
Masih di hari yang sama, seseorang mengetuk pintu kontrakan Aida.
"Assalamu'alaikum, maaf mbak, saya ojol food." Seru seorang pria dari luar.
"Sebentar mas..." Seru Aida dari dalam, cklaaaak pintu pun terbuka.
Seorang pria berjaket hijau itu terkejut, karena wanita itu tengah duduk menyeret tubuhnya di lantai.
Ia pun berjongkok.
"Ini, mbak seperti biasa orderan dari mbak Rahma, untuk mbak Aida." ucapnya, sembari menyerahkan makanan.
"Terimakasih banyak mas." jawab Aida.
'Hari ini aku tak melihat wanita ini berhijab seperti biasanya' batin mas Ojol tersebut. Terlihat sekali wajahnya benar-benar sendu, seperti tengah menyimpan duka di hatinya. Bahkan darin matanya yang sembab itu terlihat wanita ini seperti sehabis menangis.
Sudah beberapa minggu belakangan pria bernama Ulum ini selalu menerima order makanan dari Rahma, sehari tiga kali, itu pula yang membuat Rahma menjadikan ojol tersebut sebagai langganannya.
"Maaf, saya bukannya mau tau urusan mbak, tapi apa mbak? memang tinggal sendirian di sini?" tanya Ulum. Aida mengangkat kepalanya dan mengangguk pelan.
'Ya Allah, dengan kondisi seperti ini?' batin Ulum.
"Maaf mbak, Aida? Apa tidak ada sanak saudara begitu?" tanya Ulum yang berjongkok di depan Aida dengan jarak hampir satu meter.
"Saudara saya jauh, di Sumatra, sebelum ini saya tinggal di kabupaten Magelang bersama kakek saya." jawab Aida datar.
"Begitu ya, Lalu? Mbak Rahma ini, saudara juga kah?" tanyanya.
Aida pun terdiam.
"Maaf mbak, saya bukannya gimana. hanya saja saya merasa?"
"Dia hanya kenalan saja," Potong Aida.
"suaminya adalah cucu angkat kakek saya, dan karena hanya ada mereka di sini jadi saya bergantung pada mereka." ucapnya. Ulum pun mengerti pantas saja ia tak tinggal serumah dengan wanita bernama Rahma itu.
"Maaf ya, saya jadi banyak bertanya, nama saya Fathul Qhulum. Orang biasa memanggil saya Ulum." tuturnya,
"Saya Aida," ucap Aida singkat. Ulum tersenyum.
Tiiiiiiiiiing... Ulum pun menoleh ke arah bawah dan merogoh sakunya mengeluarkan ponsel lalu mengeceknya.
__ADS_1
"Maaf mbak, ada orderan lagi, saya permisi ya. Jaga diri mbak baik-baik." ucapnya. Ulum pun beranjak dan melenggang pergi.
Di sela-sela langkahnya Ulum berfikir sejenak, setelah sekian hari bahkan berminggu-minggu mengirim makanan padanya baru hari ini ia akhirnya bisa mengobrol dengan wanita itu. Entahlah mungkin karena ia ingin profesional, tujuannya hanya akan mengirim orderan lalu pergi setelah orderannya sampai ke alamat pemesan. Namun untuk kali ini, kondisi wanita itu seperti lebih memprihatinkan, sehingga membuatnya sedikit iba dan ingin mengajaknya mengobrol singkat. Ulum menggeleng pelan ia pun menaiki motornya lalu pergi.
Pukul dia siang...
Mobil Irsyad menepi di pinggir gang itu.
Irsyad pun terdiam sejenak.
"Kenapa mas?" tanya Rahma yang melihat Irsyad tak kunjung membuka safety beltnya.
"Ini Mas kalau kesini lagi, sebenarnya jadi ingat kesalahan mas." ucap Irsyad. Rahma menyentuh tangan Irsyad dan meremas nya pelan.
"Sudah jangan di pikirkan lagi mas, yang pasti tujuan mas kemari ingin meluruskan semuanya." ucap Rahma yang sejatinya, ia pun belum siap untuk bertemu Aida lagi. "Ayo kita turun mas." ajak Rahma. Irsyad pun mengangguk.
"Bismillah." gumam Irsyad lirih.
Di dalam gang itu Rahma dan Irsyad berpapasan dengan bu Tuminah.
"Assalamu'alaikum mas Ustadz, mbak Rahma." sapa Bu Tuminah.
"Walaikumsalam bu Tum. Habis dari rumah Aida ya?" tanya Rahma.
"Loh, kenapa bu?" tanya Irsyad.
"Iya, anak saya baru saja melahirkan jadi, saya harus membantu merawat bayinya." jelas bu Tum.
