
Rupanya Marwa menyukai musik dangdut koplo. Lucas sampai tak habis pikir gadis belia seperti Marwa malah suka dangdut koplo mana joget-joget ga jelas didalam mobil menggerakkan tangannya dan juga kepalanya ke kiri dan ke kanan mengikuti irama musik dangdutnya.
Setelah keluar tol! Mobil yang dikendarai Lucas masuk ke jalan raya biasa untuk mencari alamat yang dia tuju. Lucas mengikuti maps untuk sampai ke lahan tempat kantor cabang Anderson group dibangun nantinya! Jarak untuk sampai ke titik alamat yang dituju masih lumayan jauh.
"Marwa! Kamu bisa kan arahin aku! Ini tinggal kamu sebutin aja arah mapsnya!" kata Lucas yang sedang sibuk menyetir.
"Oh iya mas! Bisa! Bisa! Sini handphonenya, kecil iki!" kata Marwa.
Lucas pun mengikuti arahan yang diberitahukan oleh Marwa, padahal Marwa sendiri baru pertama kalinya membaca peta di maps, dia sendiri tidak tau betul atau tidak sesuai atau tidak dengan mapsnya.
Malam harinya! Lucas semakin bingung, karena jalanan semakin memasuki jalanan sepi yang kanan kirinya banyak ditumbuhi pepohonan besar, seperti hampir memasuki hutan. Merasa curiga Marwa salah mengarahkan sesuai mapsnya Lucas pun melirik kearah Marwa! Marwa sadar kalau sepertinya dia sudah salah membaca maps.
"Ini bener kesini jalannya?" tanya Lucas.
"Iyo, bener mas!" kata Marwa.
"Nah ini kemana nih? Lurus atau belok kanan?" tanya Lucas.
"Kayae belok kanan mas!" kata Marwa.
Padahal jalan di maps menunjukkan masih lurus lagi baru nanti belok kanan. Begitu seterusnya Marwa yang tidak bisa membaca maps, hingga selalu diberikan jalan baru oleh google.
"Loh kok ini kaya mau masuk hutan-hutan gini! Sepi banget, kamu bener kan baca arahnya?" tanya Lucas memastikan kembali.
Kedua tangan Marwa gemetaran, takut dimarahi oleh Lucas! Marwa mengangguk saja kalau ini sudah jalan yang benar. Marwa mulai panik juga karena jalanan semakin gelap tidak ada lampu penerangan jalan, Kana kiri hutan belantara.
"Ini kemana nih?" tanya Lucas.
Marwa selalu mengarahkan namun pakai kata "kayae belok kiri", " kayae lurus" dan lain-lain. Tiba-tiba mobil Lucas mogok, sepertinya bensinnya habis karena sejak tadi mereka tak kunjung sampai hingga Lucas tidak sempat mengisi bensin lagi, sejak tadi jangankan pom bensin rumah saja sangat jarang disepanjang jalan ini.
__ADS_1
"Loh kok berhenti iki mas?" heran Marwa.
"Bensinnya habis!" santai Lucas.
"Lah? Terus piye iki mas? Mana engga ada rumah satu pun di sini! Aku wedi ada setan mas," kata Marwa.
"Ini semua kan karena kamu salah baca maps," ketus Lucas.
"Loh kok aku? Kayae aku wis bener mas," kata Marwa.
"Iya ini gara-gara kayae kamu itu," sinis Lucas.
Marwa celingak-celinguk melihat ke kanan kirinya yang gelap dan hutan belantara! Dia takut kalau ada setan, sementara Lucas santai saja! Karena sudah kesasar dan mobil pun sudah kehabisan bensin mau bagaimana lagi. Ditambah lagi tidak ada sinyal di sini, lengkaplah sudah.
Lucas pun turun dari mobil, diikuti oleh Marwa yang langsung memegangi tangan Lucas, tak mau jauh-jauh dari Lucas.
"Mas, kamu mau kemana?" tanya Lucas.
"Rumah sopo iki! Ditengah-tengah hutan begini, jangan-jangan setan mas," kata Marwa sambil mempererat cengkraman tangannya.
