Isteri Kedua CEO Muda

Isteri Kedua CEO Muda
Nasehat orang tua


__ADS_3

Setelah selesai berganti pakaian karena yang sebelumnya kotor terkena lelehan lahar putih. Marwa dan Lucas bergegas pergi menuju rumah sakit! Sesampainya di rumah sakit, rupanya di sana Anderson dan Ellea tengah berkemas karena dokter sudah mengizinkan Ellea dan babynya untuk pulang ke rumah.


Di bantu oleh ketiga baby sister yang sudah mulai dipekerjakan hari ini oleh Anderson, bayi Ellea terlihat tenang dan tidak rewel digendong oleh salah satu baby sister l, sementara dua lainya membantu mengemas pakaian Ellea dan merapihkan barang-barang Ellea juga Anderson.


"Loh mba Lea, kok tasnya wis dikemasi?" tanya Marwa.


"Iya Marwa, aku udah boleh pulang hari ini! Kita tunggu Bude di rumah aja ya, sepertinya siang ini Bude sudah sampai di rumah," kata Ellea.


"Ya wis, aku berharap Ibuku ndak jadi kesini lah, mumet sekali ndasku iki mikiri ibu wis pasti bakalan marahin mas Lucas habis-habisan!" kata Marwa melirik kearah Lucas.


Lucas pun tertunduk dengan wajah yang sebenarnya gugup parah menghadapi mertuanya nanti.


"Tenang aja! Lucas pasti bisa jelaskan semuanya dengan baik, ya ibu kamu memang pasti akan sangat marah diawal tapi mudah-mudahan tidak berlangsung lama," kata Anderson.


Setelah beberapa berkemas, mereka semua pergi meninggalkan rumah sakit menuju kediaman Anderson.


Siang harinya security yang berjaga di gerbang utama menelpon ke dalam rumah! Menyampaikan bahwa Bude Asih baru saja tiba di gerbang utama. Dengan diantar oleh salah seorang anak buah Anderson, Bude Asih menuju ke dalam rumah Anderson.


Di sana Anderson, Ellea, Marwa dan Lucas sudah menunggu Bude Asih di ruangan keluarga. Hidangan pembuka menyambut kedatangan Bude Asih pun tertata rapi diatas meja, Lucas semakin gugup sebenarnya! Tapi dihadapan Marwa, Lucas berlagak seolah dia tidak takut menghadapi Bude Asih yang bisa saja akan memarahinya habis-habisan.


Benar saja tak lama Bude Asih tiba di ruangan keluarga dengan menenteng beberapa buah tangan berupa talas, ubi, dan dan singkong hasil kebunnya sendiri di kampung.


"Marwa!! Heh kamu tuh pie si ibumu iki loh baru dateng, raimu kok koyo ora seneng," kata Bude Asih.


"Ibu!!!" panggil Marwa yang langsung memeluk Bude Asih dengan mata berkaca-kaca.


"Wis aja nangis!" kata Bude Asih melepaskan pelukan Marwa.


Lucas, Anderson dan Ellea pun bersalaman dengan Bude Asih, dan mempersilahkannya duduk.

__ADS_1


"Lea, dimana bayi kamu?" tanya Bude Asih.


"Em, di kamarnya sedang ditidurkan oleh baby sisternya Bude," gugup Ellea.


"Ini ada apa toh? Kok wajah kalian semua tegang begitu, opo ana masalah? Lea, bocah kentir iki bikin ulah?" tanya Bude Asih.


"Oh, engga Bude! Marwa engga pernah berbuat salah kok," kata Ellea sembari memperlihatkan gerak-gerik gugup dihadapan Bude Asih.


"Gini Bude, sebelumya saya selaku kepala rumah tangga di rumah ini, dan saya yang juga sudah dititipkan Marwa di rumah ini oleh Bude! Mau meminta maaf sama Bude," kata Anderson.


"Minta maaf? Minta maaf emange sampean bikin salah apa? Bude engga mudeng iki, Lea ada apa?" tanya Bude Asih.


Lucas merasa inilah waktu yang tepat untuk dia bicara secara gantelman kepada mertuanya. Ini semua salahnya, dia yang sudah tanpa pikir panjang menikahi anak dibawah umur itu tanpa meminta restu terlebih dahulu pada Ibunya.


"Begini Bu! Saya yang salah di sini, kalau Ibu mau marah, atau ibu berhak marah sekali terhadap saya! Saya akan terima semuanya," kata Lucas.


"Engga Bude, Ellea juga disini salah. Ellea sudah gagal menjaga Marwa," kata Ellea.


