
Di atas mimbarnya, Rumi masih berbicara tentang keikhlasan, dan pengorbanan seorang hamba Allah. Dan mengambil dari kisah seorang sahabat Nabi.
"teman-teman yang di muliakan Allah, sebenarnya pengobanan apa sih yang sudah kita lakukan sehingga kita bisa berfikir bahwa kita tidak akan masuk neraka, sementara ada kisah pilu seorang sahabat seiman Khabbab bin Arats, yang tetap beriman walaupun masih mendapatkan siksaan, karena dia tahu, apa yang ia terima di dunia sesungguhnya lebih pedih di akhirat jika dia berbelok.
Nah beliau itu adalah seorang pandai besi yang ahli membuat alat-alat senjata, terutama pedang. Senjata dan pedang buatannya dijualnya kepada penduduk Makkah dan dikirimnya ke pasar-pasar."
"Sejak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Khabbab pun mendapatkan kedudukan yang tinggi di antara orang-orang yang tersiksa dan teraniaya. Ia mendapat kedudukan itu di antara orang-orang yang walau pun miskin dan tak berdaya, tetapi berani dan tegak menghadapi kesombongan, kesewenangan dan kegilaan kaum kafir Quraisy."
"Dan dengan keberanian luar biasa, Khabbab memikul tanggung jawab semua itu sebagai seorang perintis."
"Syaβbi berkata, 'Khabbab menunjukkan ketabahannya, hingga tak sedikit pun hatinya terpengaruh oleh tindakan biadab orang-orang kafir. Mereka bahkan sampai menindihkan batu membara ke punggungnya, hingga terbakarlah dagingnya.' itu benar-benar biadab sih ya kalo kita bayangkan saja sudah ngeri, bagaimana orang kafir jaman dulu itu gemar sekali menyiksa para budak yang beriman di jalan Allah, kalo di pikir-pikir kita yang hidup di jaman sekarang senang ya? Mau ibadah tidak perlu bersembunyi-sembunyi. Mau berdakwah tidak takut di lempari batu sampai berdarah-darah seperti jaman Nabi Muhammad di awal-awal beliau menerima Wahyu dari Allah. Kalo ingat jaman dulu pengorbanan para hamba Allah benar-benar ya. Sementara kita saat ini apa? Sudah di beri kemudahan sholat saja masih digampangin. (Maaf Author tertohok), majelis banyak tapi kita malas untuk mau ikut kajian, lebih enak nonton konsernya ya, yang gratis tapi bermanfaat kalah, sama yang bayar mahal tapi mudharatnya banyak. Nauzubillah."
Dalam ceramah Rumi, Debby pun semakin meresapi, dimana Tuhan memang hanya satu. Dan begitu baiknya Allah SWT kepada para hamba-Nya, membuatnya semakin jatuh cinta pada Agama Islam itu sendiri. Bahkan atas sifat husnuzon dari Khabbab bin Arats yang percaya bahwa tidak ada pertolongan terbaik selain Allah, sehingga Allah menurunkan pertolongan kepadanya pada saat beliau di berikan siksaan berupa besi yang di panaskan lalu di tempelkan ke pangkal ubun-ubun khababbab itu sendiri yang membuatnya menggeliat kepanasan namun tetap menahan lisannya agar tidak keluar sebuah erangan yang akan membuat para algojo itu semakin tertawa puas.
__ADS_1
"Yaa... Ummi Anmar menerima hukuman qishas. Seolah-olah sedang dijadikan peringatan oleh Yang Maha Kuasa baik bagi dirinya maupun bagi algojo-algojo lainnya. Ia diserang oleh semacam penyakit panas yang aneh dan mengerikan. Menurut keterangan ahli sejarah ia bahkan sampai melolong seperti anjing." Sambung Rumi kemudian.
Hingga kajian terus berjalan dan di akhiri saat adzan ashar berkumandang, Rumi berdiri di saf paling depan sebagai seorang imam di sana.
***
Waktu yang semakin sore, membuatnya bergegas pulang menuju rumah kost tempatnya tinggal.
Melangkah cepat keluar masjid namun sesaat langkah kakinya itu terhenti saat seorang wanita sudah berdiri di depannya.
"Top banget ceramahnya kak." Mengacungkan dua ibu jari.
"Sedang apa di sini, yang lain sudah pada pulang loh." Menunduk.
__ADS_1
"Nungguin kak Rumi lah, mau minta tanda tangan. Di sini." Menanggalkan hijabnya lalu menyerahkannya kepada. Rumi, sementara pria itu hanya beristighfar dan bergeser seperti Jalannya kepiting dan berjalan cepat meninggalkan Debby, bahkan saking gemetarannya kaki itu tidak masuk-masuk kedalam sandal jepit miliknya.
"Mau ku bantu pasangin sendalnya kak Rumi?" Hendak mendekat.
"Stooop!!! Aku bisa sendiri." Hingga rona kelegaan mulai terpancar saat sandal itu sudah terpasang sempurna, lalu kembali melangkahkan kakinya cepat.
"Woy calon imam kuβ" seru Debby, sehingga membuat langkah Rumi terhenti. "Ku tunggu mahar surah Ar Rahman dari mu ya."
"Ya Allah, ya Kareem." Semakin berlari lah Rumi meninggalkan Debby yang sudah tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha ya Tuhan gemasnya dengan dia utututu... Makin jatuh hati deh aku," Debby geleng-geleng kepala.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
__ADS_1
Assalamualaikum, maaf ya. Aku up ini tuh seminggu sekali biar kalian nggak lupa saja sama karakter novel ini, nanti kalo novel Presdir2an sudah tamat aku pasti on going lagi, insyaAllah untuk proyek bulan suci Ramadhan π€π€π€ terimakasih sudah setia menunggu.
tambahan, maaf aku salah kirim naskahnya πππ