Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
gara-gara gigitan.


__ADS_3

"Rahma senang mas mau membantu Rahma." tutur Rahma sembari menyusui Nuha, di dada yang satunya berbeda dengan tempat Rumi menyusu tadi, karena memberi asi memang harus bergantian. Tidak bisa hanya satu bagian dada saja. Dan menggantinya pun harus ada caranya. Yaitu dengan membiarkan salah satu dari bagian dada itu seperti habis asinya baru kita ganti ke sebelahnya agar Nutrisi yang terkandung pada asi kita bisa terhisap seluruhnya.


Okay kembali ke irsyad yang tersenyum lalu mengusap kepala Rahma dengan lembut.


"Kan mas sudah bilang. Mas pasti akan selalu membatu dek Rahma kok. Karena ini anak mas juga kan? Masa iya harus semuanya Rahma. Lagi pula apa yang mas lakuin ini belum ada apa-apanya sayang dari semua pengorbanan mu selama hampir sembilan bulan ini. Terlebih saat Rahma melahirkan. Mas masih ingat saat Rahma nangis terus-terusan karena rasa sakit paska operasi. Mas jadi merasa bersalah dek." tutur Irsyad.


"Merasa bersalah bagaimana?"


"Iya, mas sudah membuat anak orang sampai rela seperti ini, demi bisa memberikan keturunan pada mas."


Rahma terkekeh. "Mas ini ada-ada saja, anak orang segala, kan Rahma istri mas Irsyad ya wajar lah harus mengalami hal ini."


Irsyad mengecup pipi Rahma. Lalu mengusapnya "Mas sayang pada dek Rahma, sangat. Kalau di ingat lagi saat ade mau operasi? Mas benar-benar ketakutan. Takut jika ade tidak bisa bertahan. Mas tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika harus kehilangan mu sayang." Mata Irsyad mulai menganak.


Rahma tersenyum. "Rahma tahu kenapa Rumi cengeng. Ikut abinya ini pasti hehehe." Rahma menghapus air mata Irsyad yang menetes di pipinya.


"Haha, mungkin sayang. Ya Allah kok mas gampang sekali menangis ya?"


Nuha melepaskan hisapannya. "Wah Nuha sudah tertidur. Memang lebih banyak Rumi menyusunya." ucap Rahma yang kembali memasukan dadanya dan menutup kancing bajunya kembali.


"Sini mas pindahkan." ucap Irsyad. Kembali beliau mengangkat anak perempuannya. Dan meletakkan kembali Nuha ke dalam ranjang kecil itu, di sebelah Rumi.


"Dek, Nuha tidak si bedong tidak apa kan?"


"Iya mas, yang penting di selimuti." jawab Rahma. Irsyad pun menutupi tubuh itu dengan selimutnya.


"Kelambu nya mas, di tutup rapat, takut ada nyamuk." titah Rahma. Irsyad pun menutup kelambu itu dengan sempurna. Ia lantas mengunci pintu kamar mereka lalu kembali mendekati Rahma.


"Kok di kunci mas? Mas seharusnya keluar dulu, Rahma tidak enak sama mereka yang di luar."


"Sebentar saja mas rindu pada mu." Irsyad memeluk Rahma.


"Issshh berlebihan sekali mas Irsyad ini, kaya setiap hari tidak bertemu saja."


"Lho tapi kan mas tidak bisa memeluk dan mencium mu seleluasa ini kan?" Irsyad mengecup kening Rahma.


"Dan lagi? Kemarin sempat terganggu. Mas jadi mau lagi?" tuturnya.


"Mau apa?"


Cup. Irsyad mengecup bagian bibir Rahma. "Yeeey kena kan?" tutur Irsyad sembari terkekeh.


"Curang mas Irsyad, Rahma kan tadi habis makan telur."


"Memang kenapa?"


"Bau amis lah mas. Jangan cium Rahma dulu, Rahma bau soalnya."


Cup. Lagi Irsyad mendaratkan kecupan di bibir istri nya. "Mas!"


"Apa sih sayang."


"Di bilangin Rahma itu sedang tidak pede mas."


"Memang mas peduli, Rahma mau bau atau wangi bagi mas sama saja kok."


"Ya tapi mas?" Irsyad mengecupnya lagi, kali ini menempel lebih lama. Saking lamanya, tanpa sadar Rahma malah menggigitnya. Yang saat itu juga Irsyad terkejut. Ia melepaskannya.


