
Seolah tak ingin memberikan ruang sekecil apapun pada laki-laki lain yang hendak mendekati isterinya itu! Lucas segera turun kembali dari mobil. Saat Marwa sedang asik mengobrol dan berterimakasih pada siswa laki-laki yang telah memberikannya setangkai bunga mawar merah! Lucas datang menghampiri keduanya.
Tanpa basa-basi Lucas menarik tali tas sekolah Marwa yang secara otomatis membuat tubuh Marwa terpelanting kearah Lucas. Marwa terheran-heran siapa yang sudah berani menarik tali tas sekolahnya! Saat kedua mata Marwa melirik, Lucas menatapnya dengan tenang dan tetap dalam posisi memegangi tali tas sekolah Marwa.
Siswa laki-laki itu pun tercengang! Berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya! Siapa gerangan laki-laki dewasa yang tampan namun berani menarik tali tas sekolah Marwa, karena Marwa pun terlihat kaget tapi tidak memberikan perlawanan.
Lucas melirik sinis siswa laki-laki itu! Lalu menarik kembali tas sekolah Marwa hingga membuat Marwa mau tidak mau mengikuti langkah kaki Lucas, sambil berjalan mundur Marwa terus terseret dan melangkah mengikuti langkah kaki Lucas yang kembali menuju mobilnya.
"Eh, eh, mas ono opo iki! Aku bukan kucing yang bisa sampean tarik-tarik begini!" kata Marwa sembari tetap berjalan dan tangannya menggenggam bunga mawar merah itu.
Siswa laki-laki itu pun terus mengikuti keduanya sampai di depan mobil!
"Masuk!" perintah Lucas.
"Iyo!" kesal Marwa.
"Go!!" kata Lucas pada siswa laki-laki yang masih terdiam di depan mobilnya.
Siswa laki-laki itu, masih tidak mau pergi. Dia masih mencoba melambaikan tangan pada Marwa. Lucas pun semakin dibuat kesal olehnya! Lucas segera masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobilnya, namun membuka kaca jendelanya.
"Aku boleh pinjam bunga itu?" kata Lucas.
"Bunga iki? Ya boleh si," kata Marwa lalu memberikan bunga itu pada Lucas.
Setelah mendapatkan bunga mawar merah itu! Lucas langsung membuang bunga itu dari kaca jendela mobilnya. Sontak aksi Lucas membuat siswa laki-laki tadi kecewa, dan juga mendapat protes keras dari Marwa.
"Lah kok dibuang toh mas? Ih kamu tuh jahat banget, itu loh orang yang ngasihnya masih ada didepan kita! Itu kan bunga pemberian, ndak seharusnya dibuang didepan orang yang ngasihnya!" kata Marwa.
"Kamu akan izin 2 hari kedepan untuk tidak sekolah dulu! Kita akan menginap di rumah kakakku!" kata Lucas.
"Loh! Tapi kan kamu bilang aku harus tetap sekolah ga boleh izin! Pie si kok berubah koyo bunglon wae," celetuk Marwa.
__ADS_1
Tanpa menggubris ocehan Marwa, Lucas segera menjalankan mobilnya. Habis ini siswa laki-laki itu pasti kapok untuk mendekati Marwa lagi! Marwa masih saja cemberut karena setangkai bunga mawar merah itu sudah dibuang oleh Lucas.
Padahal baru kali ini ada orang yang memberikannya bunga! Lucas saja tidak pernah memberikannya bunga mawar. Sesampainya di rumah sakit, keduanya keluar dari dalam mobil menuju ruangan Ellea.
Di sana Anderson tengah menimang-nimang bayi tampan itu, sejak semalam memang sangat rewel dan sering menangis.
Oaaa, oaaa, oaaa.
"Ututuuutu sayang! Anderson berusaha menenangkan bayinya.
Sementara Ellea masih kelihatan kesakitan dan sedang belajar untuk bisa miring ke kiri dan ke kanan. Baru setelah itu Ellea akan belajar berjalan, jika sudah bisa berjalan barulah dia dan bayinya bisa segera dibawa pulang ke rumah.
Marwa dan Lucas pun membuka pintu ruangan Ellea.
Klekkkkkkk,
"Mba Lea!!!" sapa Marwa dengan bersemangat.
