Isteri Kedua CEO Muda

Isteri Kedua CEO Muda
Gea berpulang


__ADS_3

Malam harinya Marwa kembali tidur sendiri begitu juga Lucas. Keduanya sama-sama belum bisa saling memahami dan saling mengerti, Lucas memang kecewa pada sikap Marwa yang sudah menolaknya sedangkan itu adalah suatu kewajiban seorang isteri.


Sementara Marwa kecewa pada Lucas karena menurutnya, Lucas sangat tidak sabaran dan tidak bisa sebentar saja membiarkan Marwa untuk adaptasi dengan situasi ini.


"Aku tidak mengerti harusku apakan pernikahan ini! Aku juga tidak mungkin memaksa terus Marwa! Tapi aku juga butuh dilayani oleh seorang isteri." Kata Lucas berbicara sendiri.


Marwa yang masih saja menitihkan air matanya, sedikit merasa bersalah karena sudah membuat Lucas keluar dari dalam kamarnya! Tapi disisi lain, Marwa belum bisa kalau dipaksa melakukan hubungan suami isteri, dia merasa ini terlalu terburu-buru.


Anderson dan Ellea baru saja tiba di kediaman mereka. Melihat rumah dalam keadaan sepi sekali, mungkin Marwa dan Lucas sudah tidur pikirnya. Anderson pun mengajak bicara Ellea tentang persoalan Marwa dan Lucas.


"Ellea! Bukankah kita tidak bisa menunggu-nunggu lagi! Bude kamu harus tau kalau Marwa sudah menikah dengan Lucas!" kata Anderson.


"Iya aku juga inginnya secepatnya memberitahu Bude Asih, tapi gimana? Apa nanti Bude akan sangat marah terhadap kita?" tanya Ellea.


"Aku pun berpikir begitu, kita sudah dititipkan anak gadisnya untuk disekolahkan! Tapi malah ada kejadian seperti ini, Bude kamu pasti akan sangat murka Ellea," kata Anderson.


"Ya udah, besok aku akan telepon Bude Asih!" kata Ellea.


"Ya sudah kita istirahat sekarang! Kasian si baby dari sore udah dibawa kemana-mana!" kata Anderson.


"Elus-elus tapi ya!" kata Ellea.


"Iya ayo aku elus-elus sampai kamu bisa tidur nyenyak," kata Anderson.


"Kakinya pegel! Pijitin juga tapi ya!" kata Ellea tersenyum manis.


"Iya bawel! Apa si yang engga untuk kamu," kata Anderson.


Keesokan harinya di meja makan Ellea, Anderson, Lucas dan Marwa sarapan bersama. Tapi raut wajah Lucas sangat datar, sementara Marwa malah jadi pendiam.

__ADS_1


"Marwa are you okay?" tanya Ellea.


"Iya mba Lea aku okay," kata Marwa sambil murung.


"And you?" melirik Lucas.


"Aku berangkat ke kantor duluan ya semuanya!" kata Lucas segera bergegas meninggalkan meja makan.


"Sayang aku juga ke kantor duluan ya!" kata Anderson segera menyusul Lucas.


Marwa langsung mengangkat wajahnya saat Lucas pergi begitu saja tanpa bicara sepatah apapun, ada rasa menyesal dihati Marwa atas sikapnya semalam, hingga membuat Lucas bersikap semakin cuek terhadapnya.


"Marwa!" panggil Ellea.


"Iya mba!" kata Marwa.


"Iyo kayane! Mba sebenarnya aku salah ora si, nolak mas Lucas saat dia minta nganu loh mba, ngerti kan Mba maksudku?" tanya Marwa.


"Ya aku ngerti! Menurut aku ya, saat ini mau tidak mau, suka tidak suka! Itu udah bukan hal yang harus kamu utamakan Marwa, yang harus kamu utamakan adalah, kamu saat ini adalah seorang isteri Marwa! Isteri dari Lucas!" kata Ellea.


"Gitu yo mba? Jadi pie ya mba aku belum siap, bukan engga mau sebenere," kata Marwa.


"Sebaiknya kamu coba paksaan untuk siap! Karena cepat atau lambat pasti akan kejadian juga kan? Dan kamu niatkan semata-mata untuk ibadah," kata Ellea.


Marwa pun akhirnya merenungi nasihat dari Ellea. Bener juga apa yang dikatakan oleh Ellea, cepat atau lambat pasti akan ada hubungan suami isteri nantinya, jadi buat apa ditahan-tahan.


