
Di rumah yang sederhana...
Ulum tengah mencuci motornya di luar rumah. sementara itu Aida yang tengah duduk di kursi rodanya, menatap Ulum dari ruang tamu.
Pria yang sangat gagah dan tampan, dengan kaos berwarna putih yang melekat di tubuhnya, tubuh yang putih bersih, wajah yang tampan dan tubuh yang sempura itu, selalu membuatnya merasa beruntung bisa di peristri olehnya.
Tidak hanya itu? Laki-laki itu pun sangatlah ramah pada siapapun. Contohnya saat ini, setiap kali ada orang yang melintas jika Ulum melihatnya? Beliau pasti akan menyapanya dengan sopan.
Bahkan ada beberapa warga yang memberinya julukan pria paling ramah dan tampan di kawasan itu.
"Assalamualaikum mas Ulum."
"Walaikumsalam mbak Dian." Tersenyum ramah, sembari beranjak.
"Ini, kemarin Safa meninggalkan tasnya." Menyerahkan.
"Walaaah... Makasih ya mbak." Ucap Ulum sembari menerimanya.
"Kalau begitu saya permisi mas." Ucapnya, sembari tersenyum.
Padahal tidak tahu apa yang ada di pikiran Ulum namun Aida menangkap Ulum tengah menatapnya dengan ke keguman karena mba Dian adalah wanita yang masih muda, cantik dan paling penting dia sangat lah halus dalam hal bertutur kata.
Ulum masih menyungnginkan senyumnya, ia pun menoleh ke arah pintu, dan mendapati Aida dengan pandangan tidak sukanya. Ulum melangkah masuk, hendak mengecup kening sang istri sesaat, namun Aida menghindarinya, dengan cara membawa laju kursi rodanya mundur, lalu masuk ke dalam kamar mereka.
"Ya Allah, dia kenapa lagi sih?" Ulum pun melangkah masuk meletakkan tas Safa ke dalam kamarnya. Sesaat ia melihat Safa masih sibuk mewarnai.
Ia pun mendekati sang putri.
"Waaahhh gambarnya bagus sekali dek?"
"Iya yah, Safa ingin jadi pelukis."
"Aamiin, semoga terwujud ya sayang." Ulum mengecup kening putrinya, lalu berjalan keluar.
Niat hati ingin melanjutkan pekerjaannya, namun ia melihat Aida tengah bersedih di dalam kamarnya, membuat beliau lantas melangkah masuk ke dalam kamar mereka, mendekati Aida.
"Kamu kenapa lagi si sayang?" Tanya Ulum dengan penuh kesabaran.
"Kenapa bagaimana? Biasa saja kok."
"Tidak sih, aku melihat mu tidak seperti itu."
"Memang aku kenapa?" Tanya Aida masih memalingkan wajahnya.
"Aida? Kalo mas Ulum ada salah bisa kasih tahu ke mas?"
"Nggak, nggak ada kok!"
Ulum menghela nafas. lalu mengecup pipi Aida. "Mas Ulum sayang sama Aida. Maafkan mas ya."
"Aida tidak pantas di sayang mas Ulum." Tuturnya.
__ADS_1
"Kenapa begitu?"
"Yang pantas itu wanita seperti Mbak Dina atau mungkin gadis yang waktu itu bertemu di rumah sakit." Jawab Aida.
"Ya Allah, kok bicaranya seperti itu si Aida?"
"Emang benar kan? Aida kan tidak sempurna."
"Harus ya bicara seperti itu terus? Merendahkan diri sendiri? Lalu membandingkan dengan orang lain?" Ulum mulai sedikit kecewa.
"Memang kenyataannya." Ketus.
"Aida?" Ulum menahan nada suaranya agar tidak meninggi. "Kurang apa sih mas Ulum selama ini di mata mu?" tanya Ulum berusaha meredam suaranya. Sementara Aida hanya diam saja.
"Aku berusaha keras membuat mu bahagia, menerima segala kekurangan dan kelebihan mu hingga detik ini? Apa semua tidak cukup membuktikan jika mas Ulum itu ikhlas mencintai mu."
"Tapi tadi mas ngeliatin mbak Dina seperti suka."
"Siapa yang suka? ya Allah Aida." Masih berusaha menahannya. "Coba jelaskan pada ku? Di sebelah mananya kamu melihat mas Ulum suka sama mbak Dina?" Tanya Ulum, Aida pun hanya terisak.
"Ayo coba jawab?"
"Sudah lupakan saja." Jawab Aida tidak ingin membahasnya.
"Kok di lupakan? Kamu yang memancing loh Aida?" Ulum mulai tersulut.
"Aku nggak mancing mas, tapi memang faktanya. Kamu pasti akan lebih suka melihat wanita yang lebih sempurna dari pada Aida kan?"
"Selalu saja ya? dari kemarin-kemarin kamu bicara seperti itu? Mas Ulum kecewa loh pada mu, rasanya. Seolah Aida itu tidak menghargai hati mas, bahkan kamu seperti tengah menuduh mas Ulum tidak setia." Suaranya mulai meninggi.
