Isteri Kedua CEO Muda

Isteri Kedua CEO Muda
Ada apa dengan Shower


__ADS_3

Gea melangkah dengan terburu-buru menuju ruangan kerja Anderson, dia yakin jam segini Anderson masih berada di ruangan kerjanya. Dengan wajah memerah, dan kedua mata melotot tajam, Gea langsung membuka pintu ruangan Anderson.


Di sana Anderson tengah duduk didepan layar laptopnya, Anderson melirik kearah orang yang sudah berani masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Apa kamu tidak punya sopan santun?" sindir Anderson.


"Apa pertanyaanmu itu penting saat ini? Kenapa kamu terus melakukan hal seperti ini padaku?" tanya Gea dengan nada bergetar.


"Sudahlah! Keputusanku sudah final, enyah dari hadapanku sekarang!" kata Anderson yang masih duduk dikursinya.


Gea berjalan menghampiri meja kerja Anderson, lalu dilihatnya sebuah gunting diantara kumpulan bolpoin diatas meja kerja Anderson, tanpa pikir panjang Gea meraih gunting itu dan bersiap menancapkan gunting tajam itu pada perutnya sendiri.


Melihat hal itu sontak Anderson langsung bangkit dari kursi, tak habis pikir apa yang akan dilakukan Gea saat ini.


"Gea, taruh gunting itu pada tempatnya! Itu bahaya Gea!" perintah Anderson.


"Kenapa? Kamu takut aku mati dihadapan mu? Daripada aku diusir dari rumah suamiku sendiri, lebih baik aku mati sekarang!" kata Gea dengan bibir bergetar dan kedua mata yang sudah menitihkan air mata.


Gea sudah memposisikan gunting tajam itu kearah bagian perut tengah, sepertinya Gea sudah putus asa karena semakin hari Anderson bukannya makin peduli padanya, malah Anderson semakin menjauhinya.


"Hentikan omong kosong mu itu Gea! Apa kamu tidak lelah dengan semua ini? Mari kita bercerai secara baik-baik Gea, aku lelah," kata Anderson.


"Lebih baik aku mati daripada harus bercerai darimu, kamu tega mengusir isteri sahmu sendiri dari rumah ini Anderson," kata Gea dengan kedua matanya yang masih mengeluarkan bulir bening mengalir dipipi.


Gea mulai mengayunkan kedua tangan yang memegangi gunting tajam itu, dengan sigap Anderson menahan kedua tangan Gea. Aksi rebutan gunting tak dapat terhindarkan, Gea sekuat tenaga menahan gunting itu agar tetap digenggamnya, sementara Anderson berusaha merebutnya.


Usaha Anderson sepertinya tidak berhasil, Gea sangat kuat memegangi gunting itu.


"Oke! Oke Gea, tenang. Kamu boleh tetap tinggal di rumah ini, tapi berikan gunting itu padaku sekarang!" bujuk Anderson.

__ADS_1


"Aku tau kamu berbohong, Anderson kamu juga seorang anak yatim piatu, kamu tau rasanya tinggal sendirian dan kesepian. Lalu kenapa kamu akan melakukan itu padaku?" teriak Gea sembari terus menangis.


Anderson menuju meja kerjanya lalu menekan telepon yang terhubung ke pada telepon rumah diruangan anak buahnya. Anderson meminta Lucas agar mengembalikan semua barang-barang Gea ke kamarnya seperti semula.


Apa boleh buat, wanita itu bisa-bisa nekat dan benar-benar menusukkan gunting tajam itu pada perutnya sendiri. Anderson tak ingin ada masalah baru lagi.


"Kamu percaya sekarang? Aku sudah meminta anak buahku memindahkan kembali barang-barangmu itu," kata Anderson.


Gea langsung menjatuhkan gunting dari genggaman tangannya, lalu berlari kearah Anderson dan memeluk tubuh atletis itu.


"Gea! Lepaskan aku!" kata Anderson.


"Aku tau kamu akan peduli padaku, aku juga tau kamu tidak akan pernah membiarkan aku mati, kan?" tanya Gea.


"Terserah apa yang ada didalam pikiranmu itu! Tapi, satu hal yang pasti aku akan mencari cara untuk bisa bercerai darimu secepatnya!" kata Anderson sembari meloloskan tubuhnya dari dekapan Gea.


