
Hari itu ayah dan ibu Rahma sudah tiba, menunggu Rahma yang baru saja keluar dari ruangan bersalin tersebut.
Kini Rahma sudah berada di bangsal nya , matanya masih menatap nanar ke arah jendela di luar. Belaian halus di kepalanya ia rasakan dari sang ibu yang tengah menatapnya dengan iba, perlahan Rahma menoleh, ia menyadari kalau sedari tadi ia belum melihat suaminya.
"Bu, mas Irsyad mana?" tanya Rahma dengan suaranya yang sedikit parau itu.
"Irsyad di masjid sayang, mungkin sebentar lagi kembali." jawabnya, dan benar saja. Dua ketukan di pintu bangsal itu terdengar, tak lama Irsyad masuk sembari mengucapkan salam, dan di jawab oleh semua yang ada di ruangan itu.
Perlahan langkah kaki Irsyad terayun menghampiri Rahma yang tengah tersenyum ke arahnya. Irsyad pun mendekap tubuh istrinya yang kembali berguncang itu.
"Tidak apa-apa sayang, ikhlas ya, kau harus iklhas." ucap Irsyad, getir yang di rasakan Rahma membuatnya tidak bisa berhenti menangis, ia takut jika Irsyad akan kecewa kepadanya karena seperti yang dokter katakan rahim Rahma sangat lemah. Walaupun sejatinya Irsyad tidak mempermasalahkan itu.
Hari berganti kini Rahma sudah di perbolehkan pulang karena kondisinya yang tidak begitu buruk.
Malam ini pukul tujuh malam, ia menanti suaminya yang belum juga kembali.
Suaminya bilang ia ada tausyiah di daerah Tambun Bekasi dan mungkin akan pulang terlambat.
Tak lama ia mendengar seru mesin mobil yang berhenti di pelataran rumahnya, dengan perasaan senang Rahma beranjak dan membukakan pintu untuk Irsyad yang sudah menyunggingkan senyumnya sembari menutup pintu mobilnya.
"Assalamu'alaikum." sapa Irsyad sembari mengecup kening Rahma.
"Walaikumsalam mas." jawab Rahma ia pun meraih tangan Irsyad dan menciumnya.
"Mas bawa lauk kesukaan mu, kamu belum makan kan?" tanya Irsyad.
"Iya mas, maaf ya gara-gara Rahma yang belum bisa memasak, mas jadi lebih boros karena harus beli makanan di luar terus."
"Sayang, kadang mau kita irit seperti apapun? Tetap saja kurang dan sebaliknya mau boros seperti apapun juga tetap saja ada rezeki untuk hari esoknya, lebih-lebih boros untuk menyenangkan istri asal tidak berlebihan inshaAllah kita tidak akan pernah kekurangan, malah justru makin bertambah. Tapi kalau menurut mas hanya untuk sekedar membeli makanan itu tidak bisa di sebut boros kok jadi tenang saja ya." ucap Irsyad Rahma pun mengangguk.
Setelahnya keduanya pun masuk kedalam rumah mereka, Rahma menyiapkan makan malam dan Irsyad bebersih tubuhnya lebih dulu. Setelah selesai mereka pun makan bersama dengan nikmat.
Di sela-sela makan malam mereka, Rahma pun teringat akan Aida, sudah seminggu lamanya ia tidak menjenguk Aida.
__ADS_1
"Mas, sudah seminggu ini kita tidak mengunjungi Aida, dia juga tidak pernah mengirim pesan jika Rahma tidak mengirimkan pesan lebih dulu padanya."
"Dua hari yang lalu mas sudah menjenguknya sayang, dan dia baik-baik saja. Hanya dia bilang, ia mulai jenuh karena harus berada di dalam kontrakannya itu." Jawab Irsyad.
"Bagaimana kalau besok kita menjenguknya mas?" usul Rahma.
"Boleh, besok kan mas tidak ada kelas, mungkin kita bisa kesana rada pagian." jawab Irsyad. Rahma pun mengangguk.
Dengan santai mereka menghabiskan makan malam itu dengan sesekali terkekeh Rahma menanggapi candaan Irsyad.
Sungguh rasanya sangat bahagia, karena sampai saat ini Irsyad memang tidak pernah memarahinya, namun bukan berarti Irsyad tidak pernah menegurnya walaupun hanya teguran kecil untuk Rahma saat dirinya melakukan kesalahan.
Tapi bagi Rahma itu bukanlah suatu teguran karena Irsyad melakukannya masih dengan candaan atau sindiran saja, ya benar itu cara Irsyad mendidik Rahma, karena ia tidak suka meninggikan suaranya hanya untuk memarahi istrinya jika istrinya itu bersalah.
Pagi harinya.
