala Rahma.


Kini Irsyad sudah berada di luar, ia terduduk lesu di sebuah kursi panjang, satu tangannya menutup mulutnya, bahunya berguncang, ia menangis sejenak lalu menghela nafas dan menghembuskan nya.

__ADS_1


Bibirnya terus berucap istighfar beberapa kali. Baru saja ia merasa kebahagiaannya itu akan lengkap, namun harus terkubur begitu saja, saat dirinya harus mengikhlaskan janin di kandungan Istrinya itu harus di keluarkan.


__ADS_2