
Ellea pun mengakhiri ciu man itu dan menatap wajah Anderson.
"Kenapa menatapku?" tanya Anderson.
"Tidak, aku hanya merasa sudah lama saja, kita tidak pernah lagi seromantis ini!" kata Ellea.
Tak lama Aiden pun terdengar suara tangisnya, Ellea pun buru-buru turun dari pangkuan Anderson dan segera menghampiri Aiden.
Oaa,, oaaa, oaa.
"Sayang, kenapa si nak ngompol yah?" tanya Ellea.
Anderson pun memegangi dahi Aiden, namun demamnya sudah turun, sementara Ellea memeriksa popoknya karena takut sudah penuh, Anderson membantu mengambilkan popok baru untuk kemudian diganti oleh Ellea! Setelah itu, Ellea memberikan asinya untuk Aiden.
Barulah Aiden bisa tenang dan tidak rewel lagi. Anderson dan Ellea terjaga semalaman tanpa tidur didekat Aiden, karena malam ini sebentar-sebentar Aiden pasti rewel dan menangis.
Hari-hari berlalu! Seminggu sudah Aiden menginap di rumah sakit, dan hari ini Dokter sudah memperolehkannya untuk dibawa pulang. Anderson dan Ellea tampak senang hingga tidak bisa menyembunyikan senyuman dan kegembiraan ini.
Bude Asih, Marwa dan Lucas pun turut menjemput Aiden ke rumah sakit untuk pulang ke rumah. Senang rasanya sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Aiden sudah tidak rewel lagi, bahkan sudah bisa tertawa saat diajak berbicara oleh Marwa.
"Walah Ai sekarang udah pinter ya diajak ngomong udah jawabin meskipun ngaong-ngaong aja!" kata Marwa.
"Lah terus maumu pie? Si Ai jawabin onty Marwa berisik jangan ngomong mulu, begitu? Anak bayi lah Yo bisane ngaong-ngaong tok," kata Bude Asih.
Ellea dan Anderson pun tersenyum melihat Aiden selalu memberikan respon pada siapapun yang mengajaknya berbicara.
"Terus pie kamu sama nak Lucas? Apa wis konsultasi karo dokter?" tanya Bude Asih.
"Iya Wa, kata Bude kamu mau ke dokter buat program hamil," kata Ellea.
"Tapi mending minum jamu aja Bude! Dulu Ellea langsung manjur minum jamu dari almarhumah Ibu," kata Anderson.
__ADS_1
Ellea pun mendadak jadi melow mendengar Anderson membicarakan Ibunya yang sudah meninggal gara-gara ulah Gea sang mantan isteri Anderson. Kedua mata Ellea mulai berkaca-kaca mengingat dulu dirinya selalu dibawakan jamu hingga dimarahi oleh Ibunya untuk menghabiskan jamu agar cepat hamil itu.
Anderson yang melihat Ellea kembali bersedih ketika mendengar nama Ibunya disebut langsung mengelus-elus rambutnya.
"Hei, sayang maaf aku tidak bermaksud membuatmu bersedih dan mengingat momen-momen itu," kata Anderson.
"Ya, gak apa-apa! Hanya saja aneh rasanya, dulu Ayah dan Ibu sangat bersemangat untuk membantu kita agar cepat memiliki momongan, sekarang Aiden sudah lahir, tapi mereka tidak bisa melihat cucu mereka," kata Ellea.
"Sabar ndo, Ayah dan Ibumu itu orang yang sangat baik! Mereka pasti diterima disisi Gusti Allah, dan mereka juga pasti melihat cucu mereka sekarang," kata Bude Asih.
"Iya Mba Lea jangan sedih lagi!" kata Marwa.
Ellea pun menyandarkan kepalanya pada bahu Anderson, sambil tetap menggendong Aiden.
"Mas Lucas, pie mas Ibuku wis nanya-nanya kita ora jadi ke dokter Tah?" tanya Marwa.
"Jadi, bagaimana kalau besok?" tanya Lucas.
"Ih Ndak mau aku Bu! Lawong kata Mba Lea jamune itu paitnya minta ampun," kata Marwa.
"Ibu Ndak nanya kamu mau atau Ndak! Tapi Ibu yang akan cekokin kamu langsung, jadine yo kamu pasti minum jamu buatan Ibu," kata Bude Asih.
