
Marwa pun mulai menampung air pipisnya didalam tempat kecil untuk kemudian dimasukkannya alat tes kehamilan. Marwa dan Lucas sama-sama menunggu beberapa detik dengan kedua mata terpejam.
Setelah menghitung selama beberapa detik, Marwa dan Lucas pun mengangkat alat tes kehamilan itu, dan dilihatnya dengan seksama oleh kedua mata mereka.
Yang ternyata hasilnya hanya satu buah garis merah terlihat jelas di alat tes kehamilan yang Marwa pegang. Seketika harapan Marwa dan Lucas runtuh tak bersisa, harapan untuk mendapatkan dua garis merah yang sudah mereka perjuangkan dengan segenap hati mereka kini sirna.
"Mas, hancur sudah harapanku mas! Apa salahku mas, kenapa musti sesulit ini mas," kata Marwa sambil menitihkan air matanya.
Hikzzz, hikzzz, hikzzz.
"Sabar sayang! Mungkin ini belum saatnya kita mendapatkan kepercayaan itu, kamu harus kuat," kata Lucas dengan suara berat.
Hati Marwa perih, tangannya bergetar tak kuasa memegangi alat tes kehamilan itu, hingga membuatnya terjatuh diiringi tubuh Marwa yang mulai terasa lemas. Lucas dengan sigap menopang tubuh Marwa agar tidak jatuh ke lantai.
"Marwa, sadarlah!" kata Lucas yang panik melihat Marwa kini pingsan dalam dekapannya.
Lucas pun menggotong tubuh mungil Marwa keatas ranjang, lalu keluar kamar untuk mengabari Bude Asih, Ellea dan Anderson. Rupanya Bude Asih dan Ellea serta Anderson sejak tadi sudah mondar-mandir didepan pintu kamar Lucas untuk menunggu hasil tes kehamilan itu, jadi begitu Lucas kalang kabut membuka pintu kamarnya, mereka semua langsung bertanya.
"Ada apa nak?" tanya Bude Asih.
"Marwa pingsan Bu! Tolong," kata Lucas yang juga sangat sedih dengan hasil negatif itu.
Anderson dan Ellea juga Bude Asih langsung masuk kedalam kamar, dilihatnya tubuh Marwa yang tengah terkulai lemas diatas tempat tidurnya.
"Marwa, bangun nak! Sadar ya Gusti, kenapa jadi begini," teriak Bude Asih sambil memijat-mijat jempol kaki Marwa agar membuatnya siuman.
"Apa hasilnya negatif?" tanya Ellea.
"Iya, dan ini semua salahku! Aku terlalu memaksakan Marwa untuk hamil, hingga membebani pikirannya seperti ini! Ini salahku, harusnya aku tak terus menerus memintanya agar cepat hamil," kata Lucas, sambil menutupi wajahnya melihat Marwa pingsan begini.
"Sudah nak Lucas! Ini semua takdir," kata Bude Asih.
"Aku akan telepon dokter," kata Anderson.
__ADS_1
Namun belum Anderson menekan nomor telepon Dokter pribadi keluarga Anderson, Marwa terlihat sudah sadarkan diri.
"Marwa kamu wis sadar nak?" Udah nak, jangan dipikirkan lagi, Ibu ndak tega liat kamu seperti ini," kata Bude Asih, sambil menangis.
"Mas Lucas, maafin aku mas!" lirih Marwa.
"Kamu engga perlu minta maaf sayang! Kita sudahi segala program ini, aku engga apa-apa kok! Kita engga usah pikirkan itu lagi, aku sayang sekali sama kamu!" kata Lucas lalu memeluk tubuh isterinya itu.
Setelah dilakukan pemeriksaan oleh Dokter, rupanya memang embrio yang sudah ditransfer kerahim Marwa tidak menempel pada dinding rahimnya, itu sebabnya program bayi tabung ini gagal.
Namun Dokter menyarankan Lucas dan Marwa mencobanya satu kali lagi, karena kesempatan itu masih terbuka lebar, namun Lucas akhirnya menolaknya, sekarang Lucas tak ingin lagi disibukkan dengan hal kehamilan, setelah melihat betapa Marwa stres akibat problem hamil, Lucas tak mau lagi membahas masalah hamil lagi.
Bagi Lucas, kebahagiaan dan kesehatan Marwa adalah nomor satu, tak masalah jika memang belum dikasih rezeki kehamilan. Namun untuk saat ini, Lucas ingin lebih fokus menjalani rumah tangganya dengan Marwa tanpa dibayang-bayangi soal kehamilan.
