
Waktu selepas magrib ini masih lumayan panjang, adzan Isya pun belum berkumandang sepertinya. Irsyad menunggu di luar ruangan teater sedangkan Rahma memesan tiket filmnya.
Sesekali beliau melirik kearah jam tangannya. Mengamati jarum jam menunggu waktu Isya tiba.
"Mas, Rahma sudah membeli dua tiket ini. Tapi sepertinya film ini akan tayang dua puluh menit lagi." tuturnya.
"Kalau begitu kita ke mushola umum dulu yuk, lima menit lagi masuk waktu Isya soalnya." ucap Irsyad. Rahma menjawab dengan anggukan kepalanya tanda setuju.
Mereka berjalan besama dan masuk ke dalam lift guna turun ke lantai paling dasar di area parkir basement. Tidak nyaman sebenarnya Irsyad sholat di sana. Namun itu lebih baik dari pada harus menikmati Film lebih dulu sebelum mengerjakan solat.
Di ruangan yang tidak begitu luas Keduanya sholat berjamaah saat sudah tiba waktunya untuk mengerjakan sholat. Tidak ada orang yang tengah beribadah. Sangat miris memang pikir Irsyad.
Di mana mushola yang seharusnya lebih ramai dari pada tempat teater tadi malah sangat sunyi. Mungkinkah karena baru masuk waktu Isya jadi belum ada orang kemari? Entahlah yang pasti di sana hanya ada Rahma dan Irsyad.
"Assalamu'alaikum warohmatuloh" Irsyad menoleh ke arah kanan lalu melakukan hal yang sama dengan ke arah sebaliknya. Irsyad mengulurkan tangan pada Rahma dan di belakang sudah ada beberapa orang yang ternyata turut menjadi makmumnya. Irsyad merasa senang walaupun yang di sana hanya beberapa orang tua saja. Tidak ada anak mudanya sama sekali.
Setelah berzikir singkat keduanya pun beranjak.
Di luar mushola, Rahma meraih tangan kiri Irsyad mengamati arah jarum jam di tangannya. "Sudah lewat sepuluh menit mas. Jadi kita tinggal masuk saja. Film mungkin sudah mulai di putar." tutur Rahma.
"Ayo, emmm dek Rahma pesan tiket apa? Film bertemakan islami kan?" tanya Irsyad.
"Iya mas, kisah perjuangan cinta Seseorang ustadz pada istrinya." jawabnya.
"Kok kaya mas ya?" Irsyad terkekeh.
"Mas ini, sudah ayo kita ke lantai atas." ajak Rahma, keduanya pun saling mengatupkan jari-jari mereka berjalan beriringan menuju lift. Sesampai di lantai atas keduanya mulai masuk dan mencari pintu Teater 3, benar saja sudah ada penjaga di sana karena pintu teater sudah terbuka.
__ADS_1
Rahma menyerahkan tiket itu pada sang penerima tiket sebelum masuk. Setelahnya mereka pun di persilahkan untuk masuk. Dan di dalam ruangan itu nampak tidak begitu ramai. Rahma juga sengaja memilihkan bangku yang nyaman untuk menonton namun di deretan yang renggang penontonnya.
"Sini mas." ajak Rahma. Irsyad sedikit gugup karena ini kali pertamanya menonton film. Benar saja film yang mereka tonton tengah di putar. Pemeran laki-laki utamanya adalah fendy Nuril.
"Ya Allah tampan sekali sih dia." gumam Rahma tanpa sadar, karena dia memang sangat mengagumi aktor tersebut saat berperan dalam film ayat-ayat Cinta.
Irsyad menoleh, terlihat sekali istrinya seperti tidak menikmati film itu namun justru fokus pada pemeran pria di sana.
"Romantis sekali sih mas Azam (nama tokoh yang di perankan aktor utama pria tersebut) ya ampun bahagianya istrinya itu." gumam Rahma. Irsyad pun kini bertopang dagu memandangi wajah istrinya yang tengah menatap kagum dengan kedua tangan saling berpegangan di depan dada.
"Ihhh gemesnya sama Nurida, kok bisa ya dia tidak langsung mencintai suaminya itu. Malah ketus gitu ngomongnya ke mas Azam."
'Ckckck... Tidak sadar, sendiri juga dulu seperti itu, sampai sekarang malah.' Irsyad menggaruk keningnya sembari tersenyum geli.
"Ya Allah sabar mas Azam." gumam Rahma terus menerus, bahkan lucunya ia turut menitikkan air mata saat karakter Azam merangkul istrinya yang tengah menelfon mantan pacarnya itu sembari menangis tersedu-sedu akibat rindu. karena pernikahan keduanya di lakukan sebab adanya perjodohan.
Irsyad geleng-geleng kepala. "ade," Panggil Irsyad.
"Hemm." Jawab Rahma tanpa menoleh.
"Ade tidak sadar ya, kalau hal itu, selalu mas lakukan pada mu." gumam Irsyad.
"Masa?" jawab Rahma singkat, pandangannya masih tertuju pada layar lebar di hadapannya. Dimana senyum kekaguman terus tersungging di bibirnya pada tokoh Azam.
"Makan ini popcorn nya." Irsyad menawarkan.
"Nanti mas." tutur Rahma. Irsyad menghela nafas. Bukan layar lebar yang ia pantau justru sang istri yang masih saja berucap "subhanallah, mas Azam." Atau mungkin. "Ya Allah, ada ya suami se halus dan sesabar dia."
__ADS_1
Irsyad mendesah konyol pada istrinya karena Seperti seorang yang buta akan apa yang ia rasakan selama ini tidak jauh berbeda dari tokoh Nurida (pemeran utama wanitanya)
Irsyad pun gemas pada Istrinya itu membuatnya menutupi mata Rahma dengan tangan kanannya.
"Mas awas." Rahma berusaha menjauhkan tangan suaminya itu dari matanya. Namun Irsyad masih saja menutupi pandangan Rahma dengan tangannya.
Rahma pun meraih tangan Irsyad dan menurunkannya. "Mas ini ngapain sih? kan Rahma lagi nonton." tanya Rahma. Sembari menoleh ke arah Irsyad.
"Ganteng mana, mas Irsyad atau mas Azam?" tanya Irsyad sembari memakan popcorn nya.
"A...apa?" Rahma sedikit terkekeh.
"Ayo jawab. Awas saja kalau bilang Gantengan mas Azam."
"Hehe mas cemburu sama artis? Ya Allah."
"Lebih baik melihat ke arah mas saja, jika dek Rahma menontonnya dengan penuh kekaguman." tutur Irsyad tidak mau menjawab pertanyaannya Rahma.
Rahma geleng-geleng kepala sembari menahan kekehan nya. Ia pun memutar kepalanya kembali menatap lurus kearah layar besar itu. Kembali setiap kali tokoh Azam muncul maka tangan Irsyad akan kembali menutup mata Rahma.
"Mas, jangan gini dong, bagaimana Rahma ingin menonton coba?"
"Jangan liat mas Azam, lihat mas Irsyad saja dek."
"Ya Allah. Mas ini beneran cemburu sama artis?"
Irsyad diam saja. Benar saja selama film itu di putar Irsyad sama sekali tidak fokus pada filmnya. Ia justru fokus pada istrinya dengan sesekali menutup matanya. Atau bahkan memasukan popcorn kedalam mulut Rahma saat Rahma membuka mulutnya akibat kekaguman Rahma pada sosok Azam di film tersebut. Tentu saja hal itu membuat Rahma bersungut-sungut kesal pada suaminya yang tidak memberinya ketenangan saat menonton film hingga film selesai di putar.
__ADS_1