Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
Fathul Qhulum


__ADS_3

Di sebuah taman kota terdekat, Irsyad dan Ulum duduk bersebelahan di sebuah bangku taman.


Posisi Ulum masih tegang lebih tepatnya karena ia merasa tidak enak hati, bagaimana pun juga Ustadz Irsyad itu dosen pembimbingnya.


Irsyad menepuk bahu Ulum pelan. "Kamu masih ada orang tua?" tanya Irsyad.


"Ada bapak saya Ustadz, tapi beliau sudah menikah lagi, sebenarnya menikah sebelum ibu saya meninggal." tutur Ulum.


"Begitu ya? Lalu kamu punya saudara kandung kah?" tanya Irsyad.


"Ada Adik laki-laki sebenarnya Ustadz, namun dia meninggal karena sakit liver. Sekarang saya tinggal sendirian." ucap Ulum.


Irsyad menghela nafas. "saya bertanya sekali lagi pada mu, apa kamu bersedia menikah dengan adik angkat saya itu?" tanya Irsyad serius.


Ulum terdiam, ia masih memikirkan bagaimana ia bisa menghidupi Aida jika harus menikahinya, terkadang saja ia berpuasa jika sedang sepi orderan dan bebarengan dengan adanya kebutuhan lain, entah jika sedang ada ujian, ataupun saat waktunya membayar kontrakan.


"Ulum?" panggil Irsyad.


"Saya masih bingung Ustadz,"


"Bingung bagaimana?"


"Saya sendiri saja masih sering kekurangan, padahal hanya hidup sendiri, saya takut jika saya akan membuat Aida kelaparan. Sungguh saya tidak akan tega jika melihat istri saya merasakan itu, apalagi menangis karena tidak punya uang."


"Ulum, memang yang memberi rezeki pada kalian itu siapa?"


"Allah SWT, Ustadz."


"Apa Kau tidak percaya kalau Allah SWT akan mencukupi setiap kebutuhan hamba-Nya?"


"Bukan begitu Ustadz."


"Sekarang saya tanya, seberapa kaya Allah SWT? Allah SWT itu maha Kaya, pemegang bumi dan seluruh alam semesta ini. Kamu Masih takut untuk kelaparan?" tanya Irsyad. Ulum terdiam.


"Tidak ada orang yang tidak mendapatkan rizki, semua manusia baik penyembah ataupun bukan penyembahNya sekali pun, Allah SWT pasti akan beri rezeki itu tanpa kita minta. Yang membuat kita selalu merasa kurang yaitu ini." Irsyad menyentuh dada Ulum dengan jari telunjuknya.


"Hati yang tidak pernah bersyukur." Lanjutnya. Ulum semakin tertunduk.


"Kalau kau percaya, bahwa pernikahan itu tidak membuat mu miskin, dan tidak membuat mu susah, asal apa? Hidup sesuai kemampuan tidak melulu memikirkan gaya hidup, saya yakin kalian bisa bahagia dan kalian tetap bisa makan dengan layak Ulum."


"Percaya, dan berusaha. InsyaAllah kau bisa membuat bahagia pasangan mu."


Irsyad masih terus berbicara panjang lebar, sedangkan Ulum mendengarkannya sembari terus berfikir dalam hatinya.


"Bagaimana, apa kamu masih ragu? Kalau begitu. Pikirkan saja baik-baik Ulum, saya tidak memaksa mu. Saya cuma senang karena ada pria yang menyukai Aida, dan berharap pria itu mau hidup bersama Aida."


"Saya akan memikirkannya Ustadz. Jika Aida memang jodoh saya, saya pasti akan menikahinya." ucap Ulum, Irsyad pun tersenyum.

__ADS_1


"Solat malam lah selama beberapa hari sampai kau menemukan jawabnya." ucap Irsyad. Ulum pun tersenyum dan mengangguk.


"Terimakasih Ustadz." ucap Ulum.


"Sama-sama, kalau begitu kita kembali ya, sudah cukup lama juga kita mengobrol." ucap Irsyad.


"Iya Ustadz, saya juga, harus kembali mengambil orderan ini." ucap Ulum.


"Ya sudah ayo kita jalan bersama, sampai ke motor mu." ajak Irsyad yang lantas beranjak, keduanya berjalan bersama sampai ketempat dimana motor Ulum terparkir.


"Ustadz, saya jalan dulu ya?" ucap Ulum bersemangat.


"Iya silahkan, semoga kau di murahkan rezekinya ya."


"Amin Ustadz Terimakasih sekali lagi. Saya permisi Assalamu'alaikum." ucap Ulum.


"Walaikumsalam warohmatuloh." Irsyad mengamati pria yang sudah membawa laju motornya itu menjauh dari gang tempatnya berdiri.


"Alhamdulillah ya Allah, semoga Ulum berkenan, saya jadi tidak khawatir lagi dengan Aida yang sendirian di kontrakan ini." gumam Irsyad yang lantas masuk ke dalam gang menuju kontrakan Aida.


Waktu yang semakin senja membuat Irsyad dan Rahma harus segera kembali ke rumahnya.


