
Emosi Anderson dan Ellea saat ini benar-benar sama tingginya. Bude Asih sampai tidak berani untuk memisahkan pertengkaran antara keduanya. Tak lama Ellea menangis karena handphonenya dibanting hingga rusak.
Hikkss, hikss, hikss.
"Kamu keterlaluan Anderson! Kamu yang berselingkuh dengan sekertaris kamu, kamu juga yang hancurkan handphoneku!" kata Ellea diiringi dengan suara tangisnya.
Melihat Ellea menangis seperti itu! Anderson sangat merasa menyesal, sebenarnya Anderson tidak berniat untuk ikut larut dalam emosi itu, tapi berulang kali Anderson menjelaskan pada Ellea bahwa dia dan sekertarisnya itu hanya sebatas rekan kerja biasa saja, Ellea tidak pernah percaya dan malah menunjukkan pesan-pesan yang dia dapatkan dari mantan suaminya itu.
"Ellea, aku tidak bermaksud untuk emosi seperti ini. Tapi aku mohon Ellea, percayalah hanya padaku, aku suamimu!" kata Anderson.
Ellea masih terlihat kesal dan sedih karena handphonenya rusak, terlihat Ellea menyeka air matanya dan tak ingin larut dengan kesedihannya. Ellea segera pergi keluar dari kamarnya dengan mata yang masih memerah.
Ketika Ellea membuka pintu kamarnya, didepannya tengah berdiri Bude Asih, Lucas, dan Marwa yang sejak tadi menguping pertengkaran antara Ellea dan Anderson. Mereka bertiga saling melirik, takut-takut Ellea akan meluapkan emosinya pada mereka karena sudah menguping didepan pintu.
Tak disangka Ellea langsung pergi begitu saja, menuju kerumunan anak-anak dari panti asuhan. Di susul oleh Marwa dan Lucas yang mencoba untuk menghibur Ellea.
Sementara Bude Asih memilih masuk ke dalam kamar Anderson, melihat Anderson masih berdiam diri merasa bersalah telah membanting handphone milik isterinya itu.
"Kalau handphone yang pecah dan rusak, masih bisa beli lagi sama yang lebih apik, lebih modern! Tapi kalau kepercayaan yang rusak, sulit untuk mendapatkannya lagi!" kata Bude Asih.
"Maksud bude, aku sudah mengkhianati kepercayaan Ellea begitu?" tanya Anderson.
"Oh tentu ndak seperti itu nak Anderson! Terkadang apa yang menurut kita benar, bisa jadi menurut orang lain itu ndak benar! Disitulah kita harus pintar-pintar mencari jalan tengahnya," kata Bude Asih.
"Jadi menurut bude aku harus bagaimana? Aku di kantor hanya untuk bekerja bude, aku sangat mencintai Ellea! Tidak mungkin aku menyukai wanita lain," kata Anderson.
__ADS_1
"Iya bude tau, bude paham sekali! Tapi jika memang sikap Ellea sekeras batu, biarkanlah dia mencari kepercayaan itu sendiri. Turutilah dulu biarkan dia melihat secara langsung," kata Bude Asih.
"Maksud Bude? Aku harus biarkan Ellea kembali kerja di perusahaanku?" tanya Anderson.
"Yo ndak ada cara lain, Ellea tengah terhasut oleh orang lain. Biarkan dia melihat sendiri bagaimana kamu dan Sekertaris kamu kerja, setidaknya untuk beberapa waktu saja, biarkan Ellea kerja di kantor lagi," kata Bude Asih.
"Baiklah bude, kalau memang itu yang terbaik, menjelaskan pada Ellea pun percuma karena dia tidak percaya," kata Anderson.
"Bude pernah dengar, uwong sing susah dinasehati itu, ya uwong yang lagi jatuh cinta karo uwong sing lagi cemburu buta," kata Bude Asih.
Bude Asih meminta agar Anderson sedikit lebih sabar lagi pada Ellea. Dan memintanya agar bersiap ke depan karena acaranya akan segera dimulai.
