
Sudah beberapa hari setelah Ustadz Rahmat berbicara tentang niatan Faqih untuk mempersunting putrinya.
Dengan segala ke ragunan, juga rasa belum ikhlas melepas Nuha.
Kini beliau pun seperti mendapatkan sebuah keyakinan untuk menerima pinangan Faqih.
Hingga tiba saat jam makan malam selesai, Nuha hendak membantu Ummanya membenahi piring-piring kotor.
Dan mencucinya sang Abi pun memanggil Nuha dan mengajaknya duduk kembali di kursinya, hal itu pun berlaku juga untuk Rahma, sehingga membuat keduanya merasa bingung.
"Umma, Nuha, Abi ingin bicara. Namun sebelum itu, Abi ingin tanya kepada Dede lebih dulu. Apa Dede? Bersedia jika ada yang mengajak mu berta'aruf?"
Degg...! Nuha mematung, bukan apa-apa. Dia hanya belum kepikiran saja jika harus menikah muda. Ia pun menunduk.
"Abi? Abi tahu Dede ingin melanjutkan studi Dede ke Kairo kan?" Tanya Nuha sangat lirih dan hati-hati.
"Abi tahu Dek. Tapi Wanita tidak lah wajib berpendidikan tinggi kan?"
Bagaikan kehilangan separuh semangatnya, saat Abi Irsyad mengatakan itu. Semuanya pupus seketika harapannya itu untuk ke Kairo Mesir.
Nuha meremas ke-dua tangannya. "Tapi Dede belum mau menikah Bi." Gumamnya lirih, hingga Bulir bening mulai menetes di pipi mulus Nuha, ia ingin menolak itu dengan keras, namun kalah dengan rasa hormatnya kepada sang ayah.
Rahma pun menoleh, ia meraih tubuh sang anak dan memeluknya.
"Bi, apa tidak bisa di pikir dulu, masih terlalu muda untuknya menikah." Ucap Rahma memeluk tubuh Nuha.
"Abi tahu Umma, Abi sudah memikirkan Semuanya, pria ini pria baik-baik, Abi yakin dia bisa menjadi imam yang baik untuk Nuha, dan Bahkan dia ingin kalian menikah di malam selepas terawih pertama nanti."
"Ya Allah. Umma, Dede belum mau menikah Umma. Hiks." Gadis itu semakin terisak.
"Bi? Tolong lah Bi, kasihan Nuha."
"Maaf dek, sebagai seorang wanita. Memang lebih baik menikah muda kan? Wanita itu sumber fitnah."
__ADS_1
"Iya Umma tahu, tapi apa harus secepat itu? memang siapa yang mau mengkhitbah Nuha sih?"
"Faqih Al Malik, putra dari ustadz Rahmat."
Nuha tercengang, ia pun mengusap air matanya cepat. "Siapa Bi? Dede tidak salah dengar kan?"
"Tidak dek, itu benar, Faqih yang mengkhitbah mu."
"Bi, apa Dede boleh menolaknya? Dede takut A' Faqih... A' Faqih itu galak Bi. Tolong lah Bi."
"Faqih tidak galak Dek, dia pria yang baik."
'baik apanya? Dia itu sering nangisin anak orang juga... Dih, mimpi apa aku semalam ya Allah, aku memang menyumpahi dia cepet nikah, tapi bukan dengan ku. Bukan... Bukan ya Allah.. hiks.' Nuha meraih tangan Abinya.
"Bi, demi Allah. Nuha mohon jangan terima dulu pinangannya ya... Dede nggak apa-apa nggak ke Kairo. Yang penting jangan nikahkan Dede sama A' Faqih ya. Lagian Aa' Sunda, Dede keturunan Jawa. Iiihhh katanya kan nggak boleh."
"Kata siapa nggak boleh? Itu hanya mitos Nuha, Abi itu sudah menerimanya. Sebentar lagi kalian akan Nikah."
"Tapi itu terlalu cepat Abi. Ramadhan tinggal beberapa hari lagi loh Bi, nggak ada seminggu." Suara Nuha sedikit meninggi, karena ia benar-benar tidak mau menikah dengan A' Faqih.