"tapi kenapa ibu tidak bilang pada kami?" tanya Rahma.
"Saya sudah berusaha menghubungi namun nomor kalian tidak aktif, saya pikir mbak Aida sudah memberitahu." tuturnya.
"tidak, Aida tidak pernah memberi tahu kalau bu Tum, sudah tidak membantunya." jawab Rahma.
"Berarti selama ini belum ada pengganti saya?" tanya Bu Tum yang merasa tidak enak.
"Astaghfirullahalazim." gumam Irsyad lirih.
"Ya sudah kalau begitu kita permisi bu." ucap Rahma yang lantas melenggang lebih dulu
"assalamu'alaikum bu Tum," ucap Irsyad yang juga langsung menyusul Rahma yang sudah berjalan cepat di depannya.
__ADS_1
"Walaikumsalam ,Ya Allah, jadi tidak enak ini." gumam bu Tum sembari geleng-geleng kepala.
Di depan kontrak, Rahma mematung saat melihat Aida tanpa hijab dengan rambut yang tergerai tak tersisir rapih itu tengah duduk melamun. Ia pun segera menghampirinya.
"Assalamu'alaikum Aida." ucap Rahma yang sudah berjongkok di hadapannya.
Aida menoleh kearah Rahma.
"Walaikumsalam mbak Rahma." ucapnya sembari tersenyum.
Irsyad menatap Aida dengan perasaan prihatin, sungguh ia tidak tahu lagi harus bagaimana.
"Kenapa Aida di luar, tak mengenakan hijab pula." tanya Rahma.
"Aida tidak ingin lagi berhijab," tuturnya lirih, sudut matanya mulai basah.
"Kenapa?" tanya Rahma,
"Aida hanya tidak pantas saja memakai hijab ini lagi." tuturnya.
"Aida, hijab itu wajib di pakai semua wanita, mau dia buruk atau pun baik, jadi tidak ada kata tidak pantas." ucap Irsyad.
Aida pun menoleh ke arah Irsyad.
"Mas baru datang hari ini?" tanya Aida.
"Iya dek," jawab Irsyad. "Maaf mas baru saja sembuh dari sakit, maka dari itu mas baru sempat kemari. Untuk mengatakan sesuatu pada mu." Lanjutnya. Aida menghela nafas sejenak.
"Apakah Aida sudah bisa menerima jawaban mas itu sekarang?" tanya Aida, Rahma pun termenung, ia menunggu respon Irsyad, guna mengatakan semua keputusannya.
"Mas, sudah memikirkan semuanya matang-matang, dan sepertinya mas?"
"Aida ingin mas membatalkan rencana mas yang akan menikahi ku itu." potong nya. Rahma menoleh ke arah Aida dengan mengerutkan keningnya. "Aida sadar, dan merasa malu, karena sudah banyak yang kalian berikan untuk ku, namun aku malah justru melukai hati kalian, dan terutama mbak Rahma." ucap Aida sembari menoleh ke arah Rahma dan mulai menitikkan air matanya.
"Jujur saja, Aida tidak bisa membohongi, kalau Aida menaruh hati pada mas Irsyad. Dan sangat iri pada mbak Rahma. Namun saat Aida berbicara seperti itu dan mas Irsyad bilang akan menyanggupi keinginan Aida untuk menikahi ku? bukanlah rasa bahagia yang ku rasakan, melainkan aku selalu kepikiran, kalau aku sudah jahat, pada wanita yang sudah sangat baik padaku." tuturnya, Rahma pun tersenyum.
"Mbak Rahma?" Aida memegangi tangan Rahma. "Tolong maafkan aku, tolong jangan membenci diri ku. Hiks." tuturnya, Rahma pun memeluk Aida, dengan tangis haru yang juga keluar.
"Mbak tidak pernah membenci mu Aida, mbak memang sempat kecewa karena hal itu, mbak sempat mengutuk mu ataupun mas Irsyad, namun? Bukan berarti mbak bisa membenci mu Aida. Kau sudah seperti adik ku. Sungguh, walau tetap saja mbak masih suka cemburu. Tapi mbak sayang pada mu kok Aida." ucap Rahma. Aida pun tersenyum.
"Terimakasih mbak Rahma, terimakasih banyak." tuturnya yang masih berada di pelukan Rahma.
__ADS_1
Irsyad pun mengusap sudut matanya yang sedikit basah, ia lega, bahkan sangat lega. Padahal ia sempat khawatir kalau Aida benar-benar akan menuntut untuk di menikahi nya.
Namun ternyata tidak, Aida membatalkan itu semua sebelum dirinya menjelaskan panjang lebar dengannya.