Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
bab 16. terundung awan hitam. (season 2)


__ADS_3

Tidak membutuhkan waktu lama, setelah membeli satu lusin donat Rahma pun langsung kembali ke mobil milik mas Gani, dan melanjutkan perjalanan.


Di rumah...


Rahma sudah di sambut anak-anak yang langsung berlarian menghampiri Ummanya. Terlihat keduanya merasa senang karena nenek mereka yang tinggal di Magelang datang. Bersamaan dengan Padhe mereka, namun sepertinya dua anak itu masih mencari-cari seseorang.


Terlihat dari pandangan mereka yang tengah memburu keluar.


"Abi mana Umma?" Tanya Rumi dan Nuha.


"Abi masih di rumah pak Huda sayang."


"Kok tidak pulang-pulang?"


"Kan masih mengaji." Jawab Rahma sembari mengecup satu persatu kepala, ia pun mengangkat tas keresek berisi sekotak donat di dalamnya. "Ini Umma sudah beli donatnya loh." Rahma segera mengalihkan perhatian anak-anaknya itu, sebelum terus-terusan bertanya tentang Abi nya.


Kedua anak itu pun langsung melompat-lompat kegirangan kala mendapatkan apa yang mereka ingin kan. Lalu membawanya ke ruang tengah.


Ibu Sukma keluar menghampiri besannya lalu saling memeluk. Rahma tersenyum, dia pun berpamitan kembali naik ke lantai dua.


Di dalam kamar yang sedikit luas itu, mata Rahma tertuju pada sebuah Koko yang tergantung, Koko itu baru di pakai Irsyad saat solat subuh kemarin sebelum beliau berangkat ke Bandung.


Melangkah pelan kaki Rahma mendekati Koko itu lalu menciuminya.


Masih tercium aroma tubuh suaminya. Bercampur dengan parfum non alkohol yang selalu beliau pakai. "Rahma merindukan aroma ini mas." Gumamnya masih terus menciumi baju Koko Irsyad itu.


'ade cantik pakai cadar deh. Mau ya pakai cadar? Semua biar ke cantikan dek Rahma cuma untuk mas.' Rahma tiba-tiba mengingat keinginan Irsyad waktu itu.


Bahkan selang satu Minggu setelah Irsyad meminta Rahma bercadar. Beliau pun membelikan beberapa hijab plus cadarnya yang sama sekali belum di coba oleh Rahma.


Ia pun berjalan mendekati lemari pakaian. Lalu meraih setelah hijab itu.


danmembawa jilbab itu ke depan cermin lalu mencoba memakai cadar tersebut dengan menempelkannya saja.


"Aku belum siap memakai ini, namun aku ingin menyenangkan hati mas Irsyad." Gumam Rahma sembari memandangi dirinya dengan cadar yang menutupi bagian hidung sampai kebawah.


"Mas Irsyad. Rahma akan memakai ini. insyaAllah dari sekarang." Ucapnya sesaat setelah cadar itu terpasang Sempurna di wajahnya. Tangan Rahma terangkat menyentuh wajahnya itu.


Dan di lihat dari matanya yang menyipit, Rahma tengah tersenyum.


"Tidak buruk." Gumamnya.

__ADS_1


***


Di malam harinya. Rahma sudah kembali ke rumah sakit, mbak Adiba tersenyum melihat Rahma tiba-tiba bercadar malam ini.


"MashaAllah, dek Rahma bercadar?" Tanya Mbak Adiba.


"Mas Irsyad pernah meminta Rahma untuk memakai ini mbak. Dan lagi, Sekarang suami Rahma sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Rahma hanya ingin menutupi wajah ini, menjauhkan Rahma dari fitnah mbak. Sesuai apa yang mas Irsyad pernah bilang."


"MashaAllah." Hanya bisa bergumam seperti itu. "Ya sudah, masuk sana temui suami mu," titah mbak Adiba.


"Iya mbak." Rahma tersenyum dari balik cadarnya. Ia pun segera masuk ke dalam ruangan ICU tersebut, menghampiri suaminya yang masih menutup matanya rapat.


"Assalamualaikum mas, Rahma datang lagi. Sesuai janji Rahma." Ucap Rahma sembari menarik kursinya mendekat.


Rahma meraih tangan Irsyad. "Mas coba rasakan deh apa yang Rahma pakai." Rahma menempelkan tangan Irsyad ke wajahnya.


"Kerasa kan?" Tanya Rahma masih mengusap wajahnya dengan tangan Irsyad. "Hehehe iya ini cadar mas. Cadar yang mas beli waktu itu untuk Rahma." Sambung Rahma.


Rahma tersenyum ia lantas memasukkan tangan Irsyad kedalam cadarnya lalu mengecupnya. "Kangen, kangen banget, ya Allah." Gumam Rahma.


Tok tok tok.... Dua orang dokter ahli masuk ke ruangan ICU, bersama seorang ibu dari pasien gagal jantung tersebut.


Rahma pun beranjak, berdiri di dekat mereka.