Semua orang sibuk mengklaim kesalahan mereka dihadapan Bude Asih! Namun belum satu pun dari mereka yang langsung to the point bicara bahwa Marwa telah dinikahi oleh Lucas secara mendadak. Bude Asih hanya bisa bengong dan menyimak dengan klaim dari mereka semua, Bude Asih sangat bingung dan tidak mengerti. Mereka hanya bilang ini salah mereka, tapi tidak jelas salahnya di mana.


"Wis, stop! Kenopo toh jadi salah-salahan ngene? Bicara yang betul dulu, biar aku paham!" kata Bude.


Anderson, Ellea dan Marwa melirik kearah Lucas! Lirikan mereka seolah isyarat bahwa Lucas lah yang harus mengambil alih situasi ini dan membereskannya segera.


"Emm be-gini Bu, sebenarnya saya dan dia sudah menikah," kata Lucas dengan nada terbata-bata.


"Dia sopo? Kok kamu nikah engga undang-undang Bude?" tanya Bude Asih.


"Saya minta maaf! Saya janji akan bahagiakan anak ibu!" kata Lucas.

__ADS_1


"Loh pie si, kamu bilang udah nikah. Tapi kamu sekarang bilang mau bahagian anak saya? Anakku kan si bocah iki tok. Se, maksudmu kamu menikahi Marwa?" tanya Bude Asih terkaget-kaget.


Lucas tidak berani menjawab Bude Asih, namun menganggukkan kepalanya.


"Bu, udah ya Bu jangan marahi mas Lucas! Ini salah Marwa, ini semua ndak sengaja tapi mas Lucas baik banget sama aku Bu! Kalau ibu mau marah, ibu lampiaskan kabeh sama Marwa aja ya Bu!" kata Marwa sembari menangis dihadapan Ibunya.


Bude Asih masih melongo mendengar pengakuan Lucas! Sukar dipercaya dan merasa ini mustahil. Namun tak lama, senyuman manis terpancar dari bibir tua Bude Asih.


"Alhamdulillah! Akhire aku ora bakal darting, ora bakal sakit kepala, ora bakal buang-buang tenaga buat marah-marahi lagi ngurusi iki bocah, berkah buat Bude iki mas Lucas," kata Bude Asih.


Sontak semua orang merasa heran karena bukannya marah. Bude Asih justru kegirangan kini Marwa sudah bukan tanggungjawabnya lagi.


"Loh, Bude engga marah?" tanya Ellea.


"Lah buat apa Bude marah Lea! Yo justru keberuntungan iki. Coba liat mas Lucas tuh wis ganteng, pinter lah kok mau ya karo si bocah susah diatur iki," kata Bude Asih.


Akhirnya Lucas, Anderson dan Ellea bisa bernafas lega karena Bude Asih malah terlihat sangat bahagia Marwa dinikahi oleh Lucas. Semua kejadian penggerebekan warga yang membuat Marwa dan Lucas terpaksa menikah pun sudah diceritakan dengan detail oleh Lucas pada Bude Asih.


Marwa mengantarkan Bude Asih menuju kamar tamu. Di sana Marwa duduk di samping ranjang, diikuti oleh Bude Asih.


"Marwa kamu dengerin ibu! Kita itu harus sadar diri, kita itu orang susah. Kamu itu beruntung bisa dinikahi oleh laki-laki seperti mas Lucas," kata Bude Asih.


"Iyo, Marwa tau Bu! Tapi Marwa belum siap jadi seorang isteri seperti yang seharusnya, ditambah lagi, Marwa belum mencintai mas Lucas," kata Marwa.


"Yo kamu harus bisa jadi isteri yang baik buat mas Lucas! Urusan cinta-cintaan. Sudah kewajiban kamu bisa cinta sama mas Lucas, wong dia kan sudah jadi suamimu!" kata Bude Asih.


Marwa pun tertunduk memikirkan kata-kata Ibunya. Sementara Lucas rupanya tengah berada dibalik pintu kamar Bude Asih, sehingga mendengar percakapan mereka berdua di dalam kamar.


"Inget Marwa, kita itu orang miskin melarat, ndak punya pendidikan. Kamu Yo bersyukur mas Lucas yang orang berada, pendidikan bagus, kerjaane bagus mau sama bocah kampung kaya kamu," kata Bude Asih.

__ADS_1


"Iyo Bu," kata Marwa.


"Jangan sia-siakan suami sebaik mas Lucas! Layani dia dengan baik," pinta Bude Asih.


__ADS_2