
Saat ini Irsyad masih berusaha keras membujuk Rahma yang masih mengurung diri di dalam kamarnya.
Hatinya benar-benar kalut, memikirkan Rahma, dan Aida, terlebih Rahma yang sepertinya sangat marah padanya, wajar? Wanita mana yang sudi memiliki duri di pernikahannya, Sekuat-kuatnya hati wanita pasti tetap akan ada yang namanya keretakan, walau bibirnya selalu berucap ikhlas sekalian pun.
Tangan Irsyad kembali terangkat. ia mengetuk pintu kamar itu pelan.
"Dek, ade belum makan siang kan, ayo keluar sayang, kita makan dulu yuk. Atau mas bawa kesini makanannya?" Bujuk Irsyad, dan tak ada jawaban sama sekali dari dalam, Irsyad pun menghela nafas. Hingga tiba waktu senja, Rahma masih tetap berada di dalam kamar itu,
Irsyad pun kembali mengetuk pintu kamar mereka dengan membawakan air mineral dan roti di tangannya.
"Rahma, ini mas bawakan roti dan air, ayo keluar dulu ya, setidaknya perut mu harus isi sayang." ucap Irsyad, karena waktu sudah semakin senja sedangkan Rahma belum memakan apapun sedari siang. Irsyad pun tertunduk.
"Mas taruh roti dan air ini di bawah pintu ya sayang, tolong di makan ya, mas mau sholat magrib dulu." ucap Irsyad. Irsyad terdiam sesaat, berharap Rahma akan keluar dan bersedia menjalankan ibadah sholat maghrib berjamaah dengannya, namun tetap saja, hati sekeras batu itu masih ada di diri Rahma sehingga membuat Irsyad menggeleng pelan dan meletakan roti dan air mineral itu di bawah pintu lalu berjalan lesu menuju tangga, ia sempat menoleh sejenak ke arah pintu tersebut lalu menghela nafas dan turun.
Di sisi lain Rahma pun beranjak dari tempat tidurnya. Jalan menuju kamar mandi guna mengambil air wudhu.
Ya, Hari itu, seolah awan mendung tengah menyelimuti hati Rahma, bagaimana tidak? Harapannya saat menikah adalah untuk mendapatkan kasih sayang dari suami seutuhnya, namun semua itu seolah runtuh hanya karena adanya wanita malang seperti Aida. Rahma pun memakai mukenahnya dan menjalankan ibadah sholat tiga reka'at. Setelah solat, ia pun berzikir singkat seperti yang selalu di ajarkan suaminya perlahan kedua tangan itu menengadah, memohon ampun atas segala dosanya dan dosa suaminya.
Ia pun memohon ampun atas sikapnya yang harus mengurung diri dan mendiami suaminya, ia bahkan tadi sempat meninggikan suaranya itu membentak Irsyad. Kembali Rahma menangis di atas tempat sujudnya, ia benar-benar tidak kuat jika suaminya harus mendua, terlebih-lebih jika sampai tinggal serumah dengan madunya.
Kini Irsyad kembali berdiri di depan pintu kamar mereka matanya tertuju pada Roti dan air mineral yang berada di bawah pintu, Irsyad pun menghela nafas ia mencoba membuka kamar itu lagi, dan kamar itu masih terkunci dari dalam, Rahma benar-benar tidak membuka pintu kamarnya.
Dengan itu juga Irsyad tidak menyerah, ia masih terus berkali-kali mencoba untuk mengetuk nya, bahkan mencoba menghubungi Rahma melalui telfon genggamnya, walaupun panggilan itu di abaikan oleh Rahma, dan bahkan pesan chat pun tidak ada yang di bacanya.
Tangan Irsyad lagi-lagi terangkat, untuk kesekian kalinya ia kembali mengetuk pintu kamar mereka, "Ya Allah dek Rahma, mas harus bagaimana lagi untuk membujuk mu agar kau mau keluar dari kamar ini sayang. Ade bahkan belum makan dari siang tadi, tolong buka pintunya Rahma, mas ingin kita bicara baik-baik." ucap Irsyad dari luar dengan penuh kesabaran.
Sudah berjam-jam Irsyad berdiri di depan pintu kamar mereka, berharap Rahma membuka pintu itu dan menghampirinya,
"Dek, mas tidak apa jika dek Rahma tidak ingin berbicara, tapi tolonglah merespon, agar mas bisa tenang," ucap Irsyad yang merasa khawatir karena Rahma benar-benar tak meresponnya.
__ADS_1
Tiiiiiiiiiiiing... Sebuah pesan chat dari Rahma masuk, dengan cepat Irsyad pun membukanya.
(Mas, Rahma hanya ingin menenangkan pikiran, tolong biarkan Rahma sendiri di sini, Rahma tetap beribadah jadi mas tidak perlu khawatir.)
