
Untuk beberapa saat Marwa terlihat mencerna kata-kata layani mas Lucas dengan baik. Jangan-jangan yang dimaksud oleh Ibunya Marwa adalah melayani dalam tanda kutip area ranjang dengan baik.
Jlebbbbb, pikiran kotor Marwa melayang-layang memutari isi otaknya!
"Njeh Bu! Ya wis, aku ke kamar dulu ya!" kata Marwa.
"Kamarmu sama kamar mas Lucas itu, sebelah mana toh?" tanya Bude Asih.
"Em, anu! Sebenere, aku karo mas Lucas ndak sekamar Bu!" kata Marwa sambil tertunduk malu.
"Loh kok bisane kamu engga sekamar dengan suamimu sendiri?" Gak bisa dibiarkan ini!" kata Bude Asih.
"Lawong aku wedi dihamili mas Lucas jeh Bu!" kata Marwa.
"Heh eling Marwa! Kamu gimana si, masa takut dihamili oleh suamimu sendiri, wis nanti kan bisa KB dulu sing penting, kewajibanmu itu loh harus kamu penuhi!" kata Bude Asih, lalu Bude Asih segera berdiri dan menarik tangan Marwa untuk ikut bersamanya.
"Loh aku mau dibawa kemana toh Bu?" tanya Marwa sembari tetap mengikuti Bude Asih.
"Wis mingkem Bae!" kata Bude Asih.
Bude Asih terlihat celingak-celinguk mencari-cari sebuah ruangan! Dengan terus menuntun Marwa untuk ikut bersamanya, Bude Asih berjalan dengan terburu-buru. Di sana Ellea dan Anderson tengah menimang baby mereka di ruangan televisi.
"Loh Bude, kalian mau kemana?" tanya Ellea.
"Duh pie si ini Ellea! Rumah apa lapangan bola si iki, bude daritadi nyari kamar mas Lucas kok ora nemu-nemu!" kata Bude.
__ADS_1
Anderson dan Ellea pun tertawa ringan mendengar keluhan bude Asih, Anderson mengarahkan Bude Asih untuk belok kanan, lalu lurus terus dan naik ke lantai 3 lalu belok kiri mentok barulah sampai di kamar Lucas.
"Waduhh kakiku bisa encok tinggal seminggu ning kene!" kata Bude Asih.
"Wis to Bu, aku hapal kamarnya mas Lucas!" kata Marwa.
"Bukannya ngomong daritadi! Ya wis, tunjukkan sama ibu!" kata Bude Asih.
Dengan langkah malas, Marwa membawa Bude Asih ke kamar Lucas. Setelah menempuh perjalanan cukup lama, sampailah mereka ke kamar Lucas.
Tok, tok, tok.
Lucas pun membuka pintu kamarnya! Betapa kagetnya Lucas melihat Bude Asih berdiri didepan pintu kamarnya sambil menuntun Marwa.
"Eh Bude! Maksudnya Ibu! Ada apa ya?" tanya Lucas malu-malu.
Lucas dan Marwa pun saling bertatapan, keduanya langsung tertunduk malu dan gugup didepan Bude Asih. Bude Asih kemudian mendorong tubuh Marwa untuk masuk ke dalam kamar Lucas.
"Ibu!" rengek Marwa.
"Wis to ibu tinggal! Mau istirahat, masih mabok perjalanan soale," kata Bude Asih, lalu pergi meninggalkan keduanya.
Lucas pun hanya terdiam! Begitu juga dengan Marwa, keduanya terlihat kikuk untuk memulai semuanya ini. Tanpa bicara apapun Lucas menutup pintu kamarnya, lalu mengunci pintu kamarnya! Seketika jantung Marwa semakin berdetak kencang, rasanya seperti berada di pacuan kuda menakutkan, tapi juga mengasyikkan.
"Apa kamu akan terus berdiam diri didekat pintu seperti itu?" tanya Lucas.
__ADS_1
"Emm, anu mas aku sudah siap kok sekarang!" kata Marwa dengan nada gugup dan super nervous.
Lucas terlihat menyelipkan senyum tipis dari balik bibirnya, dia lantas berjalan menjauhi Marwa menuju sebuah meja yang diatasnya tersedia sebotol red wine beserta gelas cantik! Lucas menuangkan segelas red wine untuk dia minum.
