Isteri Kedua CEO Muda

Isteri Kedua CEO Muda
Aiden


__ADS_3

Sementara itu di kediaman rumah Anderson, terlihat kedua baby sister Aiden tengah berlarian sambil menggendong Aiden, mereka lari menemui Bude Asih yang saat ini tengah membuat kue kering di dapur bersama para pelayan.


"Bude! Tolong, tolong!" teriak mereka.


"Ada apa iki?" tanya Bude Asih yang melihat kedua baby sister Aiden berlarian kencang seperti itu dengan wajah panik disertai tangisan keras Aiden.


Oaaaa, oaa, oaaa.


"I-ini Bude, baby Ai demamnya tinggi sekali!" ujar salah seorang baby sister.


"Opo? Sini tak cek dulu!" Bude Asih pun memegang dahi baby Aiden, dan terkejut merasakan demam tinggi pada dahi Aiden.


Sementara tangisan Aiden makin nyaring terdengar! Semua orang panik dan kalang kabut karena takut bila Aiden sakit serius.



"Bude apa sebaiknya kita panggil dokter keluarga saja, biar dokter itu yang kesini?" tanya seorang baby sister.


"Jangan-jangan kelamaan, lebih baik kita bawa baby Ai ke rumah sakit langsung saja!" kata seorang pelayan.


"Ya wis, kamu bawa keperluan Aiden kedepan sekarang! Sini Aiden biar saya gendong dan bawa ke depan, kamu langsung susul saya ke mobil!" ujar Bude Asih lalu segera mendekap Aiden yang masih terus menangis.


Baru kali ini Aiden demam setinggi ini. Bude Asih sampai berlinang air mata, melihat Aiden sepertinya merasa sakit sekali hingga tangisannya begitu kencang.


"Ya Allah nak, kamu kenapa jangan bikin nne khawatir nak!" kata Bude Asih sambil terus berjalan cepat menuju mobil.


Disaat yang bersamaan! Lucas dan Marwa baru saja tiba, dan melihat Bude Asih hendak masuk ke dalam mobil bersama Aiden dengan air mata yang sudah berurai.


"Loh Bu, ana apa? Itu Aiden, nangis sampe ngono?" tanya Marwa.


Hikss, hikss, hikss.


"Marwa, cepat temani Ibu ke rumah sakit! Lucas telepon Ellea dan Anderson sekarang, kabari mereka kalau Aiden demam dan mimisan!" kata Bude Asih sambil terus menangis dan menggendong Aiden.


"Ba-baik Bu!" kata Lucas dengan wajah penuh kekhawatiran.


Sementara itu Marwa dan Bude Asih berangkat lebih dulu agar bisa segera sampai ke rumah sakit dan Aiden secepatnya mendapatkan perawatan.


Lucas pun menelpon Anderson, namun panggilannya justru tidak aktive, kemudian Lucas kembali menelpon ke nomor Ellea! Namun sama saja, tidak ada jawaban. Karena kadung kelimpungan dan panik jika Aiden sampai kenapa-kenapa.


Lucas segera berlari ke dalam rumah untuk mengambil kunci motor gedenya! Jalanan sore pasti akan sangat macet jika dilalui oleh mobil untuk menuju kantor Anderson. Berhubung tak ada jawaban ditelepon, Lucas berinisiatif untuk menyusul Anderson dan Ellea ke kantor menggunakan motor.

__ADS_1


Setelah mengambil kunci, Lucas segera memakai helmet, dan bergegas masuk ke garasi untuk mengambil motor gedenya. Lucas melesat mengemudikan motor gedenya dengan sekencang-kencangnya.


Jika dengan mobil jarak dari rumah Anderson ke kantor memakan waktu satu jam! Dengan motornya, Lucas sampai di kantor hanya dengan setengah jam saja. Lucas segera turun dari motor, lalu berlari masuk ke dalam kantor.


Lucas segera menaiki lift untuk menuju ruangan kerja Anderson, saat keluar lift Lucas mendapati meja kerja Ellea yang kosong, begitu juga ruangan kerja Anderson yang ternyata kosong. Lucas kesana-kemari mencari keberadaan Anderson dan menanyakannya pada beberapa karyawan.


Namun tak ada satupun dari mereka yang mengetahui kemana pasangan suami isteri itu. Lucas pun sudah putus asa, pikirannya tak karuan mengingat tangisan Aiden seperti tadi. Saat kembali turun ke lantai satu, Lucas melihat Anderson dan Ellea yang baru saja tiba di kantor, tengah berjalan sambil tertawa dan mengobrol sepanjang jalan.


