
Anderson meraih tisu yang terletak disamping tempat tidur untuk membersihkan lahar putih yang berceceran kemana-mana. Sembari membersihkan lahar sisa-sisa kepuasannya, Anderson tersenyum manis pada Ellea.
"Kenapa tersenyum begitu? Apa mau lagi?" tanya Ellea.
"Tidak begitu! Nanti malam saja, sekarang kita sarapan sama-sama saja!" kata Anderson.
"Cihhh, mulai sekarang kamu tidak perlu berpuasa lagi, kamu bisa sepuasnya memintanya!" kata Ellea.
"Dimana pun aku mau, kamu harus mau melayaniku!" kata Anderson.
"Ya, ya ya dimana pun! Asal jangan didepan Bude Asih saja," goda Ellea.
"Kalau didepan Aiden, apa tidak masalah Ellea?" tanya Anderson.
"Kamu benar-benar gila Anderson! Apa rasanya melakukan itu di depan anak kita!" kata Ellea sembari terus membersihkan area sensitifnya dari lelehan lahar putih milik Anderson.
"Memangnya kenapa? Toh anak kita belum mengerti apa-apa sayang! Bagaimana, kita akan coba itu kan?" tanya Anderson.
"Sudahlah pakai segera pakaian kamu! Aku sudah lapar," kata Ellea.
Setelah merapihkan pakaian mereka kembali! Anderson dan Ellea pergi menuju meja makan untuk sarapan! Di sana sudah ada Lucas, Marwa dan Bude Asih yang tengah menimang baby Aiden.
Bude Asih, Lucas dan Marwa sontak tercengang melihat Anderson dan Ellea sudah kembali berbaikan bahkan rambut dan pakaian keduanya tak beraturan, pertanda keduanya telah melakukan pertempuran di pagi hari.
"Loh anak Mima kok udah bangun! Bude sini Aiden biar Ellea yang gendong!" kata Ellea sambil mengambil alih Aiden dari bude Asih.
"Nah gitu dong ndo! Akur-akur jadi enak dilihatnya," kata Bude Asih.
Ellea dan Anderson pun hanya saling melempar senyuman saja, malu sampai diledek orang di rumah saking seringnya mereka bertengkar.
"Oh ya! Bude Asih dan Marwa kan belum pernah menginap di villa kita yang di Bali, kita malam mingguan di sana aja!" kata Anderson.
"Boleh!" kata Lucas.
"Walah seumur-umur bude durung pernah main ke villa-villan, Bali-Balian kaya apa si villa itu?" tanya Bude Asih.
"Yang jelas sejuk bude! Jauh dari bunyi kendaraan juga," kata Ellea.
"Oh mungkin kaya ning kampung bude ya Lea?" tanya Bude Asih.
"Iya bedanya cuma engga punya tetangga kalau di villa," kata Ellea sambil menepuk-nepuk baby Aiden.
"Berarti bakalan banyak ketemu bule-bule ya Lea di Bali?" tanya Bude Asih.
__ADS_1
"Iya banyak Bude, memangnya bude mau ap kalau sampai ketemu bule?" tanya Ellea.
"Yo pengen liat bule, soale bude penasaran durung pernah liat bule," kata Bude Asih.
"Tapi kan aku sekolah mas! Besok baru libur," protes Marwa.
"Repot juga ya Marwa masih sekolah," kata Anderson.
"Aku akan urus untuk secepatnya kamu home schooling saja! Jadi tidak perlu repot pergi ke sekolah, bisa menyesuaikan juga jadwalnya!" kata Lucas.
"Home (rumah), schooling (sekolah) dadine rumah di sekolah! Walah, jangan lah mas Lucas kalo sekolahku dipindah ke rumah iki yo berabe bisa-bisa rumah iki ketutup gedung sekolahku, gedung sekolahku itu gede banget loh, sama kaya rumah iki," kata Marwa dengan polosnya.
Seketika itu, Anderson langsung tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban polos Marwa, sementara Lucas masih bengong dengan kepolosan isterinya itu!
"Marwa, kamu bisa-bisa bikin suami mba keselek, engga begitu maksudnya Lucas," kata Ellea.
"Jadi pie si mas? Aku ora mudeng, maklumlah mas otakku kan minimalis," kata Marwa.
Lucas hanya menggelengkan kepalanya, dan enggan membahasnya lebih lanjut.
"Udah itu biarkan Lucas yang urus! Yang penting hari ini kamu ikut kita ke Bali!" kata Ellea.
