Ikrar Cinta Ustadz Irsyad

Ikrar Cinta Ustadz Irsyad
Bab rindu 1


__ADS_3

Di sebuah kompleks perumahan yang tenang, bertemankan suara murotal dari toa-toa masjid. Bunyian khas sepertiga malam sebelum tiba waktu subuh.


Ustadz Irshad seperti biasa, tengah menikmati tujuh butir kurma dan susu serealnya sebagai santapan sahur.


Pilihan tetap baginya yang tak suka menyantap makanan berat apalagi berminyak di waktu sahur. Itulah kenapa, tubuh Beliau masih begitu-begitu saja. Tidak ada perubahan diusianya yang masih menginjak angka tiga puluhan. Karena pola makan yang mengikuti anjuran Rasulullah untuk tidak berlebihan. Serta rutinitas Beliau menjalankan puasa Sunnah.


Beliau memang termasuk salah satu dari orang yang menjaga sholat malam dan puasa sunnahnya. Yang terkadang di lakukan juga oleh Rahma jika sedang tidak berhalangan.


Sebab waktu dinihari merupakan waktu paling mustajab untuk menengadahkan tangan dan berdoa. Dimana Allah SWT bahkan sampai turun ke langit bumi dan menawarkan, bagi para hamba-Nya yang memiliki hajat atau permintaan ampun. Untuk datang kepada-Nya dengan cara bertahajud pada sepertiga malam terakhir.


Di sela-sela mendengarkan ayat-ayat Alquran. Ia mendengar juga langkah kaki yang sayup-sayup mulai mendekati ruangan dapur.


Rahma, kah?


Pria berusia tiga puluh tujuh tahun itu menunggu bayangan di luar yang semakin masuk ke dalam dapur.


Di luar dugaan, seorang anak laki-laki menghentikan langkahnya. Tangan kecilnya itu mengusap kedua mata yang terasa pedih selepas bangun tidur.


"Maa shaa Allah... Solehnya Abi sudah terjaga?" Terkekeh, beliau meletakkan sebutir kurma di tangan sebelum beranjak dan mendekati Rumi Al Fatih.


"Abi sedang apa?"


"Makan kurma, Kak..." Menggendong tubuh Rumi, lalu membawanya ke meja makan.


"Makan kurma malam-malam?"


"Ya, biar besok kuat."


Rumi berpikir sejenak. "Abi sahur? Abi besok mau puasa?"


"In shaa Allah..." Mengulurkan segelas air kepada anak laki-lakinya dan menuntun anak itu untuk mengucap basmalah.


"Memangnya besok itu bulan puasa ya, Bi?" Tanyanya polos setelah meminum sedikit, lantas mendorong gelasnya. "Kok, nggak bangunin Kakak sama Dede?"


Irsyad tertawa mendengar ucapan polos anak sulungnya.


"Besok bukan bulan puasa, Le. Tapi besok adalah hari baik untuk menjalankan puasa sunah."


"Puasa sunah itu apa?"


"Puasa yang di kerjakan berpahala, tapi kalau tidak. Ya, tidak berdosa," jawabnya sambil mengkonsumsi kurma. Anak itu pun manggut-manggut turut mengambil satu butir kurma dari dalam wadah plastik lantas menggigitnya sedikit.


"Kakak kok sudah bangun?"


"Tadi Rumi mimpi jelek. Jadi takut di kamar..."


"Oooo... mimpi apa, memangnya?"


"Langit runtuh kaya salju, Bi. Tapi banyak sekali... habis itu ada batu besar, kejar-kejar Kakak." Anak itu berceloteh sambil memperagakan dengan kedua tangannya yang di bentuk seperti sebuah lingkaran besar. Sementara suaranya mempertegas visual dalam mimpinya.


"Subhanallah... sudah melakukan hal yang Abi ajarkan kalau mimpi buruk?" Tanya Abi Irshad sembari mengarahkan kurma pada anak itu, setelah membuang bijinya.


"Sudah, sudah baca doanya juga." Menguap dengan kedua tangan menutup mulut kemudian, setelahnya beristighfar.