Lucas tidak menggubris ucapan Marwa, kakinya terus melangkah menuju rumah kayu itu. Lucas pun mengetuk pintu rumah kayu itu.
Tokkkk, tokkkk, tokkk. Tidak ada sahutan dari orang di dalam rumah kayu itu.
Lucas pun mendorong pintu kayu itu, ternyata tidak dikunci. Di dalam rumah kayu itu tidak ada orang, hanya ada tikar dan dua buah lampu obor saja. Menggunakan pemantik Lucas menyalakan kedua lampu obor itu dan ruangan di dalam rumah kayu itupun menjadi lumayan terang.
"Sampai kapan kamu akan memegangi tanganku terus?" tanya Lucas.
Marwa langsung melepaskan genggaman tangannya. Lucas pun duduk diatas tikar, dan meminta Marwa untuk tidur diatas tikar. Marwa yang tidak bisa tidur jika tidak ada bantal, mengeluh bahwa lehernya sakit bila tidur tidak memakai bantal. Lucas memberikan pahanya untuk pengganti bantal agar Marwa bisa tidur.
__ADS_1
Marwa pun tidur diatas paha Lucas, ketika Marwa tidur! Lucas membuka jasnya dan menyelimutkannya pada Marwa. Tiba-tiba terdengar suara ramai orang-orang yang semakin dekat. Dan tak lama pintu pun dibuka oleh warga.
"Nah bener ternyata, ketangkep lagi anak muda yang suka mesum di rumah kayu ini!" kata salah seorang warga.
Lucas dan Marwa langsung kaget melihat warga menyangka keduanya tengah berbuat yang tidak-tidak.
"Tunggu dulu Pak! Kita tidak melakukan apa yang kalian tuduhan," kata Marwa.
"Alah kemarin-kemarin juga yang kita pergoki di sini, ngakune begitu," kata seorang warga lainnya.
Ternyata rumah kayu ini sering sekali dijadikan tempat mesum oleh para pemuda pemudi daerah sini, sehingga ketika Marwa menjelaskan tak ada satupun warga yang percaya. Warga membawa keduanya ke balai desa untuk diadili.
Didepan kepala desa, Marwa mati-matian menjelaskan sementara Lucas hanya tenang dan diam saja! Warga yang marah meminta kepada kepala desa untuk mengarak keduanya keliling kampung atau segera menikahkan mereka saat ini juga.
"Ya Alloh Gusti! Mas ini pie si mas, masa kita dinikahkan sekarang juga! Aku ndak mau mas," rengek Marwa.
"Sampean bocah masih cilik! Mau-maunya diajak ga bener karo lanang iki!" ujar warga lain.
Lucas masih terdiam dan malas untuk menjelaskan, melihat bagaimana kemarahan warga pada mereka sepertinya akan percuma saja bila menjelaskan.
"Baiklah kami setuju untuk menikah sekarang juga!" kata Lucas.
Seketika kedua mata Marwa terbelalak mendengar Lucas dengan percaya dirinya setuju untuk dinikahkan sekarang juga. Warga pun menjadi saksi untuk keduanya. Sementara itu Marwa masih tidak percaya akan segera dinikahi oleh lelaki yang pantasnya menjadi paman untuknya, apalagi Marwa akan mulai masuk sekolah kelas 1 SMA Minggu besok.
Apa jadinya kalau dia sekarang menikahi itu artinya dia akan menjadi seorang pelajar sekaligus menjadi seorang isteri dari laki-laki yang belum lama dia kenal, bahkan keduanya belum memiliki perasaan cinta.
Semua warga berkumpul untuk menyaksikan pernikahan secara agama ini, Lucas dengan sikap tenangnya seolah tanpa ada keraguan, ataupun niat untuk berubah pikiran. Dia menjabat tangan penghulu untuk memulai ijab kabul, sementara Marwa menutup kedua telinganya, dan menutup matanya! Berharap Lucas tidak meneruskan semua ini.
Jangan Lupa Like!!!?!!!!!
__ADS_1
Komen!!!!
Vote!!!!!☺️🙏