
Kemudian gai rah kelelakian Anderson yang telah lama tentram mulai bangkit kembali seraya sengatan bibir ranum Ellea yang begitu liar menggoda. Sejak Ellea hamil dan sampai melahirkan nafkah batin yang didapatkan oleh Anderson memang terbilang sangat minim, kebanyakan puasanya.
Kini Anderson berupaya menagih jatah yang selama ini dia dambakan. Keduanya saling beradu mulut lalu menjulurkan lidahnya dan bergulat menikmati ciuman itu. Kedua tangan Anderson mulai menuruni pakaian dress berwarna abu muda yang dikenakan Ellea, Anderson mulai meraba lembut kedua paha mulus Ellea sembari keduanya masih bertautan bibir.
Tak lama, satu tangan Anderson menyingkap dress bagian bawah Ellea. Membuat Ellea melepaskan ciumann itu.
"Hei,, please jahitannya kan belum kering! Masih ngilu ah," kata Ellea.
"Huhhh," Anderson menghembuskan nafas panjangnya, berusaha menerima kekecewaan karena memang takut nantinya bekas caesar itu belum kering sepenuhnya.
"Baiklah Ellea, tapi aku mau tanya sama kamu satu hal!" kata Anderson.
"Apa?" tanya Ellea.
"Apa kamu masih marah denganku?" tanya Anderson.
"Tidak! Karena kamu sudah mengizinkan aku untuk kembali bekerja di perusahaanmu! Aku senang sekali," kata Ellea.
"Kalau begitu berjanjilah padaku! Blokir semua akses komunikasi antara kamu dan Gerry! Setuju?" tanya Anderson.
"Oke setuju!" kata Ellea, lalu melebarkan senyumnya.
Tiba-tiba handphone Anderson berbunyi, telepon dari perusahaan rupanya. Anderson pun segera mengangkat telepon itu, pikirnya ada apa malam-malam begini ada panggilan masuk dari perusahaannya.
📞"Hallo," sapa Anderson.
"Ha-hallo pak, ini saya James! Saya baru pulang lembur tapi alarm kebakaran bunyi dan security sekarang sedang berkeliling kantor untuk mengecek letak kebakaran yang terjadi," ujar James seorang manager keuangan di perusahaan Anderson.
"Oke, oke saya segera ke sana!" kata Anderson.
Melihat expresi serius Anderson, membuat Ellea ikut panik tentang apa yang terjadi di kantor.
__ADS_1
"Sayang, aku harus ke kantor sekarang. Alarm kebakaran mendadak bunyi," kata Anderson.
"Aku ikut ya!" kata Ellea.
"No, engga usah! Aku akan segera pulang begitu memastikan keadaan di sana!" kata Anderson.
Ellea pun terpaksa menuruti perintah suaminya, dan membiarkan Anderson untuk pergi ke kantor malam-malam begini. Begitu Anderson dan Ellea keluar dari kamar untuk menuju ke mobil, Lucas dan Marwa berlari menghampiri Anderson dan Ellea.
"Bang, apa kamu sudah dengar di perusahaan ada bunyi alarm kebakaran?" tanya Lucas.
"Ya ini aku akan segera ke sana!" kata Anderson.
"Bersama Ellea?" tanya Lucas.
"Tidak, aku sendiri saja! Kan tunggulah di rumah jaga isteriku," kata Anderson.
"Tidak, tidak! Coba kau tengok wajah isterimu itu dia sangat khawatir. Biar aku yang cek ke sana!" kata Lucas.
"Iya mas Anderson, lagipula kalian kan lagi sibuk to ngurus baby Aiden, biar aku karo mas Lucas yang cek ke perusahaan," kata Marwa.
Lucas segera masuk ke dalam mobil bersama Marwa dan seorang supir pribadi keluarga Anderson. Marwa memang merengek memaksa untuk ikut bersama Lucas, saat Lucas mendapatkan telepon dari orang kantor tentang alarm kebakaran itu. Marwa mengklaim bahwa dia sudah sembuh dan tidak demam lagi, sehingga akan menemani Lucas kemanapun.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam! Lucas dan Marwa tiba di depan gedung perusahaan mereka. Di sana terdapat beberapa mobil pemadam kebakaran yang sudah siap siaga. Terlihat petugas pemadam kebakaran dan beberapa security perusahaan yang baru saja keluar dari gedung yang menjulang tinggi itu.