"Mas, aku udah ndak apa-apa kok! Kalau mau mulai program lagi, aku ndak kapok," kata Marwa.
"Engga, aku sudah ambil keputusan! Sudahi saja dulu memikirkan hal itu, aku ingin lebih fokus pada kamu dan pernikahan kita saja," kata Lucas.
"Tapi mas, aku suka bosan dan bingung kalau mas Lucas kerja, aku ning rumah dewekan Ndak ada temen," kata Marwa.
"Yo beda, Mba Lea sama Ai kadang jarang di rumah mas, suka pergi ke Timezone jadine aku sendirian," kata Marwa.
"Terus kamu mau adopsi anak aja?" tanya Lucas.
"Em, pengen si mas! Toh uang aku yang dari mas Lucas wis numpuk, bingung mau buat beli apa. Kan kalau kita adopsi anak, bisa buat beli keperluan anak terus aku juga bisa ada temen mas," kata Marwa.
Lucas pun sejenak berpikir, memang tidak ada salahnya juga mengadopsi anak! Toh di negara ini banyak anak-anak yang kurang beruntung, kalau bisa membantu salah satunya, kan itu hal baik. Lagipula bisa saja setelah itu Marwa akan hamil karena hormonnya bagus ketika senang dan bahagia.
Keesokan harinya, Lucas tengah bersiap-siap di ruang tamu bersama dengan Bude Asih, Aiden, Ellea dan Anderson! Kebetulan hari ini weekend jadi semuanya bisa ikut. Hanya tinggal menunggu Marwa selesai berdandan.
Setelah Marwa datang, semuanya lalu langsung memasuki mobil untuk menuju suatu tempat.
"Mba, nanti kamu mau tuku opo maning? Tas, sepatu, atau baju lagi?" tanya Marwa.
__ADS_1
"Lah kok? Lucas, ini isterimu emang engga dikasih tau kita mau kemana?" tanya Ellea.
"Belum dikasih tau," kata Lucas.
"Loh bukane kita mau ke mall? Kan biasane kalau weekend kita makan siang disana," kata Marwa sedikit bingung.
"Papa, kita jadi ke mall engga? Ai pingin beli mainan," kata Aiden.
"Kita kali ini engga ke mall nak, tapi nanti Ai pasti lebih happy kalau sudah sampai ditempatnya," kata Anderson.
"Engga, Ai maunya ke mall," teriak Aiden.
"Eh Ai, engga boleh ngebantah Papa kaya begitu, Mima engga pernah ngajarin Ai bicaranya teriak begitu sama papa, ayo minta maaf," kata Ellea.
"Hm, maaf papa," kata Aiden, dengan wajah sedih.
"It's oke anak pintar," kata Anderson
Akhirnya mereka tiba disebuah bangunan yang bertuliskan panti asuhan bunda Aisyah. Marwa yang membaca plang nama panti asuhan pun, langsung kegirangan.
"Mas, kita bakalan adopsi anak mas? Iki beneran? Aku bakal jadi Ibu!" tanya Marwa yang begitu gembira.
Lucas mengangguk dan tersenyum pada Marwa. Bude Asih, Ellea dan Anderson pun ikut bahagia melihat Marwa tidak sedih lagi. Mereka disambut oleh pengurus panti asuhan bunda Aisyah, dan mempersilahkan keluarga Anderson untuk masuk kedalam panti.
Begitu banyak anak-anak kecil yang lucu-lucu dan gembira melihat kedatangan keluarga Anderson, terlihat dari tatapan mata mereka penuh harapan untuk bisa hidup lebih layak lagi, dan juga bisa merasakan memiliki orang tua.
Ternyata banyak sekali anak-anak yang kurang beruntung, kadang lolos dari pandangan orang-orang mampu! Padahal harapan mereka sangat besar untuk bisa diadopsi, sehingga memiliki keluarga yang menyayangi mereka dengan tulus.
"Mari, silahkan duduk Pak, Bu!" kata pengurus panti dengan sangat ramah.
"Sebelumnya saya sudah telepon Ibu kan kemarin, tentang maksud dan kedatangan kami kesini," kata Lucas.
"Oh, ini Pak Lucas?" tanya Bu panti.
__ADS_1
"Iya Bu, dan ini isteri saya Marwa. Saya juga membawa kakak dan Ibu mertua saya," kata Lucas.
Tak lama mobil kedua milik Anderson tiba. Anderson dan Ellea memang meminta para pelayan menyiapkan Snack dan makanan berat untuk dibagikan pada anak-anak panti, dan juga sejumlah dana untuk kebutuhan anak-anak panti.