
Senja yang telah menyelimuti bumi, tak membuat seorang ayah dan dua anaknya beranjak dari alas Sujud mereka setelah menjalani Solat berjamaah di waktu ashar tadi.
Nuha memang sangat gemar mendengar Abinya kala bercerita, terlebih-lebih kisah cinta Nabi Muhammad Saw dan Aisyah Ra, atau mungkin kisah Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra.
Seperti saat ini, gadis itu masih betah bertopang dagu mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir sang ayah.
"Ali bin Abi Thalib mulai jatuh cinta dengan Fatimah sejak sigap membalut luka Rasulullah setelah berperang."
"Sejak kejadian itu, Ali bertekad akan melamar Fatimah. Namun Ali tak pernah mengumbar perasaannya. Ali hanya menitipkan doa atas rasa cintanya."
"Meskipun Ali adalah salah seorang sahabat Rasul yang begitu mulia, namun Ali masih merasa malu untuk melamar. Karena ia juga belum memiliki mahar untuk melamar Fatimah."
"Ketika sedang berusaha mengumpulkan modal untuk melamar Fatimah, tiba-tiba tersiar kabar bahwa sahabat Rasul yang lain ingin melamar Fatimah. Ia adalah Abu Bakar As-Shidiq."
"Namun, lamaran Abu Bakar ditolak oleh Fatimah. Dan betapa gembiranya Ali mendengar kabar tersebut."
"Tak lama kemudian, sahabat Rasul yang lain juga ingin kembali melamar Fatimah. Ia adalah Umar bin Khattab. Mendengar berita tersebut, Ali mulai merasa tak memiliki kesempatan."
"Namun, sekali lagi. Lamaran Umar bin Khattab juga ditolak. Ali yang mendengar hal tersebut kembali gembira. Namun di sisi lain, ia juga mulai merasa ragu. Jika Abu Bakar dan Umar yang begitu teguh keimanannya saja ditolak, apalagi ia yang merasa masih belum ada apa-apanya."
Abi Irsyad terus bercerita di atas sajadahnya pada dua anaknya yang sudah berusia dewasa itu.
Dalam sayup-sayup suara Irsyad, Nuha mulai berfikir jika kelak dirinya memiliki suami, ia ingin memiliki suami sebaik Ali bin Abi Thalib, pria yang sangat mengagumi Fatimah dalam diam, namun ia tetap memberi perhatian dan cinta yang romantis kala sudah halal.
Atau minimal seperti sang ayah, yang tak henti-hentinya membuat iri dirinya kala tengah berlaku romantis pada Ummanya.
Senyum-senyum Nuha dalam lamunannya itu, pikirannya masih berkubang pada sosok pria alim dalam khayalannya. Sehingga membuat Rumi, yang tengah terkekeh jahil mulai memasukan sebatang siwak yang masih baru masuk ke dalam mulut adik kembarnya.
Sontak saja, Nuha yang masih berada dalam dunia khayalannya itu langsung tersadar dan terkejut, ia lantas memukul bahu saudara kembarnya.
"Kak Rumi!!" Pekiknya kesal. Terlebih melihat sang kakak tengah terpingkal-pingkal menopang dengan kedua tangan, dengan tubuh tercondong kebelakang.
"Iseng banget sih jadi orang? Baru saja pulang, sudah kembali bikin Nuha naik darah!" Ingin rasanya Nuha memukul Rumi lagi, namun urung, karena gelengan kepala sang Ayah yang mengisyaratkan sebuah larangan pada Nuha.
"Hehehe Abi, Lihat! Nuha ngelamun sampai ileran itu." Ledeknya padahal nggak ya hahaha. Irsyad pun hanya terkekeh sembari geleng-geleng kepala, melihat Rumi yang tengah iseng pada Nuha, karena hal seperti ini hanya akan keluar saat mereka sedang berkumpul di rumah, jika Rumi sudah kembali ke Bandung, rumah jauh lebih sepi, karena Nuha yang lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar.
"Apa sih, ngarang banget ya?"
"Emang kenyataan. Bi? Pasti Nuha ngelamun hal yang berbau haram itu."
__ADS_1
"Hei!!! Suuzon itu namanya. Siapa juga yang lagi ngekhayal hal berbau haram. Pukul juga nih ya."
Irsyad masih turut tertawa.
"Hei, sudah-sudah kalian sudah dewasa loh. Masih saja bertengkar. Mau sampai kapan bikin Umma pening hah?" Seru Rahma. Yang lantas menjewer keduanya pelan.
"Adu...aduuuh Umma, itu kakak saja yang di jewer jangan Nuha. Dia yang duluan jahil itu."
"Enak aja, siapa suruh sendirinya minta di dongengi tapi tidak mendengarkan."
"Siapa yang tidak mendengarkan? Aku tengah menghayati tahu!"
"Menghayati sambil mengkhayal, dosa itu... Apa lagi mikir pacar-pacaran. Haram dek, haram!!!"
"Iiiissshhh sok tahu sekali sih, ku pukul lagi nih ya."
"Lagi... Ayo bertengkar terus! Biar makin panjang juga telinga kalian ya." Tutur Rahma yang sudah kesal, sementara Irsyad semakin Terkekeh melihat ibu mereka tengah memberi hukuman pada dua anaknya.
Memang ya hidup dalam satu rumah jika tengah kumpul pasti akan ada saja keseruan di dalamnya, pertengkaran antar kakak dan adik, seperti dirinya dan mbak Adiba dulu.
