Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
Bab Rindu. (wanita lain pengagum Rumi)


__ADS_3

Abi Irsyad baru saja beranjak dari alas sujudnya setelah berzikir panjang selepas isya tadi.


Beliau menoleh ke arah ruang tengah di mana hanya ada Nuha di sana yang sedang menonton acara televisi.


"Dek, Umma mana?" Tanya Irsyad.


"Di kamar Bi katanya kaki Umma pegal, ingin istirahat." Jawab Nuha, Irsyad pun membulatkan bibirnya.


"Kakak?"


"Itu di depan, lagi menggarap laporan Bi, besok kan kakak berangkat pagi."


"Begitu ya, kamu tidak istirahat?"


"Nanti Bi, nunggu mbak Shafa mau Dateng katanya."


"Shafa?"


"Iya, mau meminjam Flashdisk untuk melihat data praktikum, Nuha."


"Owh ya sudah, Abi istirahat dulu ya, kamu jangan malam-malam tidurnya."


"Iya Bi."


Sebelum menuju kamarnya, Irsyad meraih minyak zaitun di sebuah kotak obat yang tergantung di dinding lalu, menaiki anak tangga.


Sementara di kamar... Rahma tengah duduk sembari meluruskan kedua kakinya dan menepuk-nepuk bagian kaki yang pegal itu.


"Khumaira," panggil Irsyad lembut sesaat setelah membuka pintu kamar mereka. Sedangkan Rahma lantas membuang muka akibat rasa dongkol yang masih ada, dengan tatapan masih tertuju pada sebuah layar televisi di hadapannya.


"Masih ngambek saja sih?"


"Lagian iseng. Sok-sokan mematikan mesin motor segala."


Terkekeh, kini ustadz Irsyad sudah berada di sebelah Rahma dan duduk menyamping. "Maaf, abis Umma duduknya jauh banget tadi sih,"


"Siapa suruh mas wajahnya langsung secara mentari pagi pas liat wanita itu."


"Ya Allah cuma gara-gara tidak sengaja bertemu Isti, masa langsung begitu sih dek?"


"Kaya sendirinya nggak aja kalo ketemu mas Miftah." Cupppp Irsyad mengecup bagian bibir istrinya.


"Jangan sebut nama itu dek,"


"Idih, mas tadi sebut nama Isti. Hayooo. Ya sudah Rahma sebut nama?" Cuppp...


"ayo ucap lagi?"


Memukul bahu Irsyad pelan. "Curang banget sih."


"Tinggal ikutin saja dek, kalo mas panggil Isti ya kamu cium sininya mas." Mengetuk-ngetuk bibirnya.


"Menang banyak di kamu dong mas?"


"Hehehe, sudah lah jangan bahas hal itu, nggak baik. nanti kalo Abi di tuduh mau poligami lagi bagaimana?" (Sama reader fisabilillah ya ustadz, Author aja kena zu'udzon terus ini hehehe.)


"Iya, iya deh maaf, tapi kaki Rahma pegel banget nih mas." Menepuk-nepuk kakinya.

__ADS_1


"Haduuuuhh bilang saja nenek satu ini minta di pijit."


"Kok nenek sih? Usia Rahma masih empat puluh lima ya mas! Jangan panggil begitu ahhh,"


Irsyad terkekeh. "Kenapa memangnya? Kan sudah kodratnya, anak-anak sudah dewasa kalo mereka punya anak ya kamu di panggil nenek dong, mas yang di panggil kakek."


"Iya tapi... Ahhh sudah jangan di bahas itu, Rahma belum siap saja." Meraih minyak zaitun di tangan Irsyad, namun urung karena langsung di jauhi oleh Irsyad.


"Abi saja yang pijit Umma ya,"


"Ikhlas nggak nih?"


"Ikhlas dong, sekujur tubuh mas pijit juga Ridho, asal berujung hadiah jatah malam." Terkekeh.


"Emang paling bisa ya kamu mas."


Irsyad terkekeh "Sudah tiduran nanti mas pijit atas bawah." Ucap Irsyad.


Rahma pun mendelik. "Mas ih, udah tua juga ya. Dasar aki-aki." Memukul bahu Irsyad.


"Apa sih, mukul terus tangannya ya?"


"Habis Abi ngomongnya gitu, pijit atas bawah maksudnya apa sih?"


"Astagfirullah, salah lagi? yang mas maksud itu tangan dek, memang apanya sih? su'udzon terus nih. Jangan-jangan kamu ya yang pengen di sentuh, kalo di pikir-pikir Minggu ini belum dapat jatah sih, yuk yuk yuk," memeluk tubuh Rahma, sementara Rahma hanya Terkekeh.


Dan setelah Abi Irsyad masuk kedalam kamar ke duanya memang tidak keluar lagi.


Sementara dua anak mereka masih dengan urusannya masing-masing, di luar.


Hingga sebuah ketukan membuat Rumi beranjak dari posisi duduknya, guna membukakan pintu tersebut.


"Wa... walaikumsalam." Menunduk lalu bergeser ke sebelah. "Mamasuk saja, Shafa." Ucap Rumi, memang seperti itu dia jika bertemu wanita yang bukan muhrimnya. Pasti akan langsung merasa sedikit takut dan gemetaran, sama persis dengan Irsyad dulu.