"Selamat malam dokter."


"Begini Bu, kami ingin mendiskusikan sesuatu pada pihak keluarga pasien Irsyad. Apa bisa kita bicara?" Tanya dokter tersebut .


"I...iya dok. Silahkan." Mulai merasa takut.


"Baik Bu, saya ingin menjelaskan. Di sini pasien kan di diagnosa mengalami Brain death. Dan setelah di lakukan observasi, ternyata tetap tidak ada perkembangan. Sudah berkali-kali kami melakukan tes dan hasilnya tetap sama Bu. Dengan itu kami sudah mempertimbangkan juga melakukan meeting dengan beberapa petinggi dan dokter-dokter terkait, hingga di dapatkan sebuah keputusan dari kami, bahwa pasien sudah di nyatakan meninggal dunia."


Deeegg tubuh Rahma hampir terhempas kelantai. Sebab merasakan lemas di sekujur tubuhnya, namun dengan cepat di tahan oleh mbak Adiba.


"A...apa? Dok tidak bisa seperti ini dong, suami saya masih bernafas. Lihat itu." Rahma menunjukkan bagian perut Irsyad yang masih bergerak.


"Mohon maaf Bu, pasien Irsyad itu memakai alat bantu pernafasan. Jika alat bantu itu di lepas. Pasien sudah tidak bisa bernafas dengan sendirinya. Karena pasien mengalami apnea. (Henti nafas)"


"Tapi jantungnya masih berdetak dokter."


"Semua ini juga karena alat bantu bu."

__ADS_1


"Nggak dok!!! Suami saya masih hidup."


"Ibu Rahma, mohon pengertiannya. Dan lagi di sini? Ada seorang pasien yang tengah membutuhkan donor jantung. Mohon maaf jika ibu mengizinkan, ibu ini menginginkan donor jantung dari saudara Irsyad untuk putranya."


Rahma menggeleng pelan. Ibu itu menelungkup kan ke dua tangannya di depan dada sembari menangis. "Mbak, tolong izinkan saya berbicara, saya tahu ini sangat lah sensitif untuk anda. Namun saya membutuhkan donor jantung suami mbak."


"Nggak!!! Saya tidak mengizinkan. Dokter! Anda paham prosedur kan? Suami saya masih hidup dokter. Suami saya belum meninggal."


"Ibu Rahma, tolong mengerti, kami tidak memaksa jika ibu tidak bisa memberikan persetujuan atas donor tersebut. Namun tetap saja. Menunggu pasien Irsyad bisa siuman itu sangatlah mustahil kemungkinannya Nol persen Bu."


Rahma mendekati dokter Rudy. "Memangnya Anda itu Tuhan? Sampai anda bisa memutuskan itu dokter?" Tanya Rahma serak. Dokter di hadapannya pun hanya diam saja. Sedangkan mbak Adiba yang ada di sana berusaha menenangkannya sembari menangis.


"Kenapa diam saja? Saya tanya, Apa Anda Tuhan? Kenapa anda bisa mengatakan suami saya sudah meninggal!!!!"


"Saya memang bukan Tuhan Bu, namun ini sudah prosedur. Jika seorang pasien yang mengalami kematian otak itu sudah semestinya di anggap?"


"Jangan katakan itu lagi dokter!!!" Air mata Rahma bercucuran. "Saya tetap akan membayar biaya rumah sakit ini sampai suami saya bisa terbangun dari komanya, seberapapun biayanya, yang pasti saya tidak akan mengizinkan kalian melepas semua alat batu suami saya, apa lagi mendonorkan jantungnya."


Kedua dokter itu saling tatap merasa bingung ingin menjelaskan seperti apa lagi. Sedangkan wanita di hadapannya sudah terlihat sangat marah pada mereka.


"Mbak. Tolong... Tolong lah saya." Ucap wanita paruh baya itu memohon.


Rahma menoleh cepat.


"Ibu takut kehilangan anak ibu?" Tanya Rahma.


"Saya sangat takut kehilangannya mbak."


"Apa ibu juga akan mengikhlaskan jantung anak ibu di donorkan ke orang lain jika posisi kita di tukar?" Tanya Rahma.


Ibu itu pun terdiam sembari menangis.


"Tidak kan? Hah!"


"Dek Rahma sabar, dek. Ikhlas kan dek Rahma."


"Ikhlas? Siapa yang harus di iklhas kan mbak? Mas Irsyad masih hidup mbak... Beliau belum meninggal. Suami Rahma masih hidup mbak adiba.. hiks."


"Dek, sabar dek, sabar dek Rahma." Memeluk dengan sangat erat.


Menenangkan Rahma yang semakin tak terkendali itu. Pak kyai Muktar pun sudah beristighfar berkali-kali, ia juga tidak bisa berkata apapun saat ini.

__ADS_1


Malam itu. Begitu sesak terasa di sana.


Seolah awan hitam tidak ingin terhalau dan pergi, bergantian dengan pelangi harapan yang seharusnya hadir.


__ADS_2