Lucas lantas menggandeng tangan Marwa untuk ikut menghampiri petugas pemadam kebakaran dan juga security.
"Bagaimana? Apa kalian sudah cek keseluruhan! Ruangan mana yang muncul api?" tanya Lucas, dengan nada kepanikan.
"Setelah didalami dari sumber alarm yang bunyi, ternyata tidak ada percikan api sama sekali pak! Tapi sistem alarm yang error, baru saja kami ganti!" ujar petugas pemadam kebakaran.
"Engga tapi ini tuh bahaya sekali! Kalian tetap periksa ruangan satu-satu kan? Takutnya dari arah lain gitu loh!" kata Lucas.
__ADS_1
"Sudah pak! Kami sudah melakukan pemeriksaan kesetiap sudut," kata seorang security.
"Begini saja! Petugas pemadam tetap stay di sini! Dan saya mau kalian berkeliling untuk mengecek ulang seluruh sudut dari gedung ini, jangan sampai ada yang terlewat!" kata Lucas.
""Baik pak!" kata para security, terpaksa Lucas memerintahkan seluruh security di perusahaannya untuk kembali mengecek ulang, dia tidak mau mengambil resiko kalau-kalau ternyata ada percikan api di salah satu ruangan yang lolos dari pengecekan.
Meskipun petugas pemadam kebakaran sudah memastikan dan yakin bahwa itu adalah alarm yang error, tapi Lucas tak lantas percaya dan ingin memastikannya kembali. Lucas dan Marwa menunggu didepan perusahaan, udara malam yang dingin jelas menyapa keduanya.
Lucas melihat kearah Marwa yang setia berdiri disampingnya, padahal bibirnya sudah bergetar dan nyaris membiru akibat kedinginan. Lucas pun melepaskan jaket yang dia kenakan, lalu memakaikannya pada Marwa.
Marwa pun tersenyum mendapatkan perlakuan romantis, ala-ala lelaki didalam sebuah sinetron yang tidak bisa membiarkan wanita yang dicintainya kedinginan.
Setelah menunggu cukup lama, para security perusahaan Anderson group keluar dari gedung perusahaan, lalu menghampiri Lucas.
"Lapor pak! Kami sudah memastikan seluruh ruangan di gedung ini, dan aman pak!" kata salah seorang security itu.
"Oke! Saya percaya sama kalian, kalau begitu petugas pemadam kebakaran boleh meninggalkan tempat ini! Saya akan masuk dan mengecek juga!" kata Lucas.
"Baik pak! Kami pun akan berjaga terus, dan memantau cctv setiap ruangan!" ujar seorang security lainnya.
Dengan begitu petugas pemadam kebakaran sudah diperbolehkan untuk meninggalkan perusahaan Anderson, setelah Lucas yakin bahwa memang itu hanya alarm error'.
"Kamu mau ikut kedalam?" tanya Lucas.
"Emm," Marwa mengangguk.
Lucas dan Marwa pun masuk sendiri untuk memastikan situasi di dalam perusahaan. Lucas dan Marwa mulai menyusuri ruangan satu persatu, Marwa yang mulai ketakutan karena di dalam gedung sebesar dan setinggi ini tidak ada orang, para security pun tengah berada di loby utama, dan yang lain berada di ruangan cctv untuk tetap memantau situasi didalam gedung.
"Mas aku kok wedi yo! Nanti ana setan, suster ngesotnya pie?" tanya Marwa.
"Ya kalau ada biarin aja! Toh dia ngesot, kita jalan jadi lebih cepet kita geraknya!" kata Lucas sembari menahan tawa.
__ADS_1
"Ih kamu kok malah bikin aku tambah parno iki! Mas, jangan masuk ke lift ya, biasane kalau di lift di film horor itu, setannya muncul mas!" kata Marwa.
Lucas pun jadi memiliki ide nakal tentang lift, Lucas melirik nakal kearah Marwa lalu tetap menariknya ke dalam lift lantai 2.