"Iyo! Tau tuh tanya aja sama mas Lucas," kata Marwa yang kembali cemberut pada Lucas.
"Iya! Kita akan menemani kalian sampai pulang ke rumah!" kata Lucas.
"Lalu perusahaan bagaimana Cas?" tanya Anderson.
"Aku sudah menghubungi Sekertaris untuk mengalihkan semua meeting dengan klien, memakai sistem virtual saja! Jadi bisa dilakukan di sini," kata Lucas.
"Oke! Baguslah jadi kita bisa kumpul bersama-sama, tuh lihat Om Lucas kerja dari sini demi kamu baby," kata Anderson sembari mengajak bicara bayinya.
"Sini aku gendong!" kata Lucas meminta gantian menggendong bayi tampan itu dengan Anderson.
"Loh aku dulu yang gendong!" kata Marwa.
__ADS_1
"Eh malah rebutan! Sama-sama aja kalian gendong, sana gih deket Lucas!" kata Ellea.
Marwa pun menghampiri Lucas yang tengah asik menimang bayi tampan nan lucu itu. Didekapan Lucas! Bayi itu tersenyum lucu, membuat Lucas gemas dibuatnya. Marwa pun menge cup pipi bayi itu.
Membuat Lucas sedikit melow! Dirinya juga ingin segera memiliki bayi, tapi apalah daya Marwa masih sekolah jangan kan bayi, disentuh aja Marwa tidak mau. Marwa yang menyadari Lucas tengah memandanginya dengan tatapan sendu, langsung sedikit menjauh.
"Cas, tadi pagi aku sudah sempat telepon Bude Asih," kata Anderson.
"Lalu?" tanya Lucas.
"Dia akan ke sini besok! Ya ini kan sudah beberapa bulan berlalu sejak kalian menikah! Ellea juga tidak bisa memberitahukan bude Asih lewat telepon tentang pernikahan kalian ini," kata Anderson.
"Iya Cas! Sebaiknya kita terima kuensakuensinya! Ya bude pasti akan marah besar si, tapi dia harus segera tau apa yang terjadi dengan Marwa di sini," kata Ellea.
"Mba Lea! Jangan sekarang-sekarang ini si, aku bisa digantung karo ibuku," kata Marwa, Marwa sangat ketakutan ibunya pasti akan habis-habisan memarahinya.
"Ya aku setuju! Memang sebaiknya begitu! Aku akan bicara sendiri secara langsung!" kata Lucas.
"Hah? Opo meneh, kamu sama saja bunuh diri iku mas, mas, ya Gusti," kata Marwa.
"Bagus Cas! Ini baru laki-laki gantelman," kata Anderson memberikan semangat.
"Mudah-mudahan besok Bude sampai sini dengan selamat dan lancar perjalanannya," kata Ellea.
"Amin!!" serempak.
Sore harinya, Anderson menyuruh Lucas dan Marwa untuk pulang ke rumah mereka dan tidur di sana saja! Rumah sakit bukanlah tempat yang nyaman untuk mereka berdua. Keduanya pun menurut dan pulang ke rumah Anderson saat hari sudah malam, namun tetap mereka tidur di kamar yang terpisah.
Meskipun didalam hati sebenarnya Lucas sangat ketakutan, tidak tenang dan gelisah! Tapi sebagai laki-laki gantel memang dia harus segera memberitahukan itu pada bude Asih. Malam harinya baik Lucas maupun Marwa sama-sama gelisah hingga tidak bisa tidur.
Jantung Lucas tidak henti-hentinya berdetak kencang kala memikirkan besok ketika Bude Asih tiba, habislah riwayat Lucas bila terkena tangan kiri bude Asih Lucas akan masuk rumah sakit, tapi bila terkena tangan kanannya Lucas akan masuk kuburan langsung.
__ADS_1
Itulah pikiran buruk Lucas hingga membuatnya tidak bisa tidur malam ini. Sementara Marwa sudah stres dan rasanya ingin pura-pura pingsan saja besok ketika ibunya sampai di sini! Bagaimanapun Marwa adalah anak satu-satunya dan harta paling berharga yang dimiliki oleh Bude Asih, apa jadinya kalau harapan Bude Asih satu-satunya malah menikah muda dengan cara digrebeg oleh warga.