Isteri Kedua CEO Muda

Isteri Kedua CEO Muda
Kiseu di rumah sakit


__ADS_3

Setelah menggelegak air putih didalam gelasnya! Lucas melihat Marwa yang masih segar bugar tengah mengumpulkan lingerie dan pakaian da lam miliknya yang berceceran di lantai. Marwa pun berlalu dari hadapan Lucas yang masih memandanginya untuk pergi menuju toilet.


Beberapa saat Marwa membersihkan tubuhnya kembali karena meskipun sudah mandi tadi, tapi Lucas berhasil membuat tubuhnya memerlukan basuhan air lagi. Setelah mengeringkan tubuhnya dengan handuk! Marwa keluar kamarnya, dan alangkah terkejutnya Marwa, saat membuka pintu, Lucas sudah berada dihadapannya dan tersenyum nakal mengisyaratkan hal seperti biasanya, yaitu penambahan jam tayang.


"Mas, jangan minta nambah sekarang ih! Aku arep telepon mba Lea dulu, takutnya dia butuh teman ngobrol dirumah sakit," kata Marwa.


"Ellea ada kakakku, kamu tidak perlu repot-repot menelpon untuk menemaninya mengobrol!" kata Lucas yang semakin mendekati Marwa, hingga naluri Marwa pun kembali mundur masuk ke dalam kamar mandi.


"Ta-tapi aku arep menanyakan kabar Aiden, opo dia masih nangis terus atau wis anteng dan membaik," kata Marwa, sambil terus melangkah mundur.


"Besok pagi juga kita akan ke rumah sakit!" kata Lucas sambil terus melangkah maju kearah Marwa.


"Em, mas anu loh aku pie si iki! Kok aku mundur kamu malah maju?" kata Marwa dengan expresi polosnya.


Tanpa basa-basi, Lucas kembali memagut bibir Marwa, dan seperti biasanya Marwa akan pasrah tak berdaya didalam kungkungan suaminya itu, mereka pun kembali melakukannya lagi dan lagi didalam toilet, dan entah sudah berapa ronde hingga tengah malam tiba, sampai berpindah-pindah tempat dengan beraneka ragam posisi disetiap sudut kamar mereka.


Sementara itu di rumah sakit waktu di jam dinding sudah menunjukkan pukul 01.00 malam, Ellea pun terbangun setelah sebelumnya tak sengaja ketiduran. Dilihatnya Aiden yang masih tenang tertidur, lalu Ellea pun menengok kearah sofa dipojok ruangan pasien sekelas VVIP itu.


Tampak Anderson sedang duduk di sofa dan tengah menundukkan wajahnya, Ellea pun merasa menyesal telah membuat Anderson terpuruk akibat perdebatan tadi. Ellea segera bangkit dari tempat duduknya, lalu perlahan mendekati Anderson.


Anderson masih enggan mempedulikan Ellea yang mulai mendekatinya, Ellea segera duduk disofa samping Anderson, dengan penuh keragu-raguannya Ellea mencoba mengajak Anderson berbicara dari hati kehati.


"Sayang, aku minta maaf sudah membuatmu kecewa," kata Ellea berusaha mencairkan bekunya suasana dalam ruangan ini.


"Tidak perlu minta maaf, untuk apa minta maaf jika kamu melakukannya lagi!" kata Anderson, yang masih menundukkan wajahnya dan enggan menatap wajah Ellea.


"Mungkin caraku salah! Tapi percayalah aku menyayangimu, menyayangi Ai. Aku pikir jika aku tetap menjadi wanita karier seperti impianku dulu, semua akan baik-baik saja," kata Ellea.

__ADS_1


"Berkarier tidak melulu harus berada di kantor, atau mengurus perusahaan! Kamu tau Ellea, menjadi Ibu rumah tangga pun adalah sebuah karier yang tidak ternilai," kata Anderson.


"Ya mungkin aku terlalu terlena dengan semua fasilitas yang kamu berikan, hingga aku kadang bosan berada di rumah terus-menerus! Tapi apa aku salah menjalankan kehidupanku sesuai dengan keinginan aku?" tanya Ellea.


"Berada di rumah mengasuh dan menemani tumbuh kembang anak kita satu-satunya! Menungguku pulang dari kantor, aku hanya memintamu itu Ellea," kata Anderson.