"Wis to, Marwa karo mas Lucas wis rajin bikin Bu, Ndak usah pake jamu pahit segala," kata Marwa.
"Tapi benar kata Ibu! Lebih bagus Dokter juga dan jamu juga!" kata Lucas seraya mendukung mertuanya.
Marwa hanya bisa cemberut saja mendengar suami dan Ibunya akan senang hati menyiksanya untuk meminum jamu yang sangat pahit. Sesampainya di kediaman Anderson, mereka semua turun dari mobil dan disambut oleh para pelayan yang membawakan barang-barang milik Aiden dan Ellea selama menginap di rumah sakit.
Anderson dan Ellea pun memasuki kamar mereka bersama Aiden. Kini keduanya kompak mengurus Aiden untuk memandikan, mengganti pakaian dan popok pun mereka lakukan bergantian. Kini Anderson lebih banyak bekerja dari rumah, sementara Lucas lebih sering berada di kantor karena belum memiliki anak, jadi Lucas mengalah untuk bekerja lebih giat dari kakaknya itu.
Ellea pun sudah bisa menerima keputusan Anderson untuk menjadi ibu rumah tangga seutuhnya! Hari-hari yang dilalui Ellea hanya untuk menemani Aiden, merawatnya, dan mengajarkannya banyak hal.
__ADS_1
Sementara Marwa harus sedikit bersabar karena harus meminum ramuan-ramuan agar segera memiliki momongan, yang dibuatkan langsung oleh Ibunya. Rasa pahit dia telan saja, yang terpenting untuk Marwa adalah bisa segera menjadikan Lucas seorang Ayah.
Hari-hari berlalu begitu cepat segala pengobatan juga sudah dilakukan oleh Lucas dan Marwa, namun hingga sudah hampir tiga bulan keduanya mengusahakan agar cepat hamil, tapi belum juga membuahkan hasil yang baik.
Marwa juga harus membagi waktunya karena sudah mulai melakukan pembelajaran homeschooling, agar bisa memperoleh ijazah SMA!
Hingga akhirnya Anderson yang melihat Lucas dan Marwa semakin hari semakin gelisah, mengajak Lucas bicara diruang kerjanya saat malam hari.
"Sebaiknya kamu pakai program bayi tabung saja bila memang tidak sabaran!" kata Anderson.
"Iya, aku dan Marwa memang sudah tidak sabar untuk segera menimang buah cinta kami! Tapi apa itu pasti berhasil?" tanya Lucas.
"Kebanyakan berhasil! Tapi masih ada yang gagal juga, memang kata dokter apa ada masalah diantara kalian berdua?" tanya Anderson.
"Tidak! Tidak ada masalah, rahim dan juga semuanya bersih dan sehat! Aku dan Marwa sendiri bingung kenapa tak kunjung diberikan kepercayaan itu!" kata Lucas.
"Ini kartu nama dokter salah satu kenalanku! Artis-artis bahkan banyak yang berkonsultasi dan melakukan program bayi tabung di sana," kata Anderson sambil menyodorkan kartu nama seorang dokter.
Lucas pun menerimanya dengan senang hati! Setelah ini mungkin Lucas akan segera membawa Marwa untuk berkonsultasi terkait program bayi tabung itu. Saat hendak menuju kamarnya, Bude Asih menghentikan langkah kaki Lucas.
"Nak Lucas, sek tunggu dulu!" kata Bude Asih.
"Ada apa Bu?" Tanya Lucas.
"Yo memang si pernikahan kalian belum terlalu lama! Tapi ya kalau saran Ibu si selain kalian usaha ke dokter, minum jamu, ada baiknya juga ngambil pancingan," kata Bude Asih.
"Hah? Pancingan Bu? Maksudnya bagaimana?" tanya Lucas.
"Tadi Ibu wis dari kamar kalian terus ketemu Marwa, Ibu wis jelaskan kalian sebaiknya ngambil pancingan, kalau di kampung Ibu Yo koyo ngadopsi anak untuk mancing biar cepet hamil gitu loh," kata Bude Asih.
"Aduh, gimana ya Bu saya belum ada pikiran kesitu si!" kata Lucas, yang belum pernah sampai berpikiran sejauh itu sampai harus mengadopsi anak, apalagi tujuannya hanya untuk memancing agar Marwa cepat Hamil.
__ADS_1