"Maaf Bi." Menunduk.
"Pokoknya Abi sudah menerima pinangan Faqih. Abi yakin dia pria yang baik. Bisa membimbing mu juga, jadi persiapkan saja diri mu. Besok Kalian ijab Qabul dulu, acara Tasyakuran menyusul selepas IdulFitri." Ucap Abi Irsyad seraya beranjak.
Nuha pun terpaku, dengan air mata yang kembali menderas.
"Mungkinkah Abi tidak sayang Nuha?" Gumam gadis itu, sehingga membuat Rahma kembali memeluk sang anak.
"Dede jangan bicara seperti itu ya, Abi jelas sangat menyayangi mu."
"Tapi ini mendadak sekali Umma, dan Dede juga belum siap menikah."
"Dulu Umma menikah juga hanya berjarak tiga hari sayang. Umma bahkan belum pernah bertemu Abi sebelumnya. Dan Alhamdulillahnya Umma bisa mencintai Abi sampai sekarang."
__ADS_1
'itu lain Umma, Abi itu baik,Perhatian, penyayang, lemah lembut. Lah dia Apa? Boro-boro kasih perhatian tiap hari, yang ada dengan rotan yang selalu di tangannya putri mu ini pasti akan hidup bak Upik abu Hiks... Entah aku harus berucap Alhamdulillah atau Astagfirullah, atau mungkin innalilah.'
"Nuha?"
"Iya Umma. Mau bagaimana lagi, sudah keputusan Abi." Gumam Nuha.
'dasar Durjana, pasti dia pakai jampi-jampi biar di terima Abi Irsyad.' Nuha membayangkan wajah Faqih yang sedang tersenyum jahat, sehingga membuatnya semakin kesal.
Rahma pun tersenyum, "sudah kembali lah ke kamar ya, ini biar Umma saja."
"I...iya Umma." Nuha pun beranjak, masuk ke kamarnya.
***
Siang itu dia baru saja tiba setelah meletakkan tas dan sepatunya ke dalam loker dengan lunglai, sesaat ia menghela nafas, dan berharap tidak bertemu dengan pria itu.
"Bismillahirrahmanirrahim." Gumamnya, iapun melangkahkan kakinya guna menuju kelasnya.
Hingga di tengah perjalanan dia berbalik arah setelah mendapati pria paling tidak diinginkan untuknya bertemu di dunia ini.
Iya Faqih Al Malik. jangan lupa selipkan kata Aa' di depannya Karena itu sapaan dia.
Gadis berparas ayu, dengan tubuh mungil bertinggi badan seratus enam puluh dua sentimeter sangat berbanding terbalik dengan kakak kembarnya yang jangkung itu.
Benar Rumi, entahlah mungkin saat pembagian kalsium di susu hamil yang di minum sang Umma paling banyak di serap oleh si kakak, sehingga membuat kakaknya jauh lebih tinggi dari pada dirinya.
Kembali pada topik awal. Nuha memilih jalan memutar lebih jauh demi bisa menghindari pertemuannya dengan sang senior guru Tafiz tersebut saat hendak menuju ke kelasnya.
Bukan tanpa alasan, semua sebab ucapan Abinya tadi malam yang bilang jika dirinya telah di khitbah oleh sang Hafizh tiga puluh juz itu. Sehingga membuatnya sangat canggung jika harus berpapasan.
Faqih pun menghentikan langkahnya, kepalanya bergerak memutar mengikuti langkah gadis itu. Lalu geleng-geleng kepala.
"Kau bisa menghindar sekarang. Tapi nanti. Saat sudah halal. Jangankan menghindar, keluar selangkah saja dari kamar ku, habis kau." Tersenyum sinis. Lalu berjalan lagi, melanjutkan langkahnya menuju tempat yang ia tuju.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Bersambung, di buku Ikrar Cinta sang Hafizh Qur'an Ya.... Di tunggu saja notifikasi upnya... Nanti ku kasih tahu lewat novel ini.