
Irsyad mengusap air matanya. "Tapi mimpi itu terasa nyata sekali. Dan jika saya mengingatnya seperti ada getaran yang membuat saya semakin merasa berdosa." ucap Irsyad.
"Ustadz antum itu terlalu seapa-apanya menyimpan semuanya di benak ustadz Irsyad sendiri. Masalah hati memang tidak pernah bisa kita pilih dimana kita akan meletakkannya, kalau ustadz tiba-tiba bertemu dengan cinta masa lalu ustadz? itu tandanya ustadz benar-benar tengah di uji kesetiaannya, Terlebih-lebih Anisa sekarang janda."
Irsyad terdiam mendengar kata-kata pak Huda. Ia masih sesenggukan mengusap air matanya.
"Sekarang saya tanya. Apa ustadz kembali tertarik dengan Anissa?" tanya pak Huda. Irsyad pun terdiam.
"Saya tidak tahu. Saya rasa hanya?"
"Rasa rindu?" tanya pak Huda. Irsyad tak bergeming.
"Begini saja, kita bayangkan andai kata ustadz sampai tertarik lagi lalu menikahi Anissa? Apa ustadz siap menerima kenyataan yang akan terjadi setelahnya. Tidak menutup kemungkinan, istri pertama ustadz akan menyerah dan memilih untuk bercerai dengan ustadz."
Irsyad menoleh cepat. "Na'uzubillahiminzalik pak Huda jangan sampai itu terjadi. Saya sangat mencintai istri saya. Lebih dari rasa kagum saya pada Isti dulu."
"Itu sudah jelas, karena mbak Rahma adalah satu-satunya wanita yang ustadz tiduri setiap ustadz menginginkan untuk di layani. Dan lagi sudah memberikan ustadz dua anak pula. Ingat perjuangan beliau saat melahirkan kan?" tanya pak Huda. Irsyad pun kembali terisak.
"Saya bersalah pak Huda, saya bersalah." Gumam Irsyad.
"Antum tidak bersalah. Ini kan hanya dalam mimpi. Siapa sih yang menginginkan mimpi seperti itu? Dan lagi apa yang ustadz alami itu manusiawi, semua orang pasti mengalami ujian hati yang jika ustadz tak berpegangan kuat pada keimanan, maka ustadz pasti akan goyah."
__ADS_1
"Tapi saya seolah tidak pantas lagi menyandang gelar ustadz di depan nama saya. Walau saya tidak pernah beranggapan diri saya adalah seorang ustadz. Saya merasa malu pada para jama'ah saya. Saya takut mereka berasumsi buruk tentang saya jika tahu seperti apa diri saya yang masih bisa goyah akan wanita." tutur Irsyad dengan suara parau nya.
Pak Huda menyentuh bahu Irsyad, ia menghela nafas sejenak. "Ustadz, bukankah Antum paham? Di dunia ini hanya ada satu manusia suci yaitu Nabi Muhammad SAW. Saat kita di hisab nanti. Kita berlari kesana-kemari meminta syafaat pada para nabi, dari Nabi Adam hingga Nabi-Nabi yang lain, dan semua menolak itu, karena apa? Mereka menganggap diri mereka masih memiliki dosa juga sehingga tidak akan mampu memberikan syafaat, dan siapa yang mampu menolong? Hanya Nabi Agung Muhammad SAW." Tuturnya, Ustadz terdiam. Beliau masih sesenggukan.
"Lagi Nabi saja mengakui mereka pernah menentang perintah Allah, dan berbuat kesalahan. Apalagi manusia biasa seperti kita ustadz.
Biarlah orang awam berfikir kita manusia munafik. Yang tidak bercermin pada gelar ustadz yang kita miliki. Mencemooh kita tanpa berkaca, bahwasanya manusia itu memiliki hawa nafsu yang sama dengan orang awam lainnya. Berasumsi dengan apa yang ingin mereka katakan, inilah dunia ustadz, yang tidak akan pernah memahami isi hati. Karena yang mereka lihat hanya luarnya saja." Jelas pak Huda. Irsyad masih terdiam, mendengarkan.