"Udah jangan ngelamun! Mending nanti siang kamu bawain makan siang untuk Lucas, terus ajak dia bicara rayu biar dia engga marah lagi!" kata Ellea.


"Iya si mba! Ya wis, nanti siang aku pergi ke kantor mas Lucas," kata Marwa.

__ADS_1


"Tapi mba engga bisa antar ya Marwa! Mba harus di rumah dan ga boleh kemana-mana tanpa Anderson disamping mba," kata Ellea.


"Cie cie, mba Ellea nurut banget ternyata! Pantes mas Anderson sampai kesemsem karo mba Ellea," kata Marwa.


Siang ini Anderson pergi ke rumah sakit untuk menegur Gea yang sudah berani bicara dan memfitnah Ellea, sampai-sampai teman-temannya mengatakan Ellea seorang pelakor. Sesampainya di ruangan Gea! Di sana Gea langsung sumringah, melihat kedatangan Anderson. Gea berpikir hati Anderson sudah luluh dan ingin merawatnya.


"Gea kamu bisa engga gak usah buat ulah lagi! Kamu bilang sama temen-temen kamu apa tentang Ellea hah?" tanya Anderson.


"Anderson, setelah sekian lama kamu engga pernah mengunjungi aku! Dan sekarang kamu kesini hanya untuk membahas pelakor satu itu?" tanya Gea.


"Cukup Gea! Aku sudah muak sekali denganmu! Dengan atau tidak hadirnya Ellea dihidup aku, aku memang tidak pernah mencintai kamu, tidak akan pernah! Dan kamu jangan lupa bagaimana kamu berusaha membunuhku! Kamu berselingkuh dengan Axel, jadi jangan buat ulah lagi, atau semua biaya rumah sakit akan aku stop sekarang juga, dan kamu akan mendekam di penjara!" kata Anderson.


"Aku sudah lumpuh seumur hidup, rahimku bahkan sudah diangkat, kamu menceraikan aku dan sekarang kamu mengancam aku?" kata Gea.


"Terserah kamu anggap ini ancaman atau apalah! Yang jelas, jangan pernah mengusik hidupku ataupun Ellea," kata Anderson lalu segera pergi meninggalkan Gea.


"Anderson!! Kamu kejam padaku Anderson, aku ingin mati saja! Aku tidak mau hidup lagi!" teriak Gea.


Gea menangis dan berusaha menggulingkan tubuhnya sendiri ke lantai, karena sudah tidak sanggup lagi untuk bertahan hidup. Setelah berusaha menjatuhkan dirinya sendiri ke lantai, tubuh Gea pun terguling ke lantai dengan sangat keras.


Bughtttttt, tubuh Gea menghantam lantai hingga infusannya pun jatuh dan dia mengalami kejang-kejang sendirian. Untuk beberapa lama Gea masih dilantai tanpa ada perawat yang datang, polisi yang biasanya berjaga pun tengah pergi makan siang di kantin rumah sakit.


Barulah setelah beberapa menit seorang perawat masuk dan melihat Gea sudah tergeletak di lantai! Tubuhnya kaku, dan tak sadarkan diri, suster segera memanggil Dokter. Setelah dilakukan pemeriksaan, Gea dinyatakan meninggal dunia.


Pihak rumah sakit segera melepaskan infusan dan menutup jenazah Gea dan memindahkannya ke ruangan jenazah! Pihak rumah sakit pun menelepon ke nomor telepon Anderson! Anderson yang saat itu baru dari rumah sakit dan sedang menuju ke rumahnya untuk mengajak Ellea USG, mendapatkan telepon tentang meninggalnya Gea.


Anderson sontak mengerem mobilnya! Anderson sangat syok dan tidak menyangka Gea akan meninggal, padahal tadi dia masih berdebat dengan Gea. Semuanya begitu mendadak.


Anderson melanjutkan perjalanan menuju rumah untuk sekalian menjemput Ellea, untuk mengurus kepulangan jenazah Gea. Dalam perjalanan, Anderson berpikir lagi apa Gea meninggal gara-gara tadi dia sudah membuat Gea stres dan tertekan sampai kondisinya drop? Anderson merasa bersalah atas meninggalnya Gea, walau bagaimanapun sikap Anderson tadi memang sedikit keterlaluan untuk berkata seperti itu pada orang yang tengah sakit seperti Gea.

__ADS_1


__ADS_2