Sementara itu di kamar Safa, ia mendengar suara ayah dan ibunya yang tengah bertengkar. Terlebih ia mendengar suara tangis sang ibu. Safa pun beranjak dengan perasaan sedih, perlahan ia melangkahkan kakinya keluar kamar mengintip sedikit ayah dan ibunya di dalam kamar mereka.
"Kamu jangan-jangan ya? yang sudah bosan dengan ku? Karena hidup ku begini terus?"
"Siapa yang bosan sih mas?" Sesenggukan Aida membuka suaranya.
"Ayah...ibu..." Panggil Safa lirih, Ulum pun menoleh. baru saja ia hendak menjawab, namun Safa sudah berada di sana, menatap mereka dengan ekspresi sedih.
"Astagfirullah al'azim." Gumam Ulum. Merasa menyesal.
Ulum pun menggendong Safa dan membawanya keluar, dengan tangannya itu dia menutup pintu kamar mereka, meninggalkan Aida sendiri.
"Ayah...? Ayah bertengkar ya sama ibu?" Tanya Safa.
"Tidak sayang, ayah hanya tengah berbicara saja."
"Tapi kok ibu nangis?" Tanya Safa. Ulum mengecup keningnya. 'ya Allah aku sampai tidak bisa mengontrolnya tadi."
"Ayah?" Panggil Safa.
Tersenyum sejenak. "Ke rumah paman Yuk," mengalihkan.
__ADS_1
"Paman Irsyad?" Tanya Safa. Ulum mengangguk.
"Sama ibu juga kan?" Tanya Safa lagi.
"Iya sayang. Yuk ganti baju dulu kita siap-siap." Ajak Ulum, membawa putrinya ke dalam kamar, lalu membantunya menggantikan baju.
Setelah selesai beliau pun masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat Aida masih menangis di sana, dan tengah berusaha menyeka air matanya.
"Maaf...." Ucap Ulum duduk di ranjang mereka, di hadapan Aida. "Maafkan mas ya sayang." Sambungnya meraih kedua tangan Aida.
"Aku yang seharusnya minta maaf mas. Aku yang salah." Ucap Aida sembari mengecup tangan suaminya. Ulum pun tersenyum ia lantas mengusap kepala sang istri.
"Aku hanya sangat sedih dengan kondisi ini mas, sungguh."
"Mas tahu itu, namun aku ingin kau lebih sabar sayang. Karena segala ujian itu pasti akan ada hikmah yang menyusul di belakangnya, yang penting Aida ikhlas menjalaninya."
Sniff... "Iya mas." Jawab Aida.
Ulum pun memeluk Aida. "Mas mencintai mu Aida, semoga kau tidak bosan dengan kata-kata ku itu." Ucap Ulum. Aida pun hanya membalas dengan anggukan kepala saja.
Melepaskan pelukannya. "Kita ke rumah ustadz Irsyad yuk. Jenguk beliau."
"Iya mas." Jawab Aida. Ulum pun. Beranjak menuju lemari pakaian, guna meraih setelan baju yang akan di gunakan istrinya.
"Yuk ganti dulu bajunya." Ulum hendak membukakan pakaian sang istri namun di tahan Aida yang tengah terkekeh.
"Aida ganti baju sendiri saja mas."
"Mas Ulum mau bantu. Kali saja bisa kasih tanda cinta di situ." Ulum menunjuk bagian dada sang istri sembari tersenyum jail.
"Apa sih mas ihhh.."
"Apa? Habis marah terus dari kemarin kan jadi seminggu nggak dapat jatah. Ya sedikit saja. Sini.. sini..." hendak membuka pakaian istrinya.
Aida terkekeh sembari mendorong pelan dada Ulum. "Sudah ah, sana temani Safa saja."
"Kalau begitu sini deh." Nunjuk ke bibirnya.
"Genit banget sih mas." Aida terkekeh.
"Sama istri sendiri ini, boleh kan? dikit ya." Cupph, mengecup sebentar. "Lagi deh nanggung." Sambung Ulum yang kembali mengecup bibir sang istri dan melepaskannya lagi.
"Enak...enak... Lagi lah..." Hendak mendekat lagi namun di tahan Aida, yang lantas berbisik.
"Nanti malam saja, habisi aku ya." Bisik Aida.
"Waaaaw," ucapnya merasa tergoda. "Jadi pengen buka atasan baju ini." Melepaskannya.
"Hei mas ngapain sih? Safa di luar loh itu."
"Apa sih orang mas cuma mau ganti baju kok... Iiiiihhh pedenya." Terkekeh. Aida pun memukul bahu Ulum sembari terkekeh.
__ADS_1
Dengan kruk sikunya Aida pun berjalan keluar kamar mereka. Dan setelah semuanya siap mereka pun mengambil star menuju rumah Ustadz Irsyad.
Bersambung....