"Ade gigit ya?" Tanya Irsyad tiba-tiba. Sungguh konyol pertanyaannya itu, bagaimana bisa dia menanyakan hal yang akan membuat pipi Rahma merah padam.

__ADS_1


"Ti..tidak kok."


"Bohong ade nih pasti gigit kan?"


"Emm itu?"


"Ngaku, bohong dosa loh. Mas kerasa loh ini." Irsyad menuding keningnya.


"I...iya, maaf Rahma reflek mas." tutur Rahma sangat lirih bahkan hampir tidak terdengar. Mau bagaimana lagi ia sudah pernah berciuman dengan mantan pacarnya. Sedangkan dengan suaminya itu berbeda. Ya jujur saja, Irsyad tidak pernah suka bermain oral ia lebih suka mengecup Rahma di bagian kening dan pipinya. Walaupun mengecup bagian bibir pun hanya sebatas menempelkannya saja itu saja secepat kilat, Sampai sekarang itu masih menjadi tanda tanya Rahma,tahu kenapa suaminya tidak pernah mengulum bibirnya jika sedang menciumnya. Entah karena soal larangan agama atau memang suaminya tidak bisa.


Irsyad geleng-geleng kepala. "Ade, mas baru tahu loh ade bisa begitu. Jangan-jangan pengalaman sama pacar terdahulu ya."


"Hisss mas itu bicara apa sih?" Rahma mulai panik, apa jadinya kalau suaminya tahu, tapi memang seharusnya ia kan tahun seperti apa orang pacaran dulu.


"Ade tahu bibir mas ini masih suci loh, cuma di sentuh dek Rahma saja."


'Iya aku tahu pak ustadz paham... Paham... Mahluk suci seperti mu bagaimana bisa berciuman dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya sih? Memeluk ku saja gemetaran dulu.' batin Rahma dengan posisi masih tertunduk, ia takut suaminya akan kecewa padanya.


"Dan tiba-tiba di gigit seperti ini?" tanya Irsyad. "Ayo, siapa yang mengajari mu melakukan ini?"


Rahma membulatkan bola matanya. 'Mati aku, masa iya dia mau aku mengatakan semuanya yang pernah ku lakukan dengan Almarhum? Bisa tujuh hari tujuh malam nih kena ceramah dia.'


"Hayo jawab? Kok diam saja?"


"Mas bapak dan mas Gani menunggu di bawah, sana turun dulu."


"Tidak usah mengalihkan, mas cuma mau tahu saja, siapa yang mengajarkan ini?"


"Mas itu aneh ya? Membahas hal seperti ini. Kan tidak baik."


"Baik lah menurut mas. Mas harus tahu. Ade ngapain saja saat pacaran dulu. Ya walau mas tahu sih, ade masih menjaga kehormatan dek Rahma karena mas bisa merasakan selaput darah itu. Tapi bibir ade ini." Irsyad menyentuhnya dengan jari telunjuk. "Sudah berapa orang yang menyentuhnya?" tanya Irsyad.


"Satu?" Rahma menggeleng pelan, "dua?" Rahma menggeleng lagi. Irsyad menghela nafas. "Astaghfirullah tiga?" tanya Irsyad. Rahma baru mengangguk sangat pelan.


"Tiga?" Tanya Irsyad lagi mengulangi.


"Tiga sama mas kok. Sumpah Demi Allah mas." Jawab Rahma reflek keras.


"Oh berati mas urutan ketiga ya? Lalu bagaimana cara mereka mencium bibir mu itu dek?"


'Ya Allah kenapa jadi seperti di sidang begini sih?' Rahma benar-benar ingin kabur dari situasi ini. Kenapa setelah mempunyai anak Irsyad baru membahas ini. Ya emang author gabut sih kayanya hahahaha sabar ya Rahma.


"Dek, ayo jawab."


"Ya Allah mas, masa hal seperti ini harus di bahas sih?"


"Memang kenapa? Kan mas ingin tahu. Seperti apa kamu melakukannya dengan mereka."


"Ya ciuman seperti apa sih? Lagian Rahma kan hanya menerima itu dari mas Fikri dan mas?" Rahma terdiam, 'bodoh kok aku hampir memberitahukan nama mantan ku yang satu lagi."


"Siapa? Siapa namanya selain mas Fikri."


"Bukan siapa-siapa."