"Astaga, kalian ini kemana saja si? Handphone tidak ada yang aktive satupun!" kesal Lucas.


"Kita habis lunch diluar, handphone kita laubet Cas, emang ada apa?" tanya Ellea.


"Cepat ke rumah sakit! Aiden demam sangat tinggi," kata Lucas lalu pergi berlari meninggalkan Anderson dan Ellea yang masih syok mematung.


"Aiden," teriak Ellea dengan histeris.


"Astaga nak, tadi pagi kamu baik-baik aja bahkan engga rewel sama sekali," kata Anderson sambil mere mas kepalanya sendiri.


Anderson langsung menarik tangan Ellea untuk pergi kembali ke mobil. Sementara Lucas sudah tancap gas menggunakan motor gedenya.


Bude Asih dan Marwa menangis di dalam mobil melihat Aiden mimisan, bahkan demamnya semakin tinggi.


Hikssss, hiksss, hikssss.


Oaa, oaa, oaaa Aiden kembali menangis kencang.


Supir pun sudah mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat! Akhirnya mereka tiba di rumah sakit, dan langsung di sambut oleh suster di rumah sakit untuk segera mendapatkan penanganan! Aiden di masukan ke dalam ruangan IGD, sementara Marwa dan Bude Asih hanya termenung menunggu dokter memeriksa Aiden.



Setelah menunggu beberapa lama untuk dilakukan pemeriksaan, Dokter pun keluar dari ruangan IGD, dan langsung dihampiri oleh Bude Asih dan juga Marwa.


"Bagaimana Dok? Apa yang terjadi dengan cucu saya?" tanya Bude Asih.


"Orang tuanya kemana ya Bu?" tanya Dokter.


"Orang tuanya, masih di jalan! To-tolong sampaikan saja sama saya Aiden kenapa, dia sakit apa? tanya Bude Asih.


"Baik Bu! Setelah dilakukan pemeriksaan, Baby Aiden terjangkit demam berdarah, dan harus dirawat apalagi trombositnya terus menurun!" kata Dokter.


"Ya Gusti, kenopo iso Aiden kena DBD, tapi Dok ndak akan bahaya kan? Pasti cepat sembuh lagi kan?" tanya Bude Asih.

__ADS_1


"Pasien jika terjangkit DBD tentu bahaya ya Bu! Karena bisa mengalami kritis kapanpun itu, apalagi ini bayi yang baru berusia beberapa bulan," kata Dokter.


"To-tolong Dok, selamatkan nyawa Aiden," kata Bude Asih.


"Itu pasti Bu! Untuk saat ini kita sudah lakukan penanganan utama, saya permisi dulu!" kata dokter itu, lalu meninggalkan Bude Asih dan Marwa.


Tak lama, Lucas tiba di rumah sakit! Setelah menanyakan ke bagian administrasi, Lucas segera menuju ke ruangan Aiden. Di sana Marwa dan Bude Asih terlihat tengah menyeka air matanya.


Begitu melihat Lucas tiba! Marwa pun langsung memanja dan memeluk Lucas dengan erat dihadapan Bude Asih.


"Mas, Aiden kena DBD!" kata Marwa sambil menangis.


Lucas pun mengelus-elus rambut Marwa agar Marwa bisa tenang, sambil satu tangannya lagi menepuk-menepuk pundak Marwa.


"Gimana nak Lucas, apa Anderson dan Ellea sudah dikasih kabar tentang Aiden?" tanya Bude Asih.


"Iya, mereka akan segera sampai Bu! Tapi mungkin agak lama, karena macet sore begini semua baru pada pulang kerja!" kata Lucas.


"Ya ampun! Mas maaf, jas kamu jadi kena ingus aku! Maaf ya mas," kata Marwa.


"Ga apa-apa! kata Lucas sambil terus memeluk Marwa.


"Ini kalian mau terus-menerus pelukan karo romantis-romantisan? Apa mau masuk ke dalem lihat Aiden?" tanya Bude Asih.


Sontak Marwa dan Lucas pun langsung mengakhiri pelukannya.


"Ya maaf Bu, aturannya kan sore ini jadwal bercocok tanam," bisik Lucas pada Marwa.


"Sabar ya mas, kasihan Aiden moso kita tinggal demi tugas negara," bisik Marwa.


Visual Anderson.



Visual Ellea.



Visual Marwa.


__ADS_1


Visual Lucas.



__ADS_2