Ellea pun menarik nafas panjangnya! Berusaha agar tidak lagi memicu perdebatan, dan mengenyampingkan terlebih dahulu pendapatnya.


"Lalu maumu aku di rumah dan hanya fokus mengurus Ai? Dan membiarkanmu bekerja dengan sekertaris wanita itu?" tanya Ellea.


"Aku sudah memindahkannya ke anak perusahaan kita yang berada di Jawa! Mulai saat ini, aku akan bekerja dengan sekertaris laki-laki! Apa kamu puas?" tanya Anderson.


"Kenapa sekarang nada bicaramu seperti bicara dengan musuh? Apa aku begitu salah atau kamu yang justru tak mau mendengarkan keluh kesah isterimu?" tanya Ellea.


"Keluh kesah? Cemburumu tidak masuk akal, dan kamu bekerja hanya untuk memenuhi keinginanmu! Thats it. Lalu keluh kesah macam apa yang kamu maksud Ellea?" tanya Anderson.


"Aku harap kamu ikhlas menjalaninya Ellea! Ini bukan demi aku, tapi demi anak kita! Karena kamu Ibunya, kamu akan menjadi guru pertama untuk anak kita," kata Anderson.


Ellea pun menghela nafas panjang agar bisa ikhlas menerima keputusan Anderson.


"Tapi berhentilah berbicara dingin terhadapku!" kata Ellea.


"Aku tidak bicara dingin! Aku hanya kesal saja tadi, kenapa apa aku tidak boleh kesal denganmu?" tanya Anderson.


Ellea pun segera bangkit dan kembali duduk, kali ini bukan diatas sofa melainkan diatas kedua paha suaminya itu! Ellea mengalungkan kedua tangannya pada leher Anderson dan mendekatkan wajahnya pada Anderson.


"Ellea, kenapa menaikiku?" tanya Anderson.

__ADS_1


"Berhentilah marah-marah terus! Aku janji tidak akan bekerja lagi, aku akan tinggal mengurus anak kita di rumah! Tapi benar kan sekertaris wanita itu sudah kamu pindahkan?" tanya Ellea.


"Ya, sejak kamu mulai uring-uringan cemburu dengan Sekertarisku itu! Aku sudah menghubungi anak perusahaan kita yang berada di Jawa, dan mentransfer CV sekertaris itu kesana!" kata Anderson.


"Kok kamu tidak cerita? Baiklah, setidaknya aku bisa tenang sekarang, meskipun aku tidak bisa lagi melanjutkan keinginanku untuk menjadi wanita karier," kata Ellea.


"Untuk apa aku cerita! Nanti begitu keputusan sudah final, kamu akan tahu sendiri mengenai kepindahannya," kata Anderson.


Ellea pun menundukkan wajahnya sembari masih duduk nyaman dipangkuan Anderson! Dia sadar saat ini memang sudah tidak bisa lagi melanjutkan keinginannya menjadi wanita karier seperti wanita-wanita diluaran sana! Ellea melirik kearah Aiden, untuk membulatkan niat menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.


Melihat Aiden terbaring lemah dengan infusan ditangannya! Ellea tak bisa lagi memaksakan diri, dengan meneguhkan hatinya kini Ellea sudah bertekad untuk mengurus Aiden sendiri di rumah.


"Ellea aku minta maaf! Tapi keputusanku adalah keputusan yang terbaik untuk rumah tangga kita," kata Anderson saat melihat wajah isterinya bersedih.


"Ya aku tau! Kamu suami dan ayah yang baik untuk kami," kata Ellea.


"Kalau begitu tersenyumlah!" goda Anderson.


Ellea pun tersenyum sambil menempelkan hidungnya dengan hidung Anderson. Keduanya seakan merindukan saat-saat keromantisan yang sempat hilang ditelan keegoisan. Anderson memagut bibir ranum Ellea dan mendapatkan balasan dari Ellea yang juga mengingatkan ciu man penuh kerinduan ini.


Keduanya saling beradu mulut hingga beberapa saat, lidah keduanya tak bisa lagi terhindarkan untuk saling melilit dan saling menye sap, hingga tanpa terasa tangan kanan Anderson mere mas salah satu bukit kembar milik Ellea, sementara tangan kirinya masih betah memegangi pinggang Ellea.


Visual Ellea.



Visual Anderson.

__ADS_1



__ADS_2