"Maa shaa Allah..." Abi Irsyad mencium pipi Rumi gemas. "Jangan takut sama mimpi buruk, Kak. Semua karena setan menganggu. Mintalah perlindungan sama Allah, Dzat yang sebaik-baiknya pelindung."


"Iya, Abi."


"Assalamualaikum..." Rahma masuk ke dapur sembari mengikat rambutnya. Terlihat sekali wajah polos khas bangun tidurnya itu menghela nafas. Pasalnya ibu dua anak dengan tubuh sedikit gempal itu merasa kehilangan anak pertamanya, ketika mendapati pintu kamar Rumi dan Nuha terbuka.


"Walaikumsalam," jawab Abi dan Rumi secara bersamaan.

__ADS_1


"Kakak kok di sini? Umma sampai cari-cari ke kamar mandi. Karena hanya ada Dede di kamar... eh, tahunya lagi mamam kurma sama Abi." Umma berjalan mendekat dan mengusap wajah anak laki-lakinya. Sebelum menciuminya berkali-kali.


Rumi langsung cengengesan "Kakak sahur sama Abi."


"Oh, ya? Kakak mau puasa besok?"


"Enggak, kan, bukan bulan puasa," jawabnya polos. Abi dan Umma pun tertawa.


"Oh, jadi cuma sahur aja?" Tanya Ustadz Irshad merasa gemas. Anak itu menjawab sembari mengangguk kemudian menjulurkan kedua tangannya.


"Umma, gendong."


"Kakak sudah besar, sudah berat juga. Masa minta gendong Umma?" celetuk Abinya.


"Aaaaaa, tetep mau digendong Umma!"


"MashaAllah, sini–" Rahma membopong anaknya yang langsung merengkuh erat bagian leher Ummanya. "Ya ampun! Anak Umma yang mau masuk SD, beneran udah berat loh ini."


Rumi tersenyum lebar. "Kakak udah besar, ya, Umma?"


"Iya, udah besar sekarang. Kok cepat sekali, sih, Nak?"


"Karena Kakak mau balap Dede."


"Balap apa?" Tanya Ustadz Irshad sambil tersenyum.


"Kaka udah SD, Dede pasti belum, kan, Umma?"


"Emmm, kalian masuk SD samaan, sayang," jawab Rahma sambil duduk setelah sang suami mengeluarkan kursi di sebelahnya.


"Sama lagi sama Dede? Katanya, Rumi ini kakak. Masa bareng terus sama Dede?"


Ustadz Irshad tersenyum, sembari memasukkan satu biji kurma ketujuhnya kedalam mulut.


"Tapi temen kakak pada beda kelas. Adiknya ada di tingkat kelas bawahnya. Masa Rumi bareng Nuha terus."


"Karena kalian istimewa. Di lahirkan di tanggal yang sama hanya berbeda menit saja." Ustadz Irshad menjawab sambil mengusap lembut kepala anak itu.


"Tapi Rumi pengenya kelas SD, Dede di TK aja."


"Ya nggak boleh begitu, Sayang. Kalian tetap harus sama-sama karena memang sudah ketentuannya seperti itu. Anak yang istimewa, di lahirkan di hari yang sama maka akan terus bersama-sama."


Rumi terdiam seperti tidak mendengarkan. Namun sejatinya, anak itu sedang mencerna maksud dari kata-kata ibunya.


"Umma makan ini...." Rumi menyodorkan satu butir kurma yang sudah di buang bijinya untuk Umma Rahma.


"Baiknya, anak Umma," puji Rahma sambil membuka mulutnya.


"Kan, Kakak sayang Umma. Kakak mau suapi. Umma terus," celotehnya sambil memasukkan buah tersebut.


"MashaAllah...." Rahma tertawa gemas sambil mencium anaknya itu.


***


Langit di luar sudah terang...


Ustadz Irshad kini sudah siap dengan kemeja dan tas laptop selempangnya. Sedang bercermin sekali lagi untuk memastikan penampilannya itu telah rapi.


