Isteri Kedua CEO Muda

Isteri Kedua CEO Muda
Kopi berisi obat


__ADS_3

Ayah dan Ibu Ellea memutuskan untuk menginap selama weekend ini di rumah Anderson. Ellea nampak bahagia sekali orangtuanya bisa menginap di sini, begitu juga dengan Anderson. Meski itu artinya dia harus puasa satu hari lagi menantikan kemesraan bersama Ellea.


Malam harinya Anderson pulang ke rumah, disambut oleh Ellea yang tadinya sedang asyik menonton televisi bersama Ayah dan Ibunya, Ellea selalu berlari menyambut kedatangan Anderson ketika kembali ke rumah.


"Kamu capek ya?" tanya Ellea sembari tersenyum.


"Jangan tersenyum seperti itu. Kamu membuatku semakin bergairah saja!" kata Anderson.


Ellea pun mencubit pinggang Anderson agar tak sembarangan berbicara mengingat ada Ayah dan Ibunya di sini.


"Aaaaaaa, sakit Ellea," kata Anderson sembari mengernyitkan dahinya.


"Pokoknya aku larang kamu selama Ayah dan Ibuku ada di sini untuk berkata yang seperti itu!" kata Ellea.


Dalam hati Anderson kenapa juga harus tidak berkata begitu, Ayah mertuanya saja sangat mendukung bahkan mengajarkan Anderson berbagai macam gaya agar Ellea secepatnya hamil.


Merasa sangat lelah Anderson memutuskan untuk mandi setelah itu barulah ia menemani mertuanya di ruangan televisi.


"Ellea tidak bisakah kita bermain di kamar mandi sekarang?" tanya Anderson.


"Tidak! Pokoknya kamu puasa sampai hari Senin!" tegas Ellea.


"Hah! Padahal aku sudah membayangkan dibawah shower bersamamu," kata Anderson.


"Sudah cepat mandi sana! Aku tunggu di ruangan televisi ya!" kata Ellea.


Setelah mandi Anderson, Ellea, Ayah dan Ibu menonton televisi bersama, sembari sesekali mengobrol dan menyantap cemilan. Tiba-tiba Gea datang, entah dari mana dia jam segini baru sampai ke rumah.


Gea nyelonong melewati ruangan televisi tanpa memberi salam atau menyapa orang tua Ellea, seketika Anderson pun menegurnya.


"Gea, tunggu! Kamu tidak lihat di sini ada orang?" kata Anderson.


"Mmm,, ya aku lihat!" kata Gea dengan nada cuek


"Sapalah kedua orangtua Ellea!" perintah Anderson.


"Untuk apa aku menyapa? Lama-lama rumah ini seperti tempat penampungan gelandang!" cetus Gea.

__ADS_1


Mendengar hal itu Anderson langsung menghampiri Gea, lalu menatapnya dengan tajam.


"Ulangi perkataanmu itu!" bentak Anderson.


"Sudah! Sudah, kamu kan capek baru pulang kerja. Ayah dan Ibuku tidak apa-apa kok," kata Ellea mencoba menenangkan Anderson.


Gea hanya menatap sinis mereka saat ini, sementara Anderson masih sangat kesal dan tak habis pikir kenapa ada wanita seperti Gea.


"Sudahlah! Kita semua tau dia seperti apa. Aku juga sudah malas ribut dengannya, nanti kita sendiri yang capek!" kata Ellea.


"Aku sudah muak sekali pada Gea. Tingkahnya semakin hari semakin membuatku ingin mengusirnya dari sini," kata Anderson.


Ellea berusaha menenangkan Anderson, dengan menepuk-menepuk dahinya, Anderson sangat merasa nyaman hingga kepalanya bersandar pada bahu Ellea sembari menikmati tayangan televisi.


Sesekali Anderson memberikan kode pada Ellea untuk segera masuk ke kamar. Namun lagi-lagi Ellea memelototinya. Tak ingin menyerah begitu saja tangan Anderson berusaha meraba-raba paha mulus Ellea yang tertutupi sebuah bantal.


Membuat Ellea merasa kegelian, namun lagi-lagi Ellea menggelengkan kepalanya. Sementara Rudal Rusia sudah berontak didalam sana, Anderson memang harus bersabar hingga nanti Senin malam.


Senin pagi, kedua orangtua Ellea pulang diantar oleh Lucas sementara Ellea, dan Anderson berangkat ke kantor bersama. Pagi-pagi sekali sudah menjadi makanan sehari-hari mereka dengan kesibukan pekerjaan yang tak ada habisnya.


