
Lucas segera berjalan cepat menuju kamarnya! Disusul oleh Marwa yang berada dibelakangnya, saat berjalan terburu-buru karena ingin secepatnya mengganti pakaian da lam yang sudah membuat keduanya tidak nyaman, akibat lengketnya sisa-sisa lahar yang sudah Lucas tumpahkan! Tiba-tiba m, bude Asih muncul dari ruangan televisi dan kini tepat berada dihadapan Lucas.
"Astaga!" Lucas kaget.
"Loh, nak Lucas aku iki mertuamu! Kok wajahmu itu loh pucet terus kaget begitu, kaya ngeliat setan wae," kata Bude Asih.
Marwa dan Lucas pun saling lirik melirik, mereka seolah malu pada Bude Asih, karena malam-malam begini di ruangan meeting, mereka berdua sempat-sempatnya bergulat dalam kenikmatan duniawi hingga terlihat gugup dihadapan semua orang.
"Marwa ana apa si? Kalian seperti wajah-wajah sudah berbuat dosa," kata Bude.
"Ahh tidak kok Bu!" serempak Lucas dan Marwa.
"Ya wis by! Mas Lucas lagi kecapean banget, kamu masuk kamar dulu ya!" kata Marwa, lalu buru-buru menarik tangan Lucas untuk bergegas meninggalkan Ibunya.
Bude Asih hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat tingkah anak dan menantunya! Bude Asih menuju ke ruangan utama, untuk memastikan bahwa Ellea dan Anderson apakah sudah berbaikan kembali atau belum.
Sesampainya di ruangan utama, terlihat Anderson menggandeng tangan Ellea untuk menuju ke kamarnya, namun mereka berbelok ke kamar sebelah kiri terlebih dahulu. Rupanya Anderson dan Ellea ingin melihat Baby Ai terlebih dahulu.
Bude Asih pun merasa lega akhirnya Anderson dan Ellea sudah tidak bertengkar lagi. Bude Asih berbalik arah untuk masuk kembali ke dalam kamarnya dan beristirahat, sementara Anderson dan Ellea tengah menge cup pipi dari Baby Ai yang tengah tertidur pulas dalam kasur mininya.
"Uhh sayangnya Mima! Ganteng banget si, cepet besar ya nak!" kata Ellea sambil mengusap-usap pipi baby Ai dengan lemah lembut.
"Kalau Papa, malah lebih suka kamu masih bayi begini, kalau kamu cepet besar! Bisa-bisa kamu akan sibuk main dan sekolah bersama teman-teman kamu!" kata Anderson mengajak baby Ai mengobrol meski baby Ai masih tertidur.
"Makasih ya, kamu sudah memberi izin aku untuk kerja lagi! Aku janji, nanti kalau aku sudah mulai masuk kerja lagi, aku ga akan pernah lembur dan pasti buru-buru pulang ke rumah untuk merawat Aiden," kata Ellea.
__ADS_1
"Ya sayang! Sama-sama, tapi aku engga suka kamu mendengar omong kosong apapun itu yang keluar dari mulut mantan suami kamu! Please kamu cukup percaya sama aku," kata Anderson.
"Iya, aku takut kehilangan kamu! Aku engga mau kalau sampai kamu melirik wanita lain, karena itu aku jadi cemburuan banget sama kamu, aku minta maaf juga ya!" kata Ellea.
"Aku selalu memaafkan kamu," kata Anderson sambil tersenyum lalu menjepit hidung mancung Ellea.
"Awwww, ihh sakit tau!" kata Ellea.
"Sakitan mana sama yang bawah kalau lagi aku bombardir?" goda Anderson.
"Ih kamu tuh, udah ah! Ayo keluar dari sini, nanti Aiden bangun lagi, karena perkataan me sum kamu itu!" kata Ellea.
Tiba-tiba Anderson menggendong tubuh Ellea!
"Hei, apa yang kamu lakukan! Aku bisa jalan sendiri," kata Ellea.
"Aku kan baru ha is melahirkan! Tubuhku pasti melar bin gendut, aku belum bisa diet, karena kan masih harus mencukupi asi baby Ai," kata Ellea.
