Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
kedatangan tamu dari jauh (extra part 1)


__ADS_3

Sudah beberapa hari berselang setelah kejadian kemarahan Rahma pada Irsyad.


kini suaminya malah justru, terlihat sudah jarang mengisi dakwah pada setiap kesempatan. Hingga ia pun mendengar sendiri dari bibir suaminya kala Seorang panitia acara pengajian meminta beliau untuk menjadi pengisi acara.


Dengan sopan, di tolak nya oleh Irsyad. Alasan beliau yaitu sedang ingin beristirahat sejenak di dunia tilawah.


Rahma sendiri bingung, terlebih Irsyad jadi sering termenung di kursi ruangan tengah, dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca buku, selain bermain dengan kedua anaknya itu.


Hingga suatu ketika. Irsyad tengah duduk di ruang tengah sembari membaca buku-buku tebalnya.


Semua buku milik Irsyad yaitu tentang hukum-hukum Islam dan hadist.


Rahma meletakkan secangkir kopi di hadapan Irsyad, dengan senyum yang tersungging Irsyad menutup bukunya. Beliau mengusap kepala Rahma lalu menciumnya.


"Terimakasih khumairah ku." tuturnya dengan lembut, sembari meraih secangkir kopi itu lalu meminumnya.


Rahma tersenyum ia memberikan kecupan di pipi suaminya saat Irsyad sudah selesai menyeruput kopi tersebut dan meletakkannya kembali di atas meja. "Mas, tadi yang hadir itu salah satu panitia pengajian kan?" tanya Rahma.


"Iya benar dek." jawab Irsyad.


"Maaf bukan Rahma menguping, namun saat Rahma menyuguhkan minuman tadi siang, Rahma mendengar mas menolak untuk berdakwah. Memang kenapa mas?" tanya Rahma.


Irsyad terdiam. Beliau melepas kacamatanya lalu dengan lembut membelai rambut Rahma.


"mas sedang ingin beristirahat sayang." jawabnya.


Rahma tertegun. "kenapa tiba-tiba, mas ingin beristirahat?" tanya Rahma.


Irsyad mengecup kening Rahma. "Semua karena, mas sedang merasa tidak baik menjadi panutan yang hanya bisa memberi tilawah pada jamaah mas, namun mas masih bisa belok pada sebuah kesalahan."


Rahma menunduk. "Apa semua karena masalah kita tempo hari ya?" tanya Rahma.


Irsyad tersenyum. Pertanda mengiyakan.


"Suami ku tidak buruk kok, mas masih tetap pria yang taat beribadah. Mas tetap pantas di panggil ustadz." tutur Rahma.


Irsyad pun hanya terdiam dalam senyuman yang entah apa artinya, yang pasti beliau tidak ingin mengungkit masalah yang telah usai itu.

__ADS_1


"Mas, jangan membuat Rahma merasa bersalah. Rahma tidak menganggap suami ku ini pria yang buruk kok." tutur Rahma sembari memegangi tangan Irsyad.


"Dek, mas hanya lelah. Entah mengapa mas lelah akan kehidupan yang seperti ini. Menggurui itu sangat mudah, yang susah itu menjalankannya. Mas tidak ingin di bilang pengajar namun tidak mempraktikkan apa yang mas ajarkan. Ibarat kita melarang orang untuk menjauh dari kubangan lumpur, namun mas sendiri malah masuk ke kubangan lumpur itu." tuturnya.


"Lagi pula dek Rahma dulu pernah berkata, 'Rahma takut menikah dengan seorang ustadz, karena ustadz itu mudah mendua.' sekarang mas akan menuruti kemauan mu. Mas akan berhenti berdakwah." sambungnya.


Rahma melebarkan bola matanya "Itu kan dulu mas. Rahma percaya mas tidak akan mendua kok. Dan yang kemarin saja?"


Cupp Irsyad mengecup bibir Rahma, lalu mengusapnya dengan ibu jari. "Sudah jangan dibahas sayang. Mas tidak ingin membuka percakapan tentang itu lagi, bagi mas itu sudah menjadi buku catatan hitam yang sudah mas tutup rapat-rapat." tuturnya.


Rahma pun terdiam. Hingga tak lama keduanya mendengar suara mobil berhenti di pelataran rumah.


"Sepertinya ada yang datang." gumam Irsyad. Hingga tak lama terdengar suara ketukan.


"Mas lihat dulu ya dek." Ucap Irsyad. Rahma pun mengangguk. Seraya beranjak Irsyad mengusap kepala Rahma lalu berjalan menuju ruang depan.


Irsyad membuka pintunya.


"Assalamu'alaikum ustadz, Alhamdulillah, akhirnya saya menemukan rumah Ustadz." tutur seorang pria paruh baya.