Sementara Gea, siang hari dirinya baru berangkat ke kantor. Sesampainya di kantor. Gea lantas mencari OB yang sudah dia bayar untuk melancarkan aksinya.


"Heh ingat! Aku sudah bayar mahal untuk ini, jangan sampai tertukar dan pastikan dia meminum kopi ini! Paham?" kata Gea.


"Baik saya paham," ujar OB itu, meski gugup tapi dia harus melakukannya demi uang.


Siang hari setelah jam break makan siang memang sedang ngantuk-ngantuknya, jadi OB di sini akan berkeliling untuk memberikan kopi bagi setiap karyawan.


Gea memutuskan untuk mengintip dari kejauhan dan memastikan kalau OB itu benar-benar memberikan kopi berisi obat perusak rahim pada Ellea.


Karyawan itu berjalan membawa sejumlah kopi ditroli khusus makanan dan minuman, berkeliling dari satu meja ke meja lainya. Kini giliran memberikan kopi itu pada Ellea. Gea sangat tersenyum puas melihat sebentar lagi rahim Ellea akan rusak dan tidak akan pernah bisa punya anak.


"Rasakan kamu wanita ja lang. Meski efek obat itu tidak bereaksi cepat. Tapi aku pastikan lama-kelamaan perutmu akan terasa seperti dikoyak-koyak." Kata Gea dalam hatinya.


OB itu memberikan gelas kopi yang benar sesuai dengan yang sudah diperintahkan Gea. Ellea menyambut baik kedatangan OB yang selalu rajin memberikannya kopi ketika sedang mengantuk seperti sekarang.


Dengan tersenyum Ellea meraih gelas berisi Kopi yang diberikan oleh OB itu, lalu menaruhnya disamping dokumen. Ellea tak kunjung meminum kopi tersebut, sedangkan OB itu diperintahkan agar Ellea benar-benar meminum kopi itu dihadapannya. OB itu akhirnya mencari cara agar Ellea segera meminumnya.

__ADS_1


"Bu Ellea! Diminum kopinya, nanti keburu engga anget lagi kan gak enak," ujar OB itu.


"Em iya nih Pak, lagi nanggung sedikit lagi!" kata Ellea sembari mata dan tangannya sedang fokus mengurusi dokumen penting.


OB itu tak berani hengkang dari hadapan Ellea, sebelum yakin Ellea meminum kopi itu. Ellea bingung kenapa OB itu hanya berdiri saja didekatnya dan tak juga meninggalkan ruangan ini.


"Pak! Anda engga apa-apa kan?" tanya Ellea.


"Ini Bu. Kaki saya mendadak kram jadi tidak bisa digerakkan," ujar OB itu.


"Coba digerakkan sedikit demi sedikit Pak!" kata Ellea.


"Iya ini sudah tidak kram lagi, silahkan diminum kopinya," kata OB itu.


Ellea akhirnya mengangkat cangkir kopi itu, hendak ia minum untuk membuat matanya melek. OB itu sudah merasa lega, begitu juga Gea yang melihat dari kejauhan, hanya tinggal Ellea menyeruput kopi itu, maka berhasil rencana Gea.


Saat hendak meminum kopi itu, tiba-tiba sering telepon dari meja kerja Ellea berbunyi. Ellea pun menaruh kembali cangkir itu ke mejanya, lalu mengangkat telepon terlebih dahulu.


"Ah sial! Siapa si yang nelepon si Ellea! Kenapa engga nanti pas dia udah minum kopi itu." Kata Gea menggerutu sewot.


OB itu masih berpura-pura kesakitan kakinya, jadi dia belum juga beranjak dari dekat meja kerja Ellea.


"Heuh, masih aja ada orang asing yang telepon ke nomor kantor." Kata Ellea yang mendapat telepon asing barusan.


Ellea sudah sangat mengantuk dia tak tahan lagi jika harus membiarkan kopi hangat itu tidak dia minum sekarang juga! Pikir Ellea, minum kopi pasti seketika matanya kembali melek dan tak mengantuk lagi.


Kemudian Ellea mengangkat cangkir itu kembali untuk meminum kopi hangat itu.


Jangan Lupa!


Like Like Like Like pokoknya!!


Komen juga boleh


Vote juga makasih☺️


Aku boleh ya minta dukungannya juga temen-temen, aku diminta ikut Misi Kepenulisan dengan tema dan plot yang sudah ditentukan dari pihak noveltoon. Siapa tau ada yang suka genre abegeh manja dan menye-menye bisa masukin ke rak favorite kalian, kalau yang sukanya genre rumahtangga bisa diskip aja🙏

__ADS_1



__ADS_2