Melihat tulisan itu, Irsyad pun membalas.
(Tapi ade belum makan sedari siang, ayo keluar dulu sayang, kita makan dulu ya.) jawab Irsyad.
Tiiiiiiiing...
(Rahma tidak lapar.)
Irsyad menghela nafas, ia benar-benar tidak tahu lagi, harus bagaimana membujuk Rahma, keputusannya saja belum bulat, ia masih harus memikirkan semuanya matang-matang, namun Rahma sudah benar-benar tidak bisa di ajak bicara.
Kini ia hanya bisa pasrah menunggu sampai Rahma benar-benar tenang dan bisa mendengarkan penjelasannya.
Ia pun duduk di sebuah sofa di dekat pintu, menunggu dan menunggu entahlah harus sampai kapan? Sudah lewat pukul dua belas malam Rahma masih tahan mengurung diri di kamarnya. Tidak ada yang bisa di lakukan oleh Irsyad saat ini, ia pun berjalan lunglai perutnya yang lapar tak di pedulikannya.
Akhirnya Irsyad memutuskan untuk mengambil air wudhu dan menjalankan sholat sunnah lalu berzikir sepanjang malam.
Pukul dua malam Irsyad kembali mengambil Air wudhu lagi dan melanjutkan sholat, Istihoroh di susul dengan solat taubat, dan solat tahajud.
Selepasnya bibirnya terus bergumam, Irsyad ber I'tiraaf, mengsenandungkan syair indah Abu Nawas.
"Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi"
(Wahai Tuhanku ! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka Jahim)
"Fa hablii taubatan waghfir zunuubii fa innaka ghaafirudzdzambil ‘azhiimi"
__ADS_1
(Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar)
Air mata Irsyad tumpah, ia benar-benar melepaskan segala beban yang tertampung di hatinya itu kepada sang Khalik, tubuhnya mulai berguncang akibat tangisnya, dengan mata yang terpejam Irsyad terus ber i'tiraaf tanpa henti menghabiskan malamnya itu.
Hingga pukul 03:40, Rahma terjaga, matanya sedikit bengkak akibat menangis semalaman, perlahan ia tersadar, kalau sedari tadi dirinya tertidur dengan kamar terkunci, Rahma pun beranjak dan membuka pintu kamarnya, sesaat kakinya sedikit menyentuh botol air di bawahnya Rahma pun meraihnya.
Air matanya menetes. "Mas Irsyad?" Gumamnya, Rahma pun berjalan mencari suaminya itu sembari menuruni anak tangga. Di bawah ia mulai mendengar suara Irsyad di ruangan pesolatan.
Kaki itu mulai melangkah, setiap syair yang di ucapkan Irsyad benar-benar menyayat, mungkin karena suara Irsyad yang parau itu sehingga membuat Rahma berdiri terdiam di depan pintu ruangan sholat itu.
'Suami ku,' gumam Rahma ia mengusap air matanya, perlahan Irsyad membuka matanya, terlihat bayangan dari tembok di hadapannya ia tahu ada seseorang yang berdiri di belakangnya, Irsyad pun mengusap air matanya, lalu menoleh pelan.
Bibirnya tersungging tipis. "Rahma?" panggil Irsyad lirih, Tangannya terulur meraih tangan Rahma dan menariknya pelan untuk turun, Rahma pun menuruti, terlebih saat Irsyad memeluknya.
Di dalam pelukan Irsyad, Rahma yang hanya diam itu menyadari, suhu panas di tubuh suaminya. Dengan cepat Rahma menyentuh kening Irsyad.
"Mas sakit?" tanya Rahma, Irsyad pun menggeleng. "Mas demam, badan mas panas sekali." Rahma sedikit panik.
"Rahma, sudah tidak marah sama mas?" tanya Irsyad, bibir yang sedikit pucat itu masih bisa tersenyum.
"Sudah jangan bahas itu mas, mas pasti tidak tidur semalaman kan? Sekarang mas istirahat ya." ajak Rahma.
"Senangnya, istri mas perhatian lagi. Maafkan mas sayang, maafkan mas ya."
"Mas, sudah Rahma bilang jangan bahas itu, ayo kita naik dan istirahat di kamar."
"Tapi sebentar lagi subuh sayang, kita solat dulu saja ya." ucap Irsyad,
"Kan bisa sholat di kamar nanti."
__ADS_1
"Dek mas itu masih kuat berdiri, mas hanya sedikit demam saja. Kita tunggu lima menit lagi azan subuh pasti akan segera berkumandang." tuturnya Irsyad pun mengecup kening Rahma cukup lama, ia benar-benar senang karena Rahma sudah mau keluar dari kamarnya.