"Saya salah satu jamaah ustadz dari kota Bandung. Yang pernah mengikuti beberapa pengajian Ustadz, dan sering juga menonton vidio ceramah Ustadz di Internet." tuturnya.


Irsyad tersenyum dan mengucapkan Terimakasih lantas mempersilahkannya masuk. Sebelum itu beliau izin masuk lebih dulu menghampiri Rahma.


Di ruang tengah Rahma masih duduk di sana.


"Dek, tolong buatkan minum satu ya untuk tamu di luar." titah Irsyad.


"Iya mas." jawab Rahma. Irsyad tersenyum beliau lantas kembali keluar menghampiri tamunya.


"Maaf bapak, nama bapak siapa ya? Apa bapak jauh-jauh dari bandung sengaja ke sini menemui saya atau memang sedang ada kegiatan di sini?" tanya Irsyad ramah.


"Maaf sekali ya Ustadz, mungkin saya telah tidak sopan mengganggu Ustadz datang di malam hari seperti ini."


Irsyad sedikit terkekeh. "Tidak pak, saya senang malah ada yang mau berkunjung." jawabnya.


"Terimakasih Ustadz. Nama saya Ruslan, saya sengaja datang dari bandung Ustadz. Demi bisa menemui Ustadz."

__ADS_1


"Waah, sungguh kehormatan sekali ya jauh-jauh datang demi bertemu dengan saya. Saya jadi tersanjung." jawab Irsyad. Pak Ruslan tersenyum.


"Begini Ustadz. Tujuan saya datang tidak lain hanya ingin mencari pencerahan dari Ustadz. Saya sedang merasa bimbang, bahkan saya sampai punya niatan ingin mengakhiri hidup akibat tidak sanggup menjalani hidup seperti ini." tuturnya.


"Astaghfirullahalazim, mohon maaf, memang ada apa? Kenapa bapak bisa berfikiran seperti itu?"


Pria itu terdiam sejenak. Beliau mengusap matanya yang sedikit basah lalu kembali membuka suara. "Saya itu seorang anggota Dewan, begitu gagah dan berwibawa. Itu yang orang lihat dari saya Ustadz." tuturnya, Irsyad pun hanya manggut-manggut mendengarkan.


"Saya selama ini sudah bersalah menyembunyikan suatu rahasia besar dari istri saya." tuturnya.


"Sudah dua tahun ini, saya menyimpan madunya. Saya punya istri lainnya di kota yang berbeda, tanpa sepengetahuan istri saya."


Degg Irsyad tertegun. Ia pun meminta pria itu untuk berhenti berbicara sejenak. Saat mendengar langkah kaki Rahma yang hendak keluar.


Dalam keheningan Rahma meletakkan secangkir teh milik tamu tersebut dan beberapa kue kering sebagai pendampingnya.


"Silahkan pak Ruslan." Irsyad menawarkan.


"Terimakasih Ustadz, bu." Tuturnya. Rahma tersenyum lalu kembali melangkahkan kakinya masuk.


"Tunggu sebentar ya pak." tutur Irsyad yang lantas melangkah ke belakang menyusul Rahma.


"Dek, sebentar." Panggilnya. Rahma pun menoleh.


"Ade di kamar dulu ya. Nonton TV di kamar saja. Mas ingin mengobrol penting dengan tamu di luar." titah Irsyad. Rahma pun mengangguk tanda mengerti.


Setelahnya Irsyad kembali duduk di bangkunya. "Silahkan lanjut pak. Tadi bapak bilang, memiliki istri baru tanpa sepengetahuan istri pertama?"


"Benar Ustadz. Awal-awal pertama, memang sangat menyenangkan. Namun sejatinya istri kedua yang sama-sama menginginkan diri saya menjadi miliknya seutuhnya, ia mulai berulah Ustadz. Hingga akhir istri pertama saya tahu tentang itu. Awalnya kami memang bertengkar hebat, namun demi anak-anak yang masih membutuhkan saya, akhirnya istri pertama saya memutuskan untuk mengalah dan mengikhlaskan saya memiliki dua istri."


"saya sempat berpikir saya akan nyaman menjalani hidup setelah mendapatkan izin dari istri pertama. Namun baru dua bulan berjalan, istri kedua saya sudah mulai melarang saya untuk pulang ke rumah istri pertama saya. Dengan berbagai macam alasan."


Irsyad mengerutkan keningnya. "Kenapa bisa begitu?" tanya Irsyad.


"Semua sebab ia tidak rela saya tidur dengan istri pertama saya. Padahal waktu saya sudah banyak tercurahkan padanya. Saya hanya pulang ke rumah istri pertama saya di hari sabtu dan minggu, karena memang tempat kerja saya lebih dekat dengan rumah istri kedua saya."


Irsyad masih terdiam mendengarkan.

__ADS_1


__ADS_2