"Asik," kata Marwa yang kegirangan akan berlibur di Bali.
"Lucas kamu suruh Sekertarisku mengurus keberangkatan kita jam sembilan saja!" kata Anderson.
Setelah selesai sarapan! Semuanya segera packing pakaian untuk dibawa ke Bali. Marwa sangat antusias begitu sampai di dalam kamarnya, dia langsung memilih baju-baju yang menurutnya bagus.
"Tidak usah bawa baju terlalu banyak!" kata Lucas.
"Memangnya kenapa toh?" tanya Marwa.
"Nanti beli di sana saja!" kata Lucas.
"Ya wis, tapi kita ke Bali naik apa toh mas?" tanya Marwa.
"Private jet," kata Lucas.
"Private jet tuh opo meneh mas?" tanya Marwa.
"Pesawat sendiri," kata Lucas.
"Hah naik pesawat? Aku ora jadi ikutlah," rengek Marwa.
__ADS_1
"Loh kenapa?" tanya Lucas bingung.
"Aku wedi mas, banyak loh di tv pesawat pada jatuh, lagian aku ndak pernah naik pesawat-pesawatan mas, aku ndak berani," rengek Marwa.
"Tidak akan! Jet pribadi Anderson Group selalu di cek kelayakan kondisi pesawatnya, lagipula pilotnya sangat ahli! Kamu tidak usah khawatir," kata Lucas sambil sibuk menelepon sekertarisnya agar orang bandara menyiapkan jet pribadi pukul sembilan pagi ini.
Tubuh Marwa bergetar! Dia masih ketakutan karena seumur-umur belum pernah menaiki pesawat, tidak bisa dia bayangkan bagaimana diatas sana pasti menakutkan.
"Marwa!" panggil Lucas.
Marwa masih melamun membayangkan ketakutannya berada didalam pesawat dan kalau pesawat itu sampai jatuh, seketika Marwa bergidik ngilu.
"Marwa!" panggil Lucas.
"Astaghfirullah, opo toh mas ngageti aku wae," kata Marwa sedikit jengkel.
"Kamu harus terbiasa, nanti kalau di perusahaan tidak sibuk, kamu akan sering pergi menggunakan pesawat untuk liburan denganku!" kata Lucas.
Kedua kaki Marwa makin bergetar mendengar akan sering pergi menggunakan pesawat.
"Ya Gusti, mudah-mudahan mas Lucas karo mas Anderson bakalan sibuk terus di kantornya sampe engga bakalan sempet liburan," kata Marwa.
Lucas sampai geleng-geleng kepala mendengar doa Marwa dihadapannya sampai seperti itu.
"Lagipula apa yang begitu membuatmu takut? Berada didalam pesawat sama saja dengan berada di rumah, sudahlah jangan berpikir aneh-aneh!" kata Lucas berusaha menenangkan Marwa.
Marwa terus merengek meminta untuk tidak ikut ke Bali, dia benar-benar ketakutan saat ini. Sampai-sampai Lucas lah yang mengemasi beberapa pakaian Marwa, sejak tadi Marwa hanya diam melamun bersandar disofa kamarnya sambil melamun.
Bude Asih, Ellea, Anderson, dan kedua babysister Baby Aiden sudah selesai mengemasi beberapa pakaian mereka ke dalam koper, begitu juga dengan Bude Asih yang semangat untuk pergi liburan.
Lucas bersama Marwa keluar dari kamar mereka, wajah Marwa sangat pucat saking ketakutannya.
"Loh Marwa, wajah kamu pucet banget, kamu sakit?" tanya Ellea.
"Ora mba! Aku takut mba," kata Marwa.
"Takut? Takut apa?" tanya Ellea.
"Takut anu toh Mba private jet jetan! Aku durung pernah, nanti kalau kaya ning berita-berita di tv pie mba? Yang pesawat jatuh itu, aku ora usah ikutlah!" rengek Marwa.
Ellea, Bude Asih, dan Anderson pun menertawakan Marwa. Mau diajak senang-senang masih aja si Marwa itu ngeselin.
"Heh kamu tuh istighfar Marwa," kata Bude Asih.
__ADS_1
"Astaghfirullah," kata Marwa.
"Nah gitu! Hidup dan matinya manusia itu sudah ditentukan karo Gusti Allah, kamu ora usah takut berlebihan begitu! Wis tancap sekarang," kata Bude Asih yang begitu semangat.