Pukul sembilan pagi mereka mengambil start, melajukan mobilnya menuju kontrakan Aidan.
"Assalamu'alaikum, Aida." panggil Rahma, salam pertamanya itu tidak ada jawaban dari dalam,
"Assalamu'alaikum, A?" sekilas Rahma mendengar suara tangisan dari dalam, Bruuuuuuukkk Rahma terperanjat, ia mendengar suara benda jatuh yang cukup kencang dari dalam kamar Aida, ia pun mencoba menyentuh gagang pintu itu, dan mendapati pintu itu yang tak terkunci.
"Aida, mbak Rahma masuk ya, Assalamu'alaikum." Rahma pun membuka pintu itu, dan ia mendapati Aida terjatuh ke lantai sembari menangis.
Dengan cepat Rahma pun mendekat dan membangunkan tubuh Aida yang tengah tersungkur di lantai.
"Aida, apa yang terjadi? Kenapa bisa kamu sampai terjatuh dari kursi ini?" tanya Rahma.
"Aida harus ke kampung sekarang mbak, Aida harus ke kampung, abah?" Isak Aida.
"Abah kenapa?" tanya Rahma.
"Abah meninggal dunia, Aida harus ke kampung sekarang juga." Aida berusaha keras menyeret tubuhnya.
__ADS_1
"Innalillahi wainnailaihi roji'un." Rahma pun memeluk Aida yang masih tak terkendali itu. "Aida, tolong jangan seperti ini tolong tenangkan diri mu."
Di sisi lain Irsyad pun masuk, ia sedikit bingung dengan apa yang terjadi pada Aida sehingga membuatnya mendekati keduanya dengan berjongkok.
"Dek Rahma, Aida kenapa?" tanya Irsyad.
"Abah mas, Abah Rury meninggal." tuturnya. Irsyad pun menatap iba, ia tahu baru saja Hadi memberi kabar kepadanya.
"Aida, tabah kan hati mu dek, dan ikhlas Abah." ucap Irsyad.
Aida pun menggeleng cepat. "Mas, Aida hanya memiliki Abah, kini aida benar-benar sendirian, terlebih lagi dengan kondisi yang seperti ini mas, bagaimana Aida bisa menerima semua ini." Isak Aida.
"Aida, jika kau Ikhlas semuanya akan berakhir dengan kebahagiaan."
"Tidak ada lagi kebahagiaan untuk Aida mas, yang ada hanya kesengsaraan karena menjadi wanita sebatang kara yang cacat." Seru Aida,
"Aida kau tidak sebatang kara, ada mbak Rahma ada mas juga," ucap Irsyad masih menenangkan Aida.
"Tidak mas, hal itu tidak serta merta mengurangi kesepian Aida mas, Aida tetap sendirian disini, dan lagi? Mau sampai kapan Aida di tempat ini sendirian tanpa teman? Sedangkan Aida sadar tidak akan ada pria yang akan sudi menikah dengan Aida." Tatapan Aida mulai bengis.
"Jangan pernah berbicara seperti itu Aida, itu sama saja kau mendahului takdir!" suara Irsyad meninggi.
"Takdir? benar takdir yang BURUK MAKSUDNYA!" pekik Aida.
"Aida mau bertanya pada mas Irsyad? APA MAU MAS IRSYAD MENIKAHI WANITA CACAT SEPERTI AIDA?" deeeeeggg Rahma membulatkan bola matanya.
"JAWAB MAS, APA MAS SUDI MENIKAHI WANITA SEPERTI AIDA? tidak kan? Karena mas Irsyad pun pria normal yang hanya menginginkan wanita normal juga, tidak seperti Aida yang?"
"Mas akan menikahi mu!" Potong Irsyad tiba-tiba, sesaat hal itu membuat Aida mematung, ter lebih-lebih Rahma yang merasa seperti adanya sambaran petir di tengah siang bolong saat mendengar kata-kata Irsyad itu.
"Jika perlu besok mas akan menikahi mu, asal itu bisa membuat Aida yakin," Jawab Irsyad akibat terpancing kata-kata Aida tadi. Perlahan Rahma menoleh kearah Irsyad kenapa bisa? saat ini Irsyad seolah tengah menikamkan sebilah belati ke dadanya,
"M.. Mas?" panggil Rahma sangat lirih, Irsyad pun menoleh kearah Rahma, ia menyadari apa yang ia katakan tadi sehingga membuatnya tertunduk dan beristighfar berkali-kali. Perlahan Irsyad beranjak dan keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Aida yang masih terisak di pelukan Rahma, sedangkan Rahma masih tidak bisa berkata apa-apa lagi, selain menahan air mata yang tertampung di sudut matanya.
__ADS_1