"Ayo jawab dek Rahma."


"Di bilang bukan siapa-siapa mas."


"Mas Miftah?"

__ADS_1


Deg,,, 'ya Allah, ya kareem. Dari mana beliau tahu nama itu.'


"Diam kan, berati dugaan mas benar dong? Kalau mas Miftah tidak hanya pernah mengejar dek Rahma. Tapi pernah pacaran juga ternyata."


'Apes.' Rahma menangis dalam hati.


"I... Iya." Sudah pasrah saja Rahma. Karena memang benar. Walau mereka pacarannya tidak lama.


"Hemmmm kelihatan itu, berapa lama pacaran sama Mas Miftah?" Irsyad menyilang kan kedua tangannya di depan dada.


"Tidak lama mas. Habis mas Miftah ngajakin Rahma berhubungan badan dulu pas masih SMA. Kan Rahma tidak mau. Jadinya Rahma putuskan untuk menjauh." Jawabannya sembari tertunduk.


"Jadi hanya sebatas berciuman saja?"


"Iya mas. Rahma itu polos, ciuman pertama saja di curinya. Karena takut hamil Rahma jadi nangis sesegukan."


"Bener hanya ciuman saja paling mentok?" tanya Irsyad.


"Iya, Rahma berani bersumpah mas. Demi Allah."


Irsyad menutup mulutnya ia ingin tertawa rasanya melihat muka Rahma yang ketakutan itu. Ia pun mengangkat dagunya menaikan pelan. Sembari menatapnya dalam-dalam.


"Setelah ini banyakin istighfar ya. Itu dulu kamu sudah zinah sayang. Untung saja kamu tidak sampai melakukannya."


"Iya Rahma dulu cuman takut mas. Takut kalau Rahma sampai hamil."


Irsyad mengusap kepala Rahma. "Itu sebabnya, pacaran itu di larang. Karena apa? Memandang saja dosa, apa lagi menyentuh dengan syahwat? Soalnya apa? Menyentuh lawan jenis itu candu. Jangan pernah memulai karena akan mengharapkan lebih yang berujung pada Zinah besar sayang."


"Iya Rahma tahu, Rahma salah."


"Ya sudah mas maafkan, itu hanya masa lalu dan terimakasih sudah menjaga kehormatan mu sebagai seorang wanita hanya untuk suami mu. Tapi bagian dada mu tidak pernah di sentuh mereka kan?" tanya Irsyad. Rahma menggeleng.


"Yakin?"


"Yakin mas demi Allah. Hanya mas Irsyad kok yang pernah melihatnya."


Irsyad tersenyum. Ia pun mengecup kening Rahma dan melepasnya. "Coba sekali lagi dong mas ketagihan."


"Apanya?"


"Gigitan yang tadi." Irsyad terkekeh geli sendiri. Melihat wajah Rahma yang merah padam itu.


"Mas ih."


"Apa sih sayang."


"Sudah sana keluar saja temui mereka."


"Sebentar sayang, ayo kasih lagi."


"Ya kali, masa Rahma yang menggigit." gumamnya lirih.


"Oh... Berarti mau mas yang menggigit ini? Tapi ajarin dong." Irsyad tergelak melihat Rahma yang membulatkan bola matanya.


"Mas." Rengek Rahma manja.


"Iya iya. Ya sudah ade istirahat ya, mas keluar dulu menemui mereka. Mumpung Rumi dan Nuha masih tidur ade juga harus tidur kan." tutur Irsyad. Rahma pun mengangguk. Ia menurunkan tubuhnya tiduran dengan posisi normal.


"Selamat istirahat istri ku." Irsyad mengecup kening Rahma lalu beranjak keluar kamar mereka.

__ADS_1


Rahma tersenyum. Benar, nikmatnya saat kita bisa menjaga kehormatan kita hanya untuk suami. Hal itu tidak akan jadi masalah di kemudian hari. Ya walaupun kita tidak tahu. Apakah suami kita hanya pernah melakukan itu dengan kita saja atau tidak. Setidaknya wanita itu harus memiliki mahkotanya itu sebagai benteng pertahanan akhir sebagai seorang wanita. Karena apa? Seperti halnya barang yang masih tersegel kita tetap akan ada harganya. Berbeda dengan barang yang sudah terlepas segelnya. Mau dia di sebut barang baru pun tetap saja bekas di pandangan sang pemilik.


__ADS_2