"Mbak Shafa—" panggil Nuha yang langsung menghampiri gadis yang sudah tersenyum anggun kepadanya. "Ayo masuk," meraih tangan Shafa.


"Iya Nuha, tapi aku tidak lama ya. Sudah malam juga." Ucapnya sembari melangkahkan kakinya.


Rumi pun tersenyum, sembari menutup pintunya. Perbedaan usia yang hanya satu tahun membuat Rumi Sekarang memanggilnya dengan nama sudah tidak kakak lagi, entah lah sejak dia duduk di bangku sekolah menengah pertama, sudah tidak menyebut Shafa kakak lagi, mungkin karena Shafa lebih kecil tumbuhnya sehingga membuat Rumi tidak ingin menyebutkan dengan kakak.


Ia pun kembali ke pekerjaannya, dan benar belum ada setengah jam Nuha dan Shafa sudah keluar lagi.


"Besok aku main ya ke rumah mbak Shafa." Ucap Nuha.


"Iya dek, mbak tunggu loh ya," balas Shafa.


"Kak Rumi, antar mbak Shafa, sana." Titah Nuha.


Shafa pun membulatkan bola matanya, "jangan, aku kan bawa motor, dek."


"Tapi ini sudah larut mbak."


"Iya, tapi kan?"


Rumi beranjak. "tidak apa, ku antar saja. sebentar aku ambil kunci motor dan jaket dulu." Berjalan dengan kepala yang semakin tertunduk melewati Shafa.


"Duh, Nuha aku tidak enak tahu."

__ADS_1


"Hihihi," menutup mulutnya, dia sebenarnya tahu, Shafa sedikit mengagumi kakaknya, terlihat dari sikap dirinya yang merasa gugup jika di dekat Rumi.


"Ayo." Rumi sudah siap dan Jalan lebih dulu di depan.


"Sana." Titah Nuha mendorong bahu Shafa.


Menghela nafas. "Kamu ini dek."


"Hehehe, Salam buat paman Ulum dan Bibi Aida ya, buat Qonni juga." Keduanya melakukan gerakan cipika-cipiki.


"Iya, nanti ku sampaikan. Aku pulang dulu, Assalamualaikum."


"Walaikumsalam warahmatullah." Ucap Nuha, sementara Rumi sudah berada di atas motornya, menunggu Shafa.


Setelah dua motor itu jalan dengan Rumi di depan, Nuha pun tersenyum dan menutup pintu rumah mereka.


Dalam perjalanannya, Rumi sesekali menoleh ke arah spion guna memastikan motor Shafa tak tertinggal jauh darinya.


Sementara pada posisi Shafa, ia malah justru merasa semakin gugup karena melihat punggung pria jangkung yang tengah menggunakan motor CBR, sehingga membuatnya semakin terlihat gagah.


"Astagfirullah al'azim. Seharusnya aku tidak perlu di antar seperti ini." Shafa merasakan sensasi berdebar teramat di dadanya, sementara jarak ke rumahnya masih lumayan jauh, ia juga tidak bisa melepas pandangannya agar tidak tertinggal jauh dari motor Rumi.


Perjalanan yang sebenarnya tidak memakan waktu lama itu seolah terasa sangat jauh bagi Shafa. Hingga ia bisa bernafas lega saat sudah sampai di depan rumahnya. Rumi sempatkan mampir menyapa Ulum yang sudah keluar dari dalam rumah.


"Paman." Menyapa sembari menghampiri pria yang sudah tersenyum hangat kepadanya.


"Tambah tampan saja." Menepuk-nepuk bahunya sembari memeluk tubuh Rumi.


"Hehehe bisa saja, bagaimana kabar paman?" Tanya Rumi.


"Baik Alhamdulillah," jawabnya, "masuk yuk," ajak Ulum kemudian.


"Terimakasih paman, tapi Rumi harus pulang, besok berangkat pagi soalnya."


"Oh, begitu ya." Ucap Ulum, tak lama Aida pun keluar, bersamaan dengan Qonni adik perempuan Shafa.


menyapa Rumi dan berbincang sebentar, setelahnya Rumi pun berpamitan pulang.


Terlihat senyum tipis tersungging di bibir Shafa sembari memandangi punggung Rumi yang semakin menjauh di atas motornya itu.


"Cieeee di anterin pulang." Goda Qonni.


"Astagfirullah al'azim." Mendelik ke arah adik perempuannya itu.


"Kalo nanti nikah sama kak ustadz Rumi, jadi ganti nama dong, ustadzah Shafa." Ledeknya. Shafa pun menarik pipi adiknya gemas.


"Kamu ini ya, kalo ngomong, sekolah aja yang bener mau ujian juga."


"Aminin saja kenapa sih, kan doa."


"Iissssh, Qonni!"


"Hei anak-anak, bisik-bisik apa sih, sudah malam ayo masuk." Titah Ulum, sembari memasukan motor Shafa kedalam rumah.


"Ayo mbak, sambung ceritanya di kamar, tadi ngapain saja sama kak ustadz Rumi."


"Dede!"

__ADS_1


"Hehehehe." Berlari kecil menuju rumahnya. Sementara Shafa hanya geleng-geleng kepala sembari beristighfar.


__ADS_2