"Saya tanya sekali lagi ustadz? Apa ada di benak ustadz untuk mendekati Nissa lagi? Dan maaf menikahinya?" tanya pak Huda, Irsyad menggeleng dengan cepat.
"Saya tidak akan mampu berpoligami." jawabnya.
"Jika tidak, kenapa ustadz seperti ini?"
Pak Huda tersenyum, "jujur saja, Saya pun juga pernah demikian. Sama seperti ustadz, pernah goyah dengan seorang wanita dikala istri saya tengah mengandung anak ke tiga, parahnya wanita itu sudah bersuami juga. Walaupun tidak ada hubungan cuman saya menyimpan kekaguman padanya. Dan itu manusiawi Ustadz. Hati loh yang berbicara bukan raga, siapa yang bisa menolak? Kalau orang bisa menyalahkan hal seperti itu, berarti mereka manusia yang merasa paling suci dan tidak memiliki hawa nafsu. Lagi pula hal itu kan datang dengan sendirinya ustadz. Dan saya yakin itu hanya bersifat sementara."
"Tapi sangat mengganggu saya, pak Huda."
Pak Huda terkekeh. "Itu, yang membuat ustadz sampai mimpi bersenggama. Karena ustadz menolak pemikiran itu dan memaksa mengalihkan yang justru akan membuat fikiran ustadz semakin terpacu untuk terus memutar film masa lalu di kepala Ustadz Irsyad. Dan akhirnya kecium setan, masuk deh tuh setan menggoda melalui alam bawah sadar ustadz dengan menyerupai Nissa." Irsyad termenung.
"Tenang Ustadz, Itu hanya fikiran sesaat ustadz saja. Biarkanlah berjalan semestinya. Terlebih ustadz melihat wajahnya lagi hahaha, tenang saja ustadz, nanti juga akan hilang dengan sendirinya. Seiring dengan berjalannya waktu."
__ADS_1
"Saya tidak mau terlalu lama pak Huda. Sangat tidak nyaman. Memicu perasaan bersalah berlebih pada istri saya."
"Begini deh, Sebaiknya biar hati ustadz lebih tenang. Ustadz temui istri ustadz nanti. Ajaknya mengobrol dan utarakan semuanya pada istri ustadz dengan jujur. Karena itu yang saya lakukan, ketika tengah goyah saya akan bilang pada istri saya. Kalau saya tengah merasakan kegundahan hati dengan ukhti lain."
"Apa istri pak Huda tidak marah?"
"Pasti jengkel lah ustadz. Tapi saya biasanya kasih sentuhan cinta juga. Lebih memanjakan dia sembari terus membisikan kata cinta. Dan maaf pastinya. Tunjukan bahwa istri kita itu lebih kita sayangi dari pada wanita lain."
Irsyad tersenyum sedikit merasa lega. "Jadi, jika hati kita goyah itu hal biasa ya?" tanya Irsyad.
"Iya lah ustadz, lucu sekali antum ini, mimpi saja sampai minta di rajam. saya jadi takut tiba-tiba antum bilang seperti itu. Tapi salut loh saya ustadz. Sungguh." Pak Huda terkekeh.
Irsyad pun tersenyum. "Terimakasih banyak pak Huda. Memang istri saya pernah bertanya tempo hari tentang wanita yang pernah saya kagumi. Namun tidak saya beri tahu. Karena istri saya itu mudah sekali jengkel jika membahas hal itu." tutur Irsyad.
"Lah, itu lumrah lah ustadz. Kan cinta, kalau tidak cinta mana mungkin cemburu. Memang antum tidak pernah cemburu apa?"
"Ya pernah lah pak." Irsyad terkekeh,
"Nah itu.
Ya sudah, ini sudah jam pulang Antum kan? Cepat lah pulang, dan peluk istrinya, biar lebih tenang lagi."
__ADS_1
"Iya pak Huda. Terimakasih sekali lagi." Irsyad tersenyum mendengar itu ia jadi merindukan Rahma, dan si kembar. Setelah pak Huda keluar dari mobil Irsyad dan mengucap salam Irsyad pun membawa laju mobilnya kembali kerumah. Membawa rasa rindu berlebih pada sang istri dan menyiapkan hal manis yang akan ia berikan pada istrinya nanti.
Bersambung.....