
Pagi itu Ulum menjemput penumpang pertamanya, yang meminta di antar kan ke daerah kayu tinggi. Lumayan jauh kalau dari tempat tinggal Ulum. Namun Ulum juga merasakan senang karena dengan itu penghasilan yang ia dapat lebih banyak.
Dengan semangat Ulum membawa laju motornya. Di tengah jalan seorang polisi mencegatnya. Ulum pun menghentikan laju motornya lalu mengangkat kaca helmnya.
"Selamat pagi mas." ucap Polisi tersebut. (Pukul sepuluh menurut ku masih pagi ya hhh)
"Iya pagi pak."
"Maaf anda tahu peraturan mengemudi kan, jika saat berkendara, baik itu pengemudi ataupun penumpangnya harus memakai helm." ucap Polisi itu.
"Iya pak."
"Lalu kenapa penumpang anda tidak pakai helm?" tanya Polisi itu, Ulum pun menoleh.
"Astaghfirullah," gumamnya saat melihat penumpang wanita itu hanya menggantung helm itu di lengannya. "Mbak kenapa tidak di pakai helmnya?" sambung Ulum.
"Maaf mas saya tidak suka pakai helm."
"Ya Allah." gumam Ulum ia pun kembali menatap kearah polisi itu.
"Silahkan menepi dulu mas, anda saya tilang."
"Iya pak." ucap Ulum lesu. "Maaf mbak turun sebentar ya." Pinta Ulum pada penumpang wanita itu yang langsung di iyakan olehnya. Motor Ulum pun menepi.
"Surat-suratnya mas." Ucap Polisi itu, Ulum mengeluarkan dompet dari saku celananya lalu menyerahkan STNK dan SIMnya.
"Baik lengkap ya, tapi maaf mas tetap harus saya tilang dan mas bisa bayar dendanya ya dengan cara transfer ke bank, jadi tidak perlu melakukan sidang." ucap polisi tersebut.
"Iya pak." jawab Ulum yang semakin lesu. karena Ulum harus membayar denda pelanggaran yang ia lakukan.
'Uang hanya segini, di suruh bayar denda pula, Ya Allah.' batin Ulum.
Setelah urusan dengan polisi itu selesai, ia pun meminta dengan sangat pada penumpangnya agar mau menggunakan helmnya.
Setelah sampai pada tujuan, penumpang itu memberi ongkos sesuai aplikasi dan pergi tanpa meminta maaf apalagi tip untuk Ulum. Ulum menghela nafas, sembari beristighfar berkali-kali.
__ADS_1
Kepalanya menggeleng pelan. Ia pun kembali melajukan motornya menuju tempat untuk membayar dendanya itu. Lalu kembali pulang.
Sebelum sampai ke tempat tinggalnya Ulum menyempatkan waktu untuk membeli nasi bungkus terlebih dulu. Dan di depan warung makan padang Ulum menilik ke dalam dompetnya, memastikan uangnya. Di sana tinggal tersisa uang tiga puluh lima ribu, dimana ia harus membeli bensin pula.
Ulum pun masuk ke dalam warung makan itu.
"Permisi Uda, minta satu bungkus nasi pakai ayam, tapi nasinya di banyakin ya." ucap Ulum memesan makanan pada pelayan di sana.
"Iya mas, di tunggu ya."
Ulum mengangguk, ia pun duduk sejenak. Di atas bangku plastik, "setelah pulang makan siang nanti aku harus ngojek lagi ini, kalau tidak besok tidak ada uang." gumam Ulum.
"Ini mas nasinya." seru Uda itu. Ulum pun beranjak dan memberikan uangnya. Lalu kembali ke rumahnya.
Di depan rumah Ulum memarkirkan motornya, saat itu juga Aida tersenyum saat mendengar suara motor suaminya yang sudah kembali.
"Assalamu'alaikum." Ulum membuka pintu depan lalu kembali menutupnya. Ia pun berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Assalamu'alaikum bidadari mas." ucap Ulu pada Aida, ia mengecup kening Aida.