Maklumlah, Lucas juga cukup gugup untuk menembus pertahanan yang masih original seperti Marwa. Selama ini dia hanya menjebol gawang-gawang yang sudah seperti terowongan Casablanca saja! Wanita-wanita yang pernah menjadi pacar Lucas belum pernah satupun dari mereka yang masih original.
Lucas kembali meletakkan gelas yang berisi red wine itu, setelah dia meneguk sedikit red wine untuk menghilangkan rasa gugupnya dihadapan Marwa. Sementara Marwa masih betah berdiam diri didekat pintu. Lucas kembali berbalik badan dan melihat betapa ketakutannya Marwa berada di kamar ini berdua dengannya.
"Kalau masih takut! Aku tidak akan melakukannya sekarang," kata Lucas.
"Em anu mas! kata Marwa tak bisa berkata-kata, lalu Marwa mencoba memberanikan diri.
Marwa membuka satu persatu kancing pakaiannya, Lucas yang melihat Marwa melakukan itu langsung terpana! Bagaimana bisa gadis sepolos Marwa berani membuka kancing pakaiannya satu persatu hingga sampailah dikancing terakhir! Seketika pakaian Marwa hampir terbuka seluruhnya, hingga membuat belahan dadaanya mulai terlihat oleh Lucas.
Lucas kembali memalingkan wajahnya, lalu tangannya meraih gelas yang berisi red wine itu dan meneguknya kembali. Rasanya hawa panas dalam darah Lucas semakin mendidih. Terlihat Marwa sudah membuka pakaiannya, tanpa menunggu aba-aba dari Lucas, Marwa melepaskan pakaiannya.
Membiarkan pakaian itu terjatuh ke lantai, kedua tangan Marwa meraih kaitan B R a miliknya, lalu melepaskannya begitu saja hingga terjatuh sempurna ke lantai! Kini gunung sintal nan kenyal itu terpampang nyata dihadapan Lucas yang masih tercengang menyaksikan keberanian Marwa.
Meski tidak begitu besar, tapi mengingat umur Marwa yang masih dalam masa pertumbuhan, sudah sebesar saat ini jika kembali tumbuh tidak terbayang akan jadi sebesar apa! Mungkin bisa sampai sebesar pepaya Bangkok, dan tidak mungkin nantinya kedua tangan Lucas akan bisa menggenggam gunung sintal itu.
Lucas menelan salivanya menyaksikan kedua gunung indah dihadapannya. Marwa kembali melepaskan rok mini yang dia kenakan, hingga rok mini itupun melayang terjatuh ke lantai dengan sempurna, terlihat belahan duren milik Marwa yang begitu mulus dan membuat Lucas sedikit menganga takjub atas belahan duren tersebut.
Marwa berusaha menahan malunya! Atau mungkin urat malu Marwa sudah putus saat ini, hingga dia langsung membuka bagian terakhir yang menutupi belahan duren miliknya tanpa ragu dihadapan Lucas. Lembah gua yang diliputi oleh rimbanya hutan itu sangat terlihat jelas terpampang dihadapan Lucas saat ini.
Marwa melirik kearah Lucas tanpa menutupi keindahan setiap inci tubuhnya, yang saat ini sudah tidak tertutupi sehelai benangpun. Lucas mengamati keindahan milik Marwa saat ini dengan seksama. Semakin Lucas menikmatinya, semakin mendidih darah yang bergejolak dalam diri Lucas, naluri berburunya bangkit dan menggebu-gebu menatap tajam dan siap untuk menerkam mangsanya.
__ADS_1
Setelah kembali meneguk red wine dari gelasnya hingga tak tersisa satu tetes pun lagi. Lucas berjalan cepat menghampiri Marwa yang masih berdiam didekat pintu kamarnya! Kali ini Lucas akan mencabik-cabik mangsanya tanpa ampun, salah sendiri pikirnya sudah mengumpan harimau ganas yang sedang lapar.
Lucas langsung meraup bibir mungil Marwa dengan ganasnya! Tubuh Marwa sontak terdorong mementok pintu kamar Lucas, kedua mata mereka bermain saling mempertanyakan apa yang akan terjadi selanjutnya jika sudah begini.