Irsyad meraih tangan Rahma dan menggandeng nya berjalan keluar gang tempat tinggal Aida, di sisi lain Aida mengamati Irsyad yang benar-benar menyayangi Rahma itu.


"Aku harap bisa menjadi ratu yang sangat di manjakan suami ku kelak, seperti mbak Rahma." gumam Aida.


Setelah tiga rokaat itu di jalankan, Aida berzikir, dan memohon ampun pada sang Khalik karena selalu mengeluhkan takdir yang ia Terima itu. Ia pun memohon pada Tuhan untuk di berikan jodoh terbaik suatu saat nanti, sosok pria yang ia harap bisa membuatnya bahagia dan menerima segala kekurangannya itu. Sesaat kedua telapak tangan itu menutupi wajahnya berucap amin. Dan saat itu juga dalam bayangan gelap ia melihat wajah Ulum di sana. Aida pun melepasnya.


"Astaghfirullahalazim, kenapa ada wajah mas Ulum?" gumam Aida, ia menyentuh dadanya yang tiba-tiba berdebar itu.


"Ya Allah? Beliau memang pria yang baik, dan sepertinya aku pun kini menyukainya. Kalau memang beliau jodoh ku? Maka dekatkanlah jika bukan, maka jauhkan, berikan pula keikhlasan untuk ku, dan seorang pengganti yang lebih baik lagi, amin." Aida kembali mengusap wajahnya. Ia pun menoleh kearah meja dan meraih Al Qur'an yang ada di dekatnya itu untuk di bacanya.


***


Pukul tujuh malam mereka baru sampai di rumah, sebelumnya Irsyad dan Rahma mampir terlebih dulu di salah satu Masjid, saat perjalan pulang tadi.


Rahma melepas hijabnya, sedangkan Irsyad tengah berada di dalam tandas untuk bebersih badan.


Di atas ranjang itu Rahma duduk dengan meluruskan kakinya, pegal terasa di kedua kakinya itu membuat Rahma memijat kakinya sendiri selama beberapa menit. Cklaaaaakkk pintu tandas itu terbuka, Irsyad keluar dan menghampiri Rahma.


"Lelah ya sayang." Ucap Irsyad yang duduk di sebelah Rahma.


"Iya mas sedikit tapi Rahma senang kok." ucap Rahma sembari tersenyum, Irsyad pun mengecup keningnya.


"Sini biar mas pijat."


"Jangan mas, masa Rahma yang di pijat, lagi pula mas Irsyad juga pasti lelah kan."

__ADS_1


"Tidak kok, mas masih punya tenaga untuk memijat." ucap Irsyad yang lantas meraih kaki Rahma.


"Mas jangan, kan Rahma tidak enak kalau mas Irsyad yang memijatnya."


"Kan mas Irsyad yang mau, bukan Rahma yang menyuruhnya." Ucap Irsyad yang mulai memijat bagian kaki Rahma dengan pelan namun tetap terasa nyaman.


"Dua puluh ribu ya Nyonya sekali tekan." ucap Irsyad.


Rahma terkekeh. "Mahal sekali pak." jawab Rahma.


"Iya kan saya tukang pijat profesional, karena menggunakan sistem lain dari pada yang lain."


"Sistem apa itu?"


"Setiap tekanan saya kasih cinta nyonya..."


"Hehehe, mana ada cinta di kaki pak Ustadz."


"Lho, mau di pijat sekujur tubuh ini? Boleh boleh. Tapi bayaran dobel ya." ucap Irsyad.


"Dobel bagaimana?"


"Emmmm?" Irsyad berfikir, laut merebahkan tubuh Rahma.


"Pakai sentuhan sayang dari mas Irsyad." Tuturnya sembari menciumi pipi Rahma, yang tengah tertawa itu.


"Ini masih sore mas?" Rahma terus menghindari wajah Irsyad sembari terkekeh-kekeh.


"Hey memang kita mau apa orang mas cuma mau cium dek Rahma saja kok. Haduuuh dek Rahma nih jangan-jangan sedang ingin di sentuh mas Irsyad lagi ya sekarang?"


"Bi... Bicara apa sih mas."


"Hayo ngaku, baru kemarin loh mas kasih? Mau minta lagi?" Ledek Irsyad.


"Ya Allah tidak mas. Sungguh."


"Ngaku saja, minta lagi juga tidak apa-apa kok. Pahalanya gede kalau istri meminta terlebih dulu dek, ayo coba ajak mas bersenggama, ingin dengar deh jadinya?" ledek Irsyad sembari tertawa, terlebih saat melihat wajah Rahma yang memerah.


"Mas, mas itu bicara apa sih, Rahma mau cuci piring dulu."


"Piringnya siapa yang mau di cuci Rahma, punya tetangga? Kan tadi kamu sudah cuci piring."


"Ka... Kalau begitu rebus air deh."


"Air sudah banyak, tidak perlu merebusnya lagi, sudah di sini saja sama mas lah dek." ucap Irsyad yang terus memberinya serangan kecupan di wajah Rahma.


Catatan: senikmat apa sih bercanda dengan pasangan halal kita di atas ranjang? Dimana hanya dengan menatap saja dosa kita sudah berguguran. Hahaha.

__ADS_1


__ADS_2