
Malam berselang...
Si kembar sudah tidur, sementara Abi dan Ummanya tengah menonton acara televisi di kamar mereka, tangan kanan Irsyad bekerja mengusap-usap kepala sang istri yang tengah tiduran di sebelahnya, sementara beliau duduk menyandar di sana.
"Mas?"
"Hemmm?"
"Rahma kasian sama Aida, tapi kasian juga sama mas Ulum." Ucap Rahma yang mengingat hal tadi, Irsyad pun tersenyum.
"Rahma jadi ingat tentang tabiat Rahma sendiri, menurut mas? Rahma itu seperti apa?" Tanya Rahma.
"Seperti apa ya?" Berfikir sejenak.
"Jujur saja mas."
"Dek Rahma itu ya? Terkadang baik, kadang juga menjengkelkan, ya normalnya manusia lah." Masih mengusap-usap kepala sang istri.
"Tapi pernah tidak Rahma melukai hati mas selama ini."
"Hmmmmm? Melukai pasti pernah, dulu contohnya, memang tidak ingat mas sampai marah?"
__ADS_1
Rahma mengangguk, karena dia ingat akan hal itu. "Maaf ya mas, apa perlu Rahma bersimpuh juga seperti Aida tadi?" Tanya Rahma. Irsyad pun terkekeh.
"Kan waktu itu dek Rahma langsung minta maaf sama mas, dan bilang jika ade menyesal. Itu sudah contoh yang baik loh sayang, kamu tidak gengsi meminta maaf lebih dulu ke mas Irsyad waktu itu, sungguh mas salut loh." Mengecup kening Rahma. Rahma pun tersenyum.
"Tapi, memang seperti itulah rumah tangga sayang. Dimana ego masing-masing akan selalu menjadi pemicu percikan api di dalam kapal yang tengah kita arungi. Dan jika kita tidak bisa memadamkannya? Paling tidak salah satu dari kita, maka api itu akan membesar, dan membakar habis semua yang ada. Yang jadi korban siapa? Tentu anak buah kapal kan? Mereka bingung ikut siapa karena nahkoda dan asistennya masing-masing berpindah ke kapal yang lain." Ucap Irsyad. Rahma pun hanya diam saja.
"Kalo mas Irsyad di mata dek Rahma seperti apa?" Mengecup pipi Rahma.
"Sempurna tanpa cacat." Jawab Rahma semakin terkekeh, karena Irsyad terus saja menghujaninya dengan kecupan di pipinya, lalu ke bagian lehernya. Karena sang suami sudah menurunkan tubuhnya tiduran di sebelah Rahma.
"Nggak ada yang sempurna dek." Lagi dan lagi menciumi Rahma tanpa henti.
"Mas itu baik, namun juga tegas, bagaimana ya menjelaskannya. Intinya membuat Rahma nyaman dan betah di sisi mas Irsyad."
"Hei...hei... Hei... Kok makin nggak karuan sih?"
"Apanya?" Tanya Irsyad sudah menyentuh apa yang ada.
"Itu tangannya..?"
"Apa sih? Kan cuma Menyentuh memang tidak boleh. Haduuuuhhh puasa lama sekali ini gara-garanya."
__ADS_1
Rahma terkekeh melihat sang suami sudah melepas dua kancing baju sang istri. "Sudah...sudah nanti kebablasan lagi, mas kan masih sakit." Menahan tangannya itu.
Irsyad pun bersungut, kalian bisa bayangkan wajah imut ustadz Irsyad saat bersungut. Seperti seekor kucing yang tidak di kasih makan sama majikannya. Hehehe.
"Dikit aja dek, coba sebentar ya. Mas kuat kok."
"Nggak mas, pokoknya tunggu mas pulih dulu. Bagian rusuk mas Irsyad itu ada yang patah loh."
"Nggak papa kan ada rusuk satunya yang masih utuh."
"Maksudnya?"
"Ini dek Rahma kan tulang rusuk satunya. Ya... sebentar saja, nggak kuat nahan hasrat loh ini."
"Ya lagi siapa suruh main-main, tau kan akibatnya?"
"Hehehe, siapa suruh juga tidur di sebelah mas pakai daster ini coba?? Apa namanya jika tidak mancing syahwat... Huh gigit juga nih ya." Rahma tergelak.
Ia tidak sengaja sebenarnya menggunakan daster sebatas lutut yang memang di senangi Irsyad kala melihat Rahma tidur dengan itu, di samping kancing di bagian dadanya, tubuh Rahma jadi terlihat lebih menarik. Itu kenapa tangan nakal sang suami mulai bekerja.
Namun sepertinya ustadz Irsyad urung untuk melakukan itu, karena kembali Irsyad merasakan nyeri di bagian yang bermasalah itu. Sehingga hanya sebatas cumbuan dan cumbuan semata, yang membuat keduanya hanyut dalam cinta mereka malam itu.
__ADS_1
Bersambung....