
Bulan demi bulan terlewati. Kini Ulum sudah menyelesaikan kuliahnya satu bulan yang lalu, hanya tinggal menunggu sampai ijazahnya itu keluar, setelahnya ia akan mencari pekerjaan sebagai guru agama.
Dan usia kandungan Aida pun sudah memasuki bulan kedelapan. Di samping perutnya yang sudah semakin membesar.
Aida pun sudah mulai mampu berdiri dengan waktu yang lumayan lama. Dan berjalan dengan sangat hati-hati walau harus di papah oleh Ulum.
"Sakit tidak kakinya?" tanya Ulum. Aida menggeleng pelan.
"Alhamdulillah. Ya sudah istirahat dulu yuk sayang." ucap Ulum ia pun membawa masuk istrinya itu ke dalam kamar.
"Pelan-pelan sayang." ucap Ulum.
"Iya mas. Aida sekarang berat sekali pasti ya?" ucap Aida sembari terkekeh.
"Kata siapa? Tidak kok sayang, mas masih bisa menggendong mu tuh." ucap Ulum.
"Mas bisa saja." jawab Aida sembari mengusap-usap perutnya itu. "Semenjak perut Aida semakin membesar rasanya kok jadi mudah lelah ya, padahal cuma duduk dan tiduran saja." Aida terkekeh.
"Kan kamu membawa anak mas kemana-mana sayang," Ulum mengecup perut Aida lalu mengusapnya. Sesaat Ulum merasakan adanya gerakan dari dalam. "MasyaAllah, ada yang senang di kecup ayah sepertinya." ucap Ulum sembari menoleh ke arah Aida yang tengah tersenyum itu.
"Coba lagi bergerak dong dek. Ayah mau kerja ini boleh tidak?" tanya Ulum. Dan bayi dalam kandungan Aida kembali bergerak.
"Sepertinya dede ingin ayah di rumah saja menemani ibu." ucap Aida dengan nada kecil memperagakan suara anak kecil.
"Wah... Nanti kalau ayah tidak kerja, ayah tidak bisa memberikan susu hamil buat ibu dong. Nanti kalau dede mau beli jajan bagaimana?" ucap Ulum, Aida pun terkekeh. Ulum beranjak, ia mengecup kening Aida.
"Mas tidak sabar ingin segera mendengar tangisnya." ucap Ulum.
"Aku juga mas." ucap Aida.
"Emmm sayang, sudah semakin siang nih mas berangkat ngojek dulu ya." ucap Ulum. Aida pun tersenyum.
__ADS_1
Ulum mengecup kening Aida lagi lalu ke perutnya. "Ayah kerja dulu ya, jagain ibunya, dan jangan bikin ibu nangis ya." ucap Ulum. Aida menyentuh wajah Ulum dan mengusapnya. Ulum pun meraih tangan Aida lalu mengecupnya lembut.
"Kamu nanti mau mas beli kan apa sayang, pulangnya?" tanya Ulum sembari beranjak.
"Apa saja mas, Aida pasti senang dan mau untuk memakannya."
"Begitu ya, baik lah, nanti pulangnya mas bawakan makanan untuk Aida deh. mas jalan dulu ya. Assalamu'alaikum." ucap Ulum.
"Walaikumsalam." Jawab Aida.
Ulum pun keluar untuk mengambil orderannya. Dari mengambil penumpang hingga delivery makanan ataupun minuman.
Di siang harinya, hujan turun dengan sangat lebat di tambah petir yang menyambar dengan suara gemuruh yang sangat kencang. Saat itu pula Ulum memutuskan untuk berteduh sesaat di depan sebuah warung yang tengah tutup.
Ia menoleh ke arah jam tangannya. Dimana jam sudah menunjukan pukul satu siang, dan dia belum pulang akibat mengantarkan penumpang yang lumayan jauh sebelumnya.
"Ya Allah, masih jauh lagi dari rumah. Aida pasti sudah menunggu. Dan lagi, kawasan tempat tinggal ku hujan deras seperti ini tidak ya?" gumam Ulum.
Satu jam lebih Ulum menunggu hujan sedikit reda, karena hujannya lumayan awet. Terlebih dengan angin yang meniup kencang. "Haduh mau sampai kapan ini?" gumam Ulum yang masih berteduh di tempat yang sama. Hingga selang beberapa menit hujan pun mereda. Ia pun kembali memakai mantelnya berusaha menerobos hujan guna segera kembali ke rumah dengan cepat.
Di perjalanan ia di kejutkan dengan sebatang pohon besar yang tiba-tiba jatuh di hadapannya.
"Astagfirullahalazim," seru Ulum terkejut. saat itu pula ia menarik remnya dengan cepat, sehingga membuat Ulum tergelincir lalu jatuh.
Di sana beberapa orang yang melihatnya terjatuh pun berlarian mendekatinya lalu menolong Ulum.
"Astaghfirullahalazim, ya Allah." gumam Ulum yang berusaha bangun.
"Mas tidak apa-apa kan mas?" tanya beberapa orang yang membantu mengangkat motor Ulum. Dan membantu Ulum untuk bangun.
"Tidak apa-apa pak, Alhamdulillah." Ulum meringis, lengannya sedikit merasakan sakit akibat tergesek aspal.
__ADS_1
"Ya Allah Untung mas tidak ketiban batang pohon ini." tutur salah satu dari mereka.
"Iya mas, Alhamdulillah saya masih selamat. Justru saya tergelincir karena kaget mas." ucap Ulum.
"Ayo mas menepi dulu, istrahat dulu saja." ajak seorang bapak-bapak di sana.
"Terimakasih banyak pak. Saya harus segera pulang soalnya." ucap Ulum.
"Lebih baik di cek dulu saja mas, barangkali ada yang lecet."
"Terimakasih sekali pak, insya Allah tidak apa-apa." ucap Ulum. "Sekali lagi terimakasih ya bapak-bapak dan mas-masnya... Saya permisi dulu, Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam." Jawab mereka yang ada di sana sembari menyingkirkan batang kayu tersebut. Ulum pun melanjutkan perjalanannya kembali ke rumah setelah membeli makanan terlebih dulu untuk Aida.
Sesampainya di rumah. Aida merasa lega, karena suaminya telah kembali.
"Assalamu'alaikum, istri ku." Ulum tersenyum.
"Walaikumsalam mas, kok baru pulang? Aida khawatir." ucap Aida. Sembari mengecup punggung tangan Ulum.
"Iya tadi hujannya deras sekali jadi mas berteduh dulu." ucap Ulum.
"Aida makan dulu saja ya. Mas mau mandi dulu."
"Nanti saja mas, menunggu mas mandi saja, biar kita makan sama-sama."
"Tapi ini sudah lewat jam makan siang, Aida pasti sudah lapar."
"Aida masih bisa tahan kok. Seberapa lama sih menunggu suami ku ini selesai mandi." ucap Aida. Ulum pun tersenyum.
"Ya sudah mas mandi dulu ya." ucap Ulum, Aida pun mengangguk.
__ADS_1
didalam bilik kamar mandi itu Ulum mengecek kondisi lengannya yang sedari tadi terasa perih, ia pun melihat lecet di bagian lengan kanannya. "Ya Allah pantas saja, aku harus pakai baju lengan panjang ini, kalau pakai baju lengan pendek nanti Aida bertanya. Aku tidak mau istri ku tahu kalau aku tadi jatuh dari sepeda motor." gumam Ulum, ia pun membasuh tubuhnya itu dengan air dingin sedikit meringis Ulum merasakan perih akibat luka yang terkena air itu.