"Udah ganteng. Jangan di poles terus..." cibir Rahma memasuki kamar mereka.


Irsyad melebarkan senyum. "Biar tambah yakin kalau mas itu ngganteng, Dek."

__ADS_1


"Huuuu, lihat itu uban udah mulai ada yang keliatan."


"Moso?" Irsyad langsung kembali bercermin dan menyibak sisi samping rambut yang di tunjuk Rahma. "Mana, Dek?"


"Itu–"


"Mana? Nggak ada! ngarang, nih...."


"Hahaha..." Rahma tertawa renyah. "Ya, yang selalu ngaku ganteng emang belum beruban, kok. Akunya yang tambah menua sendirian."


"Halah, yo, nggak lah, Dek. Tua'an mas..."


"Umurnya, memang Tua'an, Mas. Tapi visualnya tetep di aku yang menua lebih dulu." Bersungut sambil meraih kacamata milik suaminya.


"Nggak lah, Sayang. Tetap nantinya kita menua bersama," ujarnya sambil membungkukkan badan saat Rahma hendak memakaikan kacamatanya.


Bibir Irsyad tersungging tipis, yang menunjukan air wajah ketampanan berkali-kali lipat hingga Rahma tertegun sejenak.


Wajahnya menoleh kesamping tepat dimana cermin itu memantulkan bayangan mereka. Entah perasaannya saja. Atau suaminya benar-benar jauh lebih terlihat muda darinya yang sekarang agak gemukan?


Rasanya malu menatap bentuk tubuhnya sendiri membuat Rahma buru-buru kembali pada ustadz Irshad, guna melepaskan kacamatanya.


"Iiiih, nggak usah pakai kacamata lah, Mas."


"Loh, kok di lepas?" tanyanya bingung, dimana Rahma sendiri justru terdiam. "Dek, nanti mas susah bacanya. Mas punya masalah mata minus."


"Tapi aku nggak suka mas pakai kacamata kalau ngajar." Rahma menyembunyikan kacamata Irsyad di belakang tubuhnya.


"kenapa, to?"


"Lebih kelihatan muda dan ganteng," jawabnya lirih. Irsyad sedikit menajamkan telinganya sebelum akhirnya berkelakar. "Kok, ketawa?"


"Aku di puji kamu loh ini," jawabnya masih terus tertawa.


"Siapa yang muji?" Memukul bahu suaminya gemas bercampur jengkel.


"Itu tadi apa? Ya Allah... setelah sekian lama akhirnya dapat pengakuan istri. Kalau aku ganteng."


"Seneng banget di bilang gitu, ya?"


"Yo jelas–"


"Ya udah, nih! pake kacamatanya. Terus, tebar pesona saja sana, sama mahasiswi mu!" Rahma meraih tangan Irsyad lalu meletakkan kacamata tersebut ke telapak tangannya dengan sedikit hentakan.


"Piye? Kok, nesu?" Irsyad menahan tangan Rahma yang hendak pergi. "Jangan marah dong. Kan, Mas emang seneng di puji kamu."


"Nggak tau, lah!"


"Serius, Khumaira..., pakaikan lagi dong kacamatanya. Udah romantis banget loh tadi, deg-deg ser jadinya," seloroh Irsyad.


"Pakai aja sendiri...!


"Kok gitu? Mas lagi puasa loh ini. Nggak bisa bujuk kamu pakai cinta."


"Nggak usah lebay?" Rahma mulai blingsatan sendiri, menahan tawa saat Irsyad menggelitik tubuhnya.


"Terus pakai apa? Mau sun nggak bisa ini, takut mengandung syahwat."


"Hahaha, mas. Ya ampun udah, geli akunya."


"Makannya jangan ngambek."

__ADS_1


"Enggak! Nggak ngambek..." Masih terus tertawa sampai suara ketukan yang berujung panggilan dari kedua anak mereka di luar kamar, membuat kegiatan pasangan suami-isteri ini terhenti. Rahma pun menyahut sebentar lalu memasangkan kacamata suaminya lagi sebelum akhirnya keluar kamar.


__ADS_2