Anderson segera mengganti pakaiannya untuk acara pemberian nama pada anak pertamanya itu. Sambil berganti pakaian, Anderson berusaha mengendalikan amarahnya! Benar juga kata Bude Asih, sangat percuma menasihati orang yang sedang cemburu buta dan orang yang sedang jatuh cinta. Jadi sebaiknya, Ellea bekerja lagi saja di perusahaan, agar dia puas sendiri melihat bagaimana Anderson bekerja bersama sekertarisnya.
Sesampainya di ruangan utama, di sana sudah ramai dengan anak-anak panti yang terlihat berbahagia bisa diundang di rumah semewah ini. Acara pun segera dimulai, Ellea menggendong bayinya didampingi dengan Anderson.
Lucas pun ikut bahagia menyaksikan keponakannya sudah memiliki nama hari ini. Sebagai pria dewasa tentu saja Lucas sangat ingin sekali untuk segera mungkin memiliki keturunan. Namun melihat keadaan Marwa yang terbilang masih sangat muda dan masih harus menempuh pendidikannya, niat itu tidak mungkin akan terlaksana dalam waktu dekat ini.
Marwa yang melihat ekspresi Lucas seperti mendadak kehilangan keceriaannya, berusaha menebak-nebak dalam hatinya! Apa mungkin Lucas juga ingin secepatnya untuk memiliki seorang anak, Marwa tau Lucas pasti sedih karena untuk menunggu dirinya lulus sekolah menengah atas saja masih harus menunggu tiga tahun lagi.
Marwa pun menundukkan wajahnya! Marwa kasihan jika Lucas kepikiran dengan hal-hal semacam itu. Sebagai seorang isteri, Marwa merasa belum sempurna untuk Lucas. Tak lama satu sentuhan mendarat dikepalanya, Marwa menengok dan ternyata Lucas mengelus-elus kepalanya lalu tersenyum kearahnya.
Seketika kesedihan Marwa pun hilang melihat Lucas tersenyum kearahnya. Tak lama Lucas berbisik ditelinga Marwa.
"Jangan geer, senyumku pertanda aku butuh tambahan ronde," bisik Lucas.
__ADS_1
Seketika kedua mata Marwa melotot mendengar bisikan Lucas ditelinganya. Marwa langsung melirik sinis Lucas dan cemberut pada Lucas.
"Apa-apaan mas Lucas iki anak panti lagi ngaji didepan bisa-bisane dia mikirin ranjang dan ronde, bener-bener kudu diruqiah iki." Kata Marwa dalam hatinya.
Setelah memberikan bingkisan dan amplop kepada anak-anak panti, acara pun ditutup. Para tamu yang sudah hadir pun berangsur-angsur meninggalkan kediaman Anderson.
Baby Ai pun sudah tertidur dipelukan Ellea! Ellea pun dihampiri oleh salah seorang babysister untuk menidurkan baby Ai ke kamarnya.
Bude Asih sudah kecapean mengurus acara sore ini, dia pun memutuskan untuk segera beristirahat di dalam kamarnya meninggalkan Ellea dan Anderson yang masih terlihat diem-dieman. Lucas juga turut menggandeng Marwa untuk meninggalkan Anderson dan Ellea berdua.
"Ellea, mau ke kamar sekarang?" tanya Anderson.
"Iya," singkat Ellea.
Sesampainya di kamar, Ellea masih terus kesal dengan Anderson, sikapnya sangat cuek dan enggan untuk mengobrol dengan Anderson.
"Ellea aku tau aku salah sudah membanting handphone kesayanganmu ke lantai! Aku akan belikan yang lebih mahal," kata Anderson.
"Tidak perlu," ketus Ellea.
"Ayolah Ellea! Aku tidak mau kita bertengkar seperti ini, oke kamu boleh kembali ke kantor dan mulai bekerja kapanpun kamu mau!" kata Anderson.
Seketika raut wajah Ellea sedikit sumringah, pikirnya dia bisa mengawasi Anderson agar tidak dekat-dekat dengan sekertarisnya dan bisa mengisi waktu luangnya dengan bekerja jadi bye bye kebosanan.
"Baiklah, terimakasih sudah mengabulkan keinginanku," kata Ellea yang sudah mulai melunak.
__ADS_1
Anderson pun mendekati Ellea, lalu melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Ellea dan langsung meraup bibir ranum Ellea yang sudah lumayan lama tidak dia sentuh.