"Bagaimana hari ini mas?" tanya Aida.
"Waaah, tapi kok cuma satu mas?"
"Sengaja biar romantis makan nasi sebungkus berdua sayang," ucap Ulum.
"Mas bisa saja. Tapi nanti jika mas tidak kenyang bagaimana?" tanya Aida.
"Mas sebenarnya tadi sudah makan kok, di ajak makan bakso sama teman di traktir, entah lah lagi baik dia jadi nasi ini Aida harus yang paling banyak makannya ya, mas cukup dia sendok saja." ucap Ulum sedikit berbohong.
"Mas serius?"
"Iya sayang, ya sudah mas ambil piring dulu." ucap Ulum yang lantas keluar dari kamar itu. Di dalam dapur itu Ulum menyentuh perutnya yang juga lapar sebenarnya.
"Dua sendok saja cukup, istri ku harus makan lebih banyak." ucap Ulum, ia mengusap matanya yang sedikit menggenang itu. Lalu meraih satu piring kosong dan membawanya keluar.
__ADS_1
Ulum meletakkan nasi itu di atas karpet terlebih dulu, baru lah ia kembali ke kamar dan membawa tubuh Aida keluar.
"Nah, sekarang makan dulu ya." Ulum membuka bungkusan itu lalu memakannya bersama.
"Mas saja yang suapi ya."
"Iya tapi mas makan juga ya, jangan cuma dua sendok." pinta Aida.
"Serius Aida, mas itu masih sedikit kenyang ini." ucap Ulum.
Benar saja Ulum hanya memakan dua sendok nasi tanpa lauknya, sepotong ayam itu iya berikan pada Aida semua.
"Sudah cukup mas." ucap Aida.
"Loh kok sudah, ini masih loh sayang."
"Aida sudah kenyang, habis mas saja makannya sedikit. Aida kan tidak habis."
"Satu lagi ya?" pinta Ulum.
"Tidak mas, Aida sudah kenyang." ucap Aida.
"Ya sudah mas habiskan ya."
"Iya." Jawab Aida pelan, ia mengamati suaminya itu makan dengan lahap menghabiskan sisa nasi itu, Aida sadar suaminya pasti berbohong kalau dia bilang sudah kenyang.
"Coba tadi mas makannya bareng, pasti tidak makan makanan sisanya Aida." ucap Aida sedih.
Ulum tersenyum. "Mas suka, kalau kamu yang makan lebih dulu sayang." Jawab Ulum sembari mengusap kepala Aida. Aida tertunduk.
"Sayang, jangan sedih ya karena sekarang kita benar-benar sedang kekurangan. Suatu saat nanti mas pasti bisa membahagiakanmu kok. Kalau mas sudah sukses." ucap Ulum.
Aida terisak. "Bukan masalah kekurangan uang mas, tapi mas pasti lebih kesusahan karena adanya Aida."
Ulum mendekatkan tubuhnya dan memeluk istrinya itu.
__ADS_1
"Jangan menangis sayang, mas jadi sedih. Mas itu tidak merasa kamu itu beban untuk mas, Demi Allah, kamu itu kekuatan mas sekarang, kekuatan untuk bertahan hidup. Kamu juga yang sudah bikin mas semangat untuk mencari nafkah sayang. serius, mas itu sangat mencintai mu. Jangan bicara seperti itu lagi ya." tutur Ulum yang terus memeluk tubuh Aida yang masih terisak itu.
"Ini hanya sedikit ujian awal pernikahan kita sayang, kau tahu Seorang istri di uji pada saat suaminya tidak punya apa-apa, dan seorang suami di uji saat ia sedang punya banyak uang dan harta. Mas harap kamu bisa tahan menjalani rumah tangga kita ini walaupun pahit dan getir akan menyusup masuk di tengah-tengah kita, mas cuma berharap kita bisa menjalaninya sampai ke jannah ya sayang, mas ingin berjodoh dengan mu sampai ke akherat." tutur Ulum, dengan air mata yang juga menetes. Bibirnya terus mengecup kening Aida dengan penuh kasih sayang.