
Sudah tiga Minggu berselang, Sabtu pagi selepas subuh Ustadz Irsyad bersiap untuk perjalanannya ke Bandung.
Rahma menemani Irsyad yang tengah memasukkan perlengkapan yang perlu di bawa.
Dengan jaket berwarna hitamnya Irsyad menoleh ke belakang. Ia menyentuh pipi Rahma mengusapnya lembut.
"Mas yakin menyetir sendiri?"
"Iya dek, kan sudah biasa."
"Tapi mas kelihatan lelah loh, kemarin kita habis menghadiri acara pernikahan saudara ayah, Mas juga kurang tidur kan gara-gara semalam ngerekap nilai sampai jam dua belas malam, dan mas bangun di jam tiga pagi tadi sampai sekarang belum tidur lagi."
Irsyad terkekeh. "Hafal sekali,apa yang di kerjakan mas."
"Hafal lah, mas kan suami Rahma." Merengek manja.
"MashaAllah, jangan manja gini aahh mas itu nggak tahan tahu jika Rahma manja."
"Mas," Rahma memeluk tubuh Irsyad.
"Kamu kenapa sih, manja sekali dari kemarin, kaya mas tidak pernah perjalanan jauh saja." Terkekeh lalu mengecup kening Rahma.
"Habis rasanya seperti tidak ingin melepas kepergian mas ke Bandung."
"Lah, katanya mas suruh kembali tausiyah lagi. Ini mas sedang menjalankannya."
"Iya sih tapi kan?"
"Doakan saja mas selamat sampai tujuan, dan bisa kembali lagi ke rumah dengan utuh ya."
"Huhuhu mas Irsyad." Semakin mempererat pelukannya. Irsyad tersenyum.
"Dek, kalo di peluk begini terus kapan mas jalannya? Langit sudah hampir terang ini, acara pukul sembilan pagi soalnya."
"Mas pulang Kapan?" Mendongak menatap ke Irsyad.
"insyaAllah mas itu langsung pulang sayang. Nggak menginap kok. Lagi pula Ahad besok mas Sudah janji sama anak-anak mau ke dunia bawah laut kan?" Irsyad melepaskan pelukan Rahma pelan, lalu meraih tangan Rahma. Mengangkatnya lalu menempelkan punggung tangannya ke bibir Rahma.
"Maaf ya sayang, mas harus jalan dulu. Assalamualaikum." Tersenyum manis.
"Walaikumsalam warahmatullah."
Beliau pun masuk ke dalam mobilnya. Dan mobil pun melaju keluar dari halaman rumah mereka.
Pagi itu wajah Irsyad benar-benar terlihat bersinar. Bahkan sangat bersinar dari biasanya.
Rahma memegangi dadanya. "Kenapa dada ku sesak ya?" gumam Rahma, ia terus mengamati mobil yang sudah semakin menjauh, "semoga Allah melindungi perjalanan mu mas Irsyad." Rahma masih mematung di sana.
"Abiiiiiiiiiiiβ" Rahma menoleh, ia melihat si cantik Nuha sudah berdiri di depan pintu sembari menangis.
Rahma mendekati anak perempuannya itu cepat.
"Abi, dede mau ikut Abi! Dede mau ikut Abi!!!!" Tangis Nuha sesenggukan.
__ADS_1
Rahma pun memeluk putri kecilnya dengan penuh kasih sayang.
"Abi nanti malam pulang sayang. Yuk masuk yuk, Umma buatkan susu ya?"
"Dede mau Abi, Dede mau ikut Abi."
"Haduh, kebiasaan kalo abinya pergi pasti seperti ini." Rahma menggendong Nuha membawanya masuk kedalam rumah.
Kegiatan pagi yang biasa Rahma kerjakan pun kini telah rampung, seperti memandikan anak-anak, menyiapkan sarapan dan menyuapinya.
Sedikit repot juga sebenarnya bagi Rahma, karena biasanya suaminya akan membantu Rahma lebih dulu sebelum berangkat ke Kampus.
Tak lama mbak Rani datang, sedikit kelegaan dihati Rahma saat sang asisten rumah tangga sudah tiba. Ia pun jauh lebih merasa ringan karena ada yang membantu.
Waktu pun terus berjalan. Sudah pukul dua belas siang suaminya belum menelfon. Sejak keberangkatannya pagi tadi.
Pesan chat Rahma pun belum di buka. Hingga Rahma akhirnya memutuskan untuk melangsungkan solat Zuhur.
Di pukul satu siang ia mencoba menelfon Irsyad lagi. Namun belum juga dirinya menekan tombol call suaminya sudah menelfon lebih dulu.
"Alhamdulillah." Gumam Rahma berbinar. Dia pun mengangkat telfon Irsyad cepat.
π"Assalamualaikum mas Irsyad."
π"Walaikumsalam warahmatullah. Dek Rahma sedang apa? Maaf ya, ternyata jadwal mas padat sekali dek, jadi baru mengabari."