"Engga gendut kok! Badan kamu justru bagus, lebih semok dan se xy, tambah besar pula itu gunung kembar!" kata Anderson sambil melirik gunung kembar Ellea.
Ellea pun sontak mencubit pipi suaminya itu!
"Aduhhh!! Kok di cubit si?" tanya Anderson.
"Rasakan, lagian mata jelalatan terus deh," kata Ellea.
Anderson pun tersenyum sejak tadi tak henti-hentinya dia menggoda Ellea. Sampai ke dalam kamarnya, Anderson membaringkan tubuh Ellea di ranjang dengan lemah lembut, ditariknya selimut untuk kemudian diselimutkan pada Ellea.
__ADS_1
Tak lupa Anderson menge cupkan satu kecu pan dikening Ellea, yang membuat Ellea masih merasa seperti pengantin baru karena perlakuan romantis Anderson setiap harinya.
Meskipun belum bisa mendapatkan jatah untuk memenuhi has ratnya! Namun itu tak mengurangi sedikitpun perasaan Anderson pada Ellea! Justru Anderson semakin sayang pada Ellea, karena Ellea telah memberikannya keturunan yang tampan dan sempurna.
Keesokan harinya Marwa dan Lucas sudah bersiap pagi-pagi sekali untuk pergi ke sekolah dan Lucas pergi ke kantor. Melihat Lucas tengah memakai dasi sendiri, timbul pikiran Marwa untuk beromantis-romantisan dengan memakaikan dasi pada Lucas layaknya di sinetron-sinetron.
"Mas, mas! Sini aku aja ya yang pakaikan dasi dileher kamu! Kan aku isterine mas Lucas, moso mas Lucas masih pasang dasi sendiri," kata Marwa sambil meraih kerah baju Lucas lalu dia rapihkan sedikit.
Mendengar niat baik Marwa, Lucas tersenyum senang, akhirnya isteri kecilnya itu perlahan sudah bisa peka dan memperhatikannya mulai dari hal-hal kecil. Tentu saja Lucas langsung bersedia untuk dipakaikan dasi oleh Marwa.
Lucas sedikit mengangkat dagu dan wajahnya, agar Marwa bisa leluasa memakaikan dasi padanya. Tiba-tiba Marwa teringat, bahwa sejak kapan dia bisa memakaikan dasi? Marwa hanya tau cara memakaikan dasi dari sinetron yang pernah dia tonton, namun sama sekali belum pernah mencobanya.
Perasaan bingung kini terjadi pada Marwa, bagaimana dia mulai memasangkan dasi pada Lucas, otaknya seketika ngeleg! Mau mundur tapi malu, mau maju tapi engga paham caranya sama sekali.
"Kok diem?" tanya Lucas yang melihat Marwa masih belum memulai.
"Emm, anu mas! Aku terpesona sama ketampanan mas Lucas hari ini," kata Marwa berusaha agar tidak ketahuan bahwa dia sebenarnya tidak bisa memasang dasi.
Lucas pun tersenyum mendengar pujian dari Marwa, jarang-jarang kan ini mahkluk kecil muji-muji Lucas.
Marwa mengingat-ngingat kembali adegan di sinetron yang pernah dia tonton saat isterinya memakaikan dasi pada suaminya! Dengan mata terpejam, akhirnya Marwa mulai memberanikan diri untuk mencobanya. Dan setelah dia melipat-lipat tidak jelas dasi pada leher Lucas, Marwa pun menarik bagian panjang dasi itu hingga membuat dasi itu mencekik leher Lucas.
"Weeeee, Marwa, kamu apa-apaan si! Kamu mau bunuh aku?" tanya Lucas sambil tangannya cepat-cepat melonggarkan dasi dikerah bajunya.
"Ma-maaf mas Lucas! Aku salah, aku sebenere kepingin kaya isteri-isteri lain, yang bantu suaminya pasangin dasi di lehernya, tapi dasare aku wong kampung, wong Desi jadine malah leher mas Lucas tercekik," kata Marwa sambil menundukkan wajahnya.
Lucas yang melihat expresi sedih dari wajah Marwa, mengerti bahwa Marwa sudah berusaha sebisa mungkin agar bisa memakaikan dasi padanya! Marwa pasti sangat sedih sekarang, karena gagal akibat ketidaktahuannya.
__ADS_1