Namun jika jauh? Selalu tersirat kerinduan dan kesepian yang teramat seperti saat Rumi tengah berada di Bandung.
Beliau memang agak ketat pada Nuha dan lebih sering melarang Nuha untuk keluar jika tidak ada keperluan penting. Berbeda dengan Rumi, karena mungkin Rumi adalah anak laki-laki yang lebih bisa menjaga dirinya sendiri sementara Nuha, yang memang harus sedikit membatasi pergaulannya, sehingga Nuha lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
Gadis itu sebenarnya juga sering merasa tidak adil sih namun mau bagaimana lagi? Semua juga demi kebaikannya.
Karena menjaga kehormatan istri dan anak perempuannya sebelum tiba jodoh untuk sang anak itu adalah tanggung jawab besar sang ayah yang akan di pertanyakan di akhirat kelak.
Dalam tatapannya, mata Irsyad sedikit basah, rambutnya yang sudah mulai keluar uban membuatnya teringat jika waktu terus berputar dengan cepat.
Tanpa kita sadari perlahan tubuh ini semakin menua, dan ringkih, hingga umur pun semakin berkurang.
Kini jaman sudah berubah,masa sekarang adalah masanya Nuha dan Rumi.
Dua anak yang sudah beranjak dewasa itu, yang baginya masih seperti anak-anak balita yang sangat ia sayangi.
Sesaat beliau beranjak, keluar lebih dulu dari ruangan solat, dan berjalan keluar menuju gazebo tempat favorit Ustadz kala tengah menyendiri.
Dalam diamnya, pikiran Ustadz kembali ke masa lalu, hidup menjalani rumah tangga, hingga dirinya memiliki anak sungguh banyak rintangan yang ia lalui. Bahkan saat hidupnya berada di ujung maut.
__ADS_1
Ia masih bersyukur karena masih diberikannya kesempatan, hingga mata ini masih bisa melihat kedua anak itu tumbuh dewasa.
Sesaat ia ingat akan satu hal, dimana sudah ada beberapa pira alim yang memiliki niatan untuk mengkhitbah Putrinya itu.
Ada keraguan saat ingin mengiyakan, karena Nuha yang masih berusia dua puluh tahun, sehingga membuatnya sangat ragu untuk menyampaikan hal ini pada Nuha.
Beliau masih belum bisa melepas gadis kecilnya itu, dia masih ingin Nuha tinggal di rumahnya dan menyayanginya sebagaimana seorang kekasih pertama dalam hidup Nuha.
Seiring dengan pikirannya itu, Rahma datang dengan secangkir kopi di tangannya.
"Mas," sapa Rahma, Irsyad mengusap matanya yang basah. Lalu tersenyum seraya tangannya yang mengusap lembut kepala sang istri yang masih setia dengan hijab besar dan cadarnya.
"Mas kenapa? Kelihatannya sedih seperti itu?"
"Mas tidak sedih, hanya bahagia jika anak-anak tengah kumpul." Meraih cangkir kopi itu lalu menyeruputnya sedikit, setelah itu kembali meletakkan gelas tersebut di samping kanannya, karena Rahma duduk di samping kirinya.
"Rahma juga senang jika anak-anak sedang kumpul, rame." Terkekeh.
Irsyad mengusap wajah sang istri. "Ya— Khumaira, semakin cantik diri mu, sungguh aku semakin mencintai mu." Ucap Irsyad tiba-tiba. Rahma pun tersipu.
"Ya Allah, sudah tua loh kita mas. Jangan memuji Rahma seperti itu ahhh, nggak enak kalo di dengar anak-anak." Terkekeh.
"Kenapa harus merasa nggak enak. Kan mas benar-benar mengatakan itu dari hati. Kamu memang cinta sejati dalam hidup ku... Lagi pula anak-anak sudah besar kok."
"Justru sudah besar mas, mereka sudah paham arti bermesraan."
"Yang penting kan hanya kata-kata indah, bukan bermesraan dalam hal intim," ucap Irsyad, mata Rahma menyipit tanda ia tengah tersenyum.
"Manisnya bibir mu sayang, membuat ku candu untuk menyentuhnya." Memasukkan tangannya ke dalam cadar sang istri lalu mengusap bibirnya dengan ibu jari.
"Hahaha, berlebihannya suami ku ini." Melepaskan tangan sang suami, "Dapet kosa kata dari mana sih mas? Pinter sekali merayu." Ucap Rahma. Irsyad pun terkekeh.
Suaminya memang sudah terlihat lebih tua, dengan tubuh yang lebih gemuk dari sebelumnya, namun cinta beliau seperti tidak pernah berubah. Masih sama seperti Irsyad yang dulu.
"Mas tidak berlebihan sayang, pernah dengar suatu cerita? Jika mencintai pasangan halal kita dengan ikhlas? Maka semakin tua, kita akan semakin menyayangi pasangan kita itu? Dan hal itu yang mas rasakan pada mu Rahma. Mas semakin mencintai mu walau rambut kita semakin memutih, namun jujur saja. Kadar cinta mas pada mu semakin bertambah."
Rahma tersenyum, keduanya saling pandang dengan penuh cinta, hingga Rahma meraih tangan sang suami, mengecup punggung tangan itu.
"Terimakasih sudah membuat Rahma merasa di muliakan setiap harinya mas. Rahma bahagia hidup bersama mu." Ucap Rahma. Irsyad pun mengecup kening sang istri dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1