Rahma tersenyum, ia senang bisa mendengar suara suaminya.
π"MashaAllah, kasihannya. Jadi rindu anak-anak."
π"Ummanya nggak kah?"
Di sebrang Irsyad tersenyum gemas.
π"Rindu lah. Sangat rindu hehehe, oh iya sudah makan siang kan?" tanya Irsyad."
π"Sudah mas, mas Irsyad bagaimana?"
π"Mas juga sudah. Emmm Rahma nanti mas pulang sepertinya selepas magrib dari sini. Tidak apa kan? Ada acara tambahan ini. Kata pak Huda acaranya selepas Ashar."
π"Iya mas, tidak apa-apa. Yang penting mas hati-hati ya, Rahma dan anak-anak menunggu di rumah."
π"Iya sayang. Ya sudah... Mas tutup telfonnya ya sayang. Assalamualaikum."
π"Walaikumsalam." Sambungan telepon terputus.
Rahma memeluk telfonnya sembari tersenyum. Memiliki suami yang baik hati dan penyayang seperti mas Irsyad memang selalu membuat Rahma tidak bisa jauh-jauh darinya.
Padahal baru pagi tadi suaminya pergi dia sudah rindu. Rasanya beda saja jika suaminya itu mengajar terkadang pukul dua siang sudah kembali, kecuali jika ada kegiatan tambahan.
Rahma pun kembali mengerjakan pekerjaannya, membatu mbak Rani.
Pukul 19:02 Irsyad berpamitan pada pak Huda dan keluarga.
__ADS_1
Pak Huda pun mengantar ustadz Irsyad sampai ke mobilnya.
"Ustadz, saya kok merasa ustadz seperti lelah sekali. Sebaiknya besok saja pulangnya ustadz, menginap saja ya."
Irsyad Terkekeh. "Terimakasih Banyak pak Huda. Saya sudah berjanji akan membawa Anak-anak ke SeaWorld besok. Jadi saya harus pulang sekarang."
"Tapi antum beneran tidak apa-apa ini?mana ustadz nyetir sendiri lagi."
"Ahhh pak Huda ini. Kaya saya tidak biasa nyetir sendiri saja. Ya sudah pak keburu semakin malam. Saya harus segera jalan. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam." Jawab pak Huda, berbarengan dengan Irsyad yang masuk kedalam mobilnya.
"Hati-hati ya ustadz." Pak Huda menutup pintu mobil Irsyad.
"Iya pak." Irsyad tersenyum. Beliau membunyikan klaksonnya sekali dan pak Huda membalas dengan tangannya yang terangkat, seiring dengan mobil Irsyad yang mulai melaju.
Irsyad membawa laju mobilnya dengan santai dan tenang. Di temani lantunan ayat suci dari salon mobilnya.
Mobil Irsyad kini mulai memasuki gerbang tol Cipularang.
Dan kembali melaju dengan kecepatan sedang.
Perjalanan malam dengan angin yang tertiup sepoi-sepoi terlebih Irsyad ada di dalam mobil itu sendirian.
Membuatnya sedikit mengantuk. Beberapa kali dia menguap akibat rasa kantuknya itu.
"Ya Allah, ngantuk sekali rasanya. Nanti saja mampir di rest area sembari solat isya." Kembali menutupi mulutnya karena menguap.
Irsyad geleng-geleng kepala. Merasa semakin berat matanya hingga sedikit terpejam.
Mobil masih terus melaju, hingga tanpa sadar sudah keluar jalurnya Irsyad bahkan masuk ke lajur lawan arah, grusaaaaaaakkkk
"Astagfirullah al'azim." Irsyad tersadar ia menabrak segitiga pembatas jalan. Sesaat sebuah kontainer melintas di hadapannya. Sorot lampu dan klakson dari truk kontainer di depannya sudah berbunyi.
"Β Laa hawla wa laa quwwata illa billahil aliyyil azhimm"
Irsyad membanting stirnya ke kiri.
"Allahuakbar!!!" Mobil pun tergelincir hingga terbalik di KM 79.
Praaaaaaaaannnnggggg! Rahma terkejut. Foto pernikahannya dengan Irsyad terjatuh secara tiba-tiba.
"Astagfirullah al'azim." Ia menyentuh dadanya yang tiba-tiba merasa sesak itu.
"Ulu hati ku, kenapa sakit sekali? Mas Irsyad?" Ia mendekati bingkai yang sudah terjatuh di bawah.
"Ya Allah, ada apa ini?" gumam Rahma yang tiba-tiba ingin menangis.
Rasa takut berlebih semakin menusuk di hatinya. Setengah berlari Rahma menghampiri meja ruang tengah meraih ponselnya. Mencoba menghubungi suaminya namun tidak di angkat oleh sang suami. Terus dan terus Rahma menelfon Irsyad,dan hasilnya nihil.
Tidak ada yang bisa dia lakukan saat ini selain berdoa dan berharap tidak terjadi apapun pada suaminya.
Bersambung...
__ADS_1