"I love you, Anderson," lirih Gea dengan tatapan mata penuh cinta.


Kemudian Anderson pergi dari ruangan kerjanya, meninggalkan Gea dengan segala kerisauan hatinya. Lagi dan lagi, Anderson dengan tegas menolaknya. Meski Gea telah berhasil mengurunkan niat Anderson mengusirnya dari rumah ini.


Gea tertawa menertawakan kesedihannya sendiri.


Hahhahhahahah....... tertawa sembari menangis.


"Jika aku tidak bisa memiliki kamu! Maka tidak akan ada satu wanita pun didunia ini yang bisa memiliki kamu, Anderson." Kata Gea.


Anderson memegangi kepala dengan kedua tangannya sembari berjalan menuju kamarnya. Sudah hampir pecah kepala Anderson, harus menghadapi wanita gila seperti Gea. Saking stres beratnya Anderson memutar kembali langkah kakinya menuju bar mini didekat dapur, tempat minuman-minuman memabukkan itu berada.


Dibukanya satu laci yang berisikan minuman-minuman, yang kata sebagian orang dengan menenggak minuman itu, pikiran yang tadinya pusing memikirkan masalah-masalah dunia menjadi lupa dengan masalahnya.

__ADS_1


Anderson menenggak langsung dari botol minuman tersebut, tanpa menggunakan gelas lagi. Setelah beberapa kali menenggak minuman itu. Anderson pergi menuju kamarnya dengan sedikit sempoyongan.


Setibanya di dalam kamar, tidak dilihatnya Ellea di dalam kamar. Setelah mengamati sejenak terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Sepertinya Ellea tengah mandi dibawah gemericik air yang keluar dari shower.


Anderson melangkah menuju kamar mandi, dengan meraba-raba setiap dinding tembok agar tubuhnya yang sudah sempoyongan itu tidak roboh ke lantai. Tanpa ragu, Anderson menerobos ke dalam pintu kamar mandi, dan membuat Ellea kaget dibuatnya.


"Astaga! Kamu kenapa masuk kesini?" tanya Ellea sembari satu tangan kirinya menutupi gunung kembar miliknya dan satu tangan kanannya menutupi area sensitif miliknya.


Anderson enggan menjawab pertanyaan Ellea, dengan menatap tajam tubuh Ellea. Anderson segera melepaskan seluruh pakaian yang melekat ditubuhnya. Membuat seketika Ellea membuka mulutnya dan tercengang dengan tingkah suaminya itu.


Anderson menghampiri Ellea yang saat ini masih berdiri dibawah gemericik air yang keluar dari dalam shower..


"Tu-tunggu! Aku masih datang bulan, nanti besok baru selesai!" kata Ellea dengan gugup.


Tetapi Anderson yang sudah dalam pengaruh minuman duniawi itu, seolah tak menghiraukan kata-kata dari isteri keduanya. Anderson menatap nakal Ellea, mengamati setiap inci tubuh yang saat ini berada tepat dihadapannya.


Lekuk tubuh yang begitu se xy, ditambah air yang mengalir dari atas kepala Ellea hingga terus menyusuri bagian tubuh Ella yang lainnya. Membuat jiwa pemangsa Anderson semakin menggebu-gebu.


Ellea masih dengan polosnya tetap menutupi kedua gunung dan area sensitifnya. Padahal tak ada gunanya dia tutupi gunung kembar itu, toh satu tangannya tak akan mampu menampung besarnya gunung kembar itu.


"Kenapa kamu masih menutupinya Ellea?" tanya Anderson.


"Em, aku! Aku harus segera keluar dari kamar mandi ini. Kalau kamu hendak mandi," gugup Ellea.


Ellea berpikir tidak mungkin Anderson akan memintanya saat ini, karena memang dia masih berhalangan hari ini, mungkin besok baru Ellea akan pasrah jika Anderson memintanya, tapi saat ini, Ellea tidak mungkin menurutinya.


"Tapi kamu sudah masuk kedalam perangkapku!! Tubuhmu benar-benar membuatku candu sayang," de sah Anderson.


"Iya aku tau tubuhku memang se xy. Kamu tenang saja besok aku akan memberikannya tanpa kamu meminta sekalipun," kata Ellea.

__ADS_1


"Besok?" tanya Anderson yang diiringi gelak tawa ringannya.


__ADS_2