
Marwa tersenyum dan berusaha untuk menahan tawanya akibat bisikan horor Lucas pada daun telinganya, di satu sisi, Bude Asih, Ellea dan Anderson justru kepo atas apa yang dibisikkan Lucas pada Marwa.
"Bisikan apa itu bro?" tanya Anderson.
"Rahasia bestie!" kata Lucas tersenyum nakal.
Ellea dan Bude Asih ikut mesem-mesem melihat Marwa dan Lucas yang sudah tidak canggung lagi satu sama lainnya. Masa mau canggung mulu, kan udah lebih dari dua kali nganu-nganunya, ehhh.
"Sore ini kita liat sunset di halaman belakang villa sajalah, engga perlu turun ke pantai dan, nanti malam kita barbequenya juga di halaman belakang saja, bagaimana?" tanya Anderson.
"Setuju! Lagi pula kasian Marwa kan lagi kurang fit dia," kata Ellea.
"Ih kata siapa? Aku wis fit, fit banget malah mba Lea! Kita ke pantai aja, biar cepet ketemu bule-bule guanteng," kata Marwa.
Lucas pun melotot kearah Marwa, bisa-bisanya dia mengincar bule padahal suaminya juga sudah tampan dan permainan ranjangnya juga luar biasa hebat.
"Ehh, ndak jadi deh! Bener tuh kata mas Anderson kita di villa saja hari ini!" kata Marwa.
"Iya Bude juga masih agak pusing sedikit! Besok saja ketemu bulenya," kata Bude Asih.
Mereka pun menyantap makan siang dengan lahap, hidangan yang dimasak oleh pelayan yang asli Bali memang beda rasanya, sangat lezat dilidah. Usai makan siang, Ellea dan Anderson mengajak baby Aiden berkeliling di taman belakang villa untuk melihat pantai langsung.
Sementara Bude Asih memilih untuk tidur siang terlebih dahulu! Lucas dan Marwa kembali ke kamar mereka untuk beristirahat sejenak siang ini, sambil menunggu sore untuk melihat sunset di pantai yang letaknya dibelakang villa ini.
Saat Lucas mulai berbaring diatas ranjang! Marwa hendak merapihkan pakaianya dan pakaian Lucas ke dalam lemari, ketika membuka lemari pakaian, kedua bola mata Marwa terbelalak memutari apa yang dia lihat.
Diambilnya benda yang baru pertama kali dia lihat secara langsung, karena dia tidak pernah memiliki atau membeli benda seperti yang saat ini dia pegang.
Satu buah bi kini berwarna merah terang diambilnya dari dalam lemari.
Tertulis * hadiah untuk keluarga Tuan Anderson, dari kami pelayan setia Anda.*
__ADS_1
"Mas, mas tengoklah dulu! Aku dapat biki ni, wah apik tenan iki, aku belum pernah punya bi kini loh mas," kata Marwa girang.
Lucas terkaget-kaget Marwa memamerkan benda keramat yang bisa menyulut bira hinya bangkit.
"Da-darimana kamu dapatkan benda itu?" tanya Lucas.
"Hadiah mas! Wah pelayan disini baik-baik ya mas, aku ndak sangka dapat hadiah biki ni iki," kata Marwa.
Setelah kegirangan mendapatkan hadiah biki ni, Marwa langsung melorotkan pakaiannya dihadapan Lucas tengah hari bolong begini. Tak sampai disitu, Marwa membuka seluruh pakaiannya sampai bagian terakhir yang menutupi kedua melon Bangkok, dan ladang gandumnya.
"Heh! Apa yang mau kamu lakukan? Kenapa siang-siang begini bertelan jang begitu?" tanya Lucas yang heran isterinya sama sekali sudah tidak malu-malu lagi dihadapannya.
"Loh kok pake tanya! Aku mau cobalah mas, pas tidak kalau aku pakai untuk besok ke pantai," kata Marwa sambil memulai mencobanya.
Anaconda Lucas mulai bereaksi akibat sorot mata yang tertuju pada ladang gandum yang menampakkan keindahannya tengah hari bolong begini. Lucas pun menelan salivanya, tubuh Marwa benar-benar masih sangat bagus dan kencang, bahkan kedua melon Bangkok yang dulu ukurannya tidak terlalu besar, kini sudah banyak kemajuan akibat olahan kedua tangan Lucas, yang piawai memijitnya..
Marwa terlihat sudah mengenakan biki ni se xy berwarna merah terang dihadapan Lucas. Terlihat belahan dadaanya yang menonjolkan melon Bangkok yang tidak muat ditampung dan nyaris tumpah ruah keluar! Begitu juga dengan belahan ladang gandum milik Marwa yang terpampang nyata dihadapan Lucas, pantatnya yang semok, dan paha putihnya yang mulus membuat Lucas tidak dapat mengalihkan pandangannya dari area sana.
"Mas apik ora mas kalau aku yang pake?" tanya Marwa.
"Aku tidak bisa menilainya kalau dari jarak jauh seperti ini!" kata Lucas.
"Mas Lucas mau lihat dari kedekatan?" tanya Marwa.
Marwa benar-benar polos, dia tidak tau saja didalam sana anaconda milik Lucas sudah mengamati mangsa terlezatnya, makannya Lucas meminta agar lebih dekat.
Marwa berpose di depan kaca menampilkan keindahan lekuk tubuhnya yang ramping namun tonjolan depan dan belakangnya padat berisi, Lucas pun segera bangkit dari ranjang lantas menghampiri Marwa.
Lucas berharap dia bisa istirahat terlebih dahulu siang hari ini! Namun panggilan tugas negara yang urgent membuatnya tidak akan bisa tidur dan terpanggil untuk menyelesaikan tugas negara tengah hari begini. Tugas negara yang cukup berat karena akan menyita banyak tenaga, keringat, dan suara-suara horor tentunya.
Tangan kanan Lucas meraih bagian perut ramping Marwa yang nyaris tanpa lemak itu! Dirabanya dengan lemah lembut, membuat Marwa menengok kearah Lucas.
__ADS_1
"Stttthhhh mas! Geli mas," desahh Marwa.
Lucas meraih pinggul Marwa dan membuat tubuh Marwa bersandar pada dadaa bidangnya, kedua wajah keduanya saling berpandangan mesra.
"Kenapa kamu selalu memberikanku tugas negara dadakan?" bisik Lucas didaun telinga sebelah kanan Marwa, lalu menggigit tipis daun telinga Marwa.
"Aw,,,, emm," desahh Marwa.
Kedua tangan Lucas yang sejak tadi berada di pinggul Marwa kini, meraba-raba kebagian bawah sana! Hingga akhirnya meraih pantat padat berisi milik Marwa yang hanya berbalutkan biki ni kurang bahan.
Dire masnya pantat padat berisi itu oleh kedua tangan Lucas, lalu dire mas kencang dan digoyangkan sedikit.
"Emmm, mas kamu nakal deh siang-siang gini!" kata Marwa.
"Kamu memang anak kecil yang selalu memancing aku untuk aku nakali," bisik Lucas ditelinga Marwa sebelah kanan.
Bisikan itu berlanjut hingga Lucas melumatt daun telinga Marwa sebelah kanan, kemudian lidahnya mulai melilit dan meliuk-liuk didaun telinga Marwa, sementara kedua tangannya masih aktive dengan si padat berisi dibawah sana.
Mulut Marwa terbuka menganga, nafasnya mulai naik turun terengah-engah menerima lumattaann-lumaatttann lidah Lucas yang terus memainkan daun telinganya.
Kedua tangan Marwa kini memegang bahu Lucas kiri dan kanan sambil sesekali meremassnya ketika Lucas menggit Dau telinganya dengan kencang.
Kini lidah itu turun menuruni leher Marwa dan kembali meliuk-liuk disetiap inci leher Marwa, menye sapnya lembut dan menji latinya hingga tubuh Marwa kegelian menerima kenakalan Lucas.
Leher Marwa sudah basah oleh jejak-jejak lidah yang Lucas tinggalkan disana! Kedua tanganku Lucas pun kini gercep menyergap melon Bangkok yang nyaris tumpah-tumpah karena biki ni yang dikenakannya tidak kuat menampung besarnya melon Bangkok milik Marwa.
Visual Marwa
Visual Lucas
__ADS_1