
Semenjak malam itu Rahma benar-benar menghindari Fikri. Setiap kali Fikri menghampirinya di lantai tiga karena Fikri praktek di ruangan UGD, sedangkan Rahma di bangsal kelas satu di lantai tiga. Sift mereka pun seringnya tidak bareng. Itu yang membuat Fikri sedikit kesulitan menemui Rahma.
Pagi itu setelah satu minggu berselang Fikri baru tiba ia langsung menuju ruang krisan di lantai tiga. Guna menghampiri Rahma. Ia berpapasan dengan Kinar yang akan pulang.
"Kinar, Rahma mana?"
"Sudah pulang dokter" Jawab Kinar.
"Sepagi ini? Bukannya jadwalnya sampai jam delapan ya?" tanya Fikri.
Kinar mengangkat bahunya. "Kenyataannya memang sudah pulang dokter."
"Ck! Susah sekali bertemu dengannya, nomor telfon juga susah di hubungi." runtuknya. "Ya sudah Kinar, saya kembali ke ruangan UGD ya." tuturnya.
"Iya dokter," Kinar tersenyum ramah. Hanya di depan dokter Fikri sih, di belakang mah dia kembali bersungut-sungut sebal. Ia pun mengetuk meja.
"Ayo keluar Rahma, beliau sudah pergi kok." Tuturnya. Dengan lesu Rahma keluar.
"Ckckck. Sumpah, mau sampai kapan kau menghindar seperti ini terus Rahma?" tanya Kinar.
"Entah lah, intinya aku masih belum siap bertemu dengannya. Aku tidak mau mendengarkan penjelasan apapun darinya." ucap Rahma sembari berkemas.
"Ya sudah putuskan saja dia Rahma. iiih kau ini benar-benar ya."
"Mungkin aku akan melakukannya Kinar." gumamnya lirih sembari duduk di bangkunya. Rahma menelungkup kan tangannya di wajah. Ia kembali menangis.
Perlahan Tangan Kinar mengusap bahu itu. "Rahma, kuatkan hati mu. Jangan seperti ini Rahma. Percayalah kau akan bertemu jodoh terbaik setelah ini jika kau bisa melepaskannya."
"Aku bodoh Kinar, aku tahu ini sakit, bahkan sangat sakit tapi aku masih saja mencintainya." Suara Rahma parau.
"Aku paham kok Rahma apalagi kau sudah lebih dari tiga tahun menjalin hubungan dengannya."
"Aku harus bagaimana Kinar." Rahma masih menangis. Sedangkan Kinar hanya mengusap punggungnya yang bergetar itu.
"Maafkan mas Fikri Rahma." ucap seseorang secara tiba-tiba, keduanya terperanjat, ia tidak percaya ternyata Fikri masih di sana, terlebih-lebih Kinar yang sudah berbohong pada dokter Fikri mengatakan kalau Rahma sudah pulang.
Rahma mengusap air matanya cepat. "Rahma, dua puluh menit lagi jam kerja ku. Ku mohon dengarkan aku dan Kita bicarakan baik-baik." tutur Fikri. Kinar pun memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. Memberi ruang untuk keduanya berbicara.
"Rahma, mas Fikri sangat mencintai Rahma. Sungguh Rahma." tuturnya sembari memegangi tangan Rahma. Menatapnya dengan tulus sedangkan Rahma hanya diam saja.
__ADS_1
"Rahma tolong beri mas Fikri kesempatan ya. Mas mohon." Sambungan.
"Mas, Rahma sudah cukup sakit untuk kembali terluka. Tolong lepaskan Rahma saja ya. Lebih baik kita masing-masing saja." ucap Rahma lirih, Fikri menggeleng cepat.
"Rahma, tolong pinjamkan ponsel mu."
Rahma mengangkat kepalanya. "Untuk apa?" tanya Rahma.
"Tolong pinjamkan saja Rahma."
Perlahan Rahma menyerahkan ponselnya itu pada Fikri. Fikri pun meraihnya. Ia mencari kontak ayah Rahma. Dan menghubunginya.
"Siapa nama bapak mu sayang?" tanya Fikri.
"Pak Akmal." Tepat saat Rahma menyebut nama itu, panggilan dari sebrang sudah di Terima.
"Hallo Assalamu'alaikum pak Akmal. Maaf saya mengganggu bapak, saya Fikri. Ingin mengabarkan sesuatu Pak, kalau dalam minggu-minggu ini saya dan Rahma akan datang ke Jakarta, saya ingin melamar putri bapak." Degg. Rahma membulatkan bola matanya.
Mas Fikri benar-benar akan melamar Rahma kepada orang tuanya langsung?
"Mas Fikri sedang apa sih? Kalau bercanda jangan kelewatan." Rahma berusaha meraih ponsel yang ada di tangan Fikri yang terus menghindarinya. Ia masih menyunggingkan senyum sembari berbicara dengan ayah Rahma.
Fikri terlihat senang saat pak Akmal menerima kedatangannya dengan senang hati. Setelah beberapa saat mengobrol ia kembali menyerahkan ponselnya kembali menatap Rahma..
Rahma terdiam, ia melihat panggilan keluar benar-benar pada ayahnya.
"Mas curang sekali sih." Rahma bersungut sebal.
"Apanya yang curang yang curang sih Rahma."
"Rahma kan ingin hubungan kita berakhir mas. Rahma sudah?"
Fikri meletakkan jari telunjuknya di bibir Rahma, sangat klise sih tapi tidak mungkin juga Fikri membungkam itu menggunakan bibirnya sendiri walau ia sangat ingin melakukannya, tapi karena ruangan itu terdapat kamera pengawas dan lagi perawat lain pun ada di sana membuatnya tidak mungkin melakukan itu. Ya Fikri seorang dokter yang masih punya etika.
"Rahma, aku mau bertanya. Kau sayang pada ku tidak?" tanya Fikri. Rahma pun hanya diam saja.
"Kau yakin ingin putus dari ku?" tanya Fikri. Dan Rahma masih terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa karena kenyataannya ia memang tidak ingin berpisah dengannya.
"Aku minta maaf Rahma, aku akan merubah semuanya sikap ku yang seperti ini, aku akan merubahnya menjadi pria yang lebih menghargai mu." tuturnya.
__ADS_1
Rahma mengangkat kepalanya. "Setiap kali melakukan kesalahan selalu bicara seperti itu. Apa untuk kali ini Rahma bisa mempercayai itu, sedangkan Rahma masih merasa sakit ketika mengingat apa yang mas lakukan terlebih membayangkannya? Mas pasti melakukannya tidak hanya dengan dokter Imel kan?"
Fikri menggeleng. "Mas Fikri berani bersumpah sayang. Mas melakukannya hanya dengan dokter Imel itu saja mas langsung teringat dirimu."
"Mas yakin tidak berhubungan badan dengannya?"
"Tidak Rahma sungguh. Mas juga masih takut dosa. Kalau mas mau kenapa tidak dengan Rahma saja? Mas Fikri saja masih menahannya kok. Menyentuh dada Rahma saja mas Fikri tidak berani."
Ya memang itulah mas Fikri, sedikit alim, tidak... Tidak alim sih hanya masih punya ketakutan akan dosa, namun yah, masih suka mesum juga hahaha susah menjelaskan orang seperti Fikri itu. Namun di luar sana banyak bukan pria seperti itu. Masih rajin beribadah namun tetap mengerjakan laranganNya.
"Lalu apa yang mas lakukan dengan dokter Imel?"
"Kenapa tanya itu si sayang, nanti mas Fikri melukai Rahma lagi."
"Katakan saja."
Fikri terdiam. "Mengecup keningnya, berpelukan, berciuman, mengecup bagian lehernya. Dan?" Fikri melihat ekspresi Rahma yang kembali tertunduk sembari meremas kedua tangannya.
"Dan apa? Lanjutkan."
"Rahma, masa mas Fikri harus menyebutkannya."
"Sebutkan mas."
Fikri menghela nafas. "Memberi stempel merah di bagian atas dadanya." Fikri berhenti sampai di situ. Sedangkan Rahma mendesah menghalau sesak di dadanya
"Aku tahu mas pasti melakukan lebih dari itu kan?"
"Tidak sayang sungguh. Belum sempat ku buka bagian itu, aku sudah mengingat mu. Itu sebabnya mas Fikri langsung pulang sayang."
Air mata Rahma kembali deras. Fikri benar-benar ingin memeluk Rahma namun ia takut kena tegur atasannya karena tertangkap kamera pengawas.
"Rahma tolong jangan menangis sayang. Kan mas sudah bilang sebaiknya mas Fikri tidak mengatakan itu."
"Rahma mau pulang dulu mas, mas Fikri juga harus ke UGD kan?"
"Tapi Rahma jangan marah lagi dong, maafin mas Fikri ya."
"Kita bicarakan nanti lagi saja. Malam ini Rahma off kok karena besok masuk sift pagi." tuturnya yang langsung beranjak tanpa menatap kearah Fikri.
__ADS_1
"Ya sudah, nanti pulang praktek mas Fikri langsung ke kosan kamu ya sayang."
"Iya." Jawabnya singkat. Rahma benar-benar kesal ia bahkan langsung pergi begitu saja. Lagi pula beberapa perawat lain berlalu lalang di sana. Mengobrol seperti tadi sedikit tidak nyaman juga.