
sementara itu di kamar Rumi. dia tengah merebahkan tubuhnya dengan posisi tengkurap, bibirnya masih saja meringis merasakan sakit di area betisnya, hingga tak lama Nuha masuk dengan salep di tangannya.
"sakit sekali pasti ya kak?" tanya Nuha, sudah duduk di dekat kakinya.
"iya dek," jawab Rumi.
Nuha pun mengangkat sedikit sarung kakaknya , terlihat merah akibat sabetan di area tersebut. "ya Allah," gumamnya. ia pun membuka penutup salep itu hendak menyapuh luka Rumi.
berbarengan dengan itu Irsyad mengetuk pintu kamar Rumi yang terbuka. membuat keduanya menoleh. "Nuha, sudah solat?" tanya Abi Irsyad.
"belum Bi."
"solat dulu sana, biar kakak Abi yang mengobatinya." melangkah mendekati Rumi dan duduk di sebelah kaki Rumi, sementara Nuha sudah keluar dari kamar kakaknya itu.
__ADS_1
Perlahan, Irsyad pun menyapuh bekas luka itu, terlihat dari matanya yang mulai basah, ia merasakan penyesalan karena telah melukai fisik sang anak.
"Kau tau kak? Abi itu keras untuk kebaikan mu." Ucap Irsyad. "Apa yang Abi lakukan, itu tidak sekeras Mbah Kakung dulu pada Abi. Tapi Abi merasa beruntung karena Abi bisa menjadi pria yang taat hingga saat ini. Walau terkadang keimanan yang selalu naik turun, karena Abi juga manusia biasa."
Rumi hanya diam saja, ia paham karena memang ini kesalahannya, dan dia pun pantas mendapatkan hukuman ini, tidak ada sedikit pun perasaan kesal apalagi membeci sang ayah.
"Pernah dengar kisah Umar bin Khattab yang sampai membagikan kebun kurma nya secara gratis sebagai sedekahnya akibat Umar pernah ketinggalan sholat jemaah. Dia sempat lalai karena sibuk di kebun kurma nya itu."
"Sikap tersebut mencerminkan betapa zuhudnya Umar. Dia tidak mau urusan harta sampai melalaikannya dari beribadah kepada Allah SWT."
Rumi tersenyum. Abi Irsyad telah selesai mengobati kaki putranya. Pria itu kini sudah beranjak duduk di sebelah Abinya.
Irsyad menyentuh bahu putranya itu. "Kita memang tidak ada apa-apanya dibandingkan para sahabat Nabi itu, namun menjadikan kebiasaan mereka sebagai tauladan untuk kita jalani, tidak salah kan?"
__ADS_1
"Tidak Bi." Jawab Rumi. Irsyad pun memeluk tubuh putranya.
"Maafkan Abi ya."
Rumi tersenyum. Ia mengecup bahu Abinya. "Rumi yang salah Bi. Abi wajib melakukan itu. Karena kelalaian Rumi sendiri. Terimakasih Abi, terimakasih atas didikan mu. insyaAllah Rumi ikhlas jika Abi menghukum Rumi akibat kesalahan Rumi."
"MashaAllah, putra ku." Meraih wajah Rumi mengecup pipi kanan dan kirinya lalu memeluk tubuh itu, seraya mengusap-usap punggungnya dengan penuh kasih sayang.
Sementara itu Rahma tersenyum. Melihat ayah dan anak itu dari pintu kamar Rumi. Ia memiliki dua pria Soleh di rumah ini, dan satu putri yang Soleha juga. Membuatnya merasa bahagia menjadi ibu dari anak-anak keturunan ustadz Irsyad itu.
******************************************
Hai untuk sementara seperti ini dulu ya, supaya kalian tidak jenuh nunggu ceritanya Nuha